
Sore harinya.
Jovian keluar dari pintu sebelah kiri mobil yang Yanto kemudiakan. Mereka sampai di pekarangan rumah seseorang pada hampir pukul 15.00 sore hari.
"Yakin saya tidak perlu ikut, Pak?" Yanto bertanya sekali kali, mencoba meyakinkan ajudan yang dipercayakan bos besarnya untuk menjaga putrinya, Kiana.
Jovian merapikan pakaiannya, menatap Yanto, tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Pak Yanto pantai saja dari sini. Urusan mereka biar saya yang menangani, … jika saya masuk bersama Pak Yanto kesannya saya seperti seorang Bodyguard yang sangat penakut." Dan untuk pertama kalinya pria itu tertawa di hadapan orang lain, selain Denis tentunya.
"Baik kalau begitu saya akan tetap disini!" Yanto berseru.
Jovian mengangguk, kemudian dia berbalik badan, dan memasuki sebuah gerbang rumah yang tingginya hanya sepinggang Jovian, terus masuk dan berhenti tepat di depan pintu rumah yang tertutup rapat.
Tok tok tok!!
"Permisi!" Kata Jovian.
Lalu pria itu mundur beberapa langkah, menunggu sang tuan rumah untuk membukakan pintu. Dan tidak perlu menunggu lama, seorang wanita yang sempat dia temui pagi hari tadi membuka pintu selebar mungkin, menatap Jovian dengan sorot mata tajam penuh ketidak sukaan.
Sementara Jovian terlihat datar seperti biasa. Tentu saja dia tidak perduli dengan banyak hal, terlebih jika bukan prioritasnya.
"Untung saya sama suami saya belum balik ke rumah sakit. Masuk!" Ucapnya ketus.
Wanita itu mundur.
Dan membiarkan Jovian segera melangkah memasuki rumah minimalis modern, layaknya rumah-rumah orang dengan ekonomi menegah ke atas pada umumnya.
Tidak terlalu besar jika di bandingkan dengan rumah milik kedua orangtua Kiana, namun sentuhan arsitektur jelas terlihat disana.
"Silahkan." Lia kembali meminta Jovian untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Terimakasih." Jovian mengangguk, kemudian duduk.
Tidak lama setelah itu seorang pria muncul dari arah dalam. Dan ikut bergabung bersama Jovian juga istrinya sampai mereka bertiga duduk saling berhadapan.
"Saya tidak mau berbasa-basi lagi terkait masalah Kiana dan anak saya. Kalau memang sudah di sediakan dan setuju langsung saja." Wanita itu melipat kedua tangannya di dada.
Jovian mengeluarkan sesuatu di dalam saku jasnya, kemudian meletakan di atas meja.
__ADS_1
"Silahkan!" Jovian menggeser kertas tadi agar lebih mendek dengan sang tuan rumah.
Dengan segera wanita itu meraih sebuah cek yang Jovian simpan di atas meja. Namun setelahnya kening wanita itu terlihat menjengit, menoleh sampai suami istri itu saling beradu pandang.
"Apa ini! Saya minta 200 juta. Kenapa hanya 50 yang kalian berikan?" Suaranya memekik kencang.
"Sudah, Mam. Setidaknya mereka sudah berniat bertanggung jawab. Lagi pula Hendi sudah ada dalam penanganan, dan biayanya tidak sampai sebesar itu!" Pria di sampingnya mencoba menenangkan.
Namun Lia tampaknya masih tidak terima, dia kembali meletakan secarik kertas dengan nominal 50 juta lengkap bersama tanda tangan Danu di atas meja kaca berukuran besar, benda yang menjadi penengah antara Jovian juga wanita yang tidak lain adalah ibu dari Hendi sendiri.
"Tidak bisa tidak bisa. Ini di luar dari perjanjian!" Lia semakin meninggikan suaranya.
"Memangnya Pak Danu menjanjikan apa? Saya dengar beliau tidak mengatakan apapun." Jovian berujar.
"Baik. Kalau begitu saya akan bawa ini ke jalur hukum. Kasus percobaan pembunuhan; pasal 53, 338 KUHP maksimal hukum 15 tahun penjara." Sergahnya, seperti sedang kembali menakut-nakuti pihak Kiana, terutama Jovian yang saat ini berada bersama dengannya.
Mereka tidak akan mau nama baiknya tercoreng, jadi sebesar apapun nominalnya pasti di penuhi, pikirnya.
Nyatanya reaksi Jovian justru lebih santai lagi. Dia menarik lepas kacamata hitamnya, lalu menatap wanita di hadapannya dengan tatapan penuh intimidasi.
"Anda yakin?" Jovian bertanya.
"Saya mau menuntut apa yang sudah terjadi kepada anak saya dengan seadil-adilnya!"
"Ma!"
"Diam Pah! Aku sedang memperjuangkan keadilan untuk anak kita. Masa sudah di cekik sampai masuk rumah sakit hanya di beri kompensasi sebesar 50 juta saja. Bukankah mereka pengusaha? 200 juta itu tidak ada apa-apa, tapi kenapa kalian seperti sedang menyepelekan saya!"
Jovian mengulum senyum, dia menatap pria di hadapannya, lalu kembali kepada wanita yang kini terlihat sangat menyebalkan.
"Baik. Jika anda tetap mau memperpanjang ini, maka saya juga akan melaporkan balik anda bersama putra anda yang bernama Suhendi Hendriawan, dengan pasal berlapis." Jovian tersenyum miring.
"Tidak bisa …"
"Tentu saja bisa. Pasal 335 ayat 1 KUHP, perlakuan tidak menyenangkan. Terus pasal 315 KUHP, pelecehan verbal, pencemaran nama baik, dan pemerasan. Bagaimana? Mau lanjut saja, atau terima 50 juta itu dan menyelesaikan semuanya secara baik-baik."
Lia terdiam.
"Pak? Sudah, istri saya memang begitu, dia terlalu memanjakan putranya sampai hal kecil saja harus di besar-besarankan seperti ini." Suaminya berbicara kepada Jovian.
__ADS_1
Pria yang di maksud hanya diam.
"Tapi …"
Lia terlihat kembali membuka mulutnya, namun segera Jovian potong.
"Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan apa yang Kiana alami. Penjelasan Kiana tadi pagi sudah sangat jelas, dan saya yakin anda mengerti."
"Tapi tetap saja dia itu terlalu brutal untuk ukuran gadis kecil seperti Kiana. Dia mendorong dan mencekik anak saya!" Lia masih berkelit.
"Putra anda juga melempar Kiana sedang sepatunya cukup keras. Bahkan dia mempunyai sebuah foto dimana punggungnya terlihat memar, … apa masih mau lanjut? Kiana dan Pak Danu tidak takut sama sekali dengan anda, hanya saja dia terlalu berbaik hati, jika mereka mengajukan banding bagaimana? Pasalnya berlapis dan hukuman yang di terima pasti lebih berat!"
Lia menghela nafasnya kencang, dia memejamkan mata, dan setelah itu menyambar kertas yang sempat Jovian berikan dengan kasar.
"Baik. Masalah selesai!" Intonasi suaranya masih sangat ketus.
"Benar? Tidak jadi mau lanjut sampai kantor polisi?" Kali ini Jovian menantang, kesabarannya seperti sedang di uji.
"Mungkin jika suaminya yang bertingkah, sudah aku habisi saat ini juga. Luka paling ringan, … minimal rahangnya bergeser sampai dia tidak bisa hidup dengan normal seperti manusia lainnya." Batin Jovian berbicara.
"Sekali lagi maaf, Pak. Saya sangat menyayangkan kejadian ini menimpali putri Pak Danu, juga putra saya."
Jovian mengangguk.
"Jika cek nya sudah anda terima, saya harap anda tidak mengungkit masalah ini, atau saya akan bertindak lebih dulu sebelum Pak Danu memerintahkan saya untuk melaporkan balik anda dan putra anda." Jovian memperingati.
Lia diam.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, semoga Hendi lekas membaik. Dan saya berharap dia mendapatkan didikan dari kedua orang tuanya dengan benar, ajari dia bersopan santun, terutama kepada seorang gadis, Kiana bukan lawan sepadan bagi seorang anak laki-laki."
Setelah itu Jovian bangkit, berbalik badan dan keluar dari rumah tersebut seraya kembali memasang kacamata hitam miliknya.
Dengan langkah lebar dan penuh wibawa, Jovian mendekati mobilnya yang terparkir di luar pagar rumah.
"Sudah selesai, Pak?" Yanto yang menunggu di luar langsung bertanya.
Jovian mengnguk. Pria itu masuk kedalam mobilnya terlebih dahulu, di susul Yanto yang saat ini mempunyai kewenangan mengemudikan mobil kesayangan pria yang duduk di kursi sebelah kiri, Jovian Alton.
Mereka segera meninggalakn komplek cluster elit itu, dengan perasaan penuh kemenangan yang Jovian rasakan, sampai pria itu terus tersenyum sambil menatap lurus kedepan.
__ADS_1