Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Kevin?


__ADS_3

Satu koper sudah selesai Kiana siapkan. Semua barang yang dirinya perlukan sudah masuk ke dalam sana. Dari pakaian, skincare, dan barang-barang lainnya seperti pengering rambut sepatu dan sandal jika saja sewaktu-waktu akan dibutuhkan.


"Kita bisa membelinya di sana, Baby! Kenapa harus repot-repot banyak bawa barang?" Jovian sedikit menggerutu.


Bukan karena barang bawaan Kiana terlalu banyak sampai menghabiskan satu koper besar penuh yang membuat Jovian kesal. Melainkan sesuatu yang tidak Kiana penuhi, yaitu mencoba memakai pakaian super mini, dimana para perempuan akan memakainya jika sedang berada di pantai.


"Uang buat beli pakaiannya bisa kita alih fungsikan untuk membali hal lain." Kiana tersenyum.


Jovian diam.


"Padahal aku berharap kamu mencoba pakaian yang tadi. Sekalian kita mandi lagi!"


Mendengar itu Kiana tertawa pelan.


"Itu mah akal-akalan kamu saja! Lagian ini di rumah Papa dan Mama, mereka ada di sini, nggak enak kalau tiba-tiba kita ngamar begini."


"Hhheuh!" Jovian menyapu wajahnya kasar.


"Aku sudah pisahkan. Nanti aku pakai di apartemen, oke?"


Dia menyentuh pipi suaminya, dengan senyuman yang terus terlihat, berusaha menghibur Jovian yang hari ini selalu kesal dibuatnya.


"Benarkah?" Seketika mata Jovian langsung berbinar.


"Iya, nanti kalau sudah di apartemen aku pakai. Spesial buat kamu, … Jovian seorang!" Kiana berbisik.


Kiana yang saat ini berdiri beringsut mendekat, kemudian duduk di atas pangkuan Jovian dengan raut wajah nakalnya.


"Astaga. Kamu yang bilang nanti saja di apartemen, karena disini malu ada Mama dan Papa. Tapi apa ini? Kamu terus memancing manta Duda yang kelaparan ini!" Suara Jovian terdengar memekik pelan.


Kiana tidak menjawab, dia semakin mendekatkan wajah, lalu memberi kecupan basah di bibir suaminya.


"Kenapa sih? Kamu harus seganteng ini? Aku jadi nggak rela kalau nyatanya kamu itu pernah dimiliki perempuan lain selain aku."


Jovian menyentuh pipi Kiana, mengusapnya lembut, menyingkirkan beberapa helaian rambut Kiana, dan menyelipkannya di daun telinga sana.


"Tapi mereka tidak seberuntung dirimu, Kia. Aku mencintaimu, dengan rasa yang tidak pernah ada sebelumnya. Aku mencintai dia dengan sesuatu yang wajar meskipun sedikit gila, … tapi kepadamu. Bahkan aku tidak mau sedikit saja jauh darimu." Balas Jovian tak kalah pelannya.


Suasana mendadak syahdu. Keduanya segera terbawa suasana dengan sangat cepat, hingga entah sejak kapan mereka saling menyentuhkan bibir, memagut dan merasai satu sama lain.


Mata Kiana terpejam, dengan satu tangan yang melingkar di pundak Jovian, dan satu tangannya lagi menyentuh tulang rahang tegas milik pria yang saat ini sedang memangku tubuhnya.


"Aku mau dituntaskan sekarang, Baby! Aku tidak mau ada penundaan lagi."


Kiana hanya tersenyum, dan tentu saja Jovian mengerti jika perempuan itu menyetujui keinginannya.


Dengan segera Jovian mengangkat tubuh Kiana, merebahkan perempuan itu di atas tempat tidur sana, membuat posisi mereka menjadi berbalik. Dengan Kiana yang berada di bawah kungkungan tubuh besarnya.


"Gadis nakalku." Jovian menggeram.


Dia kembali membungkuk untuk meraih bibir Kiana, sampai gedoran di balik pintu ruangan itu terdengar begitu jelas.


Mereka diam untuk beberapa saat, saling menatap satu sama lain sembari menajamkan pendengarannya.


Tok tok tok!!


"Kia?"


Suara Herlin terdengar mendominasi pendengar Kiana. Dia segera mendorong dada Jovian, kemudian bangkit untuk menghampiri ibunya terlebih dahulu.


"Sebentar, mungkin adacpenting." Pamit Kiana.


Perempuan itu membuka pintu, lalu keluar begitu saja. Tanpa memperdulikan keadaan Jovian saat ini. Yang sudah benar-benar merasa pusing karena dia gagal untuk yang kedua kalinya.


"Astaga Tuhan!"

__ADS_1


Jovian meremat rambutnya dengan sangat kencang, menghempaskan tubuh di atas tempat tidur sana, berbaring menelungkup kemudian membenamkan diri di bawah bantal, lalu berteriak.


***


Klek!!


Jovian mendorong pintu apartemennya, kemudian masuk terlebih dahulu. Sementara Kiana berjalan tergesa-gesa di belakangnya, membawa satu paper bag berukuran cukup besar.


"Sayang?" Kiana memanggil.


Dia tahu betul jika mungkin saja kemarahan Jovian saat ini sudah semakin besar. Setelah beberapa waktu lalu dirinya dipanggil Herlin, hanya untuk memberitahukan beberapa hal sebelum akhirnya mereka pun memilih untuk segera pulang saja.


"Tolong pilihkan saja pakaian manapun. Tata serapih mungkin di dalam koper, … aku mau mengerjakan sesuatu dulu."


Jovian langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, meninggalkan Kiana tanpa menunggu jawaban dari perempuan itu terlebih dahulu.


"Haih, … ngambek dia! Padahal tadi Mama ngasih aku kado lho, kok malah tidak senang." Ucap Kiana seraya menundukan pandangan, dimana satu paper bag dia jinjing.


"Baiklah. Aku berkemas dulu sekarang, mungkin nanti kamu akan sedikit lebih tenang." Kiana berjalan mendekati pintu kamar yang tertutup, membuka nya, lalu masuk ke dalam sana.


Sementara di dalam ruang kerja sana Jovian langsung mendekati meja kerjanya, duduk dan merapatkan punggung pada sandaran kursi, kemudian menyalakan komputer di hadapannya.


Tak lupa Jovian merogoh saku celana, membawa ponsel dan segera menghubungi seseorang.


"Ya, Pak?"


Sapa seseorang jauh di seberang sana saat sambungan telepon terhubung di antara keduanya.


"Bagaimana? Sudah tahu pelakunya siapa?"


Tanya Jovian, dengan pandangan yang fokus ke arah monitor di hadapannya.


"Maaf. Tapi yang kita hadapi sepertinya bukan orang biasa, Pak. Dia selalu selangkah lebih maju, dan dapat menutupi semuanya dengan sangat baik."


Jovian diam mendengarkan, dengan perasaan kesal yang semakin membesar.


"Maaf, Pak."


"Setidaknya berikan ciri-ciri satu orang yang harus di curigai." Jovian berteriak lagi.


"Saya curiga salah satu teman dari istri anda, Pak. Tapi kita minim bukti, dan tidak bisa menuduh begitu saja."


Jovian mendengus kencang.


"Pria atau wanita?"


"Anak laki-laki."


"Kalau begitu selidiki lebih lanjut. Saya ingin benar-benar kasus ini selesai. Tapi tidak dengan tangan kosong, saya ingin tahu siapa tikus menjijikan yang sudah memajang foto pribadi kami di papan pengumuman." Tegas Jovian.


"Baik."


"Kapan kau mau memberikan hasilnya?"


Pria di seberang sana diam.


"Gibran?!"


"Secepatnya, Pak."


"Sungguh?"


"Iya, … saya akan berusaha lebih keras lagi sekarang. Tidak peduli sehandal apa mereka, tapi saya akan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Jovian tidak menjawab lagi. Pria itu menjauhkan handphone dari daun telinganya, menekan tombol berwarna merah, kemudian melemparkan benda pipih itu ke arah depan dengan sangat kencang.

__ADS_1


Suara dari benturan tersebut terdengar begitu nyaring, bersamaan dengan terbukanya pintu,membuat sosok gadis yang saat ini berdiri di ambang pintu ruang kerjanya terdiam.


Mereka berdua saling menatap dalam diam. Jovian dengan ekspresi wajah datarnya, sementara Kiana tampak sangat terkejut.


"Ada apa?"


Kiana berjalan masuk, menutup pintu ruangan itu kembali, membungkuk untuk meraih ponsel milik Jovian, kemudian berjalan mendekati suaminya dan meletakan benda pipih itu di atas meja sana.


Jovian diam.


"Sayang?"


"Jangan sekarang Kiana. Aku sedang malas banyak berbicara, … pergi dan lakukan apapun yang kamu mau." Matanya terpejam, dengan tangan kanan yang mulai memijat keningnya.


Namun Kiana terlihat semakin mendekat, dia menyentuh pundak Jovian dan mengusap-usapnya pelan.


"Kamu masih kesal?"


Pria itu tidak menjawab lagi. Jemari tangannya terus memijat-mijat dua pelipis, dengan mata terpejam dan hembusan nafas yang terdengar memburu.


"Tadi pagi Mama hanya bahagia setelah kita pulang, saking bahagianya karena tahu kita pulang, Mama sampai menghidangkan banyak laut di meja makan tadi, padahal biasanya tidak. Dan untuk kejadian tadi juga, … Mama memberikan kado dengan segera, karena dia tahu kita akan berangkat langsung dari sini, semetara Mama dan Papa juga akan segera pergi. Mungkin takut tidak ada waktu." Kiana menjelaskannya banyak hal.


Jovian menghela nafas, lalu membuka matanya yang sempat dia pejamkan.


"Memangnya siapa yang bilang akalu aku kesal kepada Mama mu?"


"Tidak ada. Tapi aku tahu kamu kesal karena hari ini terlalu banyak gangguan."


Jovian berdecak sebal. Dan untuk pertama kalinya Kiana melihat sifat yang paling menyebalkan dari suaminya.


"Jangan suka menerka-nerka, … aku sedang berusaha mencari pelaku yang memasang foto kita di papan pengumuman kampusmu."


Kiana sedikit mendorong sandaran kursi sampai menyisakan sendiri jarak antara Jovian dan meja kerjanya. Lalu Kiana semakin mendekatkan diri, untuk kemudian duduk diatas pangkuan Jovian.


Jovian bungkam. Dia tidak menolak ataupun menyambutnya seperti biasa. Pria itu hanya diam menatap Kiana dengan perasaan kesal yang memang tidak bisa dirinya sembunyikan.


"Kamu masih mencari tahunya?"


"Memangnya aku harus bagaimana? Kejadian ini jelas di sengaja. Bahkan mereka mampu menyabotase semuanya agar tidak ada bukti yang kuat!" Jovian menjelaskan.


"Case close, saja. Tidak penting, toh kita sudah menikah sekarang!"


"Apa katamu? Kamu mau aku menutup kasus ini? Sementara aku sudah mencurigai salah satu teman priamu? Yang benar saja!" Lagi-lagi Jovian memperlihatkan eks wajah yang sangat amat menyebalkan.


Mata Kiana memicing, mencoba mencerna dengan baik setiap kata yang Jovian ucapkan.


"Benarkah?"


"Ya, … dia berani sekali bermain gila denganku. Dia benar-benar menguji kesabaranku, … oh bukan! Tapi dia sedang menguji kemampuan IT ku."


Kemarahan Jovian semakin terlihat jelas.


"Lihat saja, jika aku sudah mempunyai banyak waktu senggang, … maka akan aku cari tahu sendiri kalau memang Gibran masih tidak bisa melakukannya."


"Kevin?" Kiana memberanikan diri untuk bertanya.


"Bukti kuatnya menjurus ke arah sana. Karena jika ditelisik lebih dalam, dia sangat menyukaimu. Dan mungkin saja dia melakukan itu karena benar-benar merasa sakit hati." Tukas Jovian.


Dia mengarahkan pandangannya ke arah Kiana. menatap perempuan itu dengan retina yang terus bergerak-gerak, seolah ingin mencari seuatu lebih dalam lagi.


Kiana diam. Dia berusaha mengingat beberapa kejadian yang sempat menimpanya. Dimana Kevin mulai bersikap kasar, dan itu jelas menunjukan banyak hal, terutama kecurigaan suaminya yang baru saja dia sadari.


"Benarkah? jika memang Kevin. Kenapa dia tega sekali?" Batin Kiana bermonolog.


......................

__ADS_1


...Like, komennnnnmm sama tabur-taburnya mana dongss...


...🤭🤭...


__ADS_2