Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Pulang dan sebuah kabar


__ADS_3

Satu Minggu berlalu.


Pesawat yang Kiana dan Jovian tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara internasional Soekarno Hatta pada menjelang sore hari. Setelah penerbangan sempat ditunda, karena hujan deras yang disertai angin kencang.


"Halo, Pak Yanto?"


Jovian mendekatkan benda pipih itu ke arah daun telinga, setelah terlebih dulu menekan nomor salah seorang supir yang memang sudah diberitahukan akan menjemputnya.


"Iya, Pak Jovian?" Suara seorang pria terdengar menyahut di seberang sana.


"Saya sudah di lobby yah!" Kata Jovian.


"Siap, Pak. Saya kesana sekarang!" Yanto menjawab.


Dan setelah itu Jovian menjauhkan handphone dari telinga, menekan tombol berwarna merah, lalu memasukkan benda itu ke dalam sebuah tas berukuran sedang miliknya.


Dia melepas genggaman tangannya pada pegangan koper besar yang dia bawa. Lalu duduk di salah satu kursi tunggu yang tersedia. Hal yang sama Kiana lakukan, perempuan itu segera duduk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Jovian, ketika kepalanya terasa begitu berat dan sedikit pusing.


"Kamu lelah, Baby?" Tanya Jovian seraya mengusap pipi Kiana dengan lembut.


Kiana mengangguk pelan, memejamkan matanya saat dunia terasa semakin berputar-putar.


"Hhheuh!" Dia menghela nafas cukup kencang. "Ini yang membuat aku malas naik pesawat, … sesudahnya pasti sakit telinga sama pusing!" Keluhnya lagi.


"Hanya belum terbiasa. Lagi pula kita hanya ke Bali! Bagaimana kalau nanti aku ajak pulang kampung, jaraknya sangat jauh, mungkin butuh waktu seharian di dalam pesawat, dan kamu harus bisa dan tidak boleh rewel, oke?"


"Yang benar saja. Masa ke Pangalengan naik pesawat, dasar ngaco!"


"Kampung aku tidak hanya di Pangalengan saja, Baby! Ingat tidak? Aku ini anak dari siapa?" Jovian terkekeh.


Tangannya tak berhenti bergerak, dia terus mengusap-usap kepala istrinya agar perempuan itu merasa sedikit lebih baik.


"Ah iya. Kamu orang Belanda yah!" Kiana ikut tertawa. "Dulu Belanda menjajah Indonesia, sekarang keturunannya malah menjajah hati aku, … hiyaaaa … aku malah ngelantur." Tawa Kiana semakin kencang.


"Tidak aneh, kamu memang pandai sekali menggombal!"


"Benar kata orang. Ikatan pernikahan itu menyatukan dua orang yang berbeda, … dan tentunya akan saling melengkapi satu sama lain."


Kiana melepaskan lilitan tangan di lengan Jovian, menegakan duduk, lalu menatap pria tampan yang juga tengah menatapnya dengan senyuman samar.


"Kamu cuek, aku banyak ngomel. Kamu selalu bersikap dingin, sementara aku selalu bersikap panas, … eh!'


"Tapi ada satu persamaan dari diri kita." Kata Jovian.


"Oh ya?"


"Hemm!" Jovian mengangguk. "Kita sama-sama keras kepala, dan mungkin aku lebih parah darimu, … kamu tahu? Aku bahkan enggan meminta maaf untuk kesalahanku sendiri."


"Gengsi kamu gede yah!?"


Jovian mengangguk.


"Pantas saja dua tahun nggak move on tapi cuma bisa diem. Gengsinya gede banget ternyata … ah tapi baguslah, kalau nggak gitu kita nggak bakalan nikah." Celetuk Kiana.

__ADS_1


"Jangan bahas masa lalu, nanti kamu bete sendiri." Jovian memperingati.


Dan tidak lama setelah itu, mobil Lexus hitam tampak melaju mendekat dengan kecepatan rendah, menepi dan benar-benar berhenti tepat di hadapan sejoli yang baru saja pulang dari agenda bulan madunya.


Yanto keluar dari dalam mobil, berlari mendekati Jovian juga Kiana, lalu meraih dua koper berukuran besar, dan menyeretnya ke arah bagian belakang mobil, untuk kemudian membuka pintu bagasi, dan memasukkannya ke dalam sana.


"Terimakasih, Pak Yanto!" Kata Jovian sambil tersenyum.


Yanto mengangguk, sembari mengangkat satu koper lagi ke dalam bagasi sana. Sementara Jovian menarik tangan Kiana, mendekati mobil, membukakan pintu, lalu membiarkan perempuan itu masuk dan duduk di kursi penumpang belakang.


"Aku duduk di depan, yah!?"


Dia meminta izin kepada istrinya, yang tentu saja mendapatkan anggukan pelan dengan segera. Jovian menutup pintu di samping Kiana rapat-rapat, kemudian dia beralih membuka pintu sebelah kiri bagian depan, masuk dan duduk nyaman disana.


"Sudah semua. Mau langsung pulang atau mau mampir ke tempat lain dulu?" Tanya Yanto saat dirinya masuk.


"Pulang saja, Pak."


Yanto mengangguk, dia segera memutar setir mobilnya, menatap spion bergantian, kemudian melajukan kendaraan roda empat itu dengan perlahan-lahan.


"Maaf, … pulang ke rumah Non atau ke Apartemen Pak Jovian?"


Dua orang yang di maksud terdiam. Sama-sama menunggu jawaban dari masing-masing.


"Baby?"


"Nggak tau, aku gimana kamu aja mau bawa pulang aku kemana." Sahut perempuan yang duduk di kursi belakang.


Jovian menoleh menatap Yanto.


"Tidak, Pak. Beliau hanya memerintahkan untuk membawa mobilnya, dan menjemput kesini." Jelas Yanto dengan pandangan yang terus menatap lurus ke depan.


"Tidak meminta kita untuk datang?"


"Tidak. Mungkin Bapak dan Ibu memberi waktu untuk istirahat lebih dulu, … kalau disuruh ke rumah pasti saya sudah bawa mobilnya kesana tanpa harus bertanya, Pak."


"Ya sudah, ke rumah Pak Danu saja."


Dan jawaban itu Jovian berikan, membuat pria paruh baya di sampingnya segera mengangguk.


Langit Tangerang saat ini terlihat mendung dan berwarna hitam pekat , bahkan pohon yang berdiri hampir di setiap tempat bergerak-gerak, tertiup angin kencang, kemudian tidak lama setelah itu turunlah hujan yang sangat lebat.


Jovian dan Yanto terdengar berbincang-bincang santai sambil menikmati perjalanan di tengah guyuran air hujan dan suara kilat yang mulai terdengar saling bersahutan. Sementara di kursi penumpang bagian belakang terdengar sunyi, dan saat Jovian menoleh ternyata Kiana sudah kembali terlelap.


Sesuatu di dalam tas berukuran sedang milik Jovian terasa terus bergetar. Membuat sang sang pemilik segera membukanya, dan menyentuh sebuah benda pipih untuk Jovian keluarkan.


Seorang tampak sedang berusaha menghubunginya. Yang tidak lain adalah salah satu dari bawahannya, yaitu Gibran.


"Ya?"


Jovian menjawab, tentunya setelah menggeser tombol berwarna hijau.


"Saya mempunyai kabar baik untuk Bapak." Kata Gibran.

__ADS_1


Jovian melirik Yanto, kemudian menatap spion yang ada di hadapannya. Memastikan jika Kiana benar-benar terlelap di belakang sana.


"Apa harus sekarang?" Tanya Jovian.


"Ya, … seorang yang menempelkan foto di papan pengumuman kampus sudah kami temukan."


Pria itu diam saat mendengar kabar tersebut. Di satu sisi dia merasa lega karena sudah menemukan seorang pelaku yang berani bermain api dengannya. Sementara di sisi lain Jovian takut jika Kiana akan marah, karena perempuan itu sudah memperingati untuk tidak melanjutkan penyelidikan itu.


"Case close saja, … aku nggak mau fokus kesana lagi! Yang lalu biar berlalu, sekarang kita fokus pada hubungan kita saja."


Ucapan itu terngiang-ngiang di dalam isi kepalanya.


"Hujan petir! Nanti bisa kita bicarakan lagi, sekarang saya sedang berada di perjalanan pulang. Tapi tolong katakan dulu siapa namanya, dan apa dugaan kita benar?"


"Ya." Gibran menjawab.


"Kevin?"


Pria itu kembali menoleh ke arah belakang saat menyebutkan nama salah satu dari sahabat istrinya. Dan tampaknya Kiana memang benar-benar tidur, sampai dia tidak terganggu sedikitpun.


"Bukan, Pak. Dia memang mengakui teman dari istri anda. Tapi menurut pengakuan namanya Hilmi. Pria ini sudah ada di markas, … namun masih belum mau berbicara siapa yang menyuruhnya untuk melakukan itu. Sikapnya yang sedikit seperti perempuan membuat saya bingung harus berbuat apa, … bahkan dia terus berteriak, menjerit dan merengek agar saya menghubungi Kiana untuk meminta maaf dan membebaskan dia dengan segera."


Jovian memejamkan matanya, lalu menghela nafas cukup kencang.


"Awasi jangan sampai dia kabur. Terus gali informasi, dan jangan sampai kalian menyakitinya, … saya khawatir nanti Kiana akan salah paham."


"Baik."


Setelah mendengar itu Jovian menjauhkan handphone dari daun telinganya. Menekan tombol berwarna merah, lalu memasukan kembali benda itu ke dalam tas sana.


Dan setelah menempuh perjalan hampir 30 menit. Akhirnya mobil hitam keluaran terbaru itu melaju memasuki area halaman rumah Danu yang sangat luas. Berhenti berjejer bersama mobil-mobil yang lain, dan setelah itu satu-persatu penumpangnya keluar.


Namun tidak dengan Kiana. Perempuan itu masih terus tertidur meski mobilnya sudah berhenti.


Dua asisten rumah berhamburan lari ke arah luar, mendekati mobil yang baru saja tiba, dan berniat membawa dua koper besar yang Yanto turunkan ke dalam rumah.


"Baby?" Jovian menyentuh pipi istrinya, memberi tepukan pelan agar dapat membuat istrinya terbangun.


Kiana segera mengerjap, matanya terlihat berwarna merah, lalu bangun dengan rasa lelah yang begitu luar biasa.


Maklum saja. Seminggu mereka di Bali, dan selama itu juga Kiana menjadi santapan lezat seorang Duda tampan yang kelaparan. Sampai mereka melakukannya hampir di setiap ada waktu dan kesempatan tanpa merasa bosan.


"Sudah sampai, lanjutkan tidurnya nanti di kamar." Kata Jovian kepada istrinya.


Kiana mengangguk, dia meraih pundak Jovian, lalu turun dari dalam mobil sana.


"Haih, … efeknya terasa sekarang!" Kiana mengeluh, dengan suara pelan.


Namun, tentu saja Jovian masih dapat mendengarnya dengan sangat baik. Membuat pria itu segera tersenyum karena ikut membayangkan keseharian mereka seminggu belakangan ini.


Mereka berjalan mendekati pintu rumah besar yang terbuka lebar, dengan tangan Jovian yang merangkul sang istri, menjaga perempuan itu agar tidak terjatuh karena reaksi tubuhnya yang terlihat begitu lemas.


......................

__ADS_1


Ayok bisa yoooooo ...


__ADS_2