
Beberapa hari kemudian.
Suasana pagi di kediaman Jonathan terasa semakin hangat. Keberadaan Danu juga Herlin membuat keadaan rumah yang selalu sunyi dan sepi, terasa lebih hidup karena aktivitas mulai bertambah. Bahkan kedua wanita perih baya itu sudah sibuk di dapur, berkutik dengan bahan masakan dan perkakas dapur, di selingi obrolan random dari keduanya.
Terkadang membahas anak-anaknya waktu kecil. Kemudian beralih pada pekerjaan suami mereka, dan berujung membahas hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.
"Sebuah pengalaman baru. Memasak dengan jaket tebal seperti ini." Herlin tertawa sambil melihat dirinya sendiri.
Leni tersenyum.
"Saya saja yang sudah biasa terkadang kalah sama udara pagi disini. Apalagi Bu Herlin, … dari Tangerang yang panas, terus tiba-tiba kesini, pasti butuh perjuangan yang ekstra agar dapat beradaptasi." Ibu dari Jovian Alton itu berujar.
"Pantas Kiana banyak membawa sweater, dan Hoodie. Bahkan dia meninggalkan celana dan baju tidur pendeknya. Ternyata Pangalengan sedingin ini."
Herlina mengusap-usap lengannya sendiri.
"Begitulah. Siang hari saja anginnya sudah sangat dingin, apalagi malam."
Keduanya terus berbicara banyak hal, sementara dua pria tengah asik menikmati teh hangat di depan rumah. Duduk di kursi rotan, memandang area yang luad dari rumah panggung sana. Memperhatikan warga setempat yang sudah memulai aktivitas mereka masing-masing.
Ada yang berjualan bubur ayam dengan pikulan. Kemudian para pria yang berjalan bersama-sama, seraya membawa cangkul dan alat perkebunan lainnya.
"Hari ini ada jadwal melihat kebun teh dan pabrik. Pak Danu mau lihat-lihat juga? Tapi posisinya ada di bukit sana, … sedikit menguras tenaga dan waktu."
Jonathan meletakan cangkir teh miliknya kembali di atas meja, kemudian menatap besannya yang masih asik meniup-niup minuman dengan uap panas yang masih terlihat mengudara, lalu meminumnya setelah merasa rasa panas dari tehnya berkurang.
"Boleh. Siapa tahu bisa melebarkan sayap bisnis juga." Kata Danu.
Lalu pria itu tertawa.
"Memangnya Pak Danu tidak kewalahan? Sudah batubara, … sekarang mau beralih berkebun?"
Danu terdiam. Karena yang diucapkan oleh besannya memang benar. Mengurus tambang saja sudah membutuhkan tenaga lebih, bahkan jika Jovian tidak sibuk melanjutkan usaha keluarganya sudah pasti Danu meminta pria itu untuk ikut mengurus usahanya.
"Nantinya tambang sudah pasti Kiana yang urus, … mungkin juga Jovian. Apa mereka tidak kerepotan yah kalau tambah usaha yang baru." Danu berpikir.
"Kalau mereka berdua pasti kewalahan. Apalagi harus bolak-balik Tangerang-Pangalengan. Tapi jika Pak Danu mau menambah pekerja, bisa saja dilakukan. Cari orangnya yang bisa dipercaya, sehingga anda hanya perlu memantau dari jauh, dan menerima hasilnya dengan bersih tanpa harus repot-repot. Seperti Jovian, dia mempercayakan sebagian kebun miliknya kepada Mang Adang, … jadi dia hanya menerima laporan, lalu hasil. Jika terjadi sesuatu yang serius, barulah turun tangan."
Danu mengangguk, setelah mendengar penuturan dari Jonathan. Pria berwajah asing, tetapi sudah sangat fasih berbahasa Indonesia.
"Mungkin saya harus berunding dengan Kiana dan Jovian. Jadi bisa dipikirkan nanti lagi."
"Baiklah, kalau begitu nanti kita lihat-lihat kebun dan pabrik teh milik pamannya Jovian di atas bukit sana."
Danu menatap Jonathan dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Oh, jadi ini usaha keluarga ya?"
"Bisa dikatakan begitu. Dulu saat saya baru menggarap kebun teh, … sempat bingung harus bagaimana cara memutarkan ya agar dapat menjadi uang. Akhirnya Kakak saya datang, dia memberi sedikit tanah di atas, dan menjadikannya sebagai pabrik teh kecil-kecilan. Dan berjalanlah sampai saat ini. Mereka ada di Belanda, pabriknya di urus orang-orang kepercayaan beliau."
Danu berdecak kagum.
__ADS_1
"Hebat yah! Saya belum bisa seperti itu." Katanya.
"Itu juga saya pantau, Pak. Dulu tidak jarang kita berganti pegawai karena satu dan lain hal. Tapi sekarang sudah tidak lagi, semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya."
Jonathan kembali meraih cangkir teh miliknya, kemudian menyesapnya dengan perlahan-lahan.
"Kalau begitu saya akan mencoba mempercayai orang lain. Selain Denis, … dan mudah-mudahan saya bisa." Kata Danu, yang kemudian kembali menikmati teh panas miliknya.
***
Jovian melewati pintu kamar mandi, setelah selesai menyimpan handuk bekas pakaianya di dalam sana.
Keadaan pria itu sudah terlihat rapi. Celana jeans panjang, kaos polos berwarna hitam, lengan pendek berkerah, dengan rambut yang terlihat di sisir sedikit tapi. Dia berjalan mendekati ranjang tidur, dimana Kiana masih betah bergulung selimut sambil memainkan ponsel miliknya.
"Kamu mau keluar sekarang, Baby?" Jovian duduk di tepi ranjang.
Tangannya terulur, menyentuh permukaan kulit pipi Kiana yang terasa lembut, kemudian mengusap nya perlahan, seolah takut menyakiti sang istri jika dia tidak melakukannya.
"Sebentar lagi, boleh?"
Kiana meletakan handphone di atas nakas, mengubah posisi berbaring miringnya menjadi terlentang, sehingga keduanya dapat beradu pandang.
"Boleh. Memangnya siapa yang mau melarang?"
"Ya siapa tahu aku harus bantuin Mami."
"Ada Bi Wiwin dan Mama kamu, mereka tidak akan merasa kelelahan sama sekali. Jadi santai saja!" Katanya sambil tersenyum.
"Aku ke kebun dulu, oke? Kamu tidak apa-apa aku tinggal? Mungkin sampai tengah hari?"
Kiana tidak menjawab, tapi justru meraih lengan suaminya, dan menarik cukup kencang sampai Jovian kembali membungkuk.
"Hanya sebentar." Jovian berbisik tepat di daun telinga Kiana.
Sementara Kiana langsung melingkarkan kedua tangannya di pundak Jovian dengan sangat erat, sampai pria itu tidak dapat mengubah posisinya untuk beberapa saat.
"Kalau mau ke kebun kenapa harus serapi ini? Mana pakai minyak wangi lagi. Kan banyak ibu-ibu!" Ujar Kiana dengan nada manja.
Jovian tersenyum.
"Sama halnya seperti para pengusaha lainnya. Kita harus tetap berwibawa di hadapan para pekerja."
Kiana menghela nafas, lalu merenggangkan lilitan tangan di pundak Jovian, sehingga membuat pria itu bangkit dan kembali menegakkan duduknya seperti biasa. Seulas senyuman tipis kembali terbit di kedua sudut bibirnya.
"Ah dia tampan sekali." Batinnya berbicara.
"Tidurlah lagi jika kamu masih merasa betah dan mengantuk. Tapi bangun juga tidak apa-apa, siapa tahu sudah ada sarapan yang Mami siapkan. Aku harus ke kebun dulu, sama Papi atau mungkin Papa kamu juga mau ikut untuk melihat-lihat. Kamu ingat? Akhir-akhir ini Pak Danu senang sekali diam di saung belakang rumah."
Kian kembali menghela nafasnya. Membuat Jovian terkekeh cukup kencang.
"Kamu ini kenapa?" Dan akhirnya Jovian tertawa karena sikap istrinya yang sedikit berbeda daripada biasanya.
__ADS_1
"Aku mau ikut boleh?"
"Tidak boleh. Kamu tidak bisa terlalu capek, … ingat ada si kembar yang harus kita jaga, khususnya kamu. Kamu yang membawa mereka, jadi kamu harus ekstra hati-hati dalam melakukan aktivitas apapun."
"Aaaaaaaa!" Kaki Kiana menendang-nendang selimut.
"Ada Mami dan Mama." Balas Jovian, kemudian kembali mencium pipi Kiana dengan gemas.
"Aku maunya kamu."
"Iya, … aku janji hanya sebentar. Melihat panen dan pabrik saja, sambil lihat laporan dari Mang Adang."
Raut wajah Kiana merengut. Bahkan bibirnya mengerucut, dengan pipi memerah karena perempuan itu merasa kesal.
"Jalan ke bukit sana cukup jauh, menanjak juga. Capek, sayang!" Dia mengusap lengan istrinya.
"Iya tapi kamu wangi, kamu ganteng, kalau di godain ibu-ibu gimana?"
"Ya tidak apa-apa, daripada di godain Mang Adang."
"Haih!" Kiana melemparkan bantal ke arah suaminya. "Kamu ngeselin!" Perempuan itu merengek.
Membuat tawa Jovian semakin kencang terdengar.
"Sayang, yang mau ikut bukan aku! Tapi si kembar."
Kiana beralasan. Dia memperlihatkan senyuman yang paling manis, berusaha menggoda Jovian agar pria itu mengizinkannya untuk ikut.
"Tidak! Itu alasan kamu saja!" Tegas Jovian.
"Aaaaaaaaa, … sayang ayolah! Aku mau ikut!" Rengekannya kembali terdengar.
Bahkan lebih kencang.
"Tidak!" Tegas Jovian.
Pria itu tersenyum lebar.
Kiana bangkit, lalu menghambur kedala pelukan Jovian.
"Kalau begitu kamu tidak boleh pergi." Dia terlihat bersungguh-sungguh.
Namun, bukannya merasa takut. Jovian justru terus tertawa karena merasa lucu sendiri dengan sikap istrinya yang sedikit aneh.
......................
Jangan lupa seperti biasa 🥰🥰
Ayoooo sebentar lagi 1M pop🤩
Pokonya cuyung kalian ♥️
__ADS_1