
"Uncle!"
Suara teriakan dari Axel menjadi sambutan, kala Kiana dan Jovian berjalan melewati pintu masuk apartemen yang tadinya tertutup dengan sangat rapat.
"Hey, kalian sudah ada disini?" Jovian langsung membuka tangannya, dan menyambut Axel yang langsung menghabur ke dalam pelukan.
Kiana terdiam, dengan perasaan gugupnya.
Axel melepaskan diri dari dekapan sang paman, lalu kepalanya mendongak, menatap Kiana dengan tatapan penuh tanya. Bahkan kepalanya terus bergarak menatap Jovian dan gadis mungil itu bergantian.
"Who is she?" Axel langsung bertanya. Anak laki-laki itu mengarahkan telunjuk ke arah Kiana.
Jovian tersenyum.
"Tante Kiana." Katanya kepada anak kecil itu, yang terus menatap Kiana dengan mimik wajah yang terlihat begitu menggemaskan.
Mereka bertiga sama-sama terdiam, saling menatap satu sama lain. Hingga panggilan Adline membuyarkan lamunan Kiana, Axel dan Jovian.
"Lho, kalian kenapa disini?" Wanita itu tersenyum.
Apalagi kala pandangannya tertuju kepada sosok gadis bertubuh mungil, berambut pendek, dan memiliki paras yang sangat cantik.
"Mom? Kenapa Uncle bawa Tante itu? Kenapa tidak Tante Eva?"
Axel segera kembali kepada ibunya, dan memeluk pinggang Adline dengan sangat erat.
Kiana dan Jovian saling beradu pandangan.
"Jangan dengarkan Axel. Dia masih belum mengerti walaupun aku sudah berusaha menjelaskannya." Adline berujar. "Kalau begitu ayo, semuanya sudah menunggu, … masakan Mami sudah siap." Ajak wanita dengan kisaran usia 30 tahun itu.
"Baik." Jovian menganggukan kepalanya.
Setelah itu dia menoleh ke arah Kiana. Wanita yang terus terdiam dengan wajahnya yang terlihat mulai memerah karena menahan rasa gugup dan malu. Jovian meraih tangan Kiana, menggenggamnya cukup erat, dan membawa gadis itu ke arah sebuah ruangan dimana dapur berada.
Meja makan minimalis itu sudah bergeser ke arah sudut, digantikan dengan sebuah karpet, yang sudah terhidang berbagai macam masakan disana, serta piring dan juga gelas.
Semua orang tersenyum hangat menyambut kedatangan Kiana. Namun tidak dengan Javier, pria itu tampaknya sangat terkejut, sama halnya dengan respon yang Axel berikan tadi.
"Goed verdriet (Astaga)" Javier menatap adiknya tidak percaya. "Hij is veel jonger dan jij (Dia jauh lebih muda darimu)" Katanya, lalu menatap Jovian lekat-lekat.
Sementara yang dimaksud hanya tersenyum, lalu menundukan kepalanya, untuk menyembunyikan pipi yang merona, hanya karena sebuah ucapan yang terdengar sebagai kata-kata penuh kagum dari Javier.
"Tentu saja, keren bukan adikmu ini?" Ucap Jovian dengan bangga.
"Hij is gek! (Dia memang gila)" Jonathan menimpali ucapan anak sulungnya.
"Hey hey hey!!" Leni menatap Jonathan dan Javier bergantian. "Kalian harus ingat ini dimana, pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berbicaralah dengan bahasa Belanda jika kalian sedang disana." Leni sedikit menggerutu.
Ketiga pria itu tertawa kencang.
"Kiana, kemari sayang. Kita sarapan bersama-sama! Maaf meja makannya Mami geser jadi tidak bisa duduk di kursi dan sarapan di meja sana, ukurannya yang kecil tidak akan bisa menampung kita semua, jadi gelar karpet saja yah!" Katanya sambil tersenyum.
Kiana mengangguk, lalu mendekat dan segera duduk dengan senyum malu-malu yang terus dia perlihatkan.
"Emmm, … Kia? Ini Adline istrinya Vier. Dan Adline, ini Kiana calon istriku!" Ucap Jovian pada keduanya.
Adline mengulurkan tanganya, lalu kemudian Kiana sambut sampai mereka kini saling berjabat.
"Halo Kia, senang bertemu denganmu. Tapi sejujurnya tidak hanya Papanya Axel yang terkejut, … saya juga sama. Kamu terlihat seperti anak yang baru masuk sekolah menengah atas." Adline jujur.
Kiana terkekeh.
"Tidak apa, hampir semua yang bertemu untuk pertama kali berbicara seperti itu , mereka mengira jika aku masih sekolah SMA." Balas gadis itu.
"Tentu saja, kamu sangat cantik. Wajahmu terlihat lebih muda dari umur yang seharusnya." Leni menimpali, sembari menata beberapa sendok nasi kedalam sebuah piring.
"Bagus. Dia membuang emas, lalu mendapatkan berlian." Javier menatap adiknya.
Sementara Jovian menanggapi obrolan absurd itu dengan senyum sumringah.
"Javier, … ini dia Kiana! Calon adik iparmu!" Jovian menatap Kiana.
Pria itu mengangguk.
"Halo Kiana. Semoga kamu tahan dengan kegilaan adik saya!"
Jovian hampir saja membuka mulut untuk meralat apa yang kakaknya katakan. Namun Leni segera menepuk tangannya, dan memberikan piring yang sudah berisikan nasi.
"Nanti saja berdebatnya. Sekarang waktunya sarapan!"
"Terkadang mereka terlihat masih seperti balita berusia 4 tahun." Jonathan bereaksi.
Semua orang mulai bersiap-siap untuk memulai sarapannya. Begitupun dengan Jovian, namun terlebih dulu dia bertanya beberapa hal kepada Kiana.
"Mau pakai apa?" Jovian menatap calon istrinya.
"Apa saja, asal jangan pakai sambal." Jawab Kiana.
Jovian menganggukan kepala, lalu dia meraih piring yang ada di hadapan Kiana, dan mengisinya dengan beberapa lauk yang di masak oleh ibunya sendiri.
Dua perkedel daging, yang Jovian bubuhkan beserta kuah kentalnya. Lalu dia tambahkan urap, dimana beberapa macam sayuran diiris kecil-kecil, yang dilengkapi parutan kelapa.
"Itu saja cukup." Kiana menghentikan Jovian, saat pria itu hampir menambahkan lauk pauk yang lain.
"Yakin?"
Kiana mengangguk.
"Hemm, … makanlah yang banyak. Jika mau lagi bisa tambah! Gratis tidak dipungut biaya." Jovian melontarkan candaan.
"Sepertinya ini cukup, aku tidak makan sebanyak itu."
Jovian mengembalikan piring milik Kiana, yang langsung gadis itu terima dengan senang hati.
"Terimakasih, … dan selamat makan semuanya." Ucap Kiana.
__ADS_1
"Ya, selamat makan Kia!" Kata Jonathan.
Mereka memulai acara sarapan bersamanya dengan keadaan hening. Hampir semua orang dewasa fokus dengan santapan masing-masing, tapi tidak dengan Axel. Pasti ada hal yang membuatnya merengek, dan mengganggu kedamaian kedua orang tuanya.
Entah itu masalah nasinya yang terlalu banyak, mengurangi atau menambah lauk yang ada di dalam piring miliknya, kemudian sedikit menggerutu karena sendok yang dia gunakan terlalu besar.
Dan setelah cukup lama. Kiana selesai dengan sarapannya. Dia bangkit, lalu membawa piring kotor untuk dia simpan di bak cuci, dimana Adline sedang berada disana untuk membantu sang ibu mertua, merapikan dapur dari apartemen milik Jovian.
"Simpan saja tidak apa-apa." Adline tersenyum.
"Hemmm, … terimakasih, Ka Adline." Kiana meletakan benda itu di dalam bak cuci.
Adline hanya mengangguk.
"Kiana?" Panggil Jovian.
"Iya Om?" Gadis itu menoleh ke arah suara berasal.
"Ayo saya antar sekarang, … kamu ada kelas, dan jika terlalu lama disini kamu akan terlambat."
Kaiana menganggukan kepala. Lalu dia beralih menatap Leni juga Adline, segera berpamitan. Hal yang sama dia lakukan kepada Jonatha dan Javier, kemudian benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.
"Mami dengar itu?" Javier mendatangi ibu dan istrinya yang masih asik bebenah area dapur.
"Apa?" Adline bertanya balik.
"Masa Jovian dipanggil Om? Bukannya mereka calon suami istri? Atau status itu hanya di buat-buat? Seperti di dalam sebuah film. Dimana sebuah pasangan hanya berpura-pura untuk saling menguntungkan satu sama lain."
Javier datang dari arah ruang tengah.
"Sayang! Pikiranmu terlalu kritis. Ya maklum saja panggilan mereka masih kaku, orang Kiana mau di nikahin Bodyguardnya. Nggak semudah itu bisa langsung saling memanggil dengan kata sayang, … atau bahkan keduanya masih sama-sama gugup. Jadi biarkan saja!"
"Aku hanya bertanya tahu!"
Javier kembali ke arah sofa, dimana ayah dan putranya berada disana. Menonton sebuah tayangan kartun di pagi hari.
"Tapi aneh juga ya Mam." Adline terkekeh. "Kaya sugar baby sama gadunnya."
"Ya, … mungkin jarak usia yang jauh menjadi salah satu alasan Kiana untuk memanggil Jovian dengan sebutan yang sama, seperti Jovian masih menjadi ajudannya. Jangankan Kiana, kamu saja tidak berani bukan memangil Vier dengan sebutan nama? Padahal jarak usia kalian hanya terpaut delapan tahun saja." Jelas Leni, yang langsung di jawab anggukan oleh Adline.
"Mami benar. Aku tidak berani memanggilnya dengan sebutan nama. Rasanya sangat tidak sopan!"
"Nah, itu pun yang Kiana rasakan! Mau panggil sayang juga belum berani kayaknya." Leni tertawa.
Pikirannya tertarik kepada beberapa jam lalu, dimana dia melihat kebahagian Jovian ketika pria itu berada bersama gadis belia yang tidak lain adalah calon istrinya sendiri.
"Semoga Kiana tidak seperti Eva. Yang akan meninggalkan Jovian kapan saja dia mau." Leni penuh harap.
"Sepertinya Kiana tidak seperti itu, Mam. Tampilan luarnya memang seperti jutek, atau keras kepala. Tapi mungkin hatinya lembut, … bukannya Mami bilang Kiana itu anak dari seorang pengusaha tambang batubara? Tapi lihat, dia bisa berbaur dengan kesederhanaan keluarga calon suaminya."
"Iya, kamu benar."
"Bahkan butuh setahun untuk Eva, agar bisa berbaur dan membiasakan diri dengan kebiasaan keluarga kita." Kata Adline lagi.
Mendengar itu Leni hanya tersenyum, dan tidak bereaksi apapun. Karena tanpa Adline jelaskan, Leni sudah pasti tahu sifat dari menantu terdahulunya, yang saat ini sudah menjadi mantan istri putra keduanya.
"Oh iya, Mami kasih aku daftar belanjaan aja deh. Apa saja yang mau kita bawa buat besok berkunjung ke rumah Kiana, sebelum acara tunangannya di adakan."
"Iya, nanti Mami kasih catatan."
"Pertemuan besok itu untuk membahas masalah tanggal ya?"
"Iya, bisa dibilang peresmian tanggal untuk acara tunangan. Dan saling mengenal keluarga satu sama lain."
"Baiklah, nanti aku dan Papanya Axel siapkan beberapa hal. Mami dan Papi tinggal santai saja."
Leni tersenyum, kemudian dua wanita berbeda usia itu berjalan ke arah sofa ruang tengah.
***
"Lah, mobil Papa kok nggak ada!" Ucap Kiana saat mobil Jovian melaju memasuki garasi rumahnya, lalu berhenti.
Mereka berdua saling beradu pandang.
"Mungkin keluar." Jovian menjawab.
"Papa nggak bilang kalau ada pertemuan di luar."
Kiana membuka seatbelt, meraih handle pintu mobil, kemudian segera membukannya.
"Om mau mampir? Aku masih ada waktu satu jam lagi kalau mau ngobrol dulu."
Jovian tampak berpikir untuk beberapa menit, hingga akhirnya dia menganggukan kepala, dan segera turun dari dalam mobilnya.
"Baiklah. Nanti sekalian saya antar ke kampus kalau begitu." Pria itu menutup pintu mobilnya.
Senyuman Kiana terlukis tipis. Kebahagiaannya jelas terlihat, kala Jovian memilih untuk ikut masuk dengan dirinya.
Suasana terasa begitu sepi saat Kiana menginjakan kaki ke dalam rumah besar sana. Hanya terdengar suara obrolan yang terdengar dari arah ruang belakang, dimana tempat istirahat para asisten rumah berada.
"Mbak Ipah?"
Suara Kiana menggema memenuhi setiap sudut ruangan rumah itu. Dan tanpa menunggu lama orang yang gadis itu panggil segera muncul dari arah ruang belakang.
"Papa dan Mama kemana? Rumah sepi amat?"
"Oh, tadi katanya mau bertemu dengan owner catering. Sempet nungguin Non, tapi kelamaan jadi Ibu sama Bapak berangkat duluan."
Kiana mengangguk, saat mendengar penjelasan Ipah.
"Non mau sarapan?"
"Nggak usah, … tolong buatin minum aja buat Om Jovian yah!"
Ipah segera mengangguk.
__ADS_1
"Mau minum apa Pak?"
"Mineral saja. Kalau ada yang dingin." Jovian menjawab.
Perempuan itu segera berbalik badan, lalu berjalan ke arah sebuah lemari pendingin, dan membawa satu botol kemasan air minum ukuran tanggung. Sementara Kiana dan Jovian menunggu di sofa ruang tengah.
"Silahkan, jika ada sesuatu panggil saja Non. Saya sama yang lain lagi beresin dapur, di suruh Ibu tadi."
"Iya Mbak Ipah. Makasih yah!"
"Iya Non, Mari Pak Jovian."
Ipah segera beranjak pergi, dan hanya meninggalkan Jovian dan Kiana berdua saja, di ruang tengah yang terlihat sangat luas.
"Kamu tidak mandi?"
Jovian memutar tutup kemasan, lalu meneguknya setelah benar-benar terbuka, hingga habis setengah.
"Aku jadi males kuliah!" Kiana tersenyum.
Dia beringsut mendekat, meraih lengan kekar Jovian yang saat ini berada di balik sebuah jaket denim yang pria itu kenakan, lalu memeluknya.
"Tidak boleh malas, kamu harus rajin agar tahun ini lulus, … bukannya kita mau menikah?"
Kiana menganggukan kepalanya, sambil terus bergelayut manja.
"Kia?"
"Humm?" Gadis itu mengangkat pandangannya.
Hingga bertemulah kedua mata itu, dimana sorot matanya memancarkan rasa cinta masing-masing yang cukup besar.
"Besok atau lusa Papi, Mami, Javier dan Adline akan berkunjung kesini. Lalu kita akan bertunangan, dan menikah setelah kamu mendapatkan gelar yang selama ini kamu kejar, … bagaimana? Kamu sudah siap hidup bersama pria yang jauh lebih dewasa darimu?" Jovian menyingkirkan rambut Kiana, dan menyelipkan di daun telinganya.
Gadis itu hanya tersenyum, dengan netra berbinar yang bergerak-gerak.
"Sepertinya yang harus bertanya itu aku. Apa Om siap hidup bersama gadis seperti aku? Yang bahkan Om tahu sendiri bagaimana aku. Aku bandel, juga keras kepala, atau mungkin sedikit kekanak-kanakan."
"Saya sudah pernah menghadapi kamu, jadi sepertinya saya sudah tahu bagaimana harus menghadapi sikap calon istri saya ini."
Jovian menarik tangan yang sedang berada dalam dekapan Kiana. Lalu menarik Kiana dan memeluknya cukup erat.
"Satu hal yang harus kamu tahu. Saya tidak akan membatasi kegiatanmu! Jika kamu ingin menjadi wanita karir, maka lakukan itu, … dan jika kamu ingin menjadi ibu rumah tangga, maka lakukan itu juga."
Cup!!
Jovian mencium kening Kiana.
"Benar kata Papi, Adline dan Javier. Saya sangat beruntung karena mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi."
"Tapi Axel sepertinya masih mencari Tante Eva!"
"Dia hanya sedikit merasa aneh. Awalnya saya bersama dia, lalu sendiri, dan setelahnya saya membawa kamu. Dia hanya bingung, … tapi jangan diambil pusing, namanya juga anak kecil."
Kiana mengangguk paham.
"Aku mulai baca-baca apa saja yang harus kita lakukan nanti."
Ucapan itu sontak membuat Jovian membulatkan mata dengan ekspresi wajah tidak percaya.
"Apa yang kamu baca, Kiana?" Katanya dengan suara rendah.
"Seperti kita yang harus saling terbuka satu sama lain. Tidak boleh berbohong, dan melengkapi kekurangan masing-masing pasangan."
Jovian menahan nafasnya. Apa yang Kiana ucapkan tidak sesuai dengan apa yang dirinya pikirkan, namun itu terasa lucu, dia mulai kalut dengan pikirannya sendiri.
"Om mikirin apa? Pasti yang ke arah sana yah!?"
"Ke arah sana?" Jovian meracau.
"Hemmm, … sebuah malam pengantin. Yang menurut beberapa wanita itu sangat menakutkan!" Jelas Kiana.
Pria itu hanya dia mendengarkan.
"Padahal kenapa takut yah! Seharusnya nggak, kan tidurnya malah jadi ada yang nemenin."
Jovian memejamkan matanya, lalu menghela nafas cukup kasar.
"Jadi menurutmu tidak menakutkan?"
Kiana menggelengkan kepala.
"Tidak!"
"Bagus. Saya tidak harus membujukmu agar tidak takut kalau begitu."
Kiana menganggukan kepalanya lagi, lalu dia segera bangkit dari duduknya.
"Om kalau mau apa-apa panggil saja Ipah atau siapapun. Aku mau mandi dulu, oke?"
Gadis itu segera beranjak pergi, berjalan menaiki setiap anak tangga. Sementara Jovian diam, menatap tubuh mungil itu yang terus menjauh, dan benar-benar menghilang setelah Kiana sampai di lantai atas rumah itu.
"Bukankah seharusnya menghadapi gadis polos itu lebih mudah? Tapi kenapa ini berbeda? Aku bahkan frustasi saat mendengar Kiana berbicara. Tidak bukan Kiana nya, melainkan pikiran kamu yang sudah amburadul Jovian!" Dia bermonolog, dan menyapu wajahnya cukup kencang.
Bahkan pria itu mengusap-usap dadanya, saat sesuatu di dalamnya terasa hampir meledak.
......................
Terimakasih untuk dukungan yang selalu kalian berikan :)
...Jangan lupa komen yang banyak, like, hadiah dan vote yah!!...
...masukin rak juga, biar notifikasi bunyi kalau si Om gentayangan ♥️♥️...
Aylopyu tomaaaattt ....
__ADS_1