Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Persepsi Kiana


__ADS_3

Angin terasa berhembus semakin kencang, menerpa apapun yang ada di sekitaran rumah besar milik Danu. Daun-daun berbunyi riuh, ketika dahan pohon bergerak-gerak tak tentu arah, di selingi suara gemericik air yang mengalir kecil di kolam ikan koi sana. Sementara, sepasang pengantin baru tampak asik berbincang-bincang santai. Dengan pandangan Jovian yang terus tertuju ke arah layar laptop, membuat catatan hasil laporan yang seseorang kirimkan melalui sebuah pesan singkat.


"Kamu tidak kesulitan?" Kiana memandang wajah suaminya yang tengah fokus mengerjakan sesuatu.


Sekilas Jovian menoleh, lalu menatap istrinya dengan raut wajah cukup serius.


"Kesulitan dalam hal apa?" Jovian balik bertanya.


"Menjadi petani Teh?"


Jovian menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, lalu mengarahkan pandangan ke arah Kiana, dan memberikan perempuan itu senyuman paling manis yang dia miliki.


"Tidak sama sekali. Jauh sebelum sekarang kan suka lihat Papi kerja, … hanya saja pekerjaan sekarang lebih sulit dari pada menjadi Bodyguard. Bayangkan saja, awalnya aku hanya memantau seseorang, menjaga mereka dari bahaya apapun yang mengancam, dan memastikan semuanya berjalan dengan baik. Tapi sekarang aku harus menghitung, mencatat, dan mengamati apa ada yang keliru atau tidak." Jelas Jovian.


Kiana mengulum senyum. Dia kembali menyeruput coklat panasnya dengan sangat perlahan. Kemudian meletakan mug berukuran besar itu di atas meja, tepat di samping laptop milik Jovian yang saat ini tengah menyala.


"Kamu mau sesuatu?" Tawar Kiana.


Jovian mengubah posisi bersandarnya menjadi duduk tegak seperti semula, dan kembali mengerjakan sesuatu yang sempat dia jeda.


"Tidak usah. Kalau mau nanti aku ambil sendiri, atau meminta Bi Yati." Katanya.


"Ish, … kalau cuma buat kopi mah aku juga bisa, nggak usah nyuruh Bi Yati!"


"Tidak perlu, kamu kan sedang sakit. Tidak ingat? Tadi bagaimana sebelum minum ibuprofen?"


Kiana diam saat Jovian mengatakan itu. Karena dirinya baru saja membaik, dari rasa nyeri yang selalu dia rasakan hampir setiap bulan. Namun, kali ini Kiana merasakan hal itu lebih sakit lagi, dan dia tidak tahu penyebabnya apa.


"Sudah jam sepuluh malam. Mama dan Papamu juga sudah naik, … jadi istirahatlah lebih dulu, aku akan segera datang setelah menyelesaikan


pekerjaannya." Kata Jovian.


Dengan jari-jarinya yang terus bergerak-gerak di atas keyboard laptop.


"Ya sudah. Ayo naik sama kamu, di luar juga sudah dingin, angin malam tidak baik untuk kita."


Kiana meraih pergelangan tangan suaminya, hendak membawa pria itu untuk berdiri, tapi dengan segera Jovian menolaknya.


"Kamu saja, nanti aku menyusul, oke?" Jovian sambil tersenyum.


Perempuan itu diam, menatap suaminya penuh curiga. Karena tidak biasanya Jovian bertingkah demikian.


"Kamu kenapa deh? Pulang dari rumah Tante Sita jadi gini? Kenapa? Gara-gara ketemu Tante Eva yah!?" Sorot mata Kiana menjadi sangat tajam.


Namun, Jovian hanya tersenyum untuk menanggapi kecemburuan istrinya.


"Tidak ada hubungannya kesana, Baby! Aku hanya sedang menyelesaikan pekerjaanku saja. Dan kamu sedang tidak enak badan, maka dari itu aku memintamu untuk naik lebih dulu. Jangan selalu memikirkan yang tidak-tidak, atau kamu akan selalu merasa was-was karena ulahmu sendiri." Pria itu terkekeh pelan, apalagi saat melihat tatapan Kiana yang terasa semakin tajam.

__ADS_1


Semakin hari sifat pecemburunya semakin terlihat. Sedikit risih dan aneh, tapi pada kenyataannya Jovian menyukai Kiana saat bersikap demikian, karena sudah di pastikan jika Kiana mencintainya cukup besar.


"Habisnya kamu jadi aneh setelah bertemu Tante Eva!" Sentak Kiana.


"Hanya perasaan kamu saja. Sudah aku katakan aku sedang berusaha mencatat semua laporan yang Mang Adang kirimkan. Minggu depan aku harus kesana, aku akan menyelesaikan semuanya dengan segera, wisudamu sudah sangat dekat, tidak mungkin aku pergi di acara yang paling bersejarah dan tidak terlupakan bagimu!"


Jovian berusaha terus santai, walau pada akhirnya dia merasa sedikit takut dengan kemarahan Kiana. Dan nampaknya perempuan itu sedang merasakannya saat ini. Raut wajahnya berubah menjadi muram, bibirnya cemberut, sorot mata yang tajam, dengan dada yang naik turun dengan cepat.


"Ah kamu nyebelin!"


Kiana membungkuk, meraih mug berisikan coklat panas miliknya, hendak pergi, tapi Jovian menahan pergelangan tangannya.


"Jangan marah! Kalau tidak mau masuk kamar maka tetaplah disini, tapi jangan marah. Nanti Papa dan Mama dengar, tidak baik!" Dia membuat suaranya selembut mungkin.


Namun, bukan Kiana jika dia akan luluh begitu saja. Sifat keras kepalanya tidak mudah ditaklukan begitu saja, maka jika sudah merasakan kesal dan marah, dia akan tetap seperti itu sampai keadaan hatinya benar-benar membaik.


"Awas!!" Kiana menyentakkan tangannya sampai benar-benar terlepas dari genggaman Jovian, lalu pergi meninggalkan suaminya begitu saja, dengan amarah yang terlihat jelas dari sorot dan ekspresi wajahnya.


Jovian diam untuk beberapa waktu, menatap punggung Kiana yang berjalan semakin menjauh dari gazebo tempatnya berdiam diri saat ini.


"Hhheuh!" Dia menghembuskan kembali punggungnya pada sandaran sofa. "Aku lupa dia siapa. Meskipun akhir-akhir ini dia menjadi sangat manis dan penurut, tapi dia tetap Kiana, dan amarahnya cukup besar jika dia merasa tersinggung atau merasakan hal yang cukup janggal menurut dirinya." Pandangan Jovian terus tertuju ke arah pintu penghubung taman belakang dan ruang tengah, meskipun Kiana sudah menghilang dari pandangannya.


Jovian menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, menyapu wajah cukup kencang, lalu kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Hari semakin larut, hembusan angin terasa semakin dingin dan menusuk, kala jam sudah menunjukan tepat pada pukul 23.30 hampir tengah malam.


Jovian mematikan laptopnya, menutup benda itu setelah benar-benar memastikan file yang dia buat tersimpan dengan baik. Dia merapikan setiap barang-barang yang ada di meja, segera berdiri, dan beranjak pergi dari area taman belakang sana.


Dia menutup pintu itu dengan sangat rapat, tak lupa memutar kunci agar tidak ada yang bisa masuk dari arah luar. Suasana rumah sudah sangat sepi, hanya terdengar bunyi dentik jarum jam, dengan lampu-lampu di setiap ruangan yang sudah padamkan.


Jovian mulai melangkahkan kaki menaiki setiap anak tangga satu-persatu dengan sangat hati-hati. Sampai akhinya dia berdiri di hadapan pintu kamar milik istrinya. Sempat ragu untuk masuk, namun tetap Jovian lakukan dengan sisa keberanian yang ada.


Aneh. Dia tidak merasakan hal seperti ini, bahkan dirinya selalu bersikap acuh saat dulu Eva selalu merajuk dan marah-marah tampa sebuah sebab yang jelas. Tapi kali ini, nyalinya seperti ciut hanya karena mood seorang perempuan muda yang sedang mengalami masa menstruasinya.


Suasana di dalam kamar sana terlihat gelap gulita. Lampu besar yang selalu menyala sudah di matikan, dan hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui celah pentilasi udara. Pintu kamar kembali Jovian tutup dengan perlahan-lahan. Berusaha agar tidak menimbulkan suara, karena takut jika seorang perempuan yang sudah berbaring di atas tempat tidur terganggu.


Jovian meletakan tas kerjanya di atas sebuah meja yang terletak di paling sudut ruangan itu. Kemudian beranjak memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya dia naik ke atas tempat tidur bersama istrinya.


Dan setelah menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Akhirnya Jovian keluar, dengan hanya handuk yang melingkar dari pinggang ke bawah.


"Malam-malam begini kamu mandi?"


Suara Kiana tiba-tiba terdengar, membuat Jovian yang sedang berusaha membuka pintu lemari pakaiannya tersentak kaget.


"Sudah hampir tengah malam, kamu mandi lagi?"


"Kamu belum tidur, Baby?" Jovian menjawab pertanyaan Kiana dengan jawaban lagi.

__ADS_1


Membuat helaan nafas Kiana terdengar sangat kencang.


Jovian tidak mau menanggapi kekesalan istrinya yang mungkin saja masih tersisa. Dia hanya fokus pada pakaian yang mulai dia kenakan, lalu kembali ke kamar mandi untuk menyimpan handuk bekas pakai miliknya.


"Dih, menghindar!" Kiana bergumam, lalu mendelik.


Dia bangkit dan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Sampai akhirnya pria tinggi besar kembali keluar dari arah pintu kamar mandi kamarnya.


"Sudah malam. Kenapa bangun?"


Jovian menyingkap selimut, kemudian naik dan masuk ke dalam sana.


"Aku belum tidur tahu!" Katanya dengan ketus.


"Baiklah, kemari. Kita tidur bersama-sama, kamu pasti lelah, makanya dari tadi marah-marah terus!" Ujar Jovian.


Lalu pria itu mengulurkan tangan, meraih lengan Kiana, dan menariknya sampai perempuan itu kembali berbaring, dan menempelkan wajah di dadanya.


"Aku kesal bukan karena lelah. Tapi karena kamu tidak mau aku buatkan minuman, sama aku ajak naik ke kamar." Perempuan itu masih menggerutu.


"Ya, maafkan aku." Ucap Jovian dengan suara rendah.


"Hanya begitu? Padahal aku marah sudah dari satujam yang lalu?"


"Shuutttt! Sudah malam, tidak boleh berisik. Ayo pejamkan matamu dan tidur!" Jovian menepuk-nepuk pundak Kiana.


Kiana hampir membuka mulutnya kembali untuk menjawab setiap perkataan yang suaminya ucapkan. Namun, Jovian segera mencium keningnya, yang membuat api kemarahan yang sedari tadi terus berkobar tiba-tiba padam.


"Aku hanya sedang mengalihkan pikiraku, kau tahu? Rasanya berat jika kita harus berduaan di tempat tertutup, sementara kita tidak dapat melakukan apapun, kamu sedang datang bulan!" Tukas Jovian.


Dan itu benar-benar membuat Kiana bungkam.


"Kamu tidak mengerti, bagaiaman menggebu-gebu nya perasaan aku saat kita hanya berdua. Jadi dari pada kita melakukan yang tidak-tidak, sebaiknya aku menyelesaikan pekerjaanku di luar saja, walaupun harus menghadapi kekesalanmu seperti sekarang ini."


Perempuan itu benar-benar diam.


Cup!!


Sekali lagi Jovian mencium kening milik Kiana.


"Aku mencintaimu, Baby! Jadi jangan membuat hubungan kita rumit hanya karena persepsi yang berbeda. Aku memang sedang ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, bukan sedang memikirkan Eva atau siapapun. Berhentilah melakukan ini atau kita akan benar-benar bertengkar, … sudah aku jelaskan jika aku juga seorang pria yang keras kepala, aku takut suatu saat nanti tidak bisa menahan diri saat kamu menuduhku yang tidak-tidak! Aku juga manusia biasa yang kadang kesal, ingin marah, dan mempunyai harga diri dan gengsi yang tidak mudah untuk di kendalikan."


Jovian semakin mengeratkan pelukannya, lalu kemudian memejamkan mata, kala rasa kantuk dan lelah beradu-padu menjadi satu. Hal yang sama Kiana lakukan, sampai keduanya terlelap dalam posisi saling memeluk tubuh satu sama lain.


......................


Biasa Om, efek perboden mah emang gitu. Hawanya pengen gedebag-gedebug 🙈🙈

__ADS_1


Eh, jangan lupa yah! yang masih ada vote, bunga mawar, boleh lempar kesini, ... nanti Othor tangkap dengan perasaan riang gembira, Hiyaaaaa 🤪


...cuyung kalian ♥️...


__ADS_2