
“Hey, Jo!”
Denis yang hendak memasuki sebuah bangunan tempatnya menunggu dan melepas penat berhenti, saat melihat keberadaan sang sahabat di area rumah atasnya, dengan sebatang rokok yang tengah dia hisap.
Jovian menoleh, mengangkat tangannya, lalu melemparkan puntung rokok yang sudah terlihat sangat pendek ke sembarang arah, seraya meniupkan asap dengan asal.
“Pagi-pagi sudah disini?” Denis bertanya dengan senyuman khasnya seperti biasa, sementara Jovian langsung merangkul pundak pria yang tingginya kurang lebih sama, kemudian memukul-mukul punggung Denis dengan perasaan bahagia.
Bukan karena mereka bertemu pada pagi hari itu, melainkan suasana hati Jovian yang memang selalu baik, dari awal ia tahu jika istrinya tengah mengandung buah hati mereka.
“Mood kamu baik terus yah? Viber Bodyguard nya sudah hilang karena kamu selalu tersenyum di setiap saat.” Ujar Denis yang membuat tawa Jovian menyembur semakin kencang.
“Mana bisa begitu? Penelitian dari mana?”
“Bodyguard itu identik dengan ke sangarannya, bahkan kita diwajibkan untuk memasang raut wajah datar hanya untuk membuat semua orang segan.”
Jovian tergelak cukup kencang, karena apa yang Denis katakan memang benar adanya. Mereka berdua masuk ke dalam bangunan sana, tempat dimana mereka menghabiskan waktu istirahat.
Jovian duduk di sofa yang tersedia, sementara Denis membawa dua minuman kaleng dari showcase yang Danu sediakan untuk para pekerjanya.
“Kau sudah dengar kabar itu?” Denis memberikan minuman dingin itu kepada Jovian.
Jovian menatap Denis lebih dulu, meraih apa yang pria itu berikan, kemudian menganggukan kepalanya.
“Berita yang cukup membuat aku terkejut.” Katanya, lalu meneguk minuman itu.
Denis mendudukan diri tepat di samping Jovian, dan menikmati minuman miliknya. Mereka berdua diam untuk beberapa saat, menikmati minuman masing-masing, dengan pikiran yang tertuju pada satu nama.
“Terlalu obsesi dengan uang juga nyatanya tidak baik yah?” Kata Denis pelan.
Lalu dia menoleh, dan disaat bersamaan Jovian pun mengarahkan pandangan ke arahnya, sehingga mereka dapat saling beradu pandangan. Tampak jelas raut wajah tidak menyangka dari keduanya. Terlebih Jovian, kabar penangkapan itu benar-benar membuat pria itu sedikit syok.
“Aku jadi ingat apa yang Kiana katakan. Perlakuan buruk itu tidak usah di balas, karena mereka akan mendapatkan balasan yang sama. Benar bukan? Dan aku anggap ini semua harga yang harus mereka bayar, atas perlakuan Pak Erik kepadaku, juga Eva kepada Kiana. Biarkan mereka mendapatkan pelajaran hidup dari masalah ini.” Katanya, lalu kembali meneguk minuman kaleng di genggamannya.
Denis hanya mengangguk.
“Bagaimana Kiana?”
__ADS_1
“Apanya yang bagaimana?” Jovian balik bertanya.
“Dia suka dengan rumah baru yang kamu berikan? Apa dia juga mau tinggal disana? Atau masih mau disini?”
Jovian menatap sahabatnya dengan ekspresi wajah datarnya.
“Kia mau dimanapun asal ada aku!” Satu alisnya terangkat, lalu meneguk kembali minuman kaleng itu dengan perasaan bangga luar biasa.
Denis tampak mendelik ketika mendengar pernyataan dari sahabatnya.
“Lalu untuk apa kau mengantar Kiana pagi-pagi kalau dia betah dimana pun asal ada kau? Dasar pembual, tingkat kepercayaan dirimu sepertinya bertambah dengan kadar yang cukup tinggi.”
Jovian mengendikan kedua bahunya.
“Istriku mau buah markisa yang ada di rumahnya, lalu aku bisa apa? Menolak? Atau tidak mengizinkan? Wah bisa-bisa si kembar ileran terus sampai besar.”
Denis sedikit mengubah posisi duduknya, meletakan kaleng minuman ke atas meja yang sesuai, lalu menatap Jovian dengan raut wajah yang terlihat sangat serius.
“Mereka laki-laki?” Pria itu penasaran.
Jovian melirik sekilas, kemudian menggelengkan kepalanya, sehingga membuat rasa penasaran Denis lebih tinggi.
Namun, Jovian kembali menggelengkan kepala. Membuat Jovian melayangkan pukulan kencang di lengan kekar sahabatnya sejak dari SMA.
Dahi Denis mengkerut, dengan ekspresi bingung.
“Maksud kau apa? Mereka tidak memiliki kelamin? Begitu?” Suaranya memekik kencang.
“Sembarangan.”
“Kau membuatku bingung, bodoh!” Cicit Denis.
“Mereka bukan laki-laki, ataupun perempuan. Tapi mereka itu laki-laki dan perempuan.”
Denis sempat diam untuk mencerna ucapan Jovian. Dan reaksi luar biasa pria itu perlihatkan saat mengerti ke arah mana pembicaraan mereka berdua.
“Mereka sepasang?”
__ADS_1
Binar dan senyum bahagia lantas terpancar di wajah Jovian, memperlihatkan keadaan pria itu memang keadaannya sekarang memang sangatlah baik. Denis mendekat, untuk kemudian merangkul dan memeluk Jovian, seraya memberikan tepukan pelan di punggung sahabatnya.
“Kau pantas mendapatkan kebahagiaan ini, sobat. Setelah apa yang kamu lalui di masa lalu. Lima tahun bertahan, tapi tidak mendapatkan apa selain rasa sakit hati.” Ucap Denis penuh haru.
Bahkan netra Denis tampak sedikit berkaca-kaca.
“Hmmm, … belum genap aku dan Kiana menikah. Tapi dia sudah melimpahkan banyak kebahagiaan, … kau tahu Denis? Bahkan aku menyesal sempat mengabaikan perasaanya, dan membiarkan dia mencintai aku sendiri tanpa aku membalas rasa cintanya.”
Denis mendorong bahu Jovian, sehingga mereka dapat saling menatap satu sama lain.
“Sampai sekarang!?”
“Tentu saja tidak, … kalau sekarang seperti aku lebih mencintai dia. Tidak ingat yah seberapa pusingnya aku ketika Kiana dibawa Sita Umroh.”
“Awas saja kalau sampai kau masih bersandiwara. Maka pria yang pertama menghajarmu adalah aku, lalu dilanjutkan dengan Pak Danu dan bawahan-bawahan lainnya.”
“Ngawur, mana bisa aku tidak mencintai ibu dari anak-anakku!”
Denis hanya tersenyum.
“Bagaimana Sita? Kalian sudah berniat promil lagi?”
Tiba-tiba saja raut wajah Denis menjadi murung, ketika mendengar pernyataan dari sahabatnya. Dia bahkan sampai menundukan pandangan, sambil memainkan kaleng minumannya.
“Sekarang terserah dia. Kalau mau tambah ya ayo, tapi kalau Sita bilang Dendi juga cukup, ya tidak apa-apa. Melihat dia waktu itu membuat aku sangat takut, kamu tahu Jo? Sita bukan tipikal orang yang cengeng, dia tidak pernah mengeluh dengan sakit apapun. Tapi waktu itu, dia benar-benar bilang kalau rasanya sungguh menyakitkan.” Ingatan Denis berputar jelas, mengingat momen yang paling menegangkan di dalam hidupnya.
Dimana Sita harus menahan rasa sakit yang luar biasa, ketika mengalami kehamilan ektopik. Yang mengakibatkan janinnya dikeluarkan secara paksa, karena satu dan lain hal.
Jovian menepuk pundak sahabatnya, dia merasakan ketakutan yang Denis alami.
“Kalau begitu nanti bawalah mereka berkunjung kerumah, setidaknya ada hal lain yang akan membuat kalian lupa akan kisah itu.” Katanya, lalu Jovian bangkit.
Dia berjalan melenggang ke arah pintu keluar.
“Kau mau kemana? Buru-buru sekali?”
“Kiana akan mencariku, … kapan-kapan kita bicara lagi.”
__ADS_1
Jovian mengangkat satu tangannya untuk berpamitan, lalu mendorong pintu kaca di hadapannya, untuk kemudian berlari kencang ke arah rumah besar yang terletak tidak jauh dari bangunan itu.