
Dan setelah menunggu waktu yang cukup menguji kesabarannya. Tibalah pada waktu yang ditunggu-tunggu, dimana acara tunangan resmi diadakan dan hanya akan dihadiri oleh keluarga-keluarga inti.
Jovian terus berdiri di hadapan sebuah cermin, menatap keadaannya sendiri, yang saat ini terlihat sangat berbeda. Kemeja batik lengan panjang berwarna navy, dia padukan dengan celana bahan berwarna abu-abu, tak lupa tatanan rambut yang kali ini terlihat benar-benar rapi, membuat pria itu tampak maskulin, namun tidak meninggalkan kesan gagahnya. Tentu, otot-otot lengan Jovian bahkan terlihat menonjol, walaupun sudah tertutup rapat dengan pakaian yang dia kenakan.
"Hey, dude! Kau sudah siap?"
Javier tiba-tiba masuk, dan segera berjalan mendekatinya.
"Emmm, … ya. Aku sangat siap! Tapi entah kenapa sekarang aku merasa lebih gugup. Ini bukan hal baru, bahkan Kiana gadis kedua yang aku lamar, tapi kenapa rasanya sangat berbeda. Ini lebih mendebarkan, Vier!" Jovian terkekeh.
Dia menatap wajah saudara kandungnya lekat-lekat. Dimana pria itu juga sedang tersenyum ke arahnya, tapi dengan raut yang sedikit berbeda. Tatapannya menjadi sendu, dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.
"Astaga jangan katakan kau akan melakukan hal yang sama, seperti apa yang Mami dan Papi lakukan." Jovian menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun Javier langsung tertawa kencang, sampai membuat kepalanya mendongak ke arah belakang, seraya mengusap sudut mata yang terlihat mengeluarkan air.
"Memangnya apa yang kamu harapkan? Aku diam? Sementara saat ini adikku akan memulai hidupnya lagi!" Javier langsung merangkul pundak saudaranya, yang mempunyai postur tubuh sedikit lebih tinggi.
Jovian hanya tersenyum, dan membiarkan Javier memeluknya dengan erat.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi suami, Jo! Mungkin salah hitungan bulan Kiana akan benar-benar masuk kedalam hidupmu, menjadi tanggung jawabmu. Aku tidak bisa berkata-kata, kamu tahu itu bukan? Tapi satu pesan aku, dan Adline. Jagalah pernikahan yang sekarang, tidak boleh ada perpisahan lagi, oke?" Javier terus mengusap punggung adiknya.
"Tidak akan. Meskipun suatu hari nanti Kiana meminta kita untuk berpisah. Aku tidak akan membiarkan dia pergi, cukup Eva. Tidak dengan Kiana!" Balas Jovian.
"Bagus." Javier tersenyum penuh haru.
Keduanya terus saling merangkul, sampai tidak menyadari keberadaan Jonatha yang saat ini berdiri di ambang pintu kamar Jovian, menatap kedua putranya dengan perasaan campur aduk.
Pria tua itu tak hentinya mengucapkan kata syukur. Di umurnya yang sudah sangat renta, Tuhan masih memberikan izin untuk melihat kebahagiaan anak-anaknya. Terutama untuk Jovian, karena selama 2 tahun pria itu terpuruk, seseorang yang sangat mengkhawatirkan keadaannya adalah Jonathan.
Namun, rasa lega kini menghampiri dirinya. Kala seorang gadis belia datang, dan merubah segala keteguhan hati Jovian, yang dahulu sempat mengatakan jika dirinya tidak akan pernah mau menikah lagi.
"Sudah jam delapan. Sebaiknya kita berangkat sekarang, mungkin Kiana sudah menunggu kehadiran calon suaminya disana."
Ucapan itu membuat Javier dan Jovian mengalihkan pandangan ke arah suara terdengar. Dimana seorang pria pria berambut putih itu berdiri di ambang pintu masuk, dengan senyuman khasnya.
Jovian mengangguk.
Dan mereka segera beranjak, untuk bersiap-siap pergi ke kediaman keluarga Danuarta, pada pagi hari ini.
***
Seorang gadis duduk di tepi ranjang kamarnya. Mengarahkan pandangan ke depan, dimana sebuah jendela terbuka lebar, yang langsung tertuju pada gerbang besar rumahnya.
Persiapan yang Kiana lakukan sudah selesai hampir 20 menit yang lalu. Bahkan MUA yang menanganinya tadi sudah pamit undur diri. Namun, kenapa Jovian masih belum memperlihatkan tanda-tanda jika pria itu akan segera tiba.
Hatinya berkecamuk, dadanya terus bergemuruh, dengan ketakutan yang tentu saja sudah menguasai diri.
Kiana meraih ponsel miliknya, memeriksakan sebuah aplikasi berbalas pesan, dan melihat kontak Jovian yang ternyata aktif sekitar beberapa menit lalu. Dia hampir saja mengetik sesuatu, tapi tiba-tiba suara mobil berdatangan mulai terdengar.
Dan benar saja. Mobil hitam milik Jovian tampak memasuki garasi rumah, dan berhenti disana. Bersisian dengan mobil hitam yang ada di bawah kendali Javier.
Seulas senyum tipis terbit di kedua sudut bibir Kiana. Apalagi jika dirinya menatap Jovian keluar dari pintu sebelah kiri, sementara Jonathan yang kali ini tampak mengambil alih kemudi, di susul Leni setelahnya.
"Oh astaga! Duda itu membuat jantung aku hampir terlepas." Kiana bergumam.
Dia kembali meletakan ponselnya, dan mulai menunggu seseorang memanggil. Seperti apa yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh Herlin, sang ibunda.
Tiga menit.
Lima menit.
Delapan menit.
Dan akhirnya, setelah sekitar kurang lebih lima belas menit menunggu. Herlin segera datang, dan memintanya untuk segera turun, menemui calon suaminya.
"Mama, … aku gugup!" Kiana menatap Herlin.
Wanita itu hanya tersenyum, sembari mengusap-usap lengan putrinya.
"Itu normal. Tidak apa-apa, Mama yakin kamu bisa mengendalikan diri kamu sekarang." Ucap Herlin, yang langsung dijawab anggukan oleh Kiana.
Dua wanita berbeda usia itu berjalan anggun menuruni setiap anak tangga. Membuat beberapa pasang mata langsung tertuju ke arahnya. Tidak terkecuali Jovian, yang memang sudah menunggu Kiana, setelah cukup lama mendengarkan kata-kata sambutan dari sang tuan rumah.
Jovian langsung berdiri sesuai arahan sang pembawa acara. Menatap Kiana yang beberapa kali tersenyum, lalu menundukan pandangan.
Sementara Jovian mengagumi kecantikan Kiana pada siang hari ini.
Kebaya brokat berwarna biru tua, dengan bawahan kain, yang sama persis dengan kemeja yang saat ini Jovian kenakan. Polesan makeup yang terlihat sesuai, tidak terlalu lebay dan mencolok, namun meninggalkan kesan manis dan dewasa di wajah imut gadis berusaha 21 tahun itu.
Rambut pendeknya di sanggul, dengan sebuah mahkota kecil yang terletak dibatas sana, membuat penampilan Kiana benar-benar sempurna.
Rangkaian acara kembali dilanjutkan, hingga sampailah pada sesi tukar cincin, yang kali ini disaksikan beberapa anggota keluarga. Dan itu cukup membuat Kiana terkejut, karena tidak menyangka Jovian akan kembali memberikannya sebuah cincin. Namun kali ini dengan desain yang sama.
Dan acara itu terasa begitu khidmat. Semua rangkaian berjalan lancar. Dari acara sambutan, lalu beberapa mendengarkan ceramah dari pemuka agama yang memang sengaja Danu undang, saling bertukar cincin, hingga acara sesi berfoto-foto ria.
"Tangan kirinya boleh di angka, … terus saling menatap yah!" Seorang fotografer mengarahkan.
Kiana dan Jovian hanya mendengarkan setiap arahan. Berharap momen itu akan tergambarkan dengan sangat baik.
__ADS_1
"Nah sekarang untuk keluarga inti dulu." Katanya lagi.
Leni, Herlin, Jonathan, Danu, Axel dan Javier segera mendekat. Kemudian melakukan foto bersama beberapa kali, dengan pose yang berbeda-beda.
Setelah itu sepupu-sepupu Kiana. Yang terlihat sangat antusias saat mereka melakukan sesi foto bersama. Dan tak lupa dengan anggota keluarganya, membuat suasana yang digelar secara sederhana itu menjadi sangat meriah.
***
Jam sudah menunjukan pukul 17.00 sore hari.
Langit cerah kebiru-biruan sudah tergantikan dengan warna kemerahan, dengan siluet oranye dan awan-awan putih di sekelilingnya. Membuat suasana sore hari ini terlihat begitu indah.
Hilir angin berhembus pelan, membuat dedaunan pohon mangga saling bergesekan, menimbulkan suara-suara riuh namun menenangkan siapa saja yang mendengarnya.
Acara sudah selesai. Namun keluarga dari dua belah pihak masih asik berkumpul, dan berbincang banyak hal, di taman bagian belakang rumah, bahkan Axel terlihat begitu senang saat memberi makan ikan-ikan koi berukuran besar di sama kolam sana.
Namun tidak dengan Kiana dan Jovian.
Mereka berdua asyik menikmati beberapa hidangan di teras depan. Hanya berdua, tanpa ada gangguan dari siapapun, kecuali para supir, asisten rumah, dan petugas keamanan yang memang berkumpul di area depan rumah, namun berada sedikit jauh dari Jovian dan Kiana.
Memberi ruang untuk mereka berdua, dan semua orang tampaknya mengerti dengan itu.
"Setelah ini kita akan jarang bertemu." Jovian menyodorkan garpu, dengan potongan buah melon yang tertancap di ujungnya.
Kiana membuka mulut, dan menyantap apa yang Jovian berikan, lalu mengunyahnya perlahan-lahan.
"Kenapa? Om mau pergi jauh? Atau sibuk mempersiapkan pernikahan kita?" Kiana bertanya dengan mulut penuh.
Jovian menjawab dengan gelengan kepala.
"Saya sudah tidak bekerja lagi. Mungkin setelah dua Minggu sekali pulang ke Pangalengan. Saya sudah memutuskan untuk mengurus sebagian kebun teh milik Papi, … oh tidak! Maksud saya menjalankan milik saya yang selama ini Papi jalankan." Jovian berujar.
Kiana mendengarkan.
"Tapi saya juga sudah mulai bergabung dengan perusahaan Papamu. Dan saya akan sedikit lebih sibuk! Tapi tenang saja, … jika ada waktu luang saya akan tetap mengantar dan menjemputmu."
"Om tenang saja. Dua bulan lagi aku lulus, mudah-mudahan bisa berhasil dengan nilai terbaik." Kiana dengan ekspresi wajah penuh harap.
Jovian menatap Kiana lekat-lekat, lalu tersenyum.
"Saya doakan, agar kamu lulus dengan nilai terbaik!"
"Mudah-mudahan."
Keduanya kembali diam, menikmati satu piring buah yang sempat Kiana bawa beberapa menit lalu. Dari stand makanan yang terletak di dalam rumah.
"Papa minta Om Denis handel semua pekerjaan hari ini. Sementara Tante Sita tidak bisa datang karena tidak enak badan." Ujar Kiana kepada pria di sampingnya.
"Saya tahu. Istrinya Deniskan sedang mengandung lagi! Mungkin Sita sedang mengalami mual muntah yang sangat parah, sampai dia tidak bisa datang, … tapi mereka meminta saya menyampaikan kata maaf juga selamat kepadamu!"
"Ah Om Denis suka ngelawak!" Gadis itu tertawa kencang.
Jovian mengangguk, seraya membuka pesan lain yang masuk ke dalam nomornya. Mengomentari sebuah postingan yang Jovian kiriman sebagai status di sosial media pribadinya.
"Selamat ya, Jo! Semoga langgeng, dan lancar sampai hari H."
Tulisan itu terlihat begitu jelas, dan Jovian segera memperlihatkan pesan itu kepada Kiana.
Mereka berdua saling menatap satu sama.
"Tente Eva?" Tanya Kiana.
"Iya, dia melihat postingan saya."
"Posting apa?" Gadis itu kembali bertanya.
"Foto kita lah, Baby! Memangnya apa lagi?"
Kiana mengangguk lagi.
"Om tidak undang Tante Eva?"
"Yang benar saja." Pria itu terkekeh kencang.
Rasanya konyol sekali jika dirinya harus mengundang sang mantan istri ke acara tunangan nya sendiri. Akan seheboh apa isi rumah ini nantinya, jika Jovian benar-benar melakukan itu.
"Aku kira Om sedikit mubazir." Dia mengangkat tangan sebelah kirinya. Menatap kedua cincin yang tersemat di jari lentik Kiana.
Jovian diam, hal yang sama dia lakukan. Yaitu menatap kedua cincin yang melingkar di jari tengah dan jari manisnya.
Tidak lama setelah itu dia tersenyum penuh arti, membuat Kiana memicingkan mata.
"Dih! Senyum-senyum." Kiana langsung mencubit pinggang Jovian seperti biasa.
Kali ini cukup kencang, membuat pria itu meringis, dan mengaduh karena merasakan panas di area sana.
"Jangan cubit terus, Babe! Nanti saya balas kamu protes!"
"Habisnya Om malah senyam-senyum." Gadis itu terkikik geli. Menertawakan ekspresi wajah tunangannya yang terlihat sangat menggemaskan saat menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Bagus bukan? Saya mengikatmu dengan dua cincin sekaligus. Bahkan nanti akan ada tiga, dengan mas kawin yang juga akan saya siapkan. Jadi, … seharusnya yang mau mendekatimu berpikir beberapa kali, jika kamu gadis yang sudah tidak bebas lagi."
Kiana mengangguk, mengiyakan pernyataan pria yang saat ini duduk tepat di sampingnya.
"Jo? Kamu masih mau disini?" Jonathan muncul dari arah dalam.
Disusul Leni, Javier, Adline dan putra mereka Axel. Yang terlihat sudah cukup kelelahan, sampai anak itu terlihat ada dalam gendongan ayahnya.
Keduanya segera bangkit.
"Mungkin sebentar lagi, Mami dan Papi boleh ikut pulang di mobil Vier dulu." Kata Jovian.
"Heh dasar. Sepertinya sulit sekali mengajakmu pulang bersama, Jo!" Sindir Adline sambil tertawa.
"Aku masih ingin bersama tunanganku, mengertilah." Jovian membela diri.
"Baiklah kita pulang duluan yah. Ingat! Tidak boleh mengganggu Kiana, … jangan terus memaksanya untuk menemanimu saat dia sudah merasa lelah, atau mungkin mengantuk." Javier berpesan.
"Kia, kami pulang yah!" Pamit Adline, dan langsung dijawab anggukan oleh gadis cantik itu.
"Kenapa kalian tidak bermalam disini saja?" Tanya Kiana kepada keluarga dari calon suaminya.
"Kapan-kapan yah. Sekarang Axel rewel, dia meminta Kakek dan neneknya untuk ikut pulang." Jonathan menjawab.
Mereka berjalan mendekati sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari mobil hitam milik Jovian, kemudian masuk satu-persatu ke dalam sana.
Suara mesin mobil mulai berderum, lampu depannya pun ikut menyala, dan kendaraan roda empat itu segera pergi, melaju dengan kecepatan rendah, melewati gerbang rumah yang terbuka sangat lebar.
"Kiana. Sekali lagi Tante ucapkan selamat, semoga acara kalian lancar sampai hari H nanti yah!" Seorang wanita yang dia ketahui sebagai adik dari ayahnya berpamitan.
Wanita itu langsung meraih tubuh Kiana, dan memeluknya cukup erat.
"Makasih sudah menyempatkan untuk datang." Ucap Kiana setelah pelukan keduanya terlepas.
Wanita itu mengangguk.
"Hey! Jovian. Kita pulang dulu yah." Dia beralih berpamitan kepada Jovian.
Calon suami Kiana, yang memiliki usia yang sama dengannya. Awalnya dia merasa aneh saat mendengar sang kakak akan menikahkan Kiana dengan pria yang jauh lebih dewasa, namun dia terkejut saat melihat keadaan pria itu. Dia bahkan tidak terlihat seperti pria berusia 37 tahun,. wanita itu berpikir.
Jovian mengangguk, dan tersenyum canggung.
"Terimakasih." Katanya.
Wanita itu segera pergi bersama anak dan suaminya, setelah berpamitan kepada Kiana juga Jovian.
Satu-persatu kerabat Danu mulai berpamitan, meninggalkan kediaman itu pada petang hari ini, saat langit mulai meredup. Hal yang sama Jovian lakukan, dia berpamitan kepada Danu dan Herlin setelah tidak ada satupun yang tersisa di sana.
Membuat Jovian merasa tidak enak hati, sampai pria itu memutuskan untuk segera pulang ke kediamannya.
"Semuanya tidak berhenti sampai disini, Jo! Kita masih harus mempersiapkan untuk acara pernikahan nanti. Ingat! Sebentar lagi Kiana akan lulus, dan acara pernikahannya sudah pasti harus disegerakan." Danu tersenyum kepada calon menantu yang dia idam-idamkan.
Jovian mengangguk paham.
"Jika kesulitan. Katakan saja, nanti kami bantu. Kami tidak sedang meragukan kemampuanmu, … saya dan Papanya Kiana tahu betul, kamu akan mengusahakan apapun untuk itu, tapi biarkan kami membantu jika memang kamu merasa kesulitan." Timpal Herlin.
Sementara Kiana duduk di sofa ruang tengah, menyimak obrolan calon suami dengan kedua orangtuanya.
"Baik kalau begitu saja pamit."
Jovian mencium punggung tangan keduanya bergantian. Dan segera berjalan ke arah luar, dengan Kiana yang tampak ikut mengantarkan seperti biasa.
Pria itu berhenti tepat di ujung teras, lalu berbalik badan.
"Baby, aku pulang dulu yah!" Jovian berpamitan.
Namun Kiana tampak tersenyum penuh arti.
"Cie aku!" Ledek Kiana.
"Jangan mulai!" Pria itu ikut tertawa.
"Baiklah, baiklah!" Kiana semakin mendekatkan diri.
Dan Jovian segera mengecup kening gadis itu.
"Aku pulang, bersihkan diri dan istirahatlah. Jangan lupa minum vitamin, agar besok kamu sudah merasa segar seperti biasa." Pinta Jovian.
"Iya."
Dan setelah itu Jovian kembali melangkah kaki, mendekati mobilnya, kemudian masuk ke dalam sana.
"Hati-hati yah!" Kiana melambaikan tangan.
Sementara Jovian membalasnya dengan menyalakan sorot lampu jauh, membunyikan klakson, dan segera melajukan mobilnya sampai benar-benar meninggalkan tempat itu.
......................
Timpukin hadiah dongggg🤪🤪
__ADS_1