
Dan setelah melakukan perjalanan udara Indonesia-Madinah Sekitar kurang lebih 10 jam. Akhirnya Kiana menapakan kaki di Bandara Internasional Prince Muhammad bin Abdulaziz. Hatinya bergetar, Kiana tidak menyangka sama sekali jika dirinya akan menyambangi salah satu kota di Arab Saudi yang di dalamnya terdapat orang-orang yang begitu mulia.
"Ini nyata! Kamu tidak sedang bermimpi." Sita segera mengusap lengan Kiana.
Ketika wanita itu menyadari sikap Kiana yang tiba-tiba menjadi sangat pendiam, dengan pandangan penuh kagum saat dia menatap sekitar bangunan setelah beberapa saat landing.
Perempuan itu menoleh.
"Tante sudah berapa kali kesini?" Dia lantas bertanya.
"Mungkin baru tiga sama sekarang, kenapa?" Sita balik bertanya, seraya berjalan mengikuti rombongan untuk keluar dari area sana, dan melanjutkan perjalanan menuju hotel.
Kiana mengangguk, kemudian dia diam dan kembali memindai setiap sudut. Tiang-tiang besar yang menjulang tinggi, berbentuk seperti payung-payung yang sekilas pernah Kiana lihat dari situs web, dimana benda itu selalu terbuka dan tertutup dengan sendirinya.
"Ini sangat indah!" Batin Kiana berbicara.
"Tante?" Kiana menatap Sita kembali.
"Ya?"
"Tante tiga kali kesini? Apa Tante merasakan apa yang sedang aku rasakan sekarang?"
Ucapan Kiana cukup kencang terdengar. Membuat beberapa rombongan dan pemimpin travel memalingkan pandangan ke arah Kiana, lalu mereka tersenyum.
"Saya juga pas pertama kali kesini begitu, Neng! Saya tahu, memang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata. Tapi ini tidak seberapa pas nanti kita lihat Masjid Nabawi, apalagi masuk ke Raudhah. Eneng bakalan nyium bau wangi yang nggak bakal kita temuin dimanapun, dan wangi itu juga yang selalu kita rindukan sampai ingin selalu kembali kesini." Salah satu dari mereka berbicara.
"Saya juga begitu." Yang lain ikut menimpali.
Kiana mengangguk. Nyatanya perasaan aneh yang sedang dirinya alami, pernah orang lain rasakan.
Dadanya bergemuruh hebat, perasaannya tidak menentu. Rasa rindu muncul menyeruak, hingga menimbulkan kerinduan, yang seperti tak menemukan ujung dari hal tersebut.
"Ibu sudah sering kesini?" Kiana tampak penasaran.
"Baru dua kali. Mudah-mudahan bisa kesini lagi, atau kalo ada rezekinya kesini pas Haji nanti."
"Aamiin!" Semua orang menjawab.
Kemudian mereka tertawa pelan.
__ADS_1
"Pasti tiba-tiba mau nangis yah?" Wanita yang menjadi salah satu pimpinan travel bertanya.
Dia mengarahkan penglihatannya kepada Kiana, lalu tersenyum lembut dengan raut wajah berbinar.
"Iya. Tapi aku nggak tau kenapa bisa seperti ini!" Ucap Kiana.
"Memang begitulah panggilan hati. Seseorang sedang merindukanmu, sehingga kamu juga merindukan beliau." Suaranya terdengar sedikit berbisik.
Kiana diam.
"Betul." Sita menepuk pundak Kiana.
Kemudian mereka berhenti setelah benar-benar keluar dari dalam Bandara sana. Berdiri menunggu kedatangan Bis yang akan membawa mereka ke hotel tempat seluruh jemaah beristirahat.
"Siapa? Jovian? Aku lagi nggak kangen dia ah!" Katanya dengan bersungguh-sungguh, meskipun terselip rasa itu di dalam hatinya.
Namun, bukan itu yang membuat Kiana merasakan perasaan yang belum pernah dia alami. Melainkan sebuah rasa yang sangat luar biasa, sampai dapat menghadirkan rasa ingin menangis di dalamnya.
"Rasulullah." Seorang wanita sebaya Kiana menoleh, mengatakan hal demikian sambil tersenyum penuh arti, sebelum akhirnya dia kembali mengarahkan penglihatan ke arah lain.
Sementara Kiana langsung terdiam saat mendengar itu. Dia masih bingung, antara tidak percaya dan yakin akan ucapan perempuan tadi, tapi apa yang dia rasakan memang mampu membuat hatinya terus bergetar.
Langit Madinah terlihat hitam pekat, bintang-bintang bertaburan indah, juga bulan sabit yang tampak terang benderang. Dan itu sangat menakjubkan bagi seseorang yang baru saja berkunjung ke sana.
30 menit menempuh perjalanan dengan menggunakan bis. Kini mereka berada di salah satu hotel, yang terletak tidak jauh dari salah satu masjid berkuba hijau yang selalu membuat yang pernah datang ingin kembali. Setidaknya itulah yang Kiana ketahui, dan lagi-lagi media sosial menjadi salah satu informasi untuk Kiana.
Klek!!
Sita membuka salah satu pintu kamar, lalu masuk sambil mendorong koper miliknya, di susul Kiana setelah itu yang membawa koper berukuran sama.
"Sekarang istirahatlah. Nanti kita sholat tahajud di masjid Nabawi." Ucap Sita, yang langsung di jawab Kiana dengan anggukan pelan.
Perempuan itu menyeret koper miliknya sampai ke sudut, membuka kerudung yang masih menutupi rambutnya, kemudian beranjak memasuki kamar mandi, setelah membawa pakaian ganti lebih dulu. Sementara Sita duduk di sofa, untuk kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Denis, sang suami.
Sita tidak mengharapkan balasan dari pesan yang dia kirimkan. Karena mungkin saja di tempat suaminya tinggal saat ini malam sudah beranjak larut, bahkan merangkak menuju pagi.
Namun, nyatanya Denis masih membalas pesannya. Membuat Sita tersenyum karena merasa bahagia.
"Kami sampai dengan selamat. Kiana juga kelihatannya baik-baik saja, … tidak murung seperti waktu disana."
__ADS_1
Lalu Sita menekan tombol kirim, yang seketika memperlihatkan tanda jika pesan langsung Denis baca.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja." Balas Denis.
"Bagaimana keluarga Kiana dan Jovian?" Sita kembali membalas.
Mengetik ….
"Mereka selalu terlihat khawatir. Apalagi Jovian, dia bahkan terlihat seperti orang yang kehilangan arah, anak itu menyesal. Kiana menghukumnya terlalu keras, … tapi itu bagus, karena setelah Kiana melakukan itu Jovian mulai bertindak, dia mau menyelidiki setiap kejadian yang memang mengarah kepada Eva."
Sita mengangkat pandangan ketika sudut matanya melihat Kiana keluar dari kamar mandi. Kemudian kembali menatap layar handphone dan segera membalas pesan yang baru saja suaminya kirimkan.
"Nanti aku kabarin lagi yah, sekarang aku mau istirahat. Kiana juga seperti sangat kelelahan, hampir sebelas jam, dan kita baru benar-benar sampai." Balas Sita disertai emot senyum.
"Baiklah, selamat beristirahat."
"Kamu tidak mau menitipkan sesuatu?"
"Seperti biasa. Berdoalah untuk kebaikan kita semua, dan panggilan namaku disana, agar aku juga bisa segera menyusul."
"Baik." Sita tersenyum.
Dan itu menjadi pesan terakhir dari Sita, setelah akhirnya dia meletakan benda itu di atas nakas.
"Tante, aku mau istirahat duluan yah? Kepala aku pusing, mata juga rasanya berat banget." Wajahnya terlihat sedikit pucat, dengan pandangan mata sayu.
Sita pun menjawab ucapan Kiana dengan anggukan dan senyum tipis.
"Ya sudah. Istirahat yang cukup agar nanti ibadahnya khusyuk."
"Kalau ada apa-apa bangunin ya, Tan!" Pinta Kiana.
"Iya."
Setelah itu Kiana mendekati salah satu ranjang yang terletak bersisian. Menyibak selimut, naik, lalu merebahkan tubuhnya di balik selimut yang cukup tebal.
Sementara Sita melepaskan kerudung, kaos kaki, dan sarung tangan. Sebelum akhirnya dia beranjak memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah membuka kopernya terlebih dulu untuk mengeluarkan pakaian tidurnya.
......................
__ADS_1
Ayo seperti biasaaaaa ....