Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Aktivitas baru.


__ADS_3

Suara bising dari jalanan di area sekitar semakin jelas terdengar. Bersamaan dengan munculnya cahaya matahari yang tampak malu-malu saat jam baru saja menunjukan pukul 06.30 pagi hari.


Namun, seorang pria masih betah berbaring di atas tempat tidur, bergulung selimut menyembunyikan tubuhnya dari hembusan hawa dingin air conditioner di dalam ruang kamar tidur berukuran cukup luas itu. Tangannya mulai bergerak-gerak, seperti sedang mencari sesuatu di sampingnya, dengan mata yang terus terpejam.


"Baby?" Suara itu terdengar parau.


Dan dengan segera Jovian membuka mata, saat tidak mendapatkan Kiana, padahal sejak semalaman perempuan itu terus menempel, melilitkan tangan dengan erat pada pinggangnya.


"Baby?" Panggilnya lagi, tapi masih belum ada jawaban dari perempuan yang dia panggil.


Segera Jovian bangkit, menyibakan selimut, kemudian turun dari atas tempat tidur. Pertama dia memeriksakan kamar mandi, dan lagi-lagi Kiana tidak ada disana, sampai dia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar, yang seketika bau lezat menyita perhatiannya.


"Baby?" Jovian memanggil, dia berusaha memastikan seraya terus berjalan ke arah dimana area dapur berada.


Di sanalah Kiana. Berdiri di hadapan meja kompor, mengolah sesuatu yang tampak begitu menggugah selera. Satu panci berukuran sedang, terletak di atas kompor yang menyala, tampak mendidih dan menghasilkan uap berbau lezat.


Dan jangan lupakan dengan keadaan dapur yang sedikit berantakan. Beberapa pouch berisikan sayuran, juga berbagai macam daging tergeletak begitu saja di sembarang tempat. Membuktikan jika perempuan yang baru beberapa hari menjadi istrinya memang tidak pandai memasak.


Jovian tersenyum.


Kiana terus fokus mengaduk masakannya, tanpa menyadari keberadaan Jovian di area yang sama. Sampai akhirnya dia tersentak, saat sepasang tangan kekar tiba-tiba saja melingkar erat di pinggangnya.


"Astaga!" Suara Kiana memekik kencang. "Kamu bikin aku kaget, untung sup nya nggak kesenggol! Kalau sampai tumpah bagaimana? Bahaya tahu!." Katanya lagi, lalu memukul lengan suaminya cukup kencang.


Jovian tidak menjawab, dia semakin mengeratkan pelukannya, menumpukan dagu di pundak mungil milik Kiana. Dan menghirup aroma wewangian khas yang melekat di pakaian istrinya.


"Kamu masak?" Dia berbisik.


Kiana menoleh sekilas, membuat pipinya menyentuh bibir Jovian, kemudian mengangguk.


"Jam lima tadi aku bangun, laper. Nyoba bangunin kamu tapi kamunya nggak bisa di bangunin. Jadi aku order seadanya beberapa kebutuhan via online." Kiana menjelaskannya.


Pria itu tersenyum lagi.


"Katanya tidak bisa masak."


"Ya memang betul. Aku cuma bisa masak sup, tadi masak nasinya juga aku lihat youtube, … mudah-mudahan nggak kelembekan." Dia terkekeh.


"Semoga saja." Jovian mengamini.


Pria itu melepaskan lilitan tangan di pinggang Kiana, kembali berdiri tegak, seraya menatap rambut sang istri yang saat ini diikat menggunakan karet gelang, yang entah perempuan itu temukan dari mana.


"Rambutmu sudah mulai panjang. Warna pirangnya juga sudah mulai pudar, Baby!" Katanya sembari menyentuh rambut milik Kiana.

__ADS_1


Perempuan itu menoleh, lalu tersenyum.


"Mungkin nanti siang aku izin sama kamu. Mau potong sama cat lagi biar nggak jelek." Jelasnya.


Jovian segera menggelengkan kepalanya, seolah menolak apa yang baru saja Kiana utarakan.


"Biarkan rambutnya memanjang, dia juga mau tumbuh. Dan untuk cat rambut, … sepertinya tidak usah! Lebih baik lakukan perawatan. Entah masker atau creambath, agar rambutmu semakin sehat." Tukas Jovian dengan senyuman yang terus dia perlihatkan.


Kiana tidak langsung menjawab, dia mematikan kompornya terlebih dulu, kemudian berbalik badan sampai keduanya dapat menelusuri wajah satu sama lain.


"Tahu tidak? Bahkan kamu cantik saat sedang seperti sekarang. Kulit wajah kamu terawat dengan sangat baik, sayang." Tangan Jovian bergerak, lalu menyentuh pipi Kiana, dan mengusapnya lembut.


"Dasar gombal!" Kiana terkekeh.


Perempuan itu beringsut semakin mendekat, meraih pundak Jovian, dan melingkarkan tangannya di sana.


"Nasinya sudah matang?"


"Belum." Kiana menggelengkan kepala.


"Mau mandi sekarang?" Tanya Jovian dengan senyuman penuh arti.


Dan tentu saja Kiana mengetahui maksud ajakan dari suaminya. Jelas tidak hanya mandi, tapi mungkin pria itu menginginkan hal lain.


"Baiklah, ayo kita mandi."


"Aku belum jawab." Kiana menahan senyum.


"Diam itu artinya, iya. Jadi kamu menyetujui ajakan ku karena kamu terus terdiam." Tawanya terdengar kencang.


"Eh …"


Kiana menatap suaminya dengan raut heran. Kala pria itu membawanya ke arah tempat tidur, bukan ke kamar mandi yang Jovian katakan beberapa waktu lalu.


"Sayang …"


"Shuuuuuutttt!"


Jovian meletakan Kiana di atas tempat tidur, sementara dirinya kembali mendekati pintu kamar yang masih terbuka, menutupnya rapat-rapat, dan segera kembali mendekati Kiana yang berdiam diri di atas tempat tidur sana.


Ujung kaos rumahan segera Jovian sentuh, kemudian menariknya ke atas sampai benar-benar terlepas, hingga mampu memperlihatkan sesuatu ukiran yang indah di balik pakaiannya yang sudah terlepas.


Kulit putih, dengan beberapa otot perut yang membentuk beberapa kotak di sana, dada bidang, bahu lebar, juga biceps yang terlihat semakin kekar. Membuat Kiana menelan salivanya dengan sangat susah payah.

__ADS_1


Kiana bungkam.


Jovian tersenyum, dia merangkak naik dengan sangat perlahan, membuat jantung Kiana berpacu semakin kencang dan kencang lagi.


"Katanya mau mandi." Tubuhnya terhempas ke belakang, saat Jovian terus mendekat.


Tangan Kiana terulur, menyentuh dada Jovian saat berusaha menahan pria itu yang terus berusaha mendekatkan diri.


"Apa masih lelah?" Jovian bertanya lebih dulu.


"Bukan, … tapi tirainya masih terbuka. Apa kamu mau melakukannya? Lalu bagaimana jika ada orang yang melihat?"


"Tidak akan. Waktu malam pengantin kita juga tirai dan gorden nya sengaja dibuka. Dan aku jamin seribu persen tidak akan ada yang dapat melihat ke dalam kamar kita." Jelas Jovian.


Dia kembali mendekatkan diri untuk meraih bibir Kiana. Namun perempuan itu kembali menolak, sampai helaan nafas Jovian terdengar.


"Awas saja kalau setelah ini masih ada alasan!" Suara itu terdengar rendah. Dan tentu saja mampu membuat bulu kuduk Kiana berdiri.


Helaian paling ujung tirai berwarna putih dan berbahan tipis itu Jovian tarik, sampai benar-benar menutupi kaca besar yang membentang di area kamarnya, sampai membuat ruangan itu menjadi temaram. Dia segera kembali, namun terlebih dulu melepaskan celananya sebelum dia benar-benar naik dan kembali mengungkung tubuh mungil Kiana.


"Aku tidak yakin kita akan selesai dengan cepat. Judulnya memang sekali, … tapi tambahannya banyak." Kiana terkekeh.


Perempuan itu berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Tidak tahu kenapa, ini memang bukan yang pertama kali, bahkan bisa dibilang keduanya sering melakukan itu jika memang ada waktu dan kesempatan, tapi setiap akan melakukannya Kiana akan merasa sangat grogi.


Jovian menyeringai, dengan satu tangan yang sudah merayap di balik piyama yang Kiana pakai saat ini. Kemudian pria itu sedikit membungkuk untuk meraih bibir ranum milik sang istri, sebelum sesuatu terdengar berbunyi nyaring, dan membuyarkan konsentrasi keduanya.


Pandangan Jovian dan Kiana langsung tertuju ke arah nakas, dimana salah satu ponsel diantaranya menyala. Dan Jovian tahu jika handphone Kiana lah yang berbunyi.


"Astaga masih pagi!" Jovian menggeram kesal.


"Siapa tahu penting." Perempuan itu menjawab.


Kiana langsung mendorong dada Jovian, membuat pria itu sedikit terjerembab ke arah belakang.


"Kan, … Mama!" Katanya, lalu meraih benda itu.


Kiana turun dari atas ranjang, menggeser tombol berwarna hijau, kemudian mendekatkan benda pipih itu ke arah daun telinga.


"Iya Ma?" Dia berjalan mendekati pintu kamar, membukanya, untuk kemudian keluar.


Sementara Jovian terdiam dengan perasaan yang tidak menentu.


"Hey? Bagaimana dengan aku?" Cicit Jovian dengan ekspresi kecewa.

__ADS_1


......................


Aduh🙈🙈🙈


__ADS_2