
Hamparan langit luas berwarna hitam pekat perlahan-lahan mulai berubah menjadi hijau kebiruan, saat semburat jingga segera terlihat dengan malu-malu. Sementara dua sejoli yang baru saja mengalami amukan badai asmara masih terlelap di atas tempat tidur sana, bergulung selimut menyembunyikan tubuh polos mereka dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
Alarm dari salah satu ponsel yang terletak di atas nakas kembali berbunyi. Entah sudah berapa kali, namun diantara Jovian dan Kiana sepertinya belum menunjukan tanda-tanda akan segera meraih kesadarannya dari tidur lelap dan mimpi yang begitu indah.
Tubuh Kiana mulai menggeliat, bergerak-gerak kala sesuatu mengganggu indera pendengarannya.
"Sayang, alarm handphone kamu bunyi!" Ucap Kiana dengan suara serak khas bangun tidur. Bahkan dia tampak tak membuka matanya sama sekali, rasa kantuk tentunya masih dia rasakan, maklum saja. Mereka baru benar-benar selesai setelah mengulanginya lagi dan lagi.
"Haih, … handphone kamu berisik!" Kiana mulai kesal.
Dan tentu saja itu membuat Jovian mengerjapkan mata, berusaha menarik kesadarannya, lalu meraih ponsel yang terus berdering di atas nakas sana.
Jovian menekan salah satu tombol yang ada di layar benda pipih itu. Dan akhirnya, bunyi nyaring yang terus terdengar benar-benar sudah berhenti. Sekilas senyuman Jovian terlihat, saat dia menatap wallpaper di layar handphone nya. Dimana terdapat sebuah foto antara dirinya dengan sang istri, sama-sama tersenyum ke arah kamera sambil menunjukan buku nikah mereka, Jovian memegang buku berwarna merah, sementara Kiana memegang buku berwarna hijau.
Setelah itu dia meletakan ponselnya begitu saja, dan menatap Kiana yang saat ini masih memejamkan mata. Rambu yang mulai memanjang itu terlihat acak-acakan, wajahnya pun terlihat sangat pucat, bahkan terlihat lingkar mata di sana, dengan bibir yang bengkak dan menjadi sangat merah.
Jovian menyentuh pipi Kiana dengan punggung tangannya, mengusap dengan sangat perlahan, seolah takut akan membuat Kiana terjaga.
"Maaf, tadi malam aku sudah lepas kendali. Dan aku benar-benar tidak bisa berhenti, … mungkin jika tidak melihat kamu sangat kelelahan aku pastikan kita selesai lewat jam empat pagi." Ucap Jovian dengan senyuman tipis yang selalu dia perlihatkan.
Bahagia? Sudah jelas, memangnya siapa yang tidak bahagia jika mereka menikahi seorang gadis cantik, dan dengan sukarelanya mereka menyerahkan diri.
Dirinya tidak pernah menyangka, jika akan menikah lagi. Terlebih wanita yang dinikahinya berumur jauh lebih muda, dan itu sangat menyenangkan. Apalagi saat melihat Kiana lebih bersemangat karena perempuan itu baru merasakan indahnya surga dunia.
Cupp!!
Pria itu mencium bibir Kiana sekilas.
"Tidurlah. Nanti jam tujuh baru aku bangunkan!" Jovian mengusap kening Kiana, menyingkirkan beberapa helai rambut ke arah belakang telinga, kemudian bangkit dan turun dari atas tempat tidur sana, memunguti pakaian yang tergeletak begitu saja, lalu berjalan melewati pintu kamar mandi yang terlihat sedikit terbuka.
Dia memasukan pakaian kotor itu ke dalam sebuah keranjang yang terbuat dari bambu. Kemudian melangkahkan kaki mendekati shower, dan membuka kran airnya dengan segera.
Mata Jovian terpejam. Kala air hangat itu mulai mengaliri setiap lekuk tubuhnya. Rasanya begitu luar biasa, dirinya bahkan merasakan sesuatu terlepas dari dalam dirinya, hingga menimbulkan rasa lega yang teramat sangat.
"Kamu tidak akan mampu hidup tanpa aku, Jovian!"
Ucapan Eva 2 tahun silam masih dapat Jovian dengar dengan sangat jelas. Dan itu selalu menghantuinya bahkan sampai saat ini.
"Tidak. Sekarang aku mampu hidup tanpamu, bahkan kehidupanku lebih baik, aku dipertemukan dengan seorang gadis yang sangat mencintaiku. Dia anak dari seorang pemilik tambang batubara, tapi lihat! Dia tidak seperti dirimu, memintaku melakukan banyak hal hanya untuk mendapatkan cintamu yang hanya bertahan selama lima tahun saja." Batin Jovian berbicara.
Seperti sedang berusaha menghapus ingatan yang sangat menyakitkan itu.
__ADS_1
"Berhentilah memikirkan wanita itu, Jovian. Meskipun hanya rasa sakit hati yang tertinggal. Tapi bagaimana perasaan Kiana jika dia tahu kamu sedang memikirkan wanita lain selain dirinya."
Jovian menyapu wajahnya kasar, kemudian menghela nafasnya cukup kencang. Rasa sesak jelas masih terasa ketika bayang-bayang Eva masih tersimpan dengan sangat baik di dalam memori otaknya.
Dan setelah kurang lebih menghabiskan waktu 15 menit lamanya. Jovian segera keluar, dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggang. Membalut area tubuh bagian bawah, sementara bagian atas terbuka begitu saja, sehingga siapapun dapat melihat siluet keindahan otot-otot tubuh Jovian.
Tiga hari sudah dia tidak pergi untuk melatih massa otot di tubuhnya. Jika beberapa hari kemarin sibuk karena mempersiapkan sesuatu, dan hari ini dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan istri cantiknya, Kiana.
"Baby, kamu sudah bangun sayang?" Kata pria itu saat mendapati Kiana duduk membelakangi di tepi ranjang.
Wanita yang sudah di renggut kegadisannya itu menoleh. Lalu dia sedikit menarik kedua sudut bibirnya sampai membentuk sebuah senyuman.
"Pemandangannya indah. Pantas saja kamu kalau tidur tidak pernah menutup gordennya. Selain malam, pagi-pagi juga pemandangannya terlihat sangat bagus."
Jovian berjalan mendekat, lalu bersimpuh di hadapan Kiana. Sedikit menengadahkan kepala untuk menatap wajah sembab istrinya.
Kiana menunduk, lalu dia membenahi posisi selimut yang saat ini melingkar hampir menutupi seluruh tubuh bagian atas.
"Tatapan kamu bikin aku curiga!" Kiana menepuk pundak suaminya
"Kenapa curiga?" Jovian terkekeh.
"Semalam juga setelah makan nasi goreng kamu terus lihat aku begitu. Dan ujung-ujungnya kamu melakukannya lagi dan lagi."
"Tentu saja. Kamu pikir aku bohongan?" Cicit Kiana dengan raut sedikit kesal.
"Tidak, ekspresimu tidak memperlihatkan jika kamu sedang merasa kesakitan."
Dahi Kiana mengernyit, dengan raut wajah heran.
"Memangnya aku harus merengek? Aduh, … sayang! Sakit sekali. Begitu?" Kiana memperagakan dengan suara rengekan manja.
Namun Jovian segera tertawa karenanya, sampai kepala pria itu mendongak ke arah belakang, dengan kedua bola mata yang ikut terpejam.
Kiana menatap suaminya lekat-lekat. Dan dia menemukan beberapa bercak kemerahan di dada Jovian, yang mungkin itu hasil kreasinya tadi malam.
Perempuan itu tersenyum malu-malu. Apalagi saat mengingat segila apa mereka berdua semalam. Hingga rasa sakit tak lagi dihiraukan, karena sebuah kegiatan yang selalu Jovian mulai dan mulai lagi ketika memiliki kesempatan.
Tidak, lebih tepatnya Jovian yang tidak menghiraukan rengekan Kiana. Dan selalu melakukannya tanpa persetujuan perempuan itu terlebih dahulu.
"Baiklah, ayo pakai bajumu. Setelah itu tolong bantu aku ke kamar mandi." Pinta Kiana.
__ADS_1
Jovian mengangguk, pria itu segera berdiri, berjalan mendekati lemari pakaian, dan membawa beberapa helai dari dalam sana.
"Hari ini kamu ada jadwal?"
"Jadwal apa? Tidak ada. Mungkin Minggu depan aku harus ke Pangalengan lagi, … kalau mau ikut ayo, bukannya kamu sudah tidak ada kelas? Hanya tinggal menunggu wisuda tiba?"
Kiana mengangguk-anggukan kepala. Sembari menatap keadaan Jovian saat ini.
Celana chinos berwarna hitam, dengan kaos memiliki kerah berwarna senada, dan rambut yang belum disisir, membuat pria itu terlihat sangat tampan, dan mampu membuat jantung Kiana terus berpacu lebih cepat, dan cepat lagi.
Jovian mendekat setelah dia merasa selesai.
"Ayo."
Kiana mengangguk. Dia mulai merentangkan kedua tangannya, berusaha meraih pundak Jovian.
"Kakimu terasa lemas?" Tanya Jovian saat dia mulai mengangkat tubuh istrinya.
Dan berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"Salah satunya itu."
"Hemm?"
"Sebenarnya tidak hanya lemas. Tapi sakit sekali, aku mencoba jalan tadi, tapi rasanya sangat tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal di dalam sana." Jelas Kiana.
"Masih terbayang-bayang dengan milikku?"
Jovian menatap Kiana, lalu dia menggerak-gerakkan alisnya.
Mendengar itu Kiana langsung memukul dada Jovian cukup kencang, dengan kedua pipinya terlihat sangat merona.
"Sampai sini saja. Terus tolong telepon Papa yah, minta siapapun antar baju aku." Perempuan itu berujar.
Jovian mengulum senyum, lalu mengangguk pelan.
Dan setelah itu Kiana menarik pintu kamar mandinya sampai benar-benar tertutup rapat.
......................
Ritualnya jangan lupa!!
__ADS_1
Like, komen, vote, sama timpukin mawar yah😘