Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Skors.


__ADS_3

Kiana terus bungkam, walaupun dia di cecar beberapa pertanyaan oleh beberapa dosen yang mulai menangani permasalahan Kiana dan Hendi beberapa waktu lalu.


"Kiana?"


"Hendi yang mulai, Miss! Aku cuma membela diri aku sendiri!" Akhirnya Kiana membuka suara.


"Tapi itu tidak benar, sedikit lagi kamu akan membuat Hendi meninggal karena kehabisan nafas!"


"Tapi Hendi teriakin aku pelacur, … aku bukan pelacur dan aku berhak membela harga diri aku, Miss!"


Dosen wanita itu memejamkan mata, memijat pelipisnya lalu menghela nafas cukup panjang. Untuk kesekian kalinya gadis itu berulah, dan kali ini lebih parah sampai membuat beberapa petugas kampus kewalahan dan sedikit jengah dengan sikap Kiana yang sangat sulit untuk di beri tahu.


"Sekarang kamu boleh pulang, besok datanglah bersama orang tuamu, … karena orang tua Hendi meminta kami untuk mempertemukan mereka dengan orang tua kamu, Kia!"


Dengan raut penuh penyesalan dosen pembimbing yang bertugas di kelas Kiana mengatakan hal tersebut.


"Terserah saja. Kalian mana percaya kalau aku tidak bersalah." Tegas Kiana dengan nada ketus.


"Kamu bersalah Kiana. Tindakanmu hampir saja membuat Hendi kehilangan nyawanya."


"Sudah aku katakan, Pak Dosen yang terhormat! Hendi yang memulai, dia mengatakan segala hal yang tidak pantas, memanggil aku dengan sebutan pelacur, lalu melempar punggung aku dengan sepatunya!" Kalian meninggikan suaranya.


"Sekarang kamu di skors. Pulang dan kembalilah besok bersama orang tuamu!"


"Tapi Pak …"


"Tidak ada tapi-tapi. Kamu saya larang mengikuti kelas hari ini!"


Kiana langsung bangkit, kemudian dia beranjak pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu. Semua orang menatap kepergian Kiana, dan punggungnya memang terlihat kotor, tampak meninggalkan bekas tanah di kemeja putih yang gadis itu kenakan.


Dia meninggalkan ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Ada marah dan kecewa karena tidak ada yang mau mendengarkan penjelasannya. Namun perasaan lain muncul lebih besar lagi. Bagaimana reaksi ayahnya setelah ini, setelah mengetahui jika putrinya kembali berulah. Apa dia akan marah? Dan benar-benar mengantarkan dirinya ke asrama perempuan yang sempat Danu janjikan?


Lalu bagaimana hubungannya dengan Jovian setelah ini? Apa pria itu mau menerima segala keburukan yang dia perbuat, setelah membuat Hendi di larikan ke rumah sakit pagi ini.


Langkahnya terhenti, ketika dia melihat Jovian yang berdiri dan menyandarkan tubuh di body mobil. Menatap ke arahnya dengan sorot mata tajam yang sangat menyeramkan.


"Haih, … semua orang selalu melihat aku begitu, dan tidak akan ada yang percaya, walaupun aku berkata jujur sambil bersujud mencium kaki mereka sekalipun!" Gumam Kiana.


Jovian menegakan tubuh ketika melihat Kiana datang. Keadaannya sangat berantakan, pakaian yang tidak serapih beberapa jam lalu, juga terdapat beberapa luka memerah di wajahnya.


"Pulang, Om!" Katanya dengan suara yang terdengar lemah. Dia menunduk, berusaha menghindari obrolan panjang, atau mungkin banyak pertanyaan yang memang sudah memenuhi kepala Jovian.


"Ada apa?"


Kiana tidak menjawab, dia melewati Jovian begitu saja, kemudian masuk kedalam mobil terlebih dahulu.


Jovian menghela nafasnya, dia berniat segera menyusul, namun langkahnya terhenti, lalu menoleh ke arah seorang security yang berdiri tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Pria yang terus menghalanginya saat dia berusaha menerobos dan memeriksakan keadaan Kiana.


"Andai saja dia bukan orang tua!" Jovian menggeram.


Setelah itu dia membuka pintu mobil sebelah kanan, masuk dan duduk dengan nyaman, memasangkan sabuk pengaman, lalu menutup pintu mobil itu kembali.


Sekilas Jovian melirik ke arah Kiana. Gadis itu tampak sedikit murung, sampai hanya terdiam dan tidak banyak mengoceh seperti biasanya.


"Yakin mau pulang?" Tanya Jovian seraya memundurkan mobilnya dari are parkir sana.


Kiana mengangguk.


"Baik." Jovian menganggukan kepala.


Pria itu segera memutar setir mobilnya, sampai kendaraan roda empat yang saat ini berada di bawah kendalinya melaju di jalanan utama dengan kecepatan rendah.


***


"Cepat!" Jovian membuka sabuk pengamannya.


"Aku tunggu disini deh, Om!" Sahut Kiana.


Jovian segera keluar, berjalan memutari mobil, lalu membuka pintu sebelah kiri.


"Aku bilang mau tunggu disini saja, Om."


Dia menengadahkan pandangan, menatap Jovian dengan raut wajah sendu. Jelas sekali jika gadis itu kini sedang benar-benar ketakutan.

__ADS_1


"Turun dulu, tidak mungkin kamu pulang dengan keadaan begini. Apa tidak lihat? Ada beberapa luka lecet bekas cakaran yang cukup dalam." Jovian menjelaskan.


Kiana diam dengan pandangan yang tak teralihkan sama sekali.


"Ayo!"


Pria itu membungkuk, meraih tangan Kiana, menggenggamnya lalu menarik Kiana keluar dari dalam mobil, dan berjalan memasuki sebuah Lobby apartemen dimana unit milik Jovian berada.


Mereka terus berjalan, dengan tangan Jovian yang tak melepaskan genggaman tangannya sama sekali, dia terus membawa Kiana sampai keduanya benar-benar berada di depan pintu apartemen milik Jovian.


Klek!!


Jovian mendorong pintu itu menggunakan lengannya, membiarkan Kiana masuk lebih dulu, kemudian dirinya dan tak lupa menutup pintu unit itu kembali.


"Duduk dan tunggu sebentar." Pinta Jovian seraya melepaskan genggaman tangannya.


Kiana mengangguk, kemudian berjalan mendekati sofa yang terletak di ruangan tengah, kemudian duduk. Sementara Jovian beranjak mendekati salah satu pintu ruangan itu.


Kiana menyandarkan punggung, kemudian memejamkan mata, berusaha mengusir rasa cemas, namun itu tak kunjung dia rasakan. Setiap memori kejadian membuat dirinya takut, bukan tentang Hendi, melainkan reaksi Danu setelah ini, apalagi jika esok para orang tua akan dipertemukan.


"Mati gue, … habis dunia gue setelah ini!" Dia berbisik.


Tak!!


Sesuatu terdengar di simpan di atas meja kaca, kemudian setelahnya langkah Jovian kembali terdengar pergi, dan kembali setelah beberapa menit.


"Kia?" Panggil Jovian, lalu dia duduk tepat di samping kekasihnya. "Kamu tidur?" Panggil Jovian lagi.


Namun, Kiana segera membuka matanya, dan mengubah posisi menjadi duduk tegap.


Gadis itu menatap Jovian dengan sesama, dan sebuah harapan muncul di hati Kiana yang saat ini sedang merasakan ketakutan yang cukup besar.


"Kemarilah. Pipimu harus dibersihkan, atau kalau tidak bisa infeksi!"


Jovian meraih wadah berisikan air hangat.


Kiana menurut, dia segera menggeser tubuhnya untuk lebih mendekat.


Jovian memeras kain yang ada di dalamnya, lalu mendekatkan kepada pipi Kiana, yang sedikit mengeluarkan darah karena goresan itu terlihat cukup dalam.


Gadis itu tak bereaksi apapun, dia hanya asik menatap Jovian dari jarak yang sangat dekat.


"Apa yang kamu lakukan? Bertengkar di pagi hari seperti itu?" Kata Jovian sambil terus mengompres luka di pipi Kiana.


"Aku cuma membela diri, Om! Dia berteriak memanggil aku pelacur, … dan banyak lagi kata-kata yang bikin aku sakit hati." Kiana menjelaskan.


"Aku kesel. Aku cuma mau bela diri, … tapi saat aku berusaha menghindar, dia justru terus memancing, sampai punggung aku di lempar sepatunya, jadi aku semakin kesal …"


Jovian kembali meletakan wadah berisikan air hangat yang dia ambil dari dispenser, setelah merasa luka Kiana benar-benar bersih. Kemudian menatap Kiana, gadis yang sedari tadi juga menatapnya.


"Lalu apa yang kamu lakukan?" Jovian bertanya.


Kiana belum menjawab, dia merasa ragu.


"Apa yang kamu lakukan sampai membuat seisi kampus gempar? Bahkan beberapa orang terdengar meminta tolong tadi."


"Aku cekik, … apalagi! Aku benar-benar kesal."


Jovian tersenyum, ekspresi yang tidak pernah Kiana bayangkan sebelumnya. Padahal dari awal dia membayangkan bagaimana reaksi Jovian, lalu kedua orang tuanya, namun setelah melihat Jovian tersenyum, dia sedikit lebih lega, karena mungkin ada orang yang masih bisa mempercayainya.


"Bagus. Itu tindakan yang tepat, kamu boleh membela dirimu jika mereka benar-benar berbicara yang tidak-tidak." Dia tersenyum lagi.


Tangan kanannya bergerak, kemudian mengusap pipi Kiana.


"Om nggak marah? Aku hampir bikin orang mati tadi. Aku juga yakin setelah ini Papa bakalan daftarin aku ke asrama."


"Untuk Pak Danu. Biar saya yang menjelaskan lebih dahulu, jika memang sudah tidak mempan, maka saya pakai cara lain agar kamu tidak pergi ke asrama."


Kiana mendengus kencang, dan kembali menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, dengan kelopak mata yang kembali dia pejamkan.


"Memangnya ada berapa cara?" Kiana terlihat semakin frustasi.


"Ada satu cara jika kamu tidak mau ke asrama."

__ADS_1


Gadis itu kembali membuka matanya.


"Apa?"


"Menikah, … apalagi!"


"Hhhheuh! Nikah terus yang diomongin, tapi nggak dilakuin. Padahal waktu itu langsung ngelamar, tapi kok nggak ada kelanjutannya!"


"Sabar! Pelan-pelan, kamu ini anak gadis satu-satunya dari Danuarta, pemilik tambang batubara yang cukup besar. Saya harus memiliki uang yang banyak untuk membelikan mu mas kawin."


Kiana menatap Jovian lekat-lekat.


"Aku nggak butuh perhiasan mewah. Aku punya!" Celetuk Kiana.


Jovian mengulum senyum.


"Om senyum-senyum terus, padahal aku butuh kepastian ini!"


Dan ucapan itu mampu membuat Jovian tergelak, tertawa terbahak-bahak, sampai kepalanya mendongak ke arah belakang.


Kiana menatap Jovian dengan perasaan yang semakin menggila, dia beringsut mendekat, lalu;


Cup!!


Kiana mencium leher Jovian, yang sontak membuat pria itu terdiam dengan seketika.


"Apa? Om mau marah? Marah saja hitung-hitung mempersiapkan diri sama amarahnya Papa."


"Kamu berani sekali! Kita hanya berdua, tidak takut jika terjadi sesuatu?"


"Emang kalau ciuman bikin hamil yah!?" Tanya Kiana, saat mengingat ucapan Hendi beberapa waktu lalu.


Jovian diam.


"Kamu ini nakal, pemberontak, peminum juga. Tapi kenapa kamu menanyakan soal itu?" Suara Jovian terdengar semakin rendah.


"Aku, …. Nggak tahu!" Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Benarkah? Saya tidak yakin jika kamu benar-benar tidak tahu!" Jovian berbisik lagi, dan mulai mencondongkan tubuhnya.


"Memangnya harus bagaimana? Ada situs web untuk dipelajari? Atau Om yang mau memberitahu aku?"


Raut wajah Jovian seketika berubah. Menjadi lebih datar dan dingin, namun sorot matanya memperlihatkan sebuah keinginan yang mungkin saja sedang berusaha dia tahan.


"Om!" Kiana menahan dada pria di hadapannya. "Om bikin aku takut kalau kaya gini." Suaranya memekik pelan.


Cup!


Satu kecupan Jovian berikan di bibir Kiana yang sangat menggoda.


"Hanya ini, … tidak usah takut karena tidak akan hamil." Jovian tersenyum, hendak bangkit untuk menjauh, namun tangan Kiana segera melilitkan tangan di pinggangnya.


"Saya harus memberi kabar ini dulu kepada Pak Danu Kia."


Jovian melepaskan lilitan tangan Kiana, lalu dia menjauh, dan merogoh ponsel yang berada di dalam saku jasnya.


"Tapi Om, … biar aku …"


"Tenang saja. Kamu boleh istirahat!" Sergah Jovian.


Pria itu melenggang ke arah pintu ruangan yang tertutup, kemudian masuk dan menutupnya rapat-rapat, meninggalkan Kiana yang masih berdebar-debar di atas sofa sana.


"Om aku minta minum yah!" Dia berteriak.


Tidak ada jawaban sama sekali, tapi Kiana pergi ke arah dapur, dan menarik beberapa laci mencari tempat dimana gelas disimpan, dan setelah menemukannya gadis itu segera mendekati dispenser untuk dia isi dengan air hangat.


"Tarik nafas, … hembuskan!" Kiana mengatur nafasnya, seraya mengusap dada yang terus berdebar 2x lebih cepat.


"Jangan aneh-aneh Kiana. Jangan aneh-aneh, ingat! Nakal boleh, go*lok jangan."


Katanya lalu meneguk segelas air putih yang dia ambil dari dispenser sampai habis.


"Belum cinta aja udah sering curi-curi ciuman, … udah cinta gimana!?" Kiana menggaruk kepalanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2