Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Patah hati.


__ADS_3

Sementara si sudut lain kota Tangerang.


Seorang pria tampak duduk di salah satu kursi taman. Menggenggam satu cup minuman dingin di tangannya, sambil menatap langit dengan cahaya matahari yang mulai memudar. Sama halnya dengan sebuah harapan yang kini sudah benar-benar tidak dapat Kevin gapai lagi. Karena sang gadis pujaan kini resmi menjadi milik orang lain, sosok pria yang dia ketahui sebagai Bodyguard pribadinya.


Dan yang paling menyakitkan adalah. Hari ini sosial media Kiana dipenuhi dengan foto-foto dimana gadis cantik itu dan suaminya memamerkan dua buku nikah, menatap kamera dengan senyum sumringah. Lalu bagaimana dengan dirinya? Bahkan rasa sakit itu tidak lebih besar dari rasa cintanya, sampai masih terbesit sebuah keinginan di dalam hati, jika ia tidak ingin menikah, dan hanya akan menunggu Kiana sampai perempuan itu kembali sendiri.


"Dia itu buta atau bagaimana? Puluhan kali aku di tolak. Sementara pria tua seperti itu dia terima, bahkan sampai mau di nikahi!" Katanya sambil tersenyum getir.


"Apa sudah terjadi sesuatu?" Gumam Kevin. "Ah bahkan aku tidak peduli sekalipun itu terjadi, mau Kiana sudah tidak perawan, atau dia sudah hamil. Tidak ada masalah!" Ucapannya semakin tak terkendali.


Sampai Kevin terkesiap, ketika seseorang menepuk pundaknya cukup kencang.


"Ngapain lo disini, Vin? Sendirian, sore-sore! Mana sepi lagi tempatnya." Starla menatap wajah salah satu sahabatnya lekat-lekat.


Kevin tidak menjawab. Namun raut wajah sendu jelas menjadi jawaban untuk Starla, jika keadaan sahabatnya tidak baik-baik saja.


"Gue temenin yah!" Starla berjalan melewati Kevin, kemudian duduk tepat di samping pria tampan itu.


"Ngapain kesini? Gue lagi mau sendiri, La!"


"Pulang kerja. Lagi jalan kaki mau ke halte, eh liat mobil lo parkir disana!" Starla menunjuk salah satu mobil yang terparkir di bahu jalan.


Kevin menghela nafas.


"Pasti lo liat postingannya Kiana yah!?" Starla menatap Kevin serius.


Awalnya Kevin hanya diam. Tapi beberapa menit kemudian dia menganggukan kepalanya, dengan mata terpejam dan menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, berusaha menekan rasa yang kurang nyaman di dalam hatinya.


"Sabar yah! Tapi semuanya udah punya jalan masingmasing. Jodoh, rejeki, maut. Udah ada yang atur, … sekuat apapun lo nyoba buat deketin Kiana, kalo kata Tuha lo bukan jodohnya ya nggak akan bisa, Vin. Begitu juga sebaliknya, kalo lo nggak suka sama Kiana, tapi kalo kata Tuhan kalian berjodoh, ya pasti akan ketemu terus menerus gimana pun jalannya."


Kevin mengalihkan pandangan ke arah Starla, dan dia menatap wajah sahabatnya beberapa detik.


"Lo bisa ngomong kaya gitu karena lo nggak ngerasain apa yang gue rasain, La! Satu tahun terakhir gue terus berusaha, berjuang biar Kiana balik suka sama gue, tapi nyatanya? Dia memilih orang baru, … laki-laki yang tidak lain adalah ajudan pribadinya! Apa menurut lo gue bisa baik-baik aja, La?"


Starla tersenyum.

__ADS_1


"Kita nggak tahu apa yang terjadi sama Kiana. Siapa tahu dia di paksa menikah sama kedua orang tuanya, kan lagi musim kaya gitu."


"Cih! Mana ada di paksa tapi kelihatan bahagia!" Cicit Kevin.


"Ya awalnya mungkin di paksa. Tapi cinta kan ada karena terbiasa, Vin."


Kevin menghela nafasnya lagi.


"Lo kesini mau ngapain sih? Mau bikin gue makin down yah!?"


Starla tertawa cukup kencang.


"Dari pada marah-marah terus. Kesel, galau, kecewa! Mendingan anterin gue pulang yuk? Lumayan bisa irit uang ongkos gue, Vin."


"Astaga!" Kevin meyapu wajahnya cukup kasar.


"Jangan down terus. Nanti lo nggak bisa nyari siapa pelaku yang nyebarin foto Kiana waktu itu. Kalo Hendi nggak mungkin, … jadi kita harus cari lagi siapa yang sempet foto Kiana sama Bodyguard nya diam-diam."


Starla bengakit, dia meraih tangan Kevin, lalu menariknya sampai pria itu ikut bangkit, dan berjalan kemana Starla membawanya.


"Jangan ingetin soal itulah! Gue sakit hati kalau inget Kiana ciuman sama Om-om itu!" Katanya sedikit ketus.


"Dasar tukang paksa!"


"Kita sahabatan. Nggak boleh itung-itungan, apalagi nolong orang itu pahalanya gede banget lho."


Kevin memutar kedua bola matanya, menekan tombol remote control, dan membiarkan Starla masuk lebih dulu. Sebelum akhirnya dia menyusul masuk, lalu kemudian melajukan mobilnya untuk meninggalkan area sana.


Malam harinya, di kediaman Danu.


Dua pria berbeda usia tengah duduk di kursi kayu, berbincang-bincang santai disana, di temani secangkir kopi yang di antarakan oleh Yati.


"Lusa kalian berangkat?" Tanya Danu setelah menyesap kopi, dan meletakan cangkir itu kembali ke atas meja.


"Karena Minggu depan justru hari keberangkatan kita ke Bali. Jadi saya memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaan di Pangalengan sana. Karena baru saja selesai panen teh, dan uang gaji harus saya berikan dengan segera. Dari pada nunggak mending di percepat saja, … atau uang gajinya saya titip di Mami dan Papi." Jovian menjelaskan.

__ADS_1


Danu hanya mengangguk-angguk kepalanya.


"Itu bagus. Kamu harus bertanggung jawab, tidak boleh menyepelekan soal gaji para karyawan, … karena kita tidak tahu kesulitan apanyang sedang mereka hadapi."


"Iya. Apalagi kebanyakan para pekerja orang-orang menengah kebawah, yang buat beli beras saja mengandalkan dari gaji mereka sebagai buruh memetik daun teh."


"Mereka hanya di berikan gaji bulanan?"


"Tidak, saya menerapkan sistem yang Papi terapkan dulu, uang gaji mereka utuh! Untuk makan, kopi dan rokok sudah kami tanggung."


Danu tersenyum mendengar itu. Lalu dia mengangkat tangan kanannya, dimana sebuah arloji melingkar disana.


"Baiklah. Kita bisa bicara besok lagi. Sudah jam sepuluh malam, … naik dan istirahatlah!"


Danu bangkit lebih dulu, kemudian di susul Jovian setelahnya, dan pria itu berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Dimana suasana sudah sangat sunyi, hanya terdengar aktivitas di bagian paling belakang rumah itu.


"Ipah! Tolong tutup dan kunci semua pintu!" Titah Danu kepada salah satu dari asisten rumah.


Setelah mengatakan itu Danu menaiki setiap anak tangga. Bersama Jovian yang berjalan terus di belakangnya, lalu berpisah saat hendak memasuki kamar masing-masing.


Klek!


Jovian masuk, lalu menutup pintunya kembali hingga rapat seperti semula.


Kiana yang duduk setengah berbaring di atas tempat tidur segara menoleh, dan tersenyum kala mendapati Jovian yang masuk ke dalam kamarnya.


"Mau pulang sekarang?" Ucap Kiana dengan semangat.


Jovian mengulum senyum, mengelengkan kepala, kemudian duduk di tepi ranjang seraya menatap wajah istrinya dengan hati yang selalu berdebar-debar.


"Sepertinya kita bermalam saja disini. Tidak enak dengan Papa dan Mamamu, masa pamitan setelah hampir tengah malam." Dia mengusap pipi Kiana.


......................


...Jangan lupa!...

__ADS_1


Like, komen, hadiah dan vote. Kalo masih Nemu typo, boleh di teken sama di komen yah, biar othor bisa benerin, terimakasih.


Cuyung kalian♥️


__ADS_2