Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Perjalanan yang sangat panjang.


__ADS_3

Jovian kembali melirik Kiana. Gadis yang terus bergerak-gerak seperti tidak merasa nyaman dengan posisi duduknya.


"Mau berhenti lagi?" Tawar Jovian, seraya menatap Kiana sekilas, dan kembali memfokuskan diri pada jalanan bebas hambatan di hadapannya.


"Ini masih lama banget yah!?" Kiana terdengar merengek, sepertinya dia benar-benar sudah merasa tidak tahan lagi dengan perjalanan yang sudah memakan waktu yang sangat lama.


Terlihat dengan begitu jelas, raut wajah lelah Kiana perlihatkan, tapi gadis itu belum tertidur selama 4 jam setengah mengarungi perjalanan.


"Kalau mau berhenti lagi, … saya cari rest area?" Pria itu berbicara lagi, tanpa mengalihkan pandangan sama sekali.


Kiana menghela nafas.


"Biasanya Om kalau pulang berapa jam?" Kiana sedikit kesal.


"Kalau saya sendiri, tidak ada kendala apapun. 4 jam pasti sudah sampai, … kalau tadi kan kita terjebak macet di beberapa titik." Jelas Jovian.


"Hhheuh!" Kiana menghela nafasnya lagi.


Dia merapatkan punggungnya pada sandaran kursi, menarik sesuatu di sebelah kiri sampai kursi itu turun perlahan-lahan ke arah belakang.


"Punggung aku pegel semua, Om!" Kiana kembali merengek.


"****** aku …"


"Hey! Bicaranya sedikit sopan!" Sergah Jovian.


"Lah! Terus aku harus sebut apa? Kan namanya memang begitu." Gadis itu menggerutu.


Jovian mulai melambankan laju mobil yang ada di bawah kendalinya, menepi dan berhenti di bahu jalan untuk beberapa saat.


Dia menatap Kiana, dengan keadaan ekspresi gadis itu yang sudah tidak secerah saat Kiana baru saja duduk di sampingnya. Celotehan yang terus terdengar, obrolan absurd yang Kiana katakan kini benar-benar sudah tidak ada lagi, berganti dengan raut wajah masam karena merasa kesal.


"Mungkin 1 atau 2 jam lagi kita akan sampai, tapi kalau kamu mau istirahat atau mencari hotel dulu untuk bermalam, maka saya akan mencarikannya." Jovian menatap Kiana lekat-lekat.


Gadis itu menoleh, sampai pandangan keduanya beradu.


"Jangan tatap aku kaya gitu. Om keliatan galak, … tapi akunya bukan takut. Malah makin jatuh cinta!" Tiba-tiba saja dia tersenyum.


Sementara Jovian memutar bola matanya.


"Kalau aku minta Om booking kamar, memangnya boleh?" Kiana mengulum senyumnya, terus menatap tatapan tajam Jovian dengan perasaan tak gentar sedikitpun.


Perlahan Kiana mengubah posisinya menjadi duduk, menekan tombol di sebelah kanan sampai seatbelt yang dia kenakan terlepas, mencondongkan tubuh, lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir Jovian.


"Sama calon istri jangan galak-galak, Om!"


"Kiana jangan mulai!" Jovian memperingati dengan suara rendahnya.


Kiana masih tersenyum.


"Jadi bagaimana? Mau lanjut atau menginap disini dulu? Saya Carikan hotel kalau mau?"

__ADS_1


Dia kembali bertanya.


"Lanjut sajalah. Masa menginap di hotel, kan belum sah, … masa mau …."


"Stop! Stop. Kenapa semakin kesini bicamu semakin kemana-mana? Terkadang kamu terlihat malu-malu, tapi terkadang juga terlihat sangat berani seperti sekarang?"


Jovian seperti menanggapi sikap Kiana.


"Emmmm, … tatapan Om bikin aku semakin takut!" Gadis itu berujar seraya mengusap-usap dadanya, dimana terdapat ribuan kupu-kupu bersarang di dalamnya.


Kiana segera membenarkan posisi duduk, bahkan gadis itu kembali memasangkan tali sabuk pengaman, dan mengalihkan pandangan dari Jovian, ketika jantungnya terasa benar-benar akan meledak.


"Haduh, … perasaan ini semakin terasa aneh. Aku takut gila, bahkan hanya karena melihat dia menatap aku seperti itu!" Batinnya berbicara.


***


Dan setelah melakukan perlahanan yang sangat panjang. Akhirnya Jovian memarkirkan mobilnya di hadapan sebuah rumah panggung, dengan ornamen kayu yang memenuhi bangunan itu, namun terlihat sangat elegan dan nyaman dengan warna coklat mengkilap.


Bisa di tebak jika memang Jovian lahir bukan dari keluarga yang sembarangan.


"Ayo, kita sampai. Ini rumah kedua orang tua saya, rumah masa kecil saya, … tidak sebagus dan sebesar milik Pak Danu, tapi cukup nyaman, dan sudah melakukan beberapa kali renovasi hingga bisa sampai berdiri kokoh seperti ini." Kata Jovian.


Pria itu menarik gagang pintu di samping kanan, membukanya kemudian keluar lebih dulu.


Seorang wanita dengan kisaran umur 60 tahun keluar, tersenyum ke arah anaknya yang baru saja tiba. Sementara Kiana masih berusaha menenangkan perasaanya, ketika gugup tiba-tiba memenuhi diri.


Kening Jovian menjengit, ketika mendapati Kiana tak kunjung keluar dari dalam mobilnya. Dirinya yang berniat mendekati sang ibu dengan segera, berbalik badan, lalu membuka pintu mobil sebelah kiri dimana Kiana duduk disana.


"Aku gugup Om?"


Wanita yang sedang menunggu putranya mendekat terlihat bingung, dia berusaha menajamkan pandangan ketika melihat anak laki-lakinya bercakap-cakap dengan seseorang yang duduk di kursi penumpang.


"Anak itu membawa siapa?"


Jovian terkekeh pelan.


"Kenapa kamu ini jujur sekali? Apa yang kamu rasakan kamu utarakan langsung." Katanya.


"Aku harus gimana, Om? Aku bingung."


Tubuh Jovian membungkuk, dia meraih tangan Kiana, kemudian menariknya sampai gadis cantik itu keluar dari dalam mobilnya.


"Hanya bersikap biasa saja. Tidak usah merasa terlalu gugup karena saya tidak akan pergi jauh darimu."


Kiana menatap wajah Jovian dengan perasaan yang tidak bisa di artikan oleh kata-kata.


"Benarkah setelah ini aku akan menikah? Lalu apa selanjutnya? Aku tidak tahu jadi seorang istri itu harus apa dan bagaimana." Batin Kiana bermonolog.


Sekilas Kiana mendongakkan pandangan, menatap wanita tua itu dengan senyuman tertahan.


"Jo? Kamu bawa siapa?" Tanpa benyak berbasa-basi wanita yang akrab di sapa Leni itu bertanya kepada Jovian, menatap keduanya bergantian dengan tatapan penuh keterkejutan.

__ADS_1


Kiana menunduk.


"Ini Kiana."


"Kiana, perkenalkan ini Mami saya." Dia memperkenalkan.


Dua wanita berbeda usia itu saling memandang. Kiana dengan senyuman malu-malunya, sementara Leni dengan banyak pertanyaan di dalam isi kepalanya.


"Mami? A-aku Kiana."


Gadis itu segera mendekat, meraih tanga wanita itu dan menciumnya.


"Oh iya Kiana senang bisa bertemu. Jovian mengajak kamu kesini? Apa orang tuamu mengizinkan?" Leni kembali bertanya, hanya sekedar untuk meyakinkan jika putranya sedang tidak melakukan hal buruk.


Kiana mengangguk. Kemudian menatap Jovian sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu ayo masuk. Masakan Mami sudah siap, Papimu juga sudah menunggu di meja makan."


Leni mempersilahkan, dia hampir saja berbalik badan, namun panggilan Jovian menghentikannya.


"Dia calon istri aku, Mam!"


Raut wajah keterkejutan jelas terlihat. Dia menatap Kiana dan Jovian bergantian, tanpa senyuman atau rasa bahagia sedikitpun.


Dan tentu saja Kiana merasakan itu. Raut wajah yang Leni perlihatkan sangat jelas, dan membuat Kiana merasa sedikit ragu.


"Apa aku tidak akan di terima?" Hatinya berbicara.


Pikirannya bahkan sudah jauh melanglang buana. Memikirkan segala hal terburuk yang mungkin saja akan terjadi.


"Baiklah, ayo masuk dulu. Tidak enak bicara diluar, lagi pula kita punya tamu, adab kita sang tuan rumah akan sangat buruk ketika membiarkan tamu berdiri di luar seperti ini!" Leni menatap Kiana, kemudian tersenyum.


"Ayo masuk."


Leni meraih pundak Kiana, dan membawanya masuk kedalam rumah yang terlihat begitu luar biasa.


Ruang tamu yang cukup luas, hanya di gelar karpet besar namun terlihat mewah. Terdapat beberapa hiasan bunga di setiap sudut, membuat suasana di dalamnya terasa begitu nyaman. Lalu mereka melewati sebuah ruangan lain yang tak kalah besarnya, bergelar karpet dan di lengkapi sofa, jangan lupakan meja dan tv 40 inc yang menjadi pelengkap di ruangan sana.


"Papi? Lihat Jo datang bersama siapa!" Leni memanggil seorang pria berrambut putih yang saat ini duduk di kursi meja makan.


Memakai kaca mata baca, dengan ponsel yang ada di dalam genggamannya.


Pria itu menoleh. Dan hal itu kembali membuat Kiana cukup terkejut.


"Ahhhh, … jadi aku menyukai anak blasteran!" Hatinya berteriak, dengan debaran yang terasa semakin meningkat.


......................


...Jangan lupa untuk selalu dukung othor yah!...


...Apalah jadinya othor tanpa dukungan kalian....

__ADS_1


...🤩😍....


__ADS_2