
Ting!!
Pintu lift terbuka dengan sangat perlahan. Lalu keluarlah Kiana, dengan seorang pria tinggi besar yang berjalan di belakangnya, membawa dua kantong belanja berukuran besar.
"Kamu masih ingat kodenya, Baby?" Tanyanya sambil terus berjalan.
Kiana segera menoleh, mengangkat sedikit pandanganya, lalu menganggukan kepala saat mata mereka bertem, dengan senyuman tipis yang gadis perlihatkan.
"Bagus. Daya ingatmu sangat baik!" Jovian terkekeh.
Langkah keduanya berhenti tepat di salah satu pintu unit yang tertutup rapat. Kiana segera menekan beberapa angka, dan terbukalah kunci pintu otomatis itu sedang segera, setelah berbunyi 'plip'.
Kiana mendorong pintu itu, kemudian menahannya dan membiarkan Jovian untuk masuk, sebelum akhirnya dia menutup pintu apartemen yang seketika terkunci secara otomatis.
Jovian meletakan kantong-kantong itu di atas meja makan mini yang terletak di area dapur sana. Dan betapa terkejutnya pria itu saat tiba-tiba saja, sepasang tangan kecil melingkar di pinggangnya, dengan sesuatu yang juga terasa menempel di punggung.
"The only one thing that I need is your hug, I really miss you." (Hanya satu hal yang aku butuhkan, yaitu pelukanmu, aku sungguh merindukanmu.)
Kiana berbisik lirih.
Jovian tersenyum, dia segera menyentuh tangan Kiana, lalu menyematkan jemari keduanya sampai saling terpaut satu sama lain.
"Kenapa sekarang pulangnya lama? Apa satu Minggu tidak cukup? Kenapa harus sampai dua Minggu?Om nggak kangen aku yah!" Ucap Kiana lagi dengan rengekan khasnya seperti biasa.
Pria itu melepaskan lilitan tangan Kiana, kemudian berbalik badan, sampai mata keduanya saling bertemu, memindai wajah satu sama lain, dengan rasa rindu yang menggebu-gebu.
"Setiap malam aku menghubungimu, kita bahkan bisa melakukan panggilan video sampai berjam-jam. Apa kamu tidak berpikir? Segila apa aku saat jauh darimu, hum?" Jovian menundukan pandangan.
Tatapan pria itu terlihat sendu, matanya terus bergerak-gerak dengan tangan kanan yang mulai terangkat, menyentuh pipi Kiana, turun ke lengkuk, lalu semakin menundukan wajah, hingga dia dapat menyentuh bibir Kiana yang sangat lembut.
Kiana memejamkan mata, membiarkan Jovian melakukannya dengan sesuka hati. Karena memang dirinya pun menginginkan hal itu. Rasa rindunya benar-benar sudah tak bisa Kiana bendung, dan dengan cara seperti semuanya terasa tersalurkan.
Kaki Kiana mulai berjinjit, kedua tangannya juga segera melingkar erat memeluk pundak Jovian, membuat ciuman itu terasa semakin dalam.
Suara decapan yang dihasilkan aktivitas keduanya sudah jelas terdengar, menemani kegiatan panas Kiana dan Jovian di area dapur apartemen itu. Suasana terus menanjak, semakin lama semakin panas, apalagi ketika tangan Jovian mulai mengusap dan menyentuh setiap lekuk tubuh calon istrinya.
Mereka berhenti untuk beberapa saat, mencoba menghirup oksigen yang mulai habis. Dengan kening yang saling menempel satu sama lain.
Jarak keduanya yang begitu dekat, membuat hembusan nafas hangat keduanya saling menyapu wajah satu sama lain, dan setelah itu Jovian kembali memulai sesuatu yang sempat terjeda, bahkan kali ini perasaannya terlihat semakin menggebu-gebu. Apalagi saat Kiana membalas setiap permainannya, membuat Jovian segera kalang kabut, tenggelam di dalam rasa rindu yang sudah sangat besar, karena dia menahan rasa itu hinbba dua Minggu lamanya.
Tubuh Jovian membungkuk, meraih tubuh Kiana, dan mengangkatnya untuk segera dia bawa ke arah ruangan lain tanpa melepaskan pautan bibir keduanya.
Sebuah sofa besar di hadapan televisi menjadi pilihan Jovian untuk melanjutkan cumbuan yang masih berlanjut sampai saat ini.
Bibir Jovian semakin turun kebawah, dan berhenti untuk bermain-main di tengkuk Kiana, dimana sentuhan itu membuat sang pemilik tubuh menggelinjang hebat.
Gadis itu terus memejamkan mata, menggigit bibit cukup kencang, menahan rasa yang luar biasa, yang mungkin sebentar lagi tidak akan bisa Kiana kendalikan, karena setiap sentuhan Jovian benar-benar memabukan dan terasa seperti candu baginya.
"Hemmmmh!" Suara itu mulai terdengar, namun masih tertahan karena memang Kiana terus merapatkan kedua bibirnya.
Jovian menyingkap kemeja yang saat ini Kiana pakai, kemudian menelusupkan tangan kedalam sana, hingga dia mampu menyentuh kulit perut yang terasa sangat hangat.
__ADS_1
Kiana menahan nafas, sentuhan Jovian terasa semakin gila. Bahkan menghadirkan sengatan-sengatan kecil, sampai mampu membuat sekujur tubuhnya bereaksi. Suara nafas Kiana terdengar semakin memburu, tubuhnya bergetar, dan membalas ciuman Jovian dengan perasaan lebih gila lagi.
"Ngggghhh!" Leguhan panjang keluar dari mulut Kiana.
Kala dia merasakan sesuatu mengh*sap lehernya dengan sangat kuat, sampai menghadirkan rasa geli dan sakit di waktu yang bersamaan.
Jovian berhenti, dia sedikit menjauhkan pandangannya untuk menatap sesuatu yang sudah dia h*sap tadi. Dan tanda itu terlihat begitu jelas, tampak memar dengan ukuran yang cukup besar.
Pria itu tersenyum, lalu menyentuhnya.
"Ini sebuah tanda kepemilikan. Dan aku bahagia tidak ada yang pernah menyentuhnya selain aku." Suara Jovian terdengar parau.
Sepertinya hasrat pria itu sudah benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi. Terbukti dari sentuhan tangannya yang semakin liat di balik kemeja sana.
"Hemm, … kamu pria pertama yang melakukan interaksi lebih intens seperti ini." Kiana dengan suara hampir berbisik.
Dan gadis itu tidak dapat melakukan apapun, selain menikmati setiap sentuhan yang Jovian berikan. Sesuatu di dalam otaknya berteriak, meminta dia menghentikan Jovian, namun reaksi tubuhnya justru berbanding terbalik. Dia bahkan tak mampu menggerakan tangan hanya untuk menahan pergerakan tangan pria di atasnya agar tidak semakin jauh.
Sorot mata tajamnya terus tertuju pada wajah Kiana. Hal yang sama gadis itu lakukan sampai mereka saling menatap. Namun tangan Jovian tak tinggal diam, dia terus bergerak lebih ke arah belakang, dan mencari sebuah pengait disana.
Seringai penuh arti Jovian perlihatkan, kala dia berhasil menarik sebuah kain hitam berenda yang membungkus si kembar menggemaskan milik Kiana. Br* tanpa tali, tentu saja mempermudah Jovian untuk melepaskannya dari sana, tanpa rasa sulit sedikitpun.
"Look! I got it, Baby."
Kiana menatap benda itu dengan wajah Jovian bergantian, sebelum akhirnya pria itu melemparkannya ke sembarang arah.
Gadis itu hendak berbicara, namun tanpa memberi kesempatan Jovian kembali membungkuk, dan menyambar bibir Kiana, sampai dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Dengan perasaan gemas Jovian mempermainkannya, sebuah benda di balik kemeja, berukuran pas. Tidak terlalu besar, ataupun tidak terlalu kecil.
Jovian menegakan tubuh, lalu menarik lepas kaos yang masih dia kenakan. Dan terpampang nyata lah yang ada di balik kain itu. Otot-otot perut yang terukir sedemikian rupa, membuat Kiana langsung menyentuhnya tanpa merasa ragu.
Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya terdengar deru nafas keduanya yang semakin memburu. Mereka benar-benar melepas rindu pada sore hari ini, saat langit kebiruan berubah menjadi warna kuning keemasan, terlihat samar di balik tirai putih tipis, yang membentang di kaca besar apartemennya.
"Kamu suka?" Jovian berbisik, dengan raut wajah yang terlihat datar.
Namun tentu saja terlihat semakin tampan dan menggoda.
Kiana menganggukan kepala. Kesadaran keduanya sudah sama-sama menghilang entah kemana, menyisakan sebuah rasa yang lain, dan itu hal pertama yang Kiana rasakan.
Jovian menyentuh kancing kemeja gadis di bawah kungkungan tubuhnya, membuka satu-persatu, sampai kain itu benar-benar terlepas, dan terlihatlah gundukan kembar yang sudah membuat pikiran Jovian semakin kacau.
Lagi-lagi Kiana tidak bereaksi apapun, dia hanya terlihat pasrah, dengan tatapan penuh kekaguman.
Dan setelah saling mencumbu satu sama lain. Akhirnya Jovian berhasil membuat Kiana polos dan hanya menyisakan sebuah kain segitiga tipis.
Di bawah ruangan redup, dan hanya ada mereka berdua di dalamnya. Hal yang sama pria itu lakukan, dia hanya menyisakan sebuah boxer yang masih melekat, membungkuk area sensitifnya.
Jovian mematung. Menatap keindahan yang saat ini ada di dekatnya. Leher jenjang dengan sebuah kalung melingkar disana, kulit putih bersih, dan segala sesuatu yang terlihat ranum.
Jovian meremat, dan menyentuh bulatan itu tanpa merasa puas. Lalu dia kembali membungkuk, dan tanpa aba-aba dia menghisapnya cukup kuat, sampai membuat mata Kiana membulat dengan dahi menjengit, dan mulut yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Astaga sayang!" Kiana mulai meracau.
Tangannya merayap ke belakang tengkuk Jovian, dan menarik rambut pria itu cukup kencang, membuat Jovian juga semakin gemas, sampai memberikan sebuah gigitan kecil di sana.
"Hhheuh, … Jovian!" Kalo ini Kiana menjerit. Dia tak lagi mampu menahan kegilaan yang sudah benar-benar mereka lakukan, tidak lama setelah Kiana masuk kedalam apartemen milik calon suaminya.
Bibir Kiana terus meringis, lalu merintih, saat Jovian tak berhenti bermain-main disana.
Setelah merasa puas Jovian berhenti, dia menatap wajah Kiana, dan memberikan kecupan di bibir yang terlihat lebih merah itu beberapa kali, sebelum akhirnya dia menyentuh ujung kain terakhir yang Kiana pakai, lalu menariknya sampai benar-benar terbuka.
Dada Jovian berdesir hebat. Tatkala dia menatap inti tubuh Kiana untuk pertama kalinya. Lalu dia beralih menatap wajah Kiana, gadis cantik yang saat ini sudah terlihat pasrah.
Sesuatu di dalam dirinya berteriak untuk segera berhenti, namun sesuatu yang lain memintanya untuk tetap melanjutkan kegilaan yang sudah mereka lakukan.
"Tidak boleh Jovian!"
"Lanjutkan saja, dia sudah terlihat pasrah."
"Tidak, dia masih suci. Dan kamu belum berhak mendapatkannya."
"Tapi lihatlah! Dia bahkan tidak melarang kamu untuk melakukannya. Kiana justru terlihat sudah sangat menginginkannya, sama seperti dirimu."
Suara-suara itu terus terdengar.
Namun dengan segera Jovian bangkit, melepaskan kain terakhir yang masih melekat di tubuhnya, lalu melemparkan kain itu ke sembarang arah.
Mata Kiana membuat sempurna. Dia tidak pernah menyangka akan melihat sesuatu yang hampir tidak pernah dia ketahui.
"Sayang!?" Bisik Kiana.
"Kita sudah sejauh ini, jangan memintaku untuk berhenti. Lagi pula kita akan segera menikah, persiapannya sudah enam puluh persen, jadi tenanglah." Jovian kembali mengungkung Kiana.
Dia membuka kaki gadis di bawahnya lebar-lebar, dan mulai memposisikan diri.
"Mungkin kamu akan merasakan sakit. Tapi itu hanya sebentar." Mereka saling menatap, menyelami netra satu sama lain.
Seorang gadis yang sempat ada dalam perlindungannya, kini berbaring pasrah tanpa melakukan perlawanan apapun. Bahkan tatapan itu terlihat begitu sejuk, sampai akhirnya sebuah rasa tidak tega tiba-tiba muncul di dalam diri Jovian.
Pria itu menutup matanya untuk beberapa saat, membukanya, lalu bangkit dan menjauhkan diri dari Kiana.
Jovian meraih boxernya, lalu berjalan ke arah kamar, meninggalkan Kiana yang saat ini masih berusaha meraih kesadaran yang memang benar-benar hilang dan tidak tersisa sama sekali.
Setelah beberapa menit Jovian kembali, dia sudah mengenakan celana hitam ketat itu kembali dan membawa sebuah selimut di tangannya, lalu menyelimuti Kiana yang saat ini tidak memakai apapun, karena semuanya sudah Jovian lepaskan.
"Maaf." Jovian membungkuk, lalu mencium kening gadis itu, dengan rasa sesal yang teramat sangat.
"Tapi Om …"
"Aku mandi dulu oke? Setelah itu kita masak." Jovian kembali masuk kedalam kamarnya.
Sementara Kiana bungkam, menarik selimut itu sampai leher. Menyembunyikan tubuhnya yang tidak memakai sehelai benangpun.
__ADS_1