Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Mie rebus


__ADS_3

Tok tok tok!!


Suara ketukan begitu jelas terdengar dari balik pintu. Membuat Jovian yang sedang duduk setengah berbaring, menatap tayangan televisi di kamar istrinya segera bangkit, menurunkan kedua kaki, mendekati pintu kamar yang tertutup rapat, dan terus terdengar ketukan kencang disana.


"Ya, sebentar!" Jovian menjawab dengan suara yang sedikit meninggi.


Tangannya terulur, menyentuh handle pintu, menekannya cukup kencang sampai membuat pintu yang tadinya tertutup kini menjadi terbuka lebar.


Dan tampaklah Yati berdiri di hadapannya, membawa sebuah nampan, dengan satu mangkuk mie rebus lengkap dengan telur mata sapi, air minum dingin di dalam botol kemasan, tak lupa satu toples kerupuk dan saus sambal.


"Mie nya, Pak." Yati berujar sambil menyodorkan benda tersebut.


Jovian mengangguk, lalu mengulum senyum, dan segera mengambil alih nampan itu dari sang asisten rumah.


"Terimakasih, Bi." Ucap Jovian, dengan senyuman tipis.


Yati mengangguk.


"Ada yang lain, Pak? Siapa tahu mau tambah nasi?" Tawar wanita itu kepada Jovian.


"Tidak usah, terimakasih." Jovian menggelengkan kepalanya, berjalan masuk ke arah dalam, dan meletakan nampan itu di atas meja kaca, yang berada tepat di hadapan sofa besar kamar itu.


Sementara Yati terlihat meraih gagang pintu, dan membantu untuk menutup ruangan tersebut, sebelum dia kembali ke bawah.


Jovian mulai duduk di atas sofa sana. Meraih sendok dan garpu, kemudian mengaduk-aduk mie dengan kuah soto yang terlihat sangat menggiurkan, hingga membuat bau lezat segera mengudara di dalam kamar sana.


Pandangan Jovian lurus ke arah televisi, seraya mengangkat mangkuknya, dan mulai menikmati sajian berkuah itu dengan lahap. Tak lupa dengan saus dan kerupuk, salah satu pelengkap yang sangat cocok untuk dinikmati saat malam hari, apalagi hujan yang terus mengguyur daerah kota Tangerang sana.


Mata Kiana mulai mengerjap, ketika penciumannya menghirup aroma sedap yang mengudara memenuhi ruangan itu.


"Sayang?" Dia berusaha menarik kesadarannya.


Kiana bangkit perlahan-lahan, mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang.


Jovian segera menoleh saat mendengar namanya dipanggil, menatap wajah sembab khas bangun istrinya sambil tersenyum seperti biasa.


"Apa aku berisik sampai membuat kamu terbangun, Baby?" Jovian langsung bertanya.


"Kamu makan apa? Wangi banget?" Perempuan itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.


Kiana menyingkap selimut yang sedari tadi menggulung tubuhnya, turun dari atas tempat tidur, kemudian berjalan mendekati sofa, dan duduk tepat di samping suaminya.


Dia beringsut mendekat, melihat sesuatu di dalam mangkuk sana, yang terlihat menggugah selera. Mie rebus dengan kuah kental, juga kerupuk dan telur mata sapi yang sedang suaminya nikmati.


"Mie rebus?" Kiana bertanya dengan segera, lalu mengecapkan mulut, saat tiba-tiba saja air liurnya terasa berkumpul di dalam sana, dan hampir saja keluar tanpa aba-aba.


Jovian mengangguk, dengan mulut yang tak hentinya mengunyah.


"Kamu mau?" Tanya Jovian, dia menatap lekat ekspresi wajah istrinya.


Matanya menatap wajah Jovian dan mangkuk mie itu bergantian. Dan itu menggemaskan, ketika Kiana diam dengan ekspresi wajah yang terlihat menggemaskan.


"Kalau mau aku minta Bi Yati untuk membuatkannya untukmu!" Jovian kembali bertanya.


Namun dengan segera Kiana menggelengkan kepalanya.


"Aku mau, … tapi yang itu!" Katanya malu-malu. Lalu menunjuk mangkuk mie yang sedang Jovian pegang.


Kiana takut Jika Jovian tidak memberikannya. Namun, siapa sangka, ternyata Jovian memberikan mangkuk mie itu agar sang istri bisa mencicipi.

__ADS_1


"Boleh?" Senyumannya tertahan.


"Ya, tentu saja. Makanlah jika dengan itu kamu merasa lebih baik." Dia tersenyum. "Sejak aku pulang kamu terus ada di atas tempat tidur, dan mengeluh pusing. Tapi sekarang kamu mendekat dengan keadaan yang terlihat sedikit lebih baik." Sambungnya kembali, dengan raut wajah Jovian yang tampak berbinar.


Dengan senyuman lebar Kiana meraih mangkuk tersebut, dan mulai menjejalkan mie beserta kuah kedalam mulutnya.


"Astaga!" Kiana menatap Jovian. "Ini enak sekali! Kok bisa yah? Padahal biasanya kalau aku makan mie rasanya tidak seenak milik kamu." Dengan lahap Kiana kembali menikmati mie kuah soto milik suaminya.


Jovian tersenyum, dia meraih botol air minumnya. Membuka tutup yang masih bersegel, kemudian meneguk sampai habis setengah.


"Memang. Situasi juga sangat mendukung mie akan terasa enak atau tidak. Kalau sekarang sudah pasti enak, pertama sudah malam, kedua hujan, ketika di bikinin Bi Yati." Jelas Jovian sambil tertawa pelan.


Kiana mengangguk, dan menyuapkan mie untuk terakhir kalinya.


"Nah! Terimakasih, aku sudah kenyang." Kiana kembali menyodorkan mangkuk tadi kepada Jovian.


"Tidak apa, ayo makan lagi kalau masih mau." Ucap Jovian.


"Nggak, udah cukup." Kita menggelengkan kepalanya.


"Benar?"


Kiana mengangguk.


"Tidak marah kalau aku habiskan?"


"Iya, kenapa harus marah? Aku sudah kenyang, hanya saja melihat kamu makan membuat nafsu makan aku bangkit lagi."


Jovian diam untuk beberapa saat, lalu kemudian meraih mangkuk yang Kiaan sodorkan.


"Terimakasih sudah mau berbagi mie nya denganku." Wajahnya semakin terlihat berbinar.


"Aku habiskan yah!" Sekali lagi Jovian bertanya.


"Iya."


Kiana mengangguk-anggukan kepala, beralih membawa botol air minum, dan meneguknya perlahan-lahan.


***


Klek!!


Pintu kamar terbuka dari arah luar. Bersamaan dengan masuknya Jovian setelah dia membawa mangkuk kotor dan yang lainnya ke dapur.


Dia mengarahkan pandangan ke arah istrinya, dimana perempuan itu berbaring di atas sofa, memeluk bantal dengan ekspresi wajah serius saat adegan film yang diputar semakin menegangkan.


"Kenapa kamu di sana? Nanti badanmu terasa sakit." Kata Jovian.


Kiana tidak menjawab, dia terlihat begitu fokus.


"Hey? Kemarilah!" Panggil Jovian lagi. Dia naik ke atas tempat tidur terlebih dulu, menumpuk beberapa bantal, dan berbaring.


"Ih kamu jangan tidur duluan yah!" Perempuan itu segera turun dari atas sofa, berlari dan melompat ke atas tempat tidur, lalu menyembunyikan wajah di balik selimut.


Sementara Jovian tertawa saat melihat tingkah konyol istrinya.


"Kamu ini kenapa?" Tanya Jovian sambil terus tertawa.


Kiana menyembulkan kepalanya kembali sedikit, melihat adegan selanjutnya di dalam film itu, dengan perasaan berdebar-debar.

__ADS_1


"Hanya The Conjuring. Apa yang menyeramkan?"


Jovian menarik selimutnya, sampai Kiana tidak lagi dapat bersembunyi.


"Sayang, ini serem tau! Apalagi pas bagian lainnya terbang, terus membentuk seperti orang yang sedang berdiri." Sergah Kiana seraya kembali menarik selimutnya. Namun, dengan jahil Jovian menahan benda itu, sampai Kiana tidak ada pilihan lain, selain memeluk tubuh pria di dekatnya, dan menyembunyikan wajah di dada bidang milik Jovian.


"Astaga. Katanya kamu tidak percaya hantu!" Pria itu mengingat ucapan Kiana beberapa Minggu silam, saat mereka berkunjung ke rumah kedua orang tuanya.


Aneh memang. Gadis yang sangat suka menguji adrenalin nya, kini terlihat ciut saat dihadapkan dengan sebuah film horor yang disutradarai oleh James Wan.


"Ya memang tidak percaya, cuma filmnya bikin gereget." Dia berusaha mengelak.


"Tapi bukan itu yang membuat aku gagal fokus. Tidak hantu atau gejala-gejala aneh yang mulai Carolyn dapatkan." Jovian berujar.


"Apa? Latar belakang rumahnya?" Tanya Kiana sambil kembali mengarahkan pandangan ke arah televisi.


"Kisahnya memang menyeramkan, tapi yang membuat aku kagum itu mereka memiliki lima orang putri, dan Carolyn mengurus mereka dengan sangat baik. Bukankah mereka keluarga yang sangat bahagia?"


Jovian menundukan pandangan, sementara pandangan Kiana menengadah, sampai mata mereka kembali beradu satu sama lain.


"Lalu bagaimana dengan kita? Bukan tidak bahagia. Tapi aku yang memiliki saudara saja masih merasa kesepian. Bagaimana dengan kamu? Kamu tumbuh besar seorang diri, tanpa ada teman yang bisa diajak main."


Dan apa yang Jovian katakan memang sedikit menyentuh hatinya. Dia memang dapat memiliki apapun yang dia mau, orang tuanya sangat berbaik hati untuk selalu memberikan apapun yang Kiana minta. Namun dia benar-benar merasa kesepian, karena tidak memiliki saudara kandung, dan teman hanya untuk berebut atau berbagi mainan. Bahkan dia tidak dekat dengan sepupu-sepupunya karena konflik keluarga yang tidak berkesudahan.


"Seru yah! April memiliki 4 Kakak perempuan, dan mereka melengkapi satu sama lain." Kiana terkekeh. "Padahal aku mau juga punya Abang atau Kakak. Di sayang, di lindungi pas lagi ada yang ngebully di sekolah, nemenin aku main … ah pokoknya seru deh kalo punya saudara." Katanya lagi, lalu semakin mempererat pelukannya pada Jovian.


Jovian tersenyum.


"Aku bisa menjadi apapun. Suami, sahabat, teman curhat, dan kakak laki-laki yang kamu inginkan. Jangan sedih, oke? Tadinya aku hanya memberi gambaran, jika suatu saat nanti kita memiliki lima anak, tidak bermaksud membuat kamu sedih seperti ini."


"Ya aku tahu."


Kiana beralih meraih pundak Jovian, menariknya perlahan-lahan, dan;


Cup!!


Satu kecupan manis Kiana daratkan di bibir manis suaminya.


"Terimakasih karena sudah menikahiku. Mau bersedia menjadi sahabat, teman curhat, dan seorang kakak laki-laki, selain menjadi suami tentunya." Kiana terkikik pelan.


Jovian membalas ucapan istrinya dengan senyuman samar.


"Baiklah. Kalau tidak mau menonton tidurlah, sudah jam sepuluh malam! Kamu harus istirahat agar tepat sembuh."


Setelah mengucapkan itu Jovian melepaskan diri, kemudian beranjak, berjalan mendekati pintu kamar mandi yang berada di salah satu sudut ruangan itu.


"Sayang!?"


"Aku belum gosok gigi dan cuci muka." Sahut pria itu.


Kiana ikut turun, lalu berlari menyusul suaminya.


"Aku juga belum gosok gigi."


"Kamu sedang sakit, tidak usah grasak-grusuk. Nanti pusing lagi!" Jovian memperingati.


Sementara Kiana hanya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang terlihat putih bersih dan rapi.


......................

__ADS_1


Jangan lupa apaaaaaa? hayooo apaaaa? 🙈🙈


__ADS_2