
"Papa? why are we here?"
Axel segera bertanya kepada ayahnya, ketika Javier memutar setir mobil sampai berbelok dan berhenti tepat di hadapan gerbang besar, salah satu rumah pada sore hari ini.
"Aku kira kita akan ke Bandung." Sambung Axel.
"Kita mampir di sebentar, oke? Mungkin nanti Amih sama Apih yang nyusulin kita kesini ." Javier menjelaskan.
Sementara Axel diam. Menatap gerbang besar di hadapan mobilnya yang mulai di buka perlahan-lahan oleh seorang penjaga keamanan, dan terlihatlah apa yang ada di dalamnya. Garasi mobil yang luas, dengan berbagai jenis mobil mewah di dalamnya, juga bangunan besar yang berdiri dengan kokoh, dan tentu saja Axel masih mengingat tempat tersebut setelah satu bulan terakhir mengunjunginya saat acara yang paling sakral di adakan.
"Mama? Kenapa Uncle sekarang tinggal disini? Terus kenapa ditemani Aunty Kia terus? Memangnya Tante Eva tidak marah kalau Uncle bersama Tante Kia?" Tanya Axel.
Tampaknya pria kecil itu masih belum dapat mengerti, meski sudah di jelaskan perlahan beberapa kali.
Sementara Adline dan Javier saling menoleh, menatap satu sama lain setelah memberhentikan mobilnya di antara jejeran mobil-mobil milik sang tuan rumah.
"Kan sudah Mama jelaskan." Ujar Adline.
Kesabarannya mulai menghilang kala menghadapi pertanyaan-pertanyaan sang putra, yang terus berputar-putar mempertanyakan perihal Eva dan Kiana yang saat ini hidup bersama adik iparnya.
"Kalian friend's. Kok Mama nggak belain Tante Eva? Nanti Tante Eva sedih lho kalau lihat Uncle sama Aunty Kia!"
Dan ucapan itu mampu membuat Adline semakin bingung. Entah harus bagaimana lagi dia menjelaskannya.
Tidak lama setelah Axel mengatakan itu. Dua orang yang sedang Axel bicarakan muncul, berjalan melewati pintu utama, seraya berjalan mendekati mobil sambil terus memperlihatkan senyuman.
"Axel. Papa tidak mau nanti masih bahas Tante Eva yah!?" Javier sedikit menegaskan, yang langsung di jawab anggukan pelan oleh anak laki-laki berparas tampan itu.
Javier segera membuka tali seatbelt yang masih melingkar erat di tubuhnya, kemudian membuka pintu, dan keluar.
"Hey!!" Jovian langsung menyambut kedatangan saudaranya.
Dia meraih uluran tangan Javier, kemudian merangkul dan menepuk-nepuk punggung saudaranya cukup kencang.
"Kalian ini kebiasaan sekali. Tahu-tahu datang tanpa memberikan kabar jika kalian akan datang kesini! Lalu bagaimana Mami dan Papi? Apa mereka sudah tahu kalian sampai?" Tanya Jovian.
"Sesampainya di rumah Adline kita langsung memberitahu." Javier menjawab.
Pandangan Jovian seketika beralih kepada sosok pria kecil yang turun dari mobil bersama ibunya. Dan tanpa diduga Axel langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukannya seperti biasa. Sementara Javier dan Adline fokus untuk saling menyambut dan menanyakan kabar masing-masing hanya untuk berbasa-basi.
"Kia, sepertinya kamu sedikit berisi sekarang. Apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya Adline.
Kiana tersenyum, kemudian menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Doa kan saja. Semoga secepatnya, Ka." Perempuan itu tampak malu-malu.
"Ah lagi pula Kiana masih sangat muda, mungkin mereka santai dalam urusan momongan." Javier tersenyum kepada adik iparnya.
"Tidak juga. Aku lagi nungguin malah, tapi belum dikasih aja, Ka."
Javier tersenyum lagi dan lagi.
"Kalau begitu ayo masuk, Mama dan Papa sudah menunggu di dalam." Pinta Kiana.
__ADS_1
Kiana berjalan lebih dulu, di susul Javier dan Adline setelahnya.
"Come. Oma dan Opa sudah menunggu di dalam!" Ajak Jovian.
"Om? Aku ulang tahun lho bulan ini. Ingat tidak?" Anak itu menengadahkan pandangan, seraya terus melangkahkan kaki ke arah dalam.
"Minggu depan?" Tanya Jovian sambil tersenyum.
"Om ingat?"
"Ya, tentu saja. Dan acaranya bertepatan dengan Tante Kia wisuda. Kira-kira kamu mau hadiah apa? Kita rayakan jika acara Tante Kia selesai, oke?"
Axel mengangguk antusias. Bahkan wajahnya tampak berbinar, dengan senyum sumringah yang terus menghiasi bibir Javier junior, sampai anak itu terlihat begitu manis. Suasana rumah seketika menjadi ramai. Ketika Herlin dan Danu menyambut kedatangan keluarga dari menantunya dengan penuh suka cita.
Setelah itu, Danu dan Herlin menggiring Adline juga Javier ke arah belakang rumah. Dimana beberapa meja berjejer rapi di atas rerumputan sana, dengan berbagai macam jenis makanan dan minuman. Bahkan sate dari berbagai macam jenis buah berada disana, dengan coklat bergaya air mancur, yang akan membuat salah satu hidangan itu sangatlah spesial.
"Anda berlebihan, Pak. Hanya kami yang datang, bukan pejabat negara atau siapapun yang memiliki kedudukan tinggi." Kata Javier kepada Danu.
"Kia dan Mamanya yang menyiapkan ini. Bahkan sate buah dengan saus coklat itu Kia pilih karena mengingat ada Axel yang akan tiba selain Papa dan Mamanya." Balas Danu.
Mereka menapakan kaki di salah satu ruangan terbuka yang terletak di taman belakang rumah sana. Dimana terdapat sofa-sofa berjejer, kemudian duduk dengan segera. Namun, tidak dengan Jovian, Kiana dan Axel. Ketikanya segera berjalan mendekati salah satu hidangan yang paling mencolok, untuk kemudian mencobanya.
"I never found this in Holland." Axel bergumam kepada pamannya. "Keren. Coklatnya seperti air mancur!" Axel berdecak kagum.
"Mungkin belum saja. Jika dicari tahu siapa tahu ada!" Kata Jovian.
Dan Kiana hanya tersenyum melihat interaksi antara suami dan keponakannya. Momen yang sangat langkah, dan Jovian selalu memperlihatkan sisi lain kepada Axel, sampai anak laki-laki berusia 5 tahun itu selalu lengket kepadanya, walaupun jarak dan waktu sering memisahkan.
"Baby? Kamu tidak mau mencobanya?" Jovian segera beralih kepada sang istri, setelah membantu Axel membalut sate buahnya dengan coklat.
"Tidak." Kiana menggerakan kakinya ke kiri dan kanan.
Namun, Jovian justru meraih satu tusuk sate buah. Dimana terdapat dua buah jenis anggur berwarna ungu dan hijau, tak lupa strawberry juga melon, lalu menambahkan cucuran coklat, dan menyodorkannya kepada Kiana.
"Sayang?"
"Ambilah. Ini enak, aku sudah mencobanya terlebih dahulu tadi." Ujar Jovian seraya mengalihkan pandangannya kepada Axel.
"It's delicious. Kamu harus mencobanya!" Kata Axel kepada Kiana.
Dan ini kali pertama anak itu mau berbicara kepada dirinya. Membuat Kiana tersenyum, dan meraih pemberian dari suaminya.
"Thank you."
"Ya, makanlah. Kamu menyiapkan ini untuk Axel agar dia senang. Tapi kamu melupakan diri kamu sendiri."
Ingatannya tertarik pada beberapa jam sebelumnya. Ketikan Kiana begitu antusias saat mendengar kabar jika Javier dan Adline akan berkunjung.
Jovian menoleh ke arah dimana mertua dan kakanya berada. Mereka terlihat duduk sambil bercengkrama dan tertawa pelan.
"Mami dan Papi bagaimana?" Kiana menatap suaminya.
"Mungkin nanti malam aku berangkat untuk menjemput."
__ADS_1
"Memangnya tidak punya supir pribadi."
Jovian hampir saja membuka mulutnya untuk menjawab. Tapi ucapan Axel membuat Jovian mengalihkan perhatian untuk beberapa saat.
"Aku mau kesana." Axel menunjuk keberadaan ayah dan ibunya.
"Tidak mau mencoba yang lain?" Jovian bertanya untuk meyakinkan.
"No."
"Ya sudah."
Dan setelah itu Axel berlari ke arah salah satu bangunan terbuka. Dimana Adline dan Javier duduk dengan nyaman di atas sofa sana bersama sang tuan rumah.
"Jadi kamu mau pergi?"
"Mungkin kalau Papi tidak menemukan orang yang bisa mengantar kesini, ya. Tidak mungkin meminta Vier menjemput! Perjalanan dari Belanda kesini saja sudah pasti menguras tenaga walaupun hanya duduk, masa masih mau aku suruh untuk menjemput Mami dan Papi." Jelansnya.
"Kapan-kapan carilah supir agar kamu tidak kelelahan. Apalagi jarak Tangerang-Pangalengan itu sangatlah jauh.
"Dulu Papi tidak pernah memakai supir, dia selalu membawa mobilnya sendiri. Tapi sekarang dia sudah tidak berani lagi membawa mobil sendiri, apalagi jarak yang sangat jauh."
Kiana diam mendengarkan, kemudian mengangguk.
"Tidak apa-apa?"
Kiana mengangguk lagi.
"Apa kamu mau ikut?"
"Nggak tau, gimana nanti saja." Kiana mengendikan bahunya.
Jovian tersenyum, menatap Kiana penuh arti, kemudian menggerakkan alisnya naik turun sambil tersenyum.
"Yakin gimana nanti? Kalau kamu tidak ikut memangnya kuat menahan rindu?" Pria itu berbisik.
"Kuat. Kemarin saja kuat, kamu yang tidak kuat sampai pulang sebelum waktunya." Jawab Kiana.
Dan setelah menjawab itu Kiana berjalan menuju gazebo, meninggalkan Jovian begitu saja.
"Ck! Dia menyembunyikan wajah meronanya." Gumam Jovian, kemudian terkekeh.
Dengan pandangan yang terus tertuju pada Kiana. Dimana perempuan itu kini ikut bergabung bersama saudara ipar dan kedua orang tuanya.
"Disana ada beberapa jenis minuman, dessert dan makanan ringan. Mau ambil sendiri atau minta tolong asisten rumah ambilkan kesini?" Kata Herlin.
"Ah biar kami saja, Bu." Sahut Adline.
Dan acara pertemuan itu berjalan dengan baik. Mereka berbincang-bincang, membahas banyak hal diselingi tawa riang yang terdengar.
......................
Terimakasih untuk dukungan yang selalu kalian berikan :)
__ADS_1
Cuyung kalian banyak-banyak ♥️🍅