Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Menikah.


__ADS_3

Celana Cargo berwarna putih. Dengan atasan kaos lengan pendek berwarna ungu muda yang terlihat begitu pas di tubuh mungilnya. Tak lupa dengan sepatu baru yang langsung dipakai, membuat penampilannya terkesan santai namun mewah.


Kiana segera meraih tas berukuran sedang miliknya. Memasukan beberapa buku, ponsel dan dompet kecil dan barang-barang lainnya. Setelah merasa siap, dia segera keluar dari dalam kamarnya, tak lupa menutup pintu kamarnya seperti semula.


Samar-samar suara obrolan terdengar, membuat Kiana sedikit bingung sampai menajamkan pendengarnya.


"Terimakasih, banyak Bu Herlin." Suara yang sangat Kiana kenali terdengar berbicara lagi.


Gadis itu berjalan mendekati tangga, menuruni satu persatu dengan langkah pelan. Namun langkahnya segera terhenti di ujung tangga terakhir, saat pandangannya tertuju ke arah ruang makan dimana Jovian ikut bergabung disana.


Pandangan keduanya beradu, dan sama-sama terdiam.


"Kia, kemarilah kita sarapan bersama-sama." Danu segera memanggilnya.


"Om ngapain pagi-pagi disini? Nginep emang? Aku kira semalem pulang." Katanya dengan ekspresi ketus seperti biasa.


Bahkan ucapan semalam, seperti tak berpengaruh apapun. Bukankah seharusnya Kiana merasa gugup? Karena pria yang dia sukai ada bersamanya, terlebih dia sudah menyatakan rasa suka? Tapi kenapa Kiana bersikap seperti tidak pernah terjadi apapun.


"Apa begitu caramu berbicara kepada orang yang lebih dewasa?" Herlin menatap putrinya yang sedang berjalan mendekati mereka.


Kemudian Kiana duduk di salah satu kursi berhadapan dengan Jovian, yang sudah siap dengan sarapannya. Satu roti isi dan kopi hitam.


"Hari ini mau roti atau nasi?" Herlin bertanya kepada Kiana.


"Lauknya apa?"


"Capcay dan ayam panggang."


"Ya sudah, sepertinya aku mau sarapan nasi sekarang. Kuahnya dibanyakin ya, Ma!" Pinta Kiana.


Herlin meraih piring, mengisinya dengan sedikit nasi merah, dan melengkapi dengan sayur capcay juga daging ayam panggang bagian dada yang sudah dipotong-potong tipis.


"Selamat makan." Ucap sang ibunda seraya meletakan piring berisikan sarapannya.


"Selamat makan." Balas Kiana, dia meraih sendok dan garpu yang ada di hadapannya.


Keadaan hening untuk beberapa saat. Semua orang yang duduk di kursi meja makan diam sambil menikmati sarapannya masing-masing. Termasuk dengan Jovian, pria itu tidak terlihat canggung sedikitpun, pembawaannya yang santai, membuat dirinya selalu dapat beradaptasi dimanapun pria itu berada.


"Emmmm, … Kia? Ada beberapa hal yang mau Papa dan Mama sampaikan." Danu memulai topik pembicaraan.


Degg!!


Jantung Kiana tiba-tiba berdetak 2x lebih cepat. Pikirannya melayang bebas, membayangkan hal-hal yang sangat buruk, terlebih keberadaan Jovian disana membuat Kiana semakin yakin, jika dirinya sedang berada dalam ancaman saat ini.


"Pah! Aku nggak mau ke asrama. Disini aja, aku kan sudah baik, menurut, tidak membantah, cantik dan tidak sombong seperti yang Papa mau." Sergah Kiana, dia segera memotong ucapan ayahnya, dengan perasaan takut yang mulai menguasai diri.


Danu tersenyum, begitu pula dengan Herlin. Membuat Kiana semakin merasa heran. Kemudian pandangannya tertuju kepada Jovian, pria yang tampak sudah menyelesaikan sarapannya, mengusap kedua sudut bibir menggunakan tisu, dan meneguk air putih yang sudah tersedia di sampingnya.


"Aih kalian membuat aku bingung, takut, dan merasa aneh!" Kiana melanjutkan acara makannya.


"Papa mempunyai niat yang baik. Jadi jangan terburu-buru mengambil kesimpulan, cerna semuanya dengan seksama, oke?" Herlin yang duduk di sampingnya segera mengusap lengan Kiana.


Namun bukannya merasa tenang, Kiana justru semakin merasa was-was dan takut.


"Ada apa si Ma? Aku bingung! Kalian tiba-tiba serius, terus ada Om Jovian disini mau apa?" Cerca Kiana.


"Dengarkan dulu, Papa mau bicara." Herlin berujar.


Akhirnya Kiana diam, dan berusaha mendengarkan ayahnya. Dengan mata yang sesekali melirik Jovian, menyimak obrolan keluarga itu sembari menyadarkan punggung pada sandaran kursi.


"Kia?"

__ADS_1


"Iya, Pah?"


"Papa mau bicara."


"Ini juga lagi bicarakan? Langsung saja ke intinya, aku jadi nggak bisa fokus." Kiana terus menjejalkan nasi kedalam mulutnya.


Danu berhenti, dia kemudian melirik Herlin, lalu Jovian.


"Disini ada Jovian, …"


"Ish Papah!"


Kiana langsung meletakan sendok makannya, kemudian menatap Danu dengan tatapan tajam.


"Aku tahu ada Om Jovian disini, … Papa terlalu berbelit-belit ah! Aku jadi takutnya, penyakit overthink aku kambuh cuma gara-gara Papa ngomongnya sepotong-sepotong." Celetuk Kiana.


"Sayang, mungkin Papa sedikit kebingungan, jadi dengarkan dulu, oke?"


Kiana pun akhirnya mengangguk, setelah Herlin kembali mencoba memberi pengertian.


"Jovian memiliki niat yang sangat baik. Ingat! Jangan bereaksi berlebihan, tidak boleh marah atau kabur setelah ini!" Kata Danu.


Kiana mengangguk, dia fokus pada sarapannya yang masih tersisa.


"Mungkin yang akan mengatakannya Jovian, agar lebih afdhol." Kata Danu lagi, dan masih Kiana jawab dengan sebuah anggukan.


Walaupun dia takut, atas apa yang akan Jovian katakan, tapi Kiana berusaha terlihat santai, dan tenang. Setenang air danau yang hanya sedikit bergerak karena terpaan angin.


Ya, pikirannya masih tentang sebuah asrama putri yang sangat menyeramkan.


"Jo? Kami izinkan kamu untuk berbicara." Herlin tersenyum ke arahnya.


Jovian mengangguk, dia membenarkan posisi duduknya menjadi tegap.


"Iya, Om. Ini aku lagi dengerin, lanjut aja lanjut."


"Saya mengingat ucapan kamu semalam. Dan setelah saya pikir-pikir, … bagaimana kalau kita menikah saja…"


Tubuh Kiana menegang.


Sendok yang ada di dalam genggaman Kiana terjatuh diatas lantai begitu saja.


"Uhuk, … uhuk, …uhuk, …" Kiana tersedak oleh nasi yang sedang dia kunyah dan berusaha dia telan.


Herlin segera meraih segelas air minum, lalu memberikannya kepada Kiana, yang segera Kiana teguk sampai habis.


"Aduh kamu ini!" Wanita itu menepuk-nepuk punggung putrinya cukup kencang.


"Menikah? Sama Om?" Cicit Kiana dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.


***


Setelah apa yang terjadi. Perjalanan menuju kampus menjadi hening. Keduanya memilih diam, dan mengalihkan pikiran masing-masing.


"Om?" Akhirnya Kiana membuka suara setelah hampir 30 menit bungkam.


"Ya?"


"Om lagi bercanda kan? Nggak serisukan? Masa ngajak nikah kaya ngajak beli telur gulung, Om. Dadakan banget!"


Jovian melirik.

__ADS_1


"Jika saya serius bagaimana?" Jovian balik bertanya.


"Nggak mungkin."


"Mungkin saja. Kamu yang mengutarakan perasaan kamu semalam! Lalu ketika saya menanggapinya kenapa kamu malah terlihat kebingungan begitu?"


Kiana mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Jovian. Pria yang sedang fokus menatap lurus pada jalanan di hadapannya.


"Ah Om bikin aku bingung. Katanya masih belum bisa pergi dari masa lalu, … Om bilang …"


"Kamu benar suka sama saya? Atau tidak?" Jovian memotong ucapan Kiana.


"Mmmmm, …!"


"Lalu apa masalahnya? Kita sama-sama single, yang membedakan hanya statusnya saja. Kamu lajang, dan saya seorang duda cerai hidup!"


"Kenapa langsung ngajak nikah. Mana di depan Mama Papa lagi!" Suara Kiana memekik kencang di dalam mobil sana.


Gadis itu pusing.


Jovian menoleh.


"Jadi kamu tidak mau?"


"Ya mau! Tapi …"


Jovian mengurangi laju kendaraan yang berada di bawah kendalinya, menepi kemudian berhenti.


"Kamu tahu usia saya berapa?"


"Om nanti aku telat, …"


"Saya tanya kamu tahu umur saya berapa?"


Kiana mengangguk.


"37 tahun?"


"Hemmm, … saya sudah tidak bisa bermain-main dengan usia saya yang sematang ini. Jika kamu bersedia maka kita menikah, tapi jika keberatan, maka kita jalani saja hidup masing-masing setelah ini!"


"Bukan begitu, Om. Aku emang suka sama Om, ini pertama kalinya aku rasain, … tapi bagaimana dengan mantan Om? Aku nggak mau kalau …"


"Mau atau tidak?"


"Iya mau, … Om!"


"Ya sudah kalau mau, kita ikuti saja bagaimana rencana Papa kamu setelah ini!"


Jovian kembali memutar setir mobilnya, menginjak pedal gas sampai kendaraan roda empat itu kembali melaju di jalanan utama.


"Tapi aku belum lulus, Om!"


"Tidak dengan apa yang Pak Danu katakan? Jika kamu mau saya nikahi, maka yang akan mengetahui hubungan ini hanya keluarga terdekat, … pesta resepsi akan digelar setelah kamu lulus kuliah, mengerti tidak?"


"Kok Om jadi maksa gini yah!?"


"Siapa yang maksa? Saya hanya sedang menjelaskan." Wajahnya terus terlihat datar.


Sementara Kiana terlihat sedikit frustasi. Dirinya memang merasa senang jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, dan bisa Jovian terima, apalagi dengan kedua orang tuanya yang sangat mendukung.


Tapi apakah dia bisa hidup dengan sebuah ikatan yang begitu pasti. Dengan segala aturan yang ada?

__ADS_1


"Haih!" Kiana menggaruk kepalanya kencang, dengan ekspresi wajah bingung.


__ADS_2