
Hingar bingar musik terdengar begitu kencang, mengalun memenuhi area Potato Head Beach yang saat ini tampak dipenuhi para pengunjung, dan sebagian besar diantaranya adalah turis dari mancanegara.
Pandangan Kiana mengedar, menatap setiap orang yang dia lewati. Dan ternyata apa yang dia kenakan saat ini tidak seminim yang ada dalam pikiran Jovian. Nyatanya masih banyak perempuan dengan pakaian yang sangat terbuka.
"Bahkan mereka hanya mengenakan Bra yang di padukan dengan rok jeans super pendek!" Pikirnya. "Disini lebih parah, Tangerang nggak gini!" Batin Kiana kembali bermonolog.
Tapi dia terus melanjutkan langkah kakinya, karena tidak mungkin pulang, karena dia dan suaminya sudah terlanjur memesan meja.
"Sepertinya tempat ini bukan bahaya untuk aku!" Kiana mendekatkan diri pada telinga suaminya.
Kemudian Jovian menoleh, sampai mereka saling menatap satu sama lain.
Pria itu tersenyum.
"Mau pulang?" Dengan senang hati Jovian menawarkan itu. Karena berada di tempat yang sangat ramai membuat Jovian sedikit tidak nyaman.
Apalagi saat perhatian beberapa wanita tertuju kepadanya.
Tidak bisa di pungkiri, dirinya adalah pria normal yang jelas menyukai tempat-tempat dipenuhi wanita dengan penampilan minim seperti saat ini. Namun kembali lagi, kini dia sudah memiliki seorang istri, dan Kiana jelas lebih dari segalanya.
"Kita mau open table aja atau duduk di bar?" Kiana kembali mendekatkan bibir pada daun telinga suaminya.
Suara musik yang sangat keras tentu saja harus membuat Kiana melakukan itu. Karena jika tidak, sudah dipastikan Jovian tidak akan mendengar suaranya.
"Opentable saja. Kan sudah di pesan tadi!" Jawab Jovian kepada istrinya.
Kiana mengangguk.
Jovian kembali menarik tangan istrinya, masuk ke dalam sebuah ruangan yang tampak gelap gulita. Dan hanya cahaya lampu-lampu berwarna warni yang menyorot ke segala arah.
Kalo othor yang masuk mah udah pusing :)
Beberapa orang masih menganggap kegiatan dunia malam seperti mengunjungi clubbing sebagai hal yang tabu. Namun, bagi mereka yang tinggal di tengah-tengah kota besar tentu tidak menutup kemungkinan tidak tersentuh dengan kegiatan dunia gemerlap ini. Meskipun tidak dipungkiri bahwa selalu ada dampak buruk, namun clubbing tetap bisa menyenangkan jika kamu bisa membatasi diri.
"Karena segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik." Suara hati Kiana terdengar memenuhi pikirannya sendiri.
Beberapa sofa terlihat masih kosong, dan dengan segera Kiana mendudukan diri disana. Sementara Jovian pergi untuk melakukan transaksi seperti biasa.
"Tunggu sebentar yah!" Ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan Kiana.
Kiana merebahkan punggungnya pada sandaran sofa. Menatap lurus kedepan, dimana seorang Disjoki sedang memperlihatkan keterampilannya mengolah aransemen musik, sementara kerumunan di bawahnya terlihat berjoget, bergerak-gerak tak tentu arah saat ritme alunan terus terdengar semakin syahdu.
Dan setelah cukup lama. Akhirnya Jovian kembali, dengan seorang waiters yang mendorong sebuah troli kecil, dimana terdapat satu botol minuman di atasnya yang berukuran cukup besar, beberapa gelas kecil, snacks, dan dua gelas welcome drink berwarna bening, dengan potongan lemon dan daun mint di dalamnya.
Jovian segera duduk di samping Kiana. Membiarkan pelayan itu memindahkan apa yang ada di atas troli, ke atas meja kaca di hadapan sofa yang saat ini di duduki Jovian juga istri cantiknya.
"Tolong sekalian dibuka yah!" Pinta Jovian.
Pelayan itu mengangguk, dan melakukan apa yang Jovian perintahkan. Lalu kemudian pria itu pergi, membawa troli nya kembali menjauh dari area sana.
"Sampanye?" Kiana menatap wajah suaminya lekat-lekat.
Jovian meletakan rokok dan korek api di atas meja sana. Menoleh, lalu menjawab pertanyaan Kiana dengan senyuman tipis, yang pastinya terlihat begitu mempesona.
"Minum welcome drink nya dulu. Makan cemilannya, lalu setelah itu kamu boleh minum Sampanye." Jovian memperingati.
Kiana meraih lengan Jovian, memeluknya dengan erat, seraya menyandarkan kepala pada bahu kekar milik pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya.
__ADS_1
Beberapa orang tampak memperhatikan Kiana dengan tatapan tidak biasa. Mungkin mereka mengira jika Kiana adalah gadis bookingan untuk menemani seorang pria matang untuk bersenang-senang.
"Kapan gue dapet gadun yah! Yang mudah-mudahan nggak ada duitnya!" Seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan Kiana berbisik kepada temannya.
"Nikmatin aja yang ada, segitu juga udah uyuhan bisa nutupin semua kebutuhan lo!" Sahut temannya, lalu kembali menghisap rokoknya kembali, sampai asap benda itu kembali mengudara memenuhi ruangan yang sangat luas.
Jovian mulai membuka bungkus rokok, membawa satu batang dari dalam sana, meletakan di antara kedua celah bibir, lalu meraih korek dan menghidupkan benda itu, hingga dapat membakar ujung benda tersebut.
Seketika asap mengepul, mengalun ke atas dan menghilang.
"Are you happy?" Jovian sedikit meninggikan nada bicaranya.
Kiana mengangguk.
"Tapi ini yang terakhir, oke?" Pinta Jovian.
"Apa?"
Suara musik yang sangat kencang, bersahutan dengan suara teriakan-teriakan gembira orang-orang disana jelas membuat Kiana sulit mendengar apa yang baru saja Jovian katakan.
Jovian meletakan rokoknya di atas asbak terlebih dahulu, untuk kemudian mendekatkan wajah pada daun telinga Kiana.
"Ini yang terakhir kali, tidak ada lagi acara seperti ini!"
Kiana mengangkat pandangannya, membuat pandangan mereka berdua kembali beradu.
"Aku tidak menerima protes!" Kepala Jovian bergerak pelan ke kiri dan kanan.
Dan sudah dipastikan Jovian tidak mau di tolak soal ini. Jelas, memangnya suami mana yang akan terus membiarkan istrinya keluar masuk clubbing? Mungkin ada beberapa, namun Jovian tidak termasuk ke dalam circle sana.
"Setelah ini kita harus hidup lebih baik. Fokus pada keluarga kita, dan bisnis yang tentunya harus kita tekuni agar terus berjalan sebagaimana mestinya." Jovian terus berbicara seperti sedang menasehati seorang anak kecil.
"Baiklah."
Kiana melepaskan rangkulan tangannya, kemudian meraih gelas minuman, dan menyesapnya perlahan-lahan. Begitupun dengan Jovian, pria itu kembali pada rokoknya yang masih menyala dan tersisa cukup banyak.
Semakin malam suasana di dalam sana terlihat semakin ramai. Bahkan orang-orang yang berdiri di depan semakin banyak, menari-nari sambil tertawa, dan bisa dipastikan jika mereka semua sudah berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.
"Sayang aku boleh minum sekarang?"
Kiana hampir saja meraih botol berwarna hijau dengan warna emas di bagian atasnya. Namun, dengan segera Jovian menepis tangan mungil Kiana, untuk mengambil alih benda itu dan menuangkan ke dalam gelas kecil sedikit demi sedikit.
"Tidak boleh banyak-banyak, kandungan alkoholnya lebih tinggi dari pada wine!" Jovian memperingati.
Sementara Kiana tertawa karenanya.
"Ya, aku tahu." Ujar Kiana lalu meraih gelas kecil yang mengerucut ke atas, dengan air berwarna kuning mengkilau didalamnya.
Jovian memperhatikan Kiana. Perempuan yang tengah menyesap minumannya sedikit demi sedikit.
"Ah, … aku melupakan dia siapa sebelum menjadi istriku. Dia sudah biasa keluar masuk diskotik, dan menjadi langganan razia saat melakukan hal-hal yang menyalahi aturan." Batin Jovian berbicara.
"Tapi aku bangga. Karena bagaimanapun keadaannya, Kiana masih dapat mempertahankan apa yang sangat berharga di dalam dirinya, di era pergaulan bebas seperti saat ini." Pikiran, dan tiba-tiba senyuman samar terlihat menghiasi bibir Jovian.
Mereka diam untuk beberapa saat, menikmati malam hari ini dengan minuman dan musik yang terus mengalun. Sampai tiba-tiba Kiana bangkit, lalu berjalan mendekati kerumunan dan segera menari di sana.
Jovian membiarkan Kiana melakukan apa saja yang dia inginkan, karena sudah jelas perempuan itu tak luput dari pandangannya sedikitpun.
__ADS_1
"Bagus, dia tidak mabuk!" Katanya sambil terus memperhatikan Kiana. Dimana istrinya masih terlihat baik, dan melakukan semuanya dengan penuh kendali.
Riuh suara pengunjung memenuhi ruangan itu, kala seorang penari striptis keluar dari salah satu pintu, dan mendekati area yang kosong, terletak di tengah-tengah keramaian dengan tiang besi yang menjulang di sana, berada tidak jauh dari tempat duduk Jovian saat ini, sampai dia dapat melihat wanita itu dengan sangat jelas.
Awalnya terlihat biasa saja, dia berjalan berlenggak lenggok, dengan raut wajah sensual. Sampai akhirnya terdiam karena terkejut saat mengarahkan pandangan ke arah Jovian.
Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan selain melanjutkan pekerjaannya.
Deg!!
Dadanya bergemuruh, dengan rasa terkejut saat melihat wanita yang saat ini mulai menari, meliuk-liuk memperlihatkan kelihatannya, dengan hanya mengenakan pakaian dalam.
"Mayden!?" Suara Jovian memekik pelan.
Matanya memicing dengan raut tidak percaya. Dan di saat bersamaan Kiana berlari mendekat, menghampiri suaminya untuk kemudian menutup mata pria itu dengan hanya menggunakan telapak tangannya yang kecil.
"Aurat sayang, jangan di lihat!" Kiana bertingkah konyol.
Membuat Jovian yang sedang merasa terkejut tiba-tiba tersenyum, dan tertawa pelan.
"Baby!"
"Tidak, ayo kita pulang. Aku tidak mau kamu melihat Tante itu, … aku tahu dia siapa … jadi ayo cepat kita pulang." Teriakan Kiana terdengar panik.
Dia merapikan barang bawaan dengan satu tangannya, sementara satu tangan yang lain dia pakai untuk terus menutupi mata Jovian.
Pria itu berusaha untuk melepaskan tangan Kiana, sementara istrinya terus berusaha menghalangi penglihatannya.
"Memangnya apa yang kamu harapkan saat mengajak suamimu ke tempat seperti ini?" Dia berusaha melepaskan diri.
Tapi Kiana terus saja melakukan itu. Menutupi mata dengan tangan mungilnya.
"Baby!?"
"Tunggu dulu sebentar!"
"Sayang aku tidak akan melihatnya, jadi singkirkan tanganmu dari mataku. Ini sangat tidak nyaman kamu tahu?" Jovian berujar.
"Bohong, orang kamu liatin dia kok! Kalian saling kenal, makanya kamu lihat dia, … dia juga melihat ke arah kamu terus! Mana cuma pakai begituan lagi, aduh!" Raut wajah Kiana berubah menjadi muram.
"Baiklah, baiklah. Aku merem! Tapi lepaskan dulu, dan lakukan semuanya dengan benar atau akan ada yang tertinggal."
Dan akhirnya Kiana bersedia melepaskan tangannya dari wajah Jovian, memastikan barang bawaannya tidak tertinggal. Lalu segera menarik tangan Jovian dan meninggalkan tempat itu.
"Aku bayar cukup mahal hanya untuk open table dan Sampanye, Baby! Belum habis satu gelas kamu sudah mau membawa aku pulang?" Dia berteriak sampai Kiana mampu mendengar dengan jelas.
"Aku juga masih betah. Tapi disini terlalu brutal! Aku tidak mengizinkan kamu untuk melihat Tante Mayden, jika mau kamu bisa melihat aku saja, … aku juga bisa cuma bergerak-gerak begitu, sambil pakai bikin." Kiana tidak mau kalah.
Dan ucapan Kiana sontak membuat Jovian kembali menoleh, menatap ke arah dalam. Dimana Mayden sedang menari striptis di tengah-tengah keramaian, dengan suara musik yang terdengar semakin kencang.
"Bagaimana bisa? Bukannya dia model? Lalu kenapa malah bekerja seperti itu?" Batin Jovian berbicara.
Ingatannya tertarik pada beberapa menit lalu, dimana keduanya sama-sama terkejut, sebelum akhirnya Kiana datang dan menghalangi pandangannya.
......................
Cuyung! yang belum masukin kaporit, masukin dulu. Jangan lupa Like, komen, vote sama tabur-tabur ngokhey?
__ADS_1
Lopyu🍅