
Kicauan suara burung sudah nyaring terdengar dari arah luar, bersamaan dengan hembusan angin sejuk memasuki rumah melalui jendela-jendela dan pintu rumah yang sudah terbuka sangat lebar. Beberapa pekerja sudah disibukkan dengan tugas masing-masing, sehingga membuat rumah besar Danuarta menjadi lebih hidup meskipun cahaya matahari belum benar-benar muncul.
Sementara di dalam kamar. Dua sejoli masih betah berbaring di atas tempat tidur, bergulung selimut ketika hawa dingin memancar dari air conditioner yang menyala.
Kiana bergerak memutar tubuh, sampai ia dapat melihat wajah Jovian yang masih terlelap dengan leluasa.
Wajah tampan itu kini terlihat sangat berbeda. Terlihat sedikit kusam, dengan bulu jambang yang mulai terlihat tumbuh di area dagu hingga tulang rahang. Dan jangan lupakan lingkaran hitam di bawah mata, juga rambut yang sedikit memanjang sampai benar-benar terlihat begitu kusut saat Jovian tidak menatanya dengan baik.
"Berapa lama kamu tidak cukuran?" Kiana berbisik pelan.
Hatinya tiba-tiba terenyuh, saat melihat keadaan Jovian yang memang tampak sedikit kurang baik.
Satu tangannya terangkat, menyentuh dan mengusap tulang rahang suaminya, seraya menyunggingkan senyuman samar.
"Aku tidak mengerti, kenapa rasa cinta ini begitu besar. Awalnya saja ingin pergi menjauh dari kamu, tapi setelah dipikir-pikir urusan hati tidak bisa di sangkut pautkan dengan uang, sebisa apapun aku hidup mandiri, jika aku kesepian juga buat apa." Gumam Kiana.
Rasa bahagia jelas Kiana rasakan. Namun sekaligus sedih apalagi saat melihat keadaan Jovian. Sepertinya dia benar-benar tidak sempat merawat diri, bagaimana tidak, pria itu berujar jika hanya bisa memikirkannya tanpa bisa melakukan kegiatan yang lain.
Kiana menjauhkan telapak tangannya, bangkit perlahan-lahan, dan mulai menurunkan kedua kaki, berniat untuk bangun. Namun, saat dirinya hendak berdiri, sesuatu melingkar cepat di pinggangnya, dan menarik ia cukup kencang sampai kembali berbaring.
Brugh!!
"Mau kemana?" Tanya Jovian dengan suara parau.
Kiana menoleh, kemudian sedikit mendongakan kepala sampai dia mampu menatap wajah Jovian yang saat ini tampak kembali memejamkan mata.
"Kamu mengigau?" Kiana berbicara pelan, tapi sudah jelas Jovian masih dapat mendengarnya.
Perlahan mata Jovian terbuka, mengerjap beberapa kali, kemudian mendekat dan menjatuhkan ciuman di pipi Kiana.
"Tidak. Aku sudah bangun." Dia menjawab.
"Aku membuat kamu bangun?"
Kiana memutar tubuh, hingga membuat posisi keduanya saling berhadapan.
Jovian mengulum senyum.
"Aku mau lihat keadaan di bawah. Seperti sudah ada kegiatan para asisten disana."
Namun, Jovian segera menarik pinggang Kiana, sampai mereka kini tak berjarak sedikitpun.
"Aku tidak akan pergi jauh, hanya kebawah. Mungkin melihat Bibi, Mbok, dan Mbak Ipah beres-beres." Kiana seolah mengerti ketakutan suaminya. "Dua Minggu aku meninggalkan rumah ini, … rasanya aku rindu suasana dimana para asisten sibuk menyelesaikan segala hal." Jelas Kiana.
__ADS_1
Jovian kini benar-benar membuka kedua matanya, seraya menatap wajah cantik yang sangat dia rindukan lekat-lekat. Ada sedikit perubahan disana, dimana pipi Kiana saat ini terlihat lebih tirus.
"Kamu merindukan mereka?" Jovian meracau. "Tapi tidak merindukan aku?" Lanjutnya lagi.
"Kalo ngomong suka sembarangan." Kiana membenamkan wajah sampai menempel sempurna di dada Jovian. "Kan sudah aku bilang, aku itu sebenarnya mau pergi saja, tidak mau bertemu lagi, aku kecewa sama kamu. Tapi ada rasa yang lebih besar, sampai rasa kecewa aku tidak ada apa-apanya. Jadi aku memutuskan untuk kembali, … bertahan dan memaafkan semua orang yang sudah membuat hati dan perasaan aku sakit." Ujar Kiana tanpa mengubah posisi sedikit pun.
Mendengar itu Jovian diam, pandangannya menunduk, menatap Kiana yang tampak nyaman memeluk tubuhnya.
Kiena mengangkat pandangan.
"Tapi tenang saja, aku sudah memaafkan kamu." Katanya, lalu tersenyum.
Tangannya bergerak meraih tengkuk Jovian, menarik dengan perlahan sampai Kiana dapat menempelkan bibir mereka.
Jovian mematung.
"Kamu pernah dengar? Jika cinta pertama itu akan sangat sulit dilupakan?"
Kening Jovian mengkerut, kemudian menggelengkan kepala. Dia tidak setuju dengan apa yang Kiana ucapkan. Mungkin lebih tepatnya dia tidak mau jika sesuatu di masa lalunya kembali diungkit, karena pada kenyataan kini dirinya sudah benar-benar melupakan Eva, dan mencintai sosok yang saat ini sudah menjadi istrinya, yang bahkan sudah mengandung buah cinta mereka.
"Aku tidak percaya!" Sergah Jovian.
Walaupun pada kenyataannya dia memang merasakan apa yang Kiana katakan. Bahkan hampir gila hanya karena Eva pergi meninggalkannya tanpa alasan yang kuat.
"Stop!" Sergah Jovian tanpa membiarkan Kiana menyelesaikan ucapannya terlebih dulu.
Kiana diam.
"Aku tidak mau mendengar itu, Baby. Jangan pernah mengucapkan niatmu untuk meninggalkan aku." Pandangan Jovian terlihat sendu.
"Aku hanya memberikan contoh saja."
Jovian merengkuh tubuh kecil Kiana, dan memeluknya semakin kuat, seolah takut jika perempuan itu akan pergi jauh kembali seperti beberapa Minggu sebelumnya.
"Aku tahu Kiana, … aku tahu!" Suaranya rendah, dan itu mampu membuat jantung Kiana semakin berdebar-debar.
"Akupun mencintaimu. Jika kamu berpikir aku sedang berdusta, … maka itu terserah padamu, … tapi sesungguhnya Allah maha tahu." Lanjut Jovian sambil berbisik.
Senyum Kiana pun terlihat semakin merekah.
"Baiklah. Ayo kita mulai hidup baru, tidak ada siapapun yang akan menghancurkan kita. Sekalipun itu dari masa lalumu sendiri." Ucap Kiana.
Jovian mengangguk.
__ADS_1
"Terimakasih karena sudah memaafkan aku, terimakasih untuk memilih tetap mempertahankan pernikahan kita, … dan terimakasih karena sudah bersedia mengandung anakku tanpa banyak alasan dan ketakutan."
Kiana mengulum senyum.
"Tapi, … bisakah kamu meminta Ipah atau siapapun untuk membawakan air hangat? Semalaman aku tidak bisa tidur karena takut jika kamu akan pergi lagi, pagi ini aku merasa sangat pusing." Pria itu meminta, yang seketika di jawab anggukan pelan oleh Kiana.
"Tidak usah Mbak Ipah. Aku saja, yang istri kamu itu aku, bukan dia! Jadi biarkan aku menyiapkan segala yang kamu butuhkan."
Jovian diam dengan netra yang bergerak-gerak, menelisik bola mata indah milik perempuan di hadapannya. Tidak ada yang berubah sedikitpun, ketulusan cinta Kiana masih jelas terlihat, bahkan kali ini lebih jelas lagi, sampai membuat Jovian merasa sangat menyesal karena sudah menggoreskan luka batin pada gadis belia itu.
"Kamu mau tunggu?"
"Iya."
Kiana bangkit setelah Jovian melepaskan lilitan tangannya. Turun dari atas tempat tidur, lalu berdiri. Namun, sebelum dia melangkahkan kaki, Jovian kembali memanggil sampai membuat langkahnya berhenti seketika.
"Baby?"
"Hmmm?" Kiana menoleh.
"Nanti siang aku mau menemui seseorang, kamu mengizinkan?"
"Bertemu dengan siapa?" Kiana segera bertanya.
"Pak Cendana. Beliau akan melihat-lihat apartemen, tapi aku tidak bisa membawamu, karena kamu sedang hamil muda, mungkin harus banyak istirahat karena masih rawan, … setidaknya itu yang aku baca dari google semalam."
Jovian mengingatkan kegiatannya semalam. Dia berusaha agar terus terjaga karena rasa takut terus memenuhi diri. Sampai dia memilih untuk mencari tahu, apa saya yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang ibu hamil muda.
"Ada apa dengan apartemenmu?"
"Tidak ada. Aku hanya berniat menjualnya saja, mungkin uang dari sana kita bisa belikan rumah kecil-kecilan, hanya untuk sementara. Nanti kalau aku punya rezeki aku akan membelikanmu rumah yang besar." Jovian berkelakar.
Nampaknya pria itu sangat bersungguh-sungguh.
Kiana hanya tersenyum samar.
"Soal apartemen dan rumah, kita bicarakan saja itu nanti. Hari ini kamu harus meluangkan waktu untuk mengantarkan kami menemui Dokter Obgyn." Pinta Kiana.
Setelah mengatakan itu Kiana meraih handle pintu kamar, membukanya perlahan, untuk kemudian keluar dan tak lupa menutupnya kembali.
***
Duh othor mau minta maaf lagi, dunia nyata lagi sibuk banget, benar-benar nggak bisa di tinggal, jadi di usahain up walaupun telat. Maaf ya🤭 cuyung kalian banyak-banyak ♥️
__ADS_1