Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Mual-mual


__ADS_3

Suara kicauan burung terdengar begitu lembut, seolah sedang bernyanyi-nyanyi riang, saat cahaya matahari masih terlihat malu-malu untuk menampakkan diri. Hilir angin sejuk menusuk tulang berhembus, menerpa tirai-tirai tipis yang membentang menutupi jendela, ketika hampir semua ventilasi yang ada di rumah panggung itu terbuka.


Jam sudah menunjukan pukul 06.30 pagi hari.


Sementara para orang tua tengah asik berbincang di ruang televisi. Membahas acara yang akan diselenggarakan di sana.


"Untuk dekorasi mungkin kita tanya Kiana mau tema yang bagaimana. Kalau soal catering saya tahu yang bagus, jadi Pak Danu dan Bu Herlin tidak usah khawatir. Termasuk untuk anggaran yang harus dikeluarkan." Leni menatap kedua orang tua Kiana bergantian.


"Oh kalau soal anggaran kami tidak setuju kalau hanya Pak Jonathan dan Bu Leni yang menanggung. Biarkan kami juga ikut andil, … karena ini acara anak kita berdua, sekaligus syukuran cucu kita bersama juga." Herlin menyela.


Leni yang saat ini bersikukuh untuk menanggung biaya resepsi pernikahan antara Kiana dan Jovian hendak kembali menjawab. Namun, suara Jovian yang tiba-tiba terdengar membuat keempat orang itu diam, dan menoleh ke arah suara terdengar.


"Masih pagi, astaga! Apa kalian akan berdebar terus menerus seperti ini? Kalian membahasnya hampir di setiap waktu, dan masih belum menemukan titik terang?"


Jovian tampak begitu segar, bahkan rambutnya masih terlihat basah. Dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu berjalan mendekati para orang tua berada.


"Kalian tidak usah ribut. Untuk acara sekarang biarkan Jovian yang menanggungnya. Jovian juga punya uang, kenapa masih harus mengandalkan kalian? Nanti kalau kebiasaan bagaimana? Aku akan sangat terbiasa dengan kalian, dan aku jadi tidak mau bekerja." Katanya, lalu duduk di atas karpet, bersama para laki-laki.


Danu, Helin, Leni dan Jonathan seketika diam.


"Sudahlah jangan diributkan lagi. Jovian tahu Papa, Mama, Mami dan Papi mempunyai uang yang cukup. Tapi biarkan Jovian mandiri sekarang, dan melakukan apa yang sudah seharusnya Jovian lakukan!" Katanya lagi.


Mereka berempat saling pandang.


"Uang kamu belum terkumpul, Jo!" Akhirnya Leni berujar.


Rasa khawatir jelas memenuhi perasaan seorang ibu. Mengingat Jovian susah menghabiskan banyak uang untuk di pernikahan pertamanya, dan tidak membawa sedikitpun dari apa yang dia miliki bersama Eva setelah mereka berpisah.


"Siapa bilang? Ada dong, Mami tenang saja!"


"Kamu menjadi pengangguran selama dua tahun. Dan uang tabungan kamu sudah dipastikan terkikis setiap harinya. Apalagi kamu melakukan banyak hal saat berusaha menghindar dari rasa patah hatimu, Jovian!" Leni bersikeras.


Jovian tersenyum.


"Kan pernah kerja juga jadi Bodyguard calon istri yang tidak di duga-duga. Mami tidak tahu gaji akua juga besar, mana dapet bonus Kiana nya lagi." Dia mengucapkan kata-kata penuh candaan.


Membuat dirinya tertawa karena merasa lucu, begitu juga dengan keempat orang tua yang berkumpul disana.


"Jadi bagaimana? Kamu benar bisa membiayai ini sendiri?"


Jovian mengangguk penuh keyakinan.


"Tapi Kiana pernah bilang sama Mama. Kamu lagi nabung buat beli rumah." Herlin yang sedari tadi terdiam muka membuka suara.


"Itu soal gampang, Ma."


"Kamu sangat keras kepala, Jo!" Sang ayah berujar.


"Oh kalau itu salahkan saja Mami. Kan Mami juga begitu, kalau sudah mempunyai niat, maka tidak ada siapa-siapa yang boleh mengganggunya. Begitu juga aku!" Katanya, lalu tersenyum.


Jonathan menghela nafas panjang, lalu dia menatap wajah istrinya.


"Lho, Kiana tidak ikut keluar? Apa dia sakit lagi?"


Danu celingukan, mencari keberadaan putrinya setelah menunggu cukup lama. Namun, perempuan itu tak kunjung menampakkan diri.


"Habis subuh tidur lagi, … belum memperlihatkan tanda-tanda akan bangun."


"Tidak mual dan muntah?" Herlin menatap menantunya lekat-lekat.


Yang langsung di timpali gelengan kepala oleh Jovian.


"Ya sudah. Jalan tengahnya jadi gimana?"


Ayah dari Kiana kembali pada pembahasan semula. Dia tidak bisa menyerah begitu saja. Mengingat apa yang dia miliki, dan sudah banyak waktu yang di korbankan untuk kebahagiaan putrinya, dan rasanya tidak mungkin jika hanya diam tanpa melakukan apapun.


"Tidak ada jalan tengah, biar aku saja yang …"


"Bagaimana kalau dananya kita gabung? Jovian boleh mengeluarkan anggaran sebesar yang Jovian mampum, sisanya kami ikut menyumbang."


"Tidak bisa, Pak!"


"Pokoknya kalau mau berjalan lancar, dan tidak ada keributan setelah ini. Ayo kita kumpulkan uang anggarannya, dan buat acara semeriah mungkin, undang semua warga kampung, … hitung-hitungan pesta rakyat." Danu dengan idenya.


Jovian kembali membuka mulutnya untuk menyangkal.


Namun, persetujuan Jonathan dan 2 wanita di dekatnya membuat pria itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menyetujui kemauan orang tuanya.


"Kalian benar-benar tidak bisa ditolak!" Jovian memutar kedua bola matanya.


"Tentu saja!"


Serentak mereka berempat menjawab.


"Ya ampun!"


Jovian menggelengkan kepalanya dengan perasaan tidak menyangka.


"Pembukuan sudah Mang Adang berikan kepada Papi. Nanti kamu boleh lihat, hasil penjualan pucuk teh nya juga sudah Adang kirimkan ke rekeningmu. Semuanya aman, jadi ayo hubungi pihak-pihak jasa yang akan kita butuhkan." Jonathan tersenyum bahagia.


"Ide bagus." Leni menimpali.


"Lebih cepat lebih baik." Herlin ikut berbicara.


"Dan setelah ini kamu harus membantu Denis. Mungkin terbang ke Kalimantan untuk melihat apa yang nanti akan Kiana kerjakan setelah Papa nya pensiun." Danu tertawa.


Mendengar itu Jonathan tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang masih berjejer utuh.


"Ah senangnya sekarang keluarga kita terasa benar-benar menyatu." Leni merengkuh tubuh Herlin, dan memeluknya.


"Memang harus seperti ini." Herlin menepuk-nepuk lengan besarnya.


"Hemmm, … demi keutuhan keluarga ini, Jovian akan melakukan apa yang seharusnya di lakukan. Mengurus kebun, melihat tambang, dan melakukan hal-hal lain yang kalian senangi."


Dan semua orang tertawa.


"Jangan lupa! Saudara kamu banyak sekali di luar Indonesia, dan tiket untuk kesini kamu yang tanggung." Leni mengingatkan.


"Ah benar. Udah bener banget anggarannya patungan yah!"


Mereka tertawa lagi.


***

__ADS_1


Kening Kiana menjengit, seraya mengerjakan mata dengan tangan yang bergerak-gerak mengusap tempat kosong di sampingnya.


"Sayang?" Panggil Kiana tanpa membuka matanya.


Hening, tidak ada suara sahutan atau pergerakan, hanya terdengar detik jarum jam berbunyi memenuhi ruangan itu.


09.30 WIB.


Dengan susah payah Kiana membuka matanya, menarik kesadaran yang sempat menghilang selama beberapa jam lamanya. Namun, tiba-tiba saja dirinya merasa sangat pusing, dunia seolah berputar dengan sangat kencang, sampai-sampai dia merasa mual tanpa sebab yang pasti.


"Sayang?"


Kiana berteriak lagi, kali ini dengan suara yang lebih lemah karena menahan rasa yang terus bergejolak di dalam perutnya. Ruangan itu benar-benar kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Jovian, bahkan setelah dia berkali-kali memanggilnya.


"Astaga!" Kiana mendesah frustasi.


Perempuan itu menyingkap selimut yang menggulung tubuhnya, menurunkan kedua kaki dengan perlahan, kemudian bangkit dengan sangat hati-hati.


Kepalanya terasa semakin pusing. Dan Kiana benar-benar tidak bisa berjalan meskipun hanya selangkah, membuat perempuan itu kembali mendudukan diri di tepi ranjang.


"Mama? Mami?"


Kiana mengeluarkan seluruh tenaganya, sampai suara yang dia keluarkan menjadi sangat kencang.


"Bi Wiwin?"


Lama tidak ada sahutan apa-apa dari balik pintu kamarnya. Kemudian setelah itu handle pintu bergerak, dan munculah orang terakhir yang dia panggil setelah pintu kamar terbuka.


"Neng?" Suara Wiwin memekik kencang.


Dia cukup terkejut saat mendengar teriakan dari dalam kamar milik anak dan menantu sang tuan rumah.


"Bi? Minta tolong bopong ke toilet boleh?"


Tanpa banyak bicara Wiwin mendekati Kiana, meraih kedua uluran tangan mungil perempuan itu. Kemudian membantunya untuk berdiri.


Namun, tiba-tiba saja Kiana memuntahkan isi perutnya begitu saja, membuat keduanya cukup terkejut, apalagi Kiana yang merasa tidak enak hati kepada sang asisten rumah mertuanya.


"Bibi, maaf!" Kiana segera melepaskan rangkulannya pada Wiwin, lalu bersimpuh di atas lantai kayu mengkilap di kamarnya.


Wajah Kiana bertambah pucat dan muram, bahkan matanya memerah seperti sedang menahan tangis.


Rasa pusing belum hilang, bahkan bertambah berkali-kali lipat, sehingga dia tidak mampu menahan rasa mual, dan kembali memuntahkan air yang cukup banyak.


Ya, karena tidak ada banyak makanan yang dikonsumsi Kiana, sehingga Kiana hanya memuntahkan air terus menerus.


"Maaf, Bi!" Kiana meminta maaf lagi.


Pandangannya tertuju pada Wiwin, seraya menatap iba. Sementara perempuan itu terlihat begitu panik, dan berlari untuk meraih tempat tisu yang ada di atas nakas.


"Neng harus ke Dokter?" Wiwin tampak iba.


Dengan cekatan dan penuh kelembutan dia mengusap mulut Kiana dengan tisu.


"Bibi kena muntahan aku!"


"Tidak apa-apa, bisa dibersihkan."


Kiana mulai terisak. Tubuhnya kembali terasa sangat lemas.


"Neng Kia masih kuat? Ayo Bibi antar ke kamar mandi untuk membersihkan diri."


Wiwin membawa lengan Kiana, dan meletakan di pundaknya. Namun, saat dia berusaha membuat Kiana berdiri, nyatanya perempuan itu sudah benar-benar tidak memiliki tenaga.


"Aku nggak bisa, Bu. Aku pusing!" Tangisan Kiana semakin kencang.


Yang tentu saja membuat perhatian seluruh orang yang baru saja kembali dari area belakang rumah terkejut. Terutama Jovian. Dia berlari sekencang mungkin menuju kamarnya, dimana pintu ruangan itu terbuka lebar.


Disalahkan Kiana. Duduk bersimpuh dengan keadaan yang sangat tidak baik.


"Baby?" Dia semakin terkejut saat melihat beberapa bekas muntahan Kiana yang tercecer di atas lantai kayu kamarnya.


Tangisan Kiana semakin menjadi-jadi.


"Maaf aku nggak bisa nahan." Katanya dengan ragu.


Kiana takut Jovian marah, apalagi saat pandangannya melihat kedatangan Leni dan Jonathan, yang kemudian disusul Herlin juga Danu.


"Maaf." Dia malu.


"Tidak apa-apa, Neng. Bibi yang rapihin, tidak usah nangis." Wiwin berusaha membesarkan hati Kiana.


Jovian mendekat, lalu berjongkok di hadapan sang istri.


"Ayo aku bantu bersihkan." Dia meraup tubuh mungil istrinya, kemudian dia bawa ke dalam kamar mandi.


"Kiana jatuh, Bi?" Herlin terlihat panik.


"Tidak, tadinya mau minta antar ke kamar mandi. Tapi keburu tidak kuat." Jelas Wiwin.


"Keadaan Kiana semakin parah begitu." Gumam Danu.


Tentu saja hatinya terasa diiris halus, kala melihat keadaan belahan jiwanya yang tidak kunjung membaik.


"Mami buatkan susu jahe dulu."


Leni bergegas pergi.


"Bi, tolong dirapikan semuanya yah. Saya mau panggil Bidan setempat dulu untuk memeriksa keadaan Kiana." Jonathan berujar.


Wiwin pun menjawab dengan anggukan pelan.


"Bu Herlin bisa disini membantu Kiana nanti, kalau saja terjadi sesuatu yang tidak memungkinkan. Dan Pak Danu, mari ikut bersama saya, … saya sudah tidak berani berkendara." Pinta Jonathan.


Danu pun menurut, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti permintaan Jonathan, mengingat Yanto sudah kembali ke Tangerang untuk berjaga-jaga di rumah besar miliknya.


"Sudah, jangan menangis." Jovian berbicara dengan suara rendah yang terdengar lembut.


Perlahan dan penuh kelembutan Jovian membuka semua pakaian yang Kiana kenakan. Dan setelah semuanya terlepas, dia membawa sang istri pada tempat berbilas, seraya mendudukannya di bangku plastik berukuran kecil yang memang tersedia disana.


Kucuran-kucuran air kecil menyentuh tubuh Kiana, mengalir dengan hangat dari atas kepala hingga membasahi seluruh tubuh.


Jovian membawa sabun mandi dan shampo, kemudian membubuhkan pada tubuh Jovian berurutan. Kiana diam sambil menundukan kepala, sementara Jovian tersenyum tipis.

__ADS_1


"Baby?" Panggil Jovian, yang seketika membuat pandangan Kiana terangkat.


Pria itu masih tersenyum.


"Masih pusing?"


"Sedikit."


"Kenapa tidak memanggil aku? Sudah tahu pusing dan lemas, kenapa masih memaksakan untuk tetap berjalan sendiri?"


Jovian mengusap lembut permukaan kulit tubuh sang istri.


"Aku sudah panggil-panggil kamu. Tapi kamu nggak jawab, … aku panggil Mama dan Mami juga. Mereka juga nggak jawab, panggil Bi Wiwin baru datang. Tapi aku nggak kuat, dan muntah di kamar." Raut wajahnya sendu.


"Maaf yah kamar kamu jadi kotor."


Jovian menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, kotor bisa dibersihkan. Yang penting kamu sama si kembar sehat dan kuat."


Kiana mengangguk. Perlahan wajahnya berubah kembali menjadi sumringah.


Dan setelah beberapa menit.


Jovian keluar dari kamar mandi, setelah selesai membantu Kiana membersihkan diri. Dan dia mendapati kamarnya sudah rapi.


Bahkan wewangian menguar indra penciuman Jovian dan juga Kiana.


"Kemarilah, Mama bantu." Herlin muncul dari arah luar.


Jovian membawa Kiana ke atas tempat tidur, dan membaringkan perempuan yang saat ini mengenakan bathrobe, juga handuk yang melingkar erat di kepalanya.


"Mama tidak tahu harus ambil baju yang mana!"


"Tidak apa-apa. Jovian saja." Balas pria itu.


"Benar?"


Jovian mengangguk.


"Ya sudah, Mama keluar dulu sebentar."


Herlin mendapatkan anggukan dari Jovian juga Kiana.


***


"Yang sakitnya mana?"


Bidan yang dipanggil Danu juga Jonathan segera bertanya saat dia melihat Wiwin ada di area ruang tengah. Wanita itu membawa satu nampan bekas piring buah dan gelas susu yang diminta Leni untuk diberikan kepada menantunya.


"Ada di kamar, Bu. Masuk saja!"


Seorang dengan seragam batik itu mendekati pintu kamar Jovian, lalu mengetuknya beberapa kali sampai membuat semua orang yang ada di sana.


"Permisi."


"Eh, masuk Bu Bidan!" Kata Leni yang saat ini duduk di tepi ranjang, di dekat Kiana duduk setengah berbaring.


Wanita yang di maksud segera masuk, di susul dua pria paruh baya setelahnya.


"Kenapa ini teh?" Dia bertanya dengan senyum ramah.


"Sedang hamil muda, Bu. Terus pusing, mual dan muntahnya semakin hari semakin parah. Awalnya hanya di sore hari, tapi sekarang hampir setiap menit. Takunya harus dirawat atau bagaimana gitu." Jelas Leni.


Herlin mendengarkan sambil terus memijat-minat tangan Kiana.


"Beneran? Tapi sekarang kelihatan seger. Nggak kaya orang pusing terus habis mengalami muntah. Tidak lemas juga!"


Bidan itu mendekat, lalu melakukan beberapa pemeriksaan. Dan dia tidak mendapati gejala yang membahayakan Kiana juga bayi nya. Wajah Kiana terlihat berseri-seri, tidak terlihat jika perempuan itu sedang mengalami kesulitan. Bahkan saat ini dia tengah melahap potongan buah-buahan yang sudah diberikan Wiwin dengan semangat.


"Tapi tadi sempat muntah-muntah hebat." Herlin berkelakar.


Bidan hanya tersenyum.


"Bagaimana sekarang, teh? Masih pusing, mual dan muntah? Atau lemas sampai tidak bisa jalan dan melakukan beberapa aktivitas?"


Kiana melihat ke arah Jovian yang saat ini duduk di sofa, seraya menatap layar ponselnya. Berbalas beberapa pesan singkat dengan sahabatnya yang ada jauh di Tangerang sana.


Kemudian menatap sosok wanita berpakaian rapih di sampingnya.


"Sekarang sudah tidak, Bu Bidan. Aku baikan kayaknya. Pusing sudah hilang, mual sama muntahnya juga." Kiana menjawab dengan santai.


Lalu menjejalkan potongan buah kiwi kembali ke dalam mulutnya.


Semua orang tertegun.


Apalagi Leni dan Helin yang tadi menyaksikan betapa tersiksanya Kiana. Namun, saat ini Kiana benar-benar terlihat baik-baik saja.


"Syukurlah kalau sudah baikan. Vitamin dari Dokternya masih ada?"


Kiana mengangguk.


"Susu hamilnya bagaimana?"


"Aku nggak mau minum susu hamil, Bu. Minum susu jahe saja." Jawab Kiana.


"Makanannya?"


"Nggak makan. Buah-buahan saja!"


"Setelah ini harus dipaksakan makan yah! Pilih lauk yang memiliki nutrisi cukup, dan mengandung asam folat."


Kiana terlihat berpikir.


"Gimana mood aja Bu!"


Perempuan itu berbicara sesuka hati. Celetukan gaya bicara Kiana persis seperti dulu, yang tentu saja membuat semua orang kebingungan. Namun, tidak dengan Jovian, pria itu sibuk dengan benda yang ada di dalam genggamannya.


Dia terlihat santai, apalagi saat mendengar jika sang istri memang baik-baik saja.


"Dia tidak butuh obat, dia hanya butuh suaminya." Batin Jovian bersorak gembira.


Kepercayaan dirinya meningkat pesat. Apalagi saat melihat Kiana yang benar-benar baik-baik saja jika dirinya ada bersama perempuan itu. Dan terlihat sangat tersiksa jika dia tidak mendapatkan ia disisinya.

__ADS_1


......................


Cuyung, seperti biasa 🥰😘😍


__ADS_2