
"Astaga Tuhan!"
Suara Danu terdengar frustasi di seberang sana.
"Saya harap Bapak jangan membuat Kiana semakin takut. Atau dia akan kembali memberontak karena merasa tidak ada orang yang peduli atau percaya kepadanya." Jovian menjelaskan.
"Tapi kali ini dia lebih keterlaluan lagi Jo! Dia mencekik anak orang sampai masuk rumah sakit, … lalu tidak diizinkan mengikuti mata kuliah hari ini! Mau jadi apa dia kedepannya jika terus-menerus begini."
Danu menggerutu.
Jovian yang saat ini duduk di kursi kerjanya hanya mengangguk-anggukan, mendengarkan segala keluh kesah Danu, yang mulai khawatir dengan sikap Kiana yang semakin hari semakin bertindak berani.
"Sekarang dimana dia?"
"Sedang menenangkan diri di apartemen saya, Pak. Mungkin kalau Bapak sudah menenangkan diri, Kiana juga sudah merasa tidak takut, … saya bawa Kiana pulang dengan segera." Jelas Jovian.
Danu terdengar menghela nafas.
"Baiklah, bawa Kiana pulang nanti sore. Saya butuh waktu agar dapat berbicara tenang kepada dia."
Jovian mengangguk, kemudian mengalihkan pandangan ke arah jam yang menempel di dinding ruang kerjanya yang sudah menunjukan pukul 10.00 WIB.
"Baik."
"Kalau begitu saya matikan dulu teleponnya. Ada Mama nya yang juga harus saya berikan penjelasan, karena orang yang akan sangat panik sudah jelas istri saya."
"Baik."
Dan setelah itu sambungan telepon benar-benar terputus, sampai pria itu memutuskan untuk segera kembali ke ruang tengah dimana Kiana dia tinggalkan disana sendiri.
Klek!!
Suara pergerakan handle pintu jelas membuat perhatian Kiana dari ponselnya beralih. Dia berbaring terlentang di atas sofa, seraya mengutak-atik layar ponsel miliknya.
Gadis itu segera bangkit, dan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk seperti semula.
"Ehehe, … maaf! Aku nggak sopan yah!" Kiana gugup.
Apalagi ketika melihat Jovian melepaskan jas, juga dasinya, lalu menggulung lengan kemeja sampai sikut.
"Ah dia tampan sekali!" Hatinya meronta-ronta, menjerit karena merasa sudah tidak tahan dengan ketampanan Bodyguardnya.
"Kamu mau tidur? Jika lelah bisa pakai kamar saya, tapi kamu harus mandi dan ganti pakaiannya, tidak boleh naik ke atas tempat tidur jika keadaan kamu kotor begini!"
Jovian mendekat kemudian duduk tepat di samping Kiana.
"Kotor? Bahkan belum ada seharian aku di luar!" Cicit Kiana dengan raut kesal.
"Tetap saja kamu kotor. Bahkan pakaianmu sempat terkena sepatu, dan bekasnya masih terlihat disini!" Jovian menyentuh pundak Kiana, sedikit menariknya lalu mengusap punggung gadis itu.
Kiana mematung, dia menatap Jovian dalam diam.
"Mau mandi? Saya order pakaian via online. Tidak mungkin ambil dari rumah bukan? Jaraknya cukup jauh. Kalaupun meminjam milik saya, … saya yakin kamu akan terlihat seperti boneka Mampang yang ada di perempatan jalan."
"Ish!" Kiana mendorong dada Jovian cukup kencang. "Masa disamain sama Boneka Mampang lampu merah!" Dia kesal.
"Mau tidak?"
"Ah kalau pesan online kadang tidak sesuai harapan."
"Jadi tidak mau?"
"Nggaklah. Disini saja, lagian bisa tiduran juga, … tapi aku bosen, nggak ada film buat ditonton gitu?" Kiana menatap Jovian.
"Ada, televisi saya sudah langsung terhubung dengan aplikasi berbayar. Kamu boleh pilih film genre apa yang mau kamu tonton!"
Jovian bangkit, dia berjalan mendekati meja yang terletak di bawah tv, menarik salah satu laci dan membawa remot untuk segera dia nyalahan.
Kiana mulai terlihat nyaman. Raut kepanikannya sudah terlihat menghilang, dan itu bagus. Dia bergerak-gerak mencari sebuah posisi yang menurutnya nyaman, dan setelahnya Kiana diam, duduk bersila di atas sofa sambil memeluk bantal yang memang terletak disana.
Jovian terus memperhatikan Kiana. Menatap wajah cantik itu yang saat ini sedang sedikit terluka, beberapa goresan terlihat, dan salah satunya terlihat sedikit lebih parah.
"Kia. Sepertinya wajahmu harus di pakaikan sedikit obat merah."
Jovian hampir saja meraih kembali kotak obatnya, sebelum Kiana menjerit dan menahan tangan pria itu.
__ADS_1
"Aku nggak mau, aku nggak suka. Biarkan saja seperti ini!" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jovian diam.
"Jangan, Om! Aku nggak suka perihnya. Bener deh, biarin aku nonton sebentar saja dengan tenang, setelah itu kita pulang oke?"
"Baiklah, terserah kamu saja. Yang penting pipimu sudah saya bersihkan menggunakan air hangat tadi."
Mendengar itu Kiana mengangguk.
"Mau makanan? Saya order via online kalau mau!"
Kiana menjawab dengan gelengan kepala.
"Yakin?"
"Astaga iya Om! Aku nggak laper, aku mau fokus nonton biar nggak takut terus sama bayang-bayang kemarahan Papa nanti."
Jovian terkekeh.
"Baiklah saya tidak akan mengganggu lagi."
Akhirnya Jovian diam, dia ikut menyandarkan punggung disana, menyaksikan serial di salah satu aplikasi berbayar bersama Kiana.
Kisah sebuah perselingkuhan, yang di lakukan oleh sang suami. Namun sang istri tetap bertahan meskipun suaminya sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Kiana menoleh setelah puluhan menit terdiam menatap televisi di hadapannya.
"Om?" Panggil Kiana.
"Ya?" Sahut Jovian tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Tatapannya sangat tajam, dengan kedua tangan yang di lipat di atas dada.
"Om, … cerai gara-gara itu juga?" Dengan perasaan ragu Kiana bertanya.
Orang yang Kiana maksud menoleh, dan menatapnya dengan raut wajah yang tidak bisa Kiana ketahui. Entah dia marah, atau memang cara memandangnya seperti itu.
"Ah bukannya dia memang selalu begitu yah! Datar, dingin, tapi tampan." Hatinya berbicara.
"Ih, … Om!"
"Apa? Kamu tanya setengah-setengah."
"Om selingkuh juga? Terus di gugat cerai sama mantan istri Om?"
Jovian terkekeh.
Sementara Kiana memperhatikan wajah Jovian dengan iris yang bergerak-gerak. Pria itu memang tampak tersenyum, bahkan suara tawanya terdengar cukup kencang, tapi raut wajah Jovian menjelaskan Jiak dia tidak baik-baik saja.
"Aku salah yah!?"
"Tidak. Kamu hanya bertanya bukan? Dan saya jawab saya tidak selingkuh. Perceraian itu terjadi hanya karena saya tidak pernah memiliki waktu yang cukup untuk istri saya. Pekerjaan saya dulu lebih padat, lebih beresiko, saya harus mengawal beberapa pejabat, kadang menjaga anak atau istri mereka, sampai semalaman kadang tidak pulang karena kepadatan aktivitas mereka. Namun, saya baru pertama kali menangani gadis petakilan seperti kamu."
Kiana mendengarkan.
"Terserah kepadamu mau percaya atau tidak. Atau mungkin mau mundur setelah ini? Saya juga tidak keberatan, tidak banyak yang mau menerima Duda seperti saya. Bahkan Asisten ayahmu mengatakan saya bodoh dalam urusan cinta!"
"Om Denis?"
Jovian menjawab dengan anggukan kepala. Dan keduanya kini saling menatap satu sama lain. Melihat manik kelam untuk melihat perasaan masing-masing.
Jelas Jovian melihat cinta yang begitu besar dari Kiana. Namun sangat disayangkan, dirinya belum bisa merasakan apapun, selain hanya melakukan apa yang seharusnya kekasih atau calon suami istri lakukan agar hubungan keduanya tidak terlalu hambar.
Dia meraih tangan Kiana, lalu menariknya sampai mereka benar-benar rapat tanpa jarak sedikitpun.
"Om!"
"Kia kamu mau menyembuhkannya?" Jovian membawa tangan Kiana, dan meletakan di dada sebelah kirinya.
Gadis itu bungkam. Menatap tangannya dan wajah pria tampan di hadapannya bergantian.
"Kamu mau membantu saya menyembuhkannya? Gantikan posisi dia di dalam sana. Kamu bisa?" Jovian berbisik.
Retina kecoklatan Kiana bergerak-gerak, dia bingung dengan apa yang Jovian maksud.
__ADS_1
"Om, … aku, …"
"Saya sedang berusaha membuka diri setelah 2 tahun lamanya. Jadi apa kamu mau membantu saya?"
"Bantu apa?"
"Bantu saya untuk melupakan Eva."
Sesuatu di dalam rongga dadanya terasa di remat begitu kencang, menghadirkan rasa yang teramat sangat sesak. Apalagi ketika mendengar Jovian dengan terang-terangan mengungkapkan jika hatinya memang masih untuk orang lain.
Lalu apa ini? Dia mengajaknya menikah hanya untuk sebuah pelarian? Dan sebuah ajang coba-coba. Jika berhasil maka Jovian akan melanjutkannya, dan jika gagal dia akan kembali kepada sang mantan istri, Diana Eva?
"Aku kira Om …"
Belum selesai Kiana berbicara. Pria itu segera mencondongkan tubuh, lalu membekap bibir Kiana, dan memangunya dengan penuh perasaan, membuat tubuh Kiana terjerembab ke belakang, membuat posisi Jovian mengungkung tubuhnya.
Kiana tidak membalas, apalagi menolak. Dia hanya diam merasakan jantungnya yang sebentar lagi mungkin akan pecah.
"Hemmm, … kamu mencintai laki-laki yang belum bisa lepas dari masa lalunya, Kiana." Batinnya menangis.
Jovian melepaskan ciuman itu.
Mereka saling menatap satu sama lain. Memindai wajah dengan nafas yang terdengar memburu. Bahkan debaran jantung Kiana bisa Jovian dengan, sampai pria itu tersenyum, lalu menempelkan kening keduanya.
"Saya sedang berusaha, … dan agar semuanya berjalan cepat, bantu saja melakukannya, bantu saya melupakan dia."
"Memangnya apa yang Tante Eva berikan sama Om? Sampai Om nggak bisa lupain Tante Eva? Padahal sudah 2 tahun kalian bercerai?"
Jovian menggelengkan kepala.
"Saya tidak tahu. Hanya perasaan di dalam hati sangat sulit untuk di tolak. Beberapa kali saya berusaha melupakannya, … dan bukannya lupa tapi justru malah semakin ingat."
Degg!!
Hatinya semakin sakit.
"Kia?"
"Duh hati aku nyesek kalau Om bahas ini terus. Rasanya akan sia-sia saja."
"Tidak tidak! Kamu bisa, saya tahu kamu bisa."
Kiana diam lagi untuk meyakinkan hatinya, hingga dia pun akhinya mengangguk.
"Om mau berusaha juga?" Bisik Kiana.
"Ya?"
Jovian menjawab, dengan posisi yang sama.
"Aku akan berusaha bantu Om."
Kiana meraup wajah Jovian, kemudian meraih bibi pria diatasnya, dan memulai hal yang baru dia pelajari dari Jovian, sampai keduanya saling merasai satu sama lain, dan berbalas ciuman yang semakin lama terasa semakin dalam.
Suara decapan sudah jelas terdengar. Di dalam sebuah ruangan berukuran cukup besar, dan hanya mereka berdua.
Jovian menarik diri, dia kembali menyatukan kening kenudanya, dengan nafas yang tersengal-sengal saat hasrat keduanya sudah benar-benar menanjak.
"Mmmm, … itu …!"
Kiana menundukan pandangan. Ketika merasakan sesuatu mengganjal di antara pahanya.
"Saya harus mengantarmu pulang sekarang!"
Jovian bangkit, seraya merapihkan kemejanya yang sudah benar-benar berantakan.
"Se-sekarang? Pulang? Papa?"
"Saya bisa mengatasi yang satu itu, … tidak dengan yang lain. Jadi ayo kita pergi sebelum saya berbuat jahat kepadamu." Dia berjalan meraih jas dan dasinya, lalu masuk kedalam kamar.
Sementara Kiana mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha meraih kesadaran yang sempat hilang karena sentuhan yang Jovian berikan.
Indah, namun menyakitkan di waktu yang bersamaan.
Ya, cintanya harus bertarung dengan masa lalu Jovian yang masih tersimpan di relung hatinya yang paling dalam.
__ADS_1