
Tok tok tok!!
Jovian mengetuk pintu kamarnya yang terus tertutup beberapa saat setelah mereka kembali dari kebun teh sekitar 2 jam yang lalu.
"Kia?"
Hening.
Tidak ada jawaban di dalam sana, dan itu membuat Jovian semakin menempelkan telinga di pintu untuk mendengar aktivitas yang ada di dalam. Sudah cukup lama dia menunggu Kiana untuk keluar dengan sendirinya, tapi itu tak kunjung terjadi hingga Jovian memutuskan untuk memanggil gadis itu.
"Kiana?"
Panggil Jovian lagi, sambil terus mengetuk pintu kamarnya. Namun sayang, masih tidak ada respon dari arah dalam sana.
Pria itu menegakan tubuhnya, menatap sekeliling rumah yang terlihat sunyi dan sepi. Karena memang kedua orang tuanya pergi ke kebun untuk memantau beberapa pekerja yang sedang panen beberapa jenis sayuran.
"Kiana boleh saya masuk?"
Dan setelah menunggu jawaban cukup lama. Akhirnya Jovian memutuskan untuk menekan handle pintu kamar, meskipun awalnya dia berpikir jika Kiana pasti akan menguncinya, namu tidak salah juga jika dia berusaha mencoba.
Klek!!
Dan benar saja, pintu dapat dia bukan.
Perlahan Jovian mendorongnya, menyembulkan kepala dengan sedikit rasa takut jika gadis itu sedang melakukan sesuatu yang lebih pribadi.
"Hhhheuh!" Jovian menghela nafasnya lega, lalu membuka pintu kamarnya selebar mungkin saat melihat Kiana kini sedang terlelap di atas tempat tidur, dengan selimut yang menggung, melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang terus terasa.
Dia berjalan mendekati sebuah lemari kayu berukuran besar. Membukanya dan mulai mencari pakaian yang dia butuhkan.
Satu celana boxer, kaos rumahan lengan pendek, dan celana joger panjang juga sepasang kaos kaki.
"Om!?" Tiba-tiba saja suara itu terdengar, membuat Jovian segera menoleh ke arah suara terdengar.
"Saya membuatmu bangun?"
Jovian segera menutup lemari pakaiannya.
Kiana menyibakan selimut, kemudian mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Dengan wajah sembab dan rambut sedikit acak-acakan.
"Aku ketiduran setelah mandi tadi. Suasananya bikin aku ngantuk terus." Ujar Kiana.
"Lanjutkan saja lagi tidurmu. Bangunlah nanti saat waktunya makan sore, … saya mau mandi dulu!"
Jovian segera berbalik badan, dia berjalan ke arah luar. Namun Kiana segera memanggilnya sampai Jovian berhenti dan kembali menoleh.
"Om mau pakai kamar mandinya?" Kiana segera turun dari atas tempat tidurnya.
"Tidak usah. Saya bisa numpang mandi di kamar Mami dan Papi! Kamar mandi tamu tidak water heaternya."
Kiana menggelengkan kepala.
"Aku nungguin di luar kok, maaf ya bikin Om nunggu sampe lama banget, … mana tadi habis gendong aku, pasti keringetan tapi Om nggak bisa langsung mandi soalnya aku malah ketiduran di kamar, Om!" Kiana berujar, dia berjalan melewati Jovian, dan berjalan ke arah luar untuk duduk di kursi kayu menikmati pemandangan siang hari ini.
Cahaya matahari terlihat terik, namun angin yang berhembus terasa sangat dingin.
Jovian menatap ke arah kaca, dimana Kiana terlihat di sana, lalu berbalik badan dan langsung menghambur ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
***
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit. Akhirnya Jovian keluar dari dalam kamarnya dengan keadaan yang lebih segar. Dia berjalan ke arah luar, mendekati Kiana yang terlihat sedang bermain-main dengan ponselnya.
"Kamu mau sesuatu?" Tanya Jovian sembari mendudukan diri di kursi kosong bersisian dengan kursi kayu yang Kiana tempati.
Sekilas gadis itu melirik, lalu kembali menatap layar ponselnya, dimana sebuah permainan beternak terlihat.
"Rumah sepi kalo nggak ada Mami Papi." Ucap Kiana.
"Saya tanya apa kamu jawab apa." Jovian memprotes Kiana.
"Nggak Om. Kalau mau ya pasti minta Om, nggak usah ditawarin kalau mau pasti langsung minta." Katanya sambil terus memfokuskan diri pada layar ponselnya.
Jemari Kiana terus bergerak-gerak, dengan suara hewan-hewan peliharaan di dalam game yang Kiana mainkan terdengar, dan itu mampu membuat Jovian tersenyum tipis.
"Kamu mulai ketularan Mami? Bedanya Mami cuma punya kelinci dan ladang untuk berkebun."
Kiana melirik lagi, lalu tersenyum ketika pandanganya beradu dengan Jovian.
"Yakin tidak mau sesuatu? Nungguin Mami sama Papi pulang lama, lho!"
"Emangnya Mami kemana?"
"Panen kol di kebun atas. Tepat di bawah kebun teh, tapi lebih ke Selatan."
Kiana menekan tombol power, lalu meletakan benda pipih itu di atas meja.
"Bukannya di belakang rumah?"
"Kebun belakang rumah sudah selesai. Lihat saja kalau tidak percaya, … sekarang bergeser ke kebun yang lain, kebetulan ada daun bawang dan kol yang harus di panen juga. Mungkin persiapan anaknya mau nikah, makanya cepet-cepet dipanen terus di jual." Jovian terkekeh.
Satu alis Kiana bergerak ke atas, dengan senyum yang tertahan.
"Om beneran bakal nikahin aku emang? Papi sama Mami sudah setuju?" Gadis itu memposisikan diri sampai duduk menghadap ke arah Jovian.
"Bukan ragu, … lebih ke nggak percaya aja. Masa aku mau nikah, aku belum punya bekal apa-apa buat jadi istri. Masak nggak bisa, cuci piring belum pernah, beresin rumah apalagi! Aku belum bisa jadi istri yang sempurna lho, Om! Yakin nggak nyesel nikahin aku?" Tanya Kiana, yang seolah sedang menguji seberapa kokohnya pria itu.
Jovian menatap Kiana lekat-lekat. Dia bangkit, meraih tangan Kiana lalu menariknya masuk ke dalam rumah, dan membiarkan Kiana duduk di sofa ruang tv.
Pandangannya menengadah, lalu turun ketika Jovian kini bersimpuh tepat di hadapannya.
"Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu? Berbicara seolah saya menikahi kamu ini agar ada yang mengurus saya. Rumah kotor, ya tinggal panggil jasa kebersihan, … kamu tidak bisa masak, lalu aku lapar. Kan bisa order online, Tangerang itu kota, bukan hutan yang akan sangat sulit untuk menemukan makanan disana." Jovian menjelaskan dengan perasaan gemas.
Sementara Kiana hanya terdiam mendengarkan, matanya bergerak-gerak menatap Jovian dengan seksama.
"Lalu apa lagi yang kamu tidak bisa?"
"Emmmm, … apa yah kira-kira?" Kiana tampak berpikir.
Jovian bangkit, kemudian duduk tepat di samping Kiana, dengan tangannya yang terus menggenggam tangan gadis yang duduk di sampingnya.
"Apa kamu tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah orang-orang menikah?"
"Ya, … melakukan aktivitas pada umumnya kan? Beres-beres bareng, masak bareng, kalo sudah ada anak ya ngurus anak bareng." Dengan lugunya Kiana menjawab.
Jovian menggigit bibirnya cukup kencang, berusaha menahan tawanya yang hampir menyembur karena kepolosan Kiana.
"Nah. Proses sebelum punya anaknya adalah aktivitas yang akan sering dilakukan pasangan yang sudah menikah. Tidak terkecuali kita, … lebih tepatnya saya!" Jovian berbisik, matanya terus tertuju pada Kiana.
"Proses?!" Dia bingung.
__ADS_1
Jovian mengangguk.
"Apa kamu tidak tahu? Usiamu sudah 20 tahun, apa kamu benar-benar tidak tahu hal ini?"
"Apa!?"
"Sungguh kamu tidak tahu?" Cicit Jovian.
"Nggak." Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jovian menatap Kiana tidak percaya, retinanya bergerak-gerak, dengan bibir bergetar seolah ingin segera mengatakan sesuatu.
"Emangnya apa yang suami istri lakukan setelah menikah? Selain melakukan pekerjaan rumah dan lain-lain?"
Jovian memejamkan mata, kemudian menghela nafasnya dengan sangat perlahan.
"Kamu memasuki clubbing? Tapi tidak tahu itu dunia apa? Ya mungkin tidak semuanya seperti itu, tapi kebanyakan menjurus kesana."
"Om ngomong apa sih, pusing aku!"
"Ini bahaya. Pantas saja dengan santainya kamu memasuki tempat seperti itu, mungkin jika kau tahu disana banyak predator, kamu tidak akan mau memasukinya."
Kening gadis itu semakin menjengit.
"Ya kalau clubbing kan minum sama joget. Emangnya kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Saya hanya terkejut ternyata kamu masih sepolos ini! Pak Danu berhasil menjauhkan kamu dari hal-hal seperti itu!"
Kiana menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu menggemaskan.
"Ini apa sih?" Katanya.
"Tidak apa-apa. Tapi sepertinya saya harus mengajarimu dengan sabar setelah nanti menikah." Dia mencondongkan tubuhnya.
Sementara tubuh Kiana terus mundur dengan satu tangan yang bertumpu di belakang, untuk menopang bobot tubuhnya.
"Aih!" Kiana menahan dada Jovian. "Katanya kalau tidak bisa beres-beres bisa pakai jasa, tidak bisa masak tinggal order. Terus kenapa sekarang Om malah mau ajarin aku? Nggak konsisten ini tuh!"
"Ada satu hal satu hal yang tidak bisa di lakukan oleh orang lain. Salah satu tugas yang harus benar-benar hanya kita yang melakukannya, … Dan kamu belum mengerti! Jadi setelah ini saya harus benar-benar bersabar untuk mengajarimu!"
Jovian kembali bergerak, semakin mendekatkan diri sampai membuat Kiana terjerembab kebelakang dan bebaring terletang dengan Jovian yang saat ini sudah mengungkung tubuhnya.
"Kamu mau tahu?"
Kiana mengangguk ragu, dengan pandangan yang terus saling beradu.
"ML!"
"Hah? ML?"
Jovian mengangguk.
"Mobile legen?"
Mendengar jawaban dari gadis itu Jovian langsung diam, pikirannya berhamburan entah kemana. Sampai dia memilih untuk bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk bersandar sembari memijat pelipisnya.
"Astaga! Kamu akan benar-benar menguji kesabaran saya. Seperti sehelai tisu yang di bagi dua, terus terkena air." Dia frustasi.
"Yah, mudah robek dong!" Kiana menjawab.
__ADS_1
"Hhheuh." Jovian meyapu wajahnya kasar, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perasaan campur aduk.
Gemas, dan sedikit menguras emosi.