Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Disappointed


__ADS_3

Hati Jovian bergetar, ketika suara tawa Kiana terdengar begitu jelas saat dirinya baru saja menampakkan kaki di rumah Denis. Rumah yang tidak terlalu besar, tetapi kehangatan begitu terasa, apalagi saat Jovian melihat Sita yang tengah asik menata setiap hidangan yang sudah asisten rumah buat di atas meja makan.


Sita diam saat menatap Jovian, lalu dia mengalihkan pandangan ke arah sofa besar ruang keluarga, dimana Kiana dan Dendi tengah bermain monopoli.


"Aaaah!!" Dendi berteriak dengan senyuman yang terlihat. "Kenapa rumah Tante disini semua? Biaya sewanya kan mahal! Aku hampir bangkrut, uang aku sudah mau habis, lihat!?" Katanya, lalu dia mengangkat uang mainan itu ke udara.


Membuat tawa Kiana semakin kencang terdengar.


"Dia bahkan tertawa lepas saat aku tidak bersamanya!" Batin Jovian menjerit, dengan rasa kecewa yang teramat sangat dalam.


"Memang harus begini. Agar Tante jadi orang terkaya di dunia monopoli!" Sahut Kiana.


Senyumnya mulai terpancar. Keberadaannya di tengah-tengah keluarga Denis, membuat Kiana seolah melupakan apa yang sedang dia alami. Bahkan saat ini perempuan itu tak lagi menangis seperti beberapa hari sebelumnya.


Rasa rindunya terasa semakin menyiksa. Namun, ketakutan akan penolakan Kiana jelas Jovian rasakan, sampai membuat pria itu hanya diam menatap istrinya tanpa Kiana sadari.


"Ayo cepak puter lagi!" Pinta Kiana.


Dendi mengangguk, hendak kembali membawa dua dadu yang tergeletak di tengah-tengah sebuah kertas dengan berbagai macam gambar, tapi kedatangan Sita membuat Dendi berhenti seraya menengadahkan pandangan.


"Dendi, kamu harus mandi. Ini sudah hampir pukul empat. Sebentar lagi Pak ustadz datang!" Ucap Sita kepada putranya.


"Hari ini nggak ada jadwal ngaji, Ma!"


Sita terdiam untuk beberapa saat, hingga kemudian dia tersenyum manis dan meraih tangan putranya.


"Mama lupa, tapi kamu harus tetap mandi sore kan?"


"Kita lanjut mainnya nanti ya Tante." Pamit Dendi.


"Baiklah."


Sita menggiring Dendi ke arah ruangan lain. Namun, pandangannya tertuju pada sosok yang terus berdiri, diam dengan sang ayah yang terdiam di belakangnya.


"Om Jovian!"


Ucapan Dendi seketika membuat Kiana mengarahkan pandangannya. Dia menatap sosok pria yang berdiri bersama Denis, dengan ekspresi wajah yang entah harus bagaimana Kiana sebut.


"Cepat mandi, Mama harus menemani Tante Kiana!" Sita menepuk-nepuk pundak Dendi.


Anak laki-laki itu mengangguk, kemudian beranjak pergi memasuki kamarnya. Sementara Sita kembali mendekati Kiana, berusaha membuat kecanggungan yang terasa sedikit berkurang.


"Masuk dan duduklah, untuk apa kamu terus berdiri!"


Denis berjalan mendahului, seraya membawa sebuah map dimana di dalamnya terdapat beberapa dokumen milik Kiana, yang akan Denis urus agar Kiana bisa ikut menunaikan ibadah umroh bersama istrinya.


Jovian menurut tanpa banyak berbicara. Nyatanya rasa rindu membuat Jovian tak mampu bereaksi apapun, selain memperhatikan Kiana. Terlebih dia takut jika Kiana memintanya untuk pergi jika melakukan sesuatu yang berlebihan.


"Om sudah bawa semuanya. Kamu hanya tinggal menunggu!" Katanya, lali memperlihatkan apa yang dia bawa.


"Emmmm, … kamu mau mandi? Aku siapkan air hangatnya ya?"

__ADS_1


Sita menatap suaminya, seolah sedang memberi sinyal agar membiarkan suami istri yang sedang sama-sama menjaga jarak itu mempunyai waktu untuk berbicara dari hati ke hati.


Denis mengangguk.


"Nanti Om kembali. Sekalian mau ngasih tau apa saya yang harus kamu bawa nanti yah?"


Kiana tidak bisa lagi berkata-kata. Dia hanya mengangguk dengan perasaan canggung, yang tiba-tiba saja dia rasakan. Padahal sudah jelas dia tidak merasakan hal itu sebelumnya.


Keduanya pergi meninggalkan Kiana dan Jovian begitu saja.


"Bibi? Jangan dulu diganggu yah? Biarkan mereka berbicara, airnya biar saya saja nanti yang bawa." Ujar Sita kepada salah seorang asisten rumahnya.


"Iya, Bu."


"Sudah aku katakan! Aku akan pulang jika mau." Raut wajah Kiana terlihat datar, dengan nada bicara yang terdengar sangat ketus.


Jovian menggelengkan kepala.


"Aku datang tidak untuk memaksamu pulang. Aku datang hanya ingin melihat bagaimana keadaanmu saja."


Kiana menghela nafasnya.


"Duduklah! Tidak sopan berbicara sambil berdiri."


Jovian menurut, dia beringsut mendekat, lalu duduk tepat di sofa kosong di sebelahnya.


"Aku baik-baik saja. Lalu apa setelah itu? Setelah kamu tahu keadaanku? Kamu senang? Karena aku baik-baik saja disini?" Tanya Kiana.


Matanya terlihat mulai memerah, dengan linangan air mata yang begitu kentara. Bahkan Jovian bisa dengan jelas melihat sang istri tengah mati-matian menahan rasa kecewa yang mungkin saja kembali menyeruak.


Namun, suaranya masih bisa Kiana dengan dengan jelas.


Keduanya diam.


"Baby?"


"Stop!" Kiana menggelengkan kepalanya. "Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Berhentilah bersikap seolah kamu sedang merasa begitu sengsara, stop membuat aku merasa begitu spesial, stop Jovian!" Balas Kiana.


Suaranya terdengar bergetar.


"Apa kamu masih menyangka apa yang aku rasakan ini bohong?"


"Mungkin. Kamu hanya sedang merasa bersalah, dan sekarang sedang berusaha untuk menebusnya. Tenang saja, aku sudah memaafkan kalian, tapi aku tidak bisa lupa dengan kejadian itu, … jadi lanjutkan lah hidup tanpa mengganggu aku lagi!"


Kiana bangkit dari duduknya. Dia hampir saja pergi jika saja Jovian tidak meraih pergelangan tangan Kiana untuk menghentikan.


"Baby? Aku mohon kali ini saja, kita harus berbicara!"


"Apa lagi?"


"Duduklah lagi, setidaknya berikan aku waktu baru kamu boleh memutuskan!"

__ADS_1


"Hhhheuh!!" Kiana menghela nafas.


Lalu, di detik berikutnya Jovian menarik tangan Kiana, membuat perempuan itu kini duduk di sofa yang sama dengan dirinya.


Mereka saling diam, dan menatap satu sama lain.


"Kamu mau pergi?"


"Ya."


"Mengadu pada Tuhan atas apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Jovian lagi.


Kiana tidak menjawab.


"Kiana? Kamu mau pergi?"


"Ya, sudah aku katakan bukan? Aku ingin menepi, aku sedang tidak ingin memikirkan siapapun selain diri aku sendiri!" Tegas Kiana.


Raut kesedihan jelas terlihat dari wajah Jovian. Membuat Kiana segera memangkingkan pandangannya.


"Lalu bagaimana dengan acara resepsi yang akan digelar. Besok Mami dan Papi akan pulang, mereka masih menunggumu untuk melakukan fitting baju bersama. Tapi, satu masalah membuat semuanya berantakan, … maukah kamu berbaik hati sayang? Maafkan aku, dan ayo kita wujudkan apa yang sudah lama kita tunggu-tunggu." Kata Jovian dengan mata berkaca-kaca.


Kiana merasakan dadanya sesak, dan sedikit ngilu. Apa yang Jovian katakan seolah menariknya pada ingatan beberapa Minggu silam. Dimana dia sangat bahagia, hidup bersama pria yang sangat dia cintai, lalu akan mewujudkan apa yang sudah di impikan sejak lama. Dan semuanya sirna, kala dia melihat Jovian yang masih terlihat begitu peduli kepada mantan istrinya, seolah menjadi tamparan, jika menikah dengan seorang yang belum selesai dengan masa lalunya memang sangatlah menyakitkan.


"Aku tahu kamu mendengar ucapku waktu itu. Batalkan saja semuanya, aku tidak mau hidup dengan seorang yang masih menyimpan kenangan indah bersama seseorang yang dia cintai di masa lalu. Dan satu lagi, pernikahan kita tidak akan bisa berjalan mulus, karena selain rasa kecewa, keraguan kamu terhadap aku sudah membuktikan jika kita memang benar-benar sudah tidak cocok. Pergilah, datangi cintamu yang kau inginkan, dan yang kamu tunggu selama dua tahun lamanya."


Wajah Kiana semakin memerah, dengan suara bergetar. Dan akhirnya dia menangis, tetapi dengan cepat Kiana menghapus bekas air matanya.


"Kamu tidak mau memberi aku kesempatan?"


Kiana diam.


"Kamu benar-benar ingin pergi dari hidupku?"


Kiana masih diam.


"Baiklah! Aku akan menunggu sampai kamu merasa bahwa kamu baik-baik saja. Tapi jangan harap aku bisa melepaskanmu, … jangan lagi! Aku tidak akan sanggup."


Kiana berdiri.


"Kamu ini serakah sekali. Ingin mengikatku tapi tidak mau melepaskan wanita itu! Kamu pikir aku apa? Aku memang mencintaimu. Tapi akan ku lepaskan siapa saja yang sudah membuat aku kecewa, … maka dari itu pergilah, dan tunggu dengan santai gugatan cerai dariku!"


Setelah mengutarakan isi hatinya Kiana pergi, berlari mendekati salah satu pintu yang dia tempati sebagai kamar tidurnya sudah dua malam ini.


"Baby?"


Jovian berniat mengejar. Namun terlambat, Kiana sudah membanting pintunya kencang, membuat suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan. Dia berhenti, memejamkan mata, lalu menyapu wajahnya kasar dengan perasaan yang semakin tercabik-cabik apalagi saat mendengar kata-kata cerai.


"Kenapa kemarahanmu sangat sulit dipadamkan?" Gumam Jovian, seraya menatap nanar pintu kamar yang sudah tertutup rapat.


......................

__ADS_1


Hayooooo jangannnn lupaaaa yahhhhhh!!


cuyung kalian ♥️


__ADS_2