
Sebuah bangunan mewah yang tampak cukup besar, terletak tidak jauh dari kawasan pantai pasir putih yang membentang sangat luas. Dipenuhi para pengunjung entah itu dari dalam maupun luar negeri. Membuat Kiana yang baru saja tiba beberapa menit lalu tak hentinya tersenyum dengan raut wajah berbinar, menatap air laut yang terus bergerak-gerak, jauh di seberang villa milik kedua orangtuanya.
Deburan ombak mendominasi pendengaran, begitu pula dengan terpaan angin yang berhembus cukup kencang, membuat beberapa pohon kelapa yang berdiri di area villa terseok-seok tak tentu arah.
"Baby? Kamu tidak lelah?" Suara dari arah dalam terdengar.
Jovian memutuskan untuk segera mendekati Kiana, setelah merapikan barang-barang bawaannya di dalam kamar terlebih dahulu.
Kiana menoleh, menatap Jovian yang saat ini terlihat berjalan mendekat.
"Kita baru saja tiba. Apa kamu tidak merasa pusing?" Pria itu tersenyum.
"Sebentar, aku sedang menikmati pemandangan disini." Ucap Kiana seraya mengarahkan pandangan ke arah pantai.
Jovian tidak menjawab lagi. Dia menelusupkan kedua tangan kekarnya di antara celah lengan dan pinggang milik Kiana, lalu memeluk istrinya dari arah belakang, menumpukan dagu di ceruk leher perempuan itu dengan perasaan yang tidak bisa di artikan oleh kata-kata. Bahagia sudah pasti, namun apa yang sedang Jovian rasakan saat ini lebih dari itu.
"Papamu luar bisa. Beliau memiliki villa semewah ini!" Jovian berdecak kagum.
"Hmmmm, … kamu tahu? Dulu aku sangat senang kalau Papa sedang ada waktu senggang, dan kita liburan kesini hanya bertiga dengan Mama. Pagi sampai siang aku main pasir disana!" Kiana menunjuk ke arah pantai. "Lalu siang sampai sore aku tertidur karena kelelahan, dan saat malam hari tiba, kita Barbeque-an disini." Kiana menjelaskan lagi, sementara Jovian hanya diam mendengarkan.
Ingatan Kiana tertarik jauh kebelakang. Dimana hubungan dengan ayahnya masih sangat baik, tidak pernah ada kesalah pahaman apapun waktu itu. Namun semuanya segera berubah, saat Kiana mulai menduduki bangku perguruan tinggi. Hubungan mereka merenggang, dan itu terjadi karena dirinya yang ingin bebas karena merasa terus di kekang oleh kedua orangtuanya, terlebih Danu yang selalu membatasi ruang gerak Kiana sampai gadis itu benar-benar merasa sangat jenuh.
Apalagi saat dia bertemu dengan Zayna dan teman-temanya yang lain. Kiana dapat merasakan hal baru, dan dia sangat menyukainya. Dimana mereka dapat melakukan banyak hal, yang tentu saja belum pernah Kiana alami.
"Baby? Kenapa kau melamun?"
Jovian melepaskan lilitan tangannya, menyentuh bahu Kiana dan menarik perempuan itu sampai beralih menghadap ke arahnya.
"Apa yang kamu pikirkan? Kita ini sedang berbulan madu. Tidak boleh murung seperti ini!"
Kiana tersenyum samar.
"Nggak. Aku hanya mengingat masa-masa dimana aku dan Papa tidak pernah berselisih paham. Beberapa tahun belakang semuanya jadi berubah semakin buruk, dan baru beberapa bulan terakhir kami bisa kembali seperti dahulu, … dan kamu tahu? Itu semua karena kamu. Aku dapat berpikir bahwa apa yang selama ini aku lakukan memang tidak baik."
"Tentu saja. Kamu sudah merugikan banyak orang, melakukan balapan liar demi sejumlah uang yang sudah jelas kamu memilikinya, bahkan lebih besar mungkin. Lalu berkendara di bawah pengaruh alkohol, keluar masuk tempat hiburan malam. Apa yang akan orang lain pikirkan? Sementara Papamu adalah orang berpengaruh, … seorang pengusaha yang dikenal dan disegani pengusaha lain."
Jovian menyentuh pipi Kiana, dan mengusapnya dengan sangat lembut.
"Ah maafkan aku karena sudah menyusahkanmu kemarin-kemarin." Perempuan itu terkekeh.
Kiana beringsut mendekat, kemudian memeluk Jovian erat, sampai pipinya menempel tepat di dada bidang pria di hadapannya, membuat tubuh Kiana seketika tenggelam di dalam dekapan hangat Jovian.
"Ya, waktu itu kau sangat menyebalkan. Bisa-bisanya pergi padahal aku sudah melarangmu." Jovian ikut tertawa.
Dia menundukan pandangannya, mengusap rambut Kiana yang mulai memanjang, turun ke punggung, dan tanpa aba-aba Jovian meraih tubuh itu, membuatnya seketika berada di dalam gendongan, untuk kemudian Jovian bawa ke arah dalam.
Klek!!
Pintu segera tertutup rapat, tak lupa Jovian menarik tirai putih tipis untuk menutupi pintu berbahan dasar kaca.
"Baru jam sebelas, Om!" Kiana berbisik tepat di hadapan wajah suaminya.
Jovian tidak menjawab Kiana, dia hanya terlihat menahan senyumannya sambil terus membawa Kiana masuk ke dalam sebuah kamar, dimana taburan bunga mawar terlihat memenuhi ranjang tidur berukuran besar.
"Disini kita hanya berdua, Baby. Tidak akan ada yang merasa terganggu meskipun kita melakukannya saat ini. Atau kapanpun aku mau, … kita akan tetap bisa melakukannya."
Jovian meletakan Kiana di atas tempat tidur sana. Hingga setelah itu dia berjalan ke arah sudut lain kamar yang sangat luas itu, menutup tirai-tirai tipis hingga membentang menutupi kaca besar yang ada disana.
Kiana menatap suaminya tanpa reaksi apapun. Dia hanya duduk terdiam di atas tempat tidur. Menatap Jovian dengan dada yang bergemuruh kala dia melihat pria itu mulai melucuti pakaian bagian atasnya satu-persatu. Kulit putih bersih, dengan bahu dan dada yang bidang. Belum lagi kalung yang selalu melingkar di leher Jovian, membuat pesona pria itu menjadj seperti api keabadian yang tidak akan pernah padam.
"Oh astaga dadaku!" Batin Kiana menjerit, ketika jantungnya terasa akan segera meledak.
__ADS_1
Ranjang tidur itu bergerak, saat Jovian naik ke atas sana dengan perlahan-lahan, merangsek maju sampai dia dapat mengurung Kiana di antara kedua tangan kekarnya.
"Pasrah sekali. Apa tidak berniat untuk melawan? Atau mencari alasan agar aku tidak melahapmu sekarang juga, hum?" Dia tersenyum penuh arti.
Pandangan Kiana mendongak, dengan mata yang terus bergerak-gerak, memindai setiap inci wajah suaminya, dengan batin yang tak henti mengucapkan kata-kata penuh puja, mengagumi salah satu ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
"Dan kau beruntung karena memilikinya, Kiana!" Hati perempuan itu kembali berbicara.
Sorot mata tajam, alis yang tebal, hidung mancung, dengan ukiran bibir yang terlihat begitu seksi.
Satu tangan Kiana bergerak terangkat, lalu menyentuh bibir Jovian, dan mengusapnya perlahan-lahan. Membuat Jovian semakin terbawa suasana, bahkan hasratnya terus saja menanjak, hanya karena melihat Kiana yang sedang menatapnya dengan mata sayu.
"Memangnya aku bisa?" Perempuan itu berbisik. "Jika boleh aku memang ingin jalan-jalan di luar saja, menikmati suasana pantai yang sangat indah." Pandangan Kiana tak teralihkan sedikit pun.
Jovian tersenyum, kemudian dia membungkuk untuk meraih bibir Kiana.
Cup!!
"Setelah ini, oke?" Katanya.
Dan dengan segera Jovian menelusupkan tangannya. Mengusap kulit yang terasa hangat di balik kemeja putih polos yang Kiana kenakan saat ini.
Mata Kiana terpejam, menikmati setiap sentuhan yang Jovian berikan. Awalnya pria itu mengusap perut Kiana, beralih mengusap pinggang, dan terus naik ke atas sampai dapat menemukan si kembar menggemaskan, yang masih berbalut kain berbusa di dalam sana.
Kedua tangan Kiana mulai bergerak mengusap dada Jovian, dan setelah itu melingkar erat di pundak pria yang saat ini tengah mengungkung tubuhnya, membuat tubuh mereka saling merapat satu sama lain.
Jovian menyatukan keningnya, membuat hembusan nafas Kiana menyapu wajah dengan leluasa. Pun hal yang sama Kiana rasakan, membuat perempuan itu segera memejamkan matanya.
"Oh sayang!" Rintihan Kiana terdengar rendah, kala tangan Jovian mempermainkan miliknya dengan nakal.
Sementara Jovian hanya tersenyum.
Pria itu melepaskan buah dada Kiana. Beralih membuka kancing kemeja istrinya satu persatu. Terlebih dulu Jovian menegakan tubuh, dan dengan tidak sabar menarik lepas pakaian yang menutupi bagian atas tubuh Kiana.
"Aku rasa ukurannya sedikit lebih membesar, Baby!" Bisik Jovian seraya kembali menggenggam benda itu.
Kiana tidak menjawab. Otaknya benar-benar terasa kosong, sampai sudah tidak mampu mengucapkan sepatah katapun selain menikmati setiap sentuhan suaminya.
Jovian kembali menundukan kepala, meraih bibir Kiana yang langsung perempuan itu sambut, dan saling membalas satu sama lain.
Hingga setelah sekian lama saling mencumbu, akhirnya mereka benar-benar sudah siap. Berbaring saling menindih di atas ranjang, dengan keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
Jovian menyentuh kedua kaki Kiana, membuka selebar mungkin, mempersiapkan diri sampai milik keduanya saling menyentuh, sebelum akhirnya menyatu hingga tubuh keduanya saling bertautan.
"Nggghhhhh!!" Erangan Kiana terdengar.
Jari-jari lentik Kiana menancap cukup kencang di pergelangan tangan Jovian, membuat pria itu sedikit meringis karena merasa kesakitan.
"Argghhh, Baby!"
Keningnya menjengit kencang, membuat pelipis Jovian hampir saling menyentuh.
"Pelan-pelan, … tidak udah sekaligus seperti itu! Aku tidak akan kemana-mana sampai kamu harus melakukannya terburu-buru." Kiana merengek.
Jovian tersenyum, kemudian mengusap pipi istrinya lembut.
"Maaf." Jovian terkekeh.
Dia diam untuk beberapa saat, membiarkan Kiana tenang terlebih dahulu.
"Dasar tidak sabaran."
__ADS_1
"Memang." Jovian menyahut.
Dan setelah itu Jovian mulai bergerak. Menghentak dengan kecepatan sedang, membuat Kiana kembali merintih pelan dengan mata terpejam dan tubuh yang terus bergerak tak tentu atas.
Senyum di bibir Jovian kembali terlihat. Rasanya menyenangkan saat melihat Kiana tidak berdaya, dan tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Rambut kecoklatan yang mulai memanjang kini sudah terlihat berantakan. Wajah memerah dan ekspresi wajah yang terlihat sangat menggemaskan, membuat Jovian semakin tidak sabar.
"Oh sayang!" Desahnya.
Jovian semakin mempercepat hentakannya, sampai suara-suara erotis mulai mengalun memenuhi langit-langit kamar itu. Beruntung, bangunan yang luas, dan jauh dari beberapa tempat tidak membuat siapapun tidak akan mendengar aktivitas keduanya pada siang hari ini. Meskipun terdapat satu bangunan khusus pekerja, namun itu berada cukup jauh, dan sudah dipastikan para pelayan yang mengantarkan keduanya tadi tidak akan mendengar apapun.
Geraman Jovian terus saling bersahutan dengan rintihan Kiana. Bahkan tak jarang perempuan itu meracau, mengucapkan kata-kata yang tidak Jovian mengerti.
Namun itu jelas membuat Jovian semakin tidak dapat mengendalikan dirinya. Dia bergerak semakin kencang, mempermainkan dua gundukan secara bergantian, dan tak lupa mengh*sap bibir Kiana tanpa merasa puas.
"Jovian stop!"
Bukannya berhenti, Jovian justru menambah tempo hentakannya, membuat Kiana hampir saja menjerit jika saja Jovian tidak segera dia bungkam kembali dengan ciuman.
"Aaaaaa, …. Aku mau pipis …. Awas!" Kiana menjerit.
Kiana mendorong bahu suaminya dengan sangat kencang, berusaha menyingkirkan pria itu dari atas tubuhnya. Sayang, dia tidak memiliki tenaga cukup besar sampai tidak dapat mengubah posisinya sedikitpun.
"Baiklah, ayo kita selesaikan sekarang!" Suara Jovian tersengal-sengal.
Pria itu semakin menggila. Hingga teriakan Kiana semakin terdengar kentara memenuhi bangunan megah yang berdiri kokoh, di area pantai sana.
"Astaga sayanghhh!" Kiana terus berteriak.
Tubuhnya meliuk-liuk tak tentu arah, kemudian membusung saat sesuatu yang terasa mengalir kini terasa berkumpul di satu titik.
Dan setelah beberapa saat, akhirnya lolongan Jovian terdengar, menjadi sebuah pertanda jika memang aktivitas panasnya akan segera berakhir.
"Joviannmnn!"
"Argghhh!"
Tubuh besar Jovian ambruk di atas tubuh mungil Kiana. Hembusan nafas Jovian terdengar memburu, dengan keringat yang bercucuran membasahi seluruh tubuh.
Tidak lama setelah itu Jovian bangkit, dia melepaskan tautan tubuh keduanya, mengecup kening Kiana, lalu berbaring tepat di samping istrinya.
"Tidurlah, nanti sore kita bangun untuk berburu sunset."
Jovian menarik selimut, hingga menutupi hampir seluruh tubuh keduanya.
Kiana mengangguk. Dia bergerak memutar tubuhnya, beringsut mendekat, kemudian menenggelamkan diri di dalam dekapan Jovian.
Cup!!
Jovian memberikan kecupan hangat di kening istrinya.
"Terimakasih, dan maaf karena mungkin setelah ini tenggorokannya akan terasa panas dan sakit. Kamu terus berteriak, … tapi aku sangat menyukai suaramu." Ucapnya dengan suara rendah.
Kiana tidak menjawab, dia hanya tersenyum tanpa mengubah posisinya sedikitpun.
Aduh🥵🥵
......................
Like, komen sama tabur-tabur jangan lupa ...
__ADS_1
cuyunggg kaliannnnn 😍😍