
Beberapa hari kemudian, …
Jam sudah menunjukan pukul satu lewat tengah hari. Namun, tampaknya Herlin masih sibuk mengurus beberapa tanaman bonsai hias yang baru saja tiba dari toko tanaman langganannya.
Pot-pot berukuran kecil, dan bonsai berukuran sama, dengan bentuk yang tentunya tampak berbeda-beda. Namun, terlihat sangat menggemaskan karena ukurannya yang sangat mungil.
Tiba-tiba saja perhatiannya teralihkan, ketika mendengar suara pergerakan gerbang rumahnya yang begitu besar. Lalu terdengarlah suara mesin mobil, sebelum akhirnya sosok pria muncul dari arah pintu luar, menenteng tas kerjanya yang berukuran sedikit besar.
Dia tersenyum kala pandangan keduanya bertemu.
"Papa?" Ucap Herlin.
Kemudian dia bangkit, mendekati suaminya, dan mengambil alih tas kerja, juga jas yang mulai Danu lepaskan. Sementara pria itu langsung mendaratkan ciuman di kening Herlin tanpa banyak basa-basi.
Cup!!
"Sudah pulang saja." Herlin menatap wajah suaminya, lalu tersenyum manis. Yang juga dibalas pria itu dengan tak kalah manisnya.
"Jus strawberry sepertinya enak ya, Ma?" Kata Danu seraya mengedipkan sebelah matanya.
Herlin tersenyum, lalu mengangguk.
"Kiana dan Jovian masih di sana? Kapan pulang?" Tanyanya, sambil berjalan mengikuti kemana Danu akan pergi.
Danu tidak langsung menjawab, dia hanya mendudukan diri di sofa, untuk kemudian merapatkan punggung pada sandaran sofa.
"Mereka pulang, … mungkin ke rumah baru mereka."
"Rumah baru?" Herlin terlihat sedikit terkejut.
"Hemm, … anak-anak itu membuat Papa pusing. Perjalanan bisnis kali ini membuat kepala Papa rasanya mau pecah."
Kening Herlin menjengit.
"Siapa? Ebra dan Kiana? Mereka bertengkar?"
"Bukan." Katanya sambil menggelengkan kepala.
Bahkan Danu tak membuka matanya sedikitpun, dengan jari-jemari yang terus memijat kening.
"Lalu?"
__ADS_1
"Jovian dan Kiana, … Papa tidak habis pikir kenapa mereka begitu."
"Papa bertele-tele nih, bikin Mama bingung!"
Danu menghela nafas, lalu mengubah posisinya menjadi duduk tegak, sembari menatap wanita yang sedari tadi terus berdiri di hadapannya.
"Jovian membuat semuanya menjadi rumit. Disana kan ada Papa, Denis juga! Tapi hanya karena Ebra dan Kiana berjalan beriringan membuat pria itu uring-uringan, … dan itu hampir setiap hari." Jelas Danu.
"Oh astaga! Tiga hari saja menghadapi orang yang sedang cemburu sangat membuatku pusing. Apalagi dengan sikap usil Kiana, bukannya berhenti agar membuat suaminya tidak mengomel lagi, dia malah senang berinteraksi dengan Ebra, sampai keributan terus terjadi. Bahkan Denis hanya bisa tersenyum ketika melihat temannya mempunyai perubahan sikap yang sangat jauh." Lanjutnya.
Dan itu membuat senyum di bibir Herlin semakin lebar terlihat.
"Ih malah senyam-senyum! Ayo buatkan Papa minum, Papa haus dan juga sedikit pusing, jadi butuh yang segar-segar."
"Baiklah."
Herlin meletakan jas dan tas kerja suaminya di atas sofa yang kosong, lalu beranjak pergi ke arah dapur yang terletak di sisi lain rumah bear itu.
***
Sebuah rumah yang berdiri dengan kokoh. Terletak di tengah-tengah perumahan elit, dengan sentuhan bergaya jepang yang membuat suasana rumahnya menjadi hangat. Warna coklat mendominasi, dengan taman berukuran kecil di depan dan samping rumah, ditanami rumput-rumput hijau dan pohon bonsai berukuran besar, sehingga Kiana tak henti tersenyum karena merasa sangat bahagia atas apa yang suaminya berikan, meskipun keadaan mood pria itu sedang tidak baik karena merasa cemburu.
"Aaaa, … rumahnya cantik sekali sayang!" Katanya dengan manja, kemudian memeluk tubuh Jovian yang saat ini sudah mendudukan diri di sofa besar yang masih dibungkus plastik bening.
Namun, Jovian hanya diam.
"Ish kamu nggak asik ah! Kan udah pulang, masa masih kesal sama Ebra?"
"Astag! Berhentilah menyebut nama anak itu. Telingaku jadi gatal rasanya!" Jovian mengusap dua telinganya dengan kesal, sampai meninggalkan bekas kemerahan akibat gesekan yang cukup keras.
Kiana tersenyum, dan mengeratkan pelukannya.
"Ih kamu lucu kalau lagi cemburu gitu, … makin ganteng!"
"Apa!?" Jovian berteriak, dengan suara memekik kencang, dan raut wajah yang tampak semakin masam.
Kiana terkekeh.
"Tuh kan, kamu itu ganteng kalo lagi cemburu!" Tawanya semakin kencang terdengar.
"Ck!"
__ADS_1
Kiana mengatupkan mulut, berusaha membuat tawanya berhenti, meskipun itu sedikit sulit untuk dilakukan.
"Disini belum ada bahan masakan, … kamu baru memindahkan barang kita berdua. Jadi apa kamu mau mandi dulu? Sambil tunggu aku orderin makanan?" Bujuk Kiana.
Jovian melirik sekilas, kemudian mendelik.
"Kamu lagi ngerayu aku yah!?"
"Nggak, aku lagi nyuruh kamu buat bersih-bersih. Ganti pakaian, … soal makanan biar aku yang urus, sini aja aku minta handphone kamu."
Kiana menadahkan telapak tangan ke hadapan wajah suaminya. Yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari pria itu.
"Apa? Katanya kamu yang urus?"
"Iya." Kiana mengangguk. "Tapi kamu yang bayar, sayang!" Katanya, lalu tangan Kiana bergerak mengusap perut bulat yang sudah semakin membesar.
Dua bayi di dalamnya terasa bergerak menendang, dan menimbulkan sedikit rasa kurang nyaman, sehingga membuat Kiana beberapa kali mengusap perutnya dengan bibir yang meringis.
"Lihat, mereka saja protes dengan apa yang Mama nya lakukan." Kini Jovian terkekeh, lalu ikut mengusap perut istrinya yang sudah sangat membesar.
Padahal usia kandungan Kiana baru saja hendak memasuki bulan ke enam.
"Ayolah Papa, mereka sudah kelaparan. Makanya bergerak-gerak seperti ini! Berikan hapenya, dan kamu boleh mandi sekarang."
Jovian mengulum senyum. Nyatanya dia tidak bisa lebih lama lagi untuk mengacuhkan istri mungilnya. Terlebih wanita itu tengah bersusah payah mengandung dua buah hati mereka dengan susah payah, bahkan tanpa banyak mengeluh meski usianya masih sangatlah muda.
"Baiklah, baik. Kamu pemegang komando, sayang! Jadi semuanya ada di dalam genggamannya!" Ujar Jovian.
Dia bangkit, merogoh saku celana, lalu memberikan handphone dan dompet miliknya kepada sang istri.
"Aku mandi dulu, kalau begitu!" Jovian membungkuk, dan memberikan kecupan manis di kening Kiana.
"Ya, … aku pastikan makanannya sudah ada setelah kami selesai nanti."
Jovian menganggukan kepala, lalu kemudian pria itu beranjak pergi, mendekati tangga yang terletak di sudut lain rumah baru mereka.
"Pesan makanan lebih banyak, Baby. Gibran akan kesini, … dia membawa seseorang untuk membantu kita merapihkan barang-barang."
Suara teriakan Jovian terdengar jelas, membuat Kiana yang tengah asik mencari-cari makanan melalui aplikasi online menoleh ke arah suara terdengar.
"Oke." Balas Kiana.
__ADS_1
Dia berteriak tak kalah kencangnya, sampai suara perempuan itu memantul dan terdengar menggema.