Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Rasa kecewa dan rencana


__ADS_3

Satu kotak berukuran sedang terletak tepat di hadapan Kiana juga teman-temannya. Dimana di dalamnya terdapat bubur putih, dengan berbagai macam toping. Kacang, cakwe, suwiran daging ayam, tak lupa sambal, kerupuk dan kuah kental berwarna kuning, dengan bau lezat yang menggugah selera.


"Selamat makan guys!" Ucap Kiana kepada teman-teman. Perempuan itu berusaha terlihat baik-baik saja meskipun pada kenyataannya hati Kiana sedang hancur lebur tak berbentuk.


"Selamat makan." Mereka menjawab bersamaan.


Kiana mulai mengaduk-aduk makanan di hadapannya, hendak membawa satu suapan. Namun, tiba-tiba saja seseorang menekan tombol bell dari arah luar, membuat mereka berhenti dan menatap satu sama lain.


"Siapa?" Mereka saling melihat.


"Mungkin Abang yang ngater makanannya. Siapa tahu kelupaan sesuatu, … atau uang yang aku kasih kurang." Jelas Kevin.


Pria itu meletakan sendok miliknya, lalu bangkit.


"Makanlah, aku mau memastikan dulu sebentar!" Katanya sambil terus berjalan mendekati pintu apartemen yang tertutup rapat.


Klek!!


"Ya, Mas? Ada yang kurang?" Kevin terdengar bertanya dengan suara lembut.


Namun, di detik kemudian suara benturan pintu pada dinding di belakangnya terdengar kencang, membuat semua orang mengarahkan pandangan ke arah dimana Kevin berada. Mata Kiana membulat, apalagi saat melihat Jovian yang langsung mendorong tubuh Kevin dengan mencengkram kain yang sedang pria itu pakai.


"Berani-beraninya kau!" Jovian menggeram.


Dia hampir saja melayangkan satu pukulan, namun teriakan Hilmi, Zayna, Sharla dan Starla membuat Jovian mengurungkan niatnya.


Kiana meletakan sendok, bangkit dari duduk, lalu berlari dan langsung saja menerjang tubuh Jovian sampai pria itu melepaskan cengkraman tangan di pakaian yang Kevin kenakan.


Membuat Jovian sedikit terjerembab ke arah samping, bahkan hampir tersungkur jika saja dia tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya.


"Baby!" Jovian menatap Kiana dengan raut wajah penuh permohonan.


Dia tahu betul jika mungkin saja Kiana sedang marah kepadanya. Tapi dia berusaha untuk meredam amarah istrinya lebih dulu sebelum perempuan itu segera membabi buta.


"Ada kepentingan apa kamu kesini!?" Tanya Kiana penuh penekanan.


Bahkan sorot mata Kiana memperlihatkan banyak kemarahan di dalam sana.


"Baby, pulanglah! Mama terus menangis semalaman karena dia mengkhawatirkan putrinya." Jovian maju beberapa langkah, bermasud meraih tangan Kiana, namun perempuan itu menarik tangannya dengan segera.


Kiana tidak langsung menjawab. Perempuan itu justru menoleh ke arah belakang dimana Kevin berdiri.


"Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka? Atau …"


Belum selesai Kiana berbicara, dia merasakan pergelangan tangannya di cengkram seseorang, yang membuat ia berbalik badan.


"Aku tidak memukulnya, sudah bisa di pastikan dia baik-baik saja, Baby!"


"Lepas!" Dia menarik tangannya sekaligus, membuatnya segera terlepas dari Jovian.


Pria tinggi yang berada di hadapannya, dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Sayang!?" Suaranya terdenga rendah.


Kiana memejamkan matanya. Lalu menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, sebelum akhirnya dia mengarahkan pandangan ke apada Jovian.


"Pergi. Kamu boleh mengurus semua kepentingan mantan istrimu dengan leluasa. Aku membebaskanmu untuk melakukan apapun, … pergilah jangan pernah menemui aku lagi!" Suaranya terdengar lembut, bahkan pembawaan Kiana tidak seperti orang marah pada umumnya.


Namun, itu membuat Jovian semakin merasa ketakutan.


"Pergilah!" 


Kiana beranjak mendekati pintu, lalu membukanya selebar mungkin.


"Tidak!" Jovian mendekat. "Aku minta maaf karena aku tidak mendengarkanmu, tidak membelamu, tidak juga menyusulmu saat kamu pergi, … percayalah aku hanya sedang tidak tahu harus bersikap bagaimana." Dan setelah jarak mereka semakin terkikis, Jovian segera merangkul tubuh Kiana, mendekatinya dengan perasaan tak menentu.


Sementara Kiana tidak menolak, dia hanya membiarkannya tanpa membalas apa yang Jovian lakukan.

__ADS_1


Suasana begitu hening. Semua orang yang ada di sana hanya diam dan memperhatikan pertikaian antara Jovian juga Kiana, yang hampir saja menarik Kevin ke dalam pusaranya.


"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian pikirkan sekarang. Entah menganggapku bagaimanapun terserah, Tuhan maha tahu dan aku tidak perlu pengakuan dari kalian jika aku ada di posisi benar. Namun satu hal! Apa yang wanita itu katakan, sepertinya memang sebuah kenyataan yang tidak bisa di ganggu gugat. Mungkin cintamu sudah benar-benar habis bersama dia, sampai yang kamu lakukan saat ini hanyalah aksi untuk bertahan hidup, … atau kamu memperalat aku hanya sebagai mesin pembuat anak karena Eva tidak pernah memberikannya? Aku ikhlas, pergilah dan kembali kepada dia, kalian sama dalam hal ini! Sama-sama tidak bisa melepaskan satu sama lain. Dan jika aku adalah hambatan terbesarmu, maka aku sudah melepaskannya sejak tadi malam, aku merelakan kamu pergi, … kita batalkan semua! Catering, dekor, dan gedung! Semuanya tidaklah berarti lagi, dan gugatan cerai akan segera aku …"


"Tidak akan!" Sergah Jovian, dia mendorong kedua pundak Kiana perlahan sampai keduanya dapat saling menatap.


Bahkan dia segera membungkam Kiana agar perempuan di hadapannya tidak berbicara terlalu jauh.


"Kamu gila? Hanya karena kejadian tadi malam kamu mau melayangkan gugatan cerai!?" Cicit Jovian dengan suara lirih.


Kiana menyingkirkan ibu jari Jovian yang pria itu letakan di hadapan bibirnya.


"Sudah aku peringatkan! Jangan pernah membuat aku kecewa, atau aku akan bertindak lebih gila lagi! Dan kalian sudah melakukan itu, kalian membuat aku kecewa dengan cara membuat aku tersudutkan, dan berdiri sendirian untuk mempertahankan diri dari sebuah jalan kebenaran." Jelas Kiana, lalu dia tersenyum getir.


"Baby? I said i'm sorry. Aku tahu aku keliru, dan aku manusia biasa yang bisa melakukannya kapan saja." Ujar Jovian.


Dan kata-kata itu membuat Kiana kembali tersenyum.


"Ya, aku juga manusia biasa. Lalu manusia mana yang tidak sakit hati? Saat dia berdiri membela harkat dan martabat ayah juga suaminya, namun tetap di salahkan, hanya karena dulu aku pernah melakukan hal-hal yang mungkin membuat semua orang geleng-geleng kepala. Tapi tidak apa-apa, dengan kejadian ini aku tahu seberapa berharga aku di sisi kalian, dan apa yang kalian lakukan membuat aku yakin jika memang sebaiknya aku tidak ada dimanapun. Aku hanya harus hidup di duniaku sendiri, dengan caraku sendiri! Tidak usah khawatir, kalian tidak akan pernah aku permalukan lagi, dan tidak usah khawatir juga karena Kevin akan bersedia menjaga aku."


Kiana meraih pintu apartemen yang kembali tertutup, membukanya lebar-lebar, untuk mempersilahkan Jovian agar pria itu segera keluar.


"Pergilah! Manusia hina ini tidak pantas hidup bersama kalian. Para pengusaha yang sangat terhormat!"


Jovian menggelengkan kepalanya.


"Semuanya biar aku yang urus. Nanti aku hubungi satu-persatu untuk memberitahukan jika acara yang akan segera di selenggarakan di batalkan."


"Sayang!" Jovian bersimpuh di hadapan Kiana. "Sudah aku katakan, tidak akan pernah ada kata perpisahan di antara kita!" Tegas Jovian.


Pria itu meraih pinggang Kiana, lalu memeluknya sampai wajah Jovian menempel sempurna di perut wanita yang sangat dia cintai.


"Aku mohon jangan katakan itu lagi!"


"Tapi aku tidak bisa! Hidup bersama seseorang yang tidak mempercayai aku. Rumah tangga tidak hanya halal lalu berakhir di atas ranjang, tapi sebuah kepercayaan satu sam lain, dan bagaimana kita melengkapi kekurangan masing-masing. Kita tidak seperti itu, kamu hanya seorang pria yang sedang berusaha mencintai aku, … dan aku anggap kamu gagal dalam percobaan ini. Di dalam pernikahan kita hanya aku yang mencintaimu, tidak sebaliknya! Kamu masih mencintai Eva! Maka dari itu kembalilah agar kalian tidak terus-menerus menyiksa satu sama lain dengan melakukan kebodohan seperti ini!"


"Pergilah, apa kamu tidak malu menjadi tontonan teman-temanku?" Ucap Kiana lagi.


Yang langsung Jovian jawab dengan gelengan kepala.


"Kamu tahu? Cinta pertamaku berubah menjadi rasa sakit yang tidak bertepi. Jadi pergilah, dan biarkan aku hidup dengan caraku sendiri, hiduplah dengan tenang tanpa bayang-bayang aku di hidup kalian."


Jovian menengadahkan pandangan, tanpa mengurai pelukannya di pinggang Kiana. Membuat dia dapat menatap wajah Kiana dengan posisi yang saling menempel.


"Kamu marah?"


"Ya."


"Kamu kecewa kepadaku?"


"Ya."


"Dan kamu ingin menyerah? Sementara kita menikah belum genap dua bulan?"


"Itu lebih baik dari pada kita harus tetap bersama tapi saling menyakiti." 


Suara Kiana terdegar bergetar. Tentu saja, apa yang dia ucapkan bertolak belakang dengan perasaan di hatinya. Bahkan cinta yang dia miliki untuk Jovian sangatlah besar, sampai dia tidak mampu mengekspresikan kemarahannya. Dia sangat ingin memukul, menampar, atau apapun yang akan membuat hatinya sedikit lebih baik, tapi rasa cinta itu mengalahkan semuanya.


"Kamu salah paham, Baby. Aku bersimpati kepada Eva bukan berarti aku masih mencintainya. Aku sangat mencintaimu sekarang, aku tidak peduli kamu percaya atau tidak, … tapi bisakah aku memohon kali ini? Jangan pernah mengatakan perpisahan. Jika ingin menepi, maka menepilah. Aku akan memberikan waktu yang kamu butuhkan!"


Kiana diam.


"Jika kamu ingin aku pergi. Maka aku akan pergi untuk beberapa waktu saja, … aku akan memberimu waktu jika memang kamu ingin sendiri, tapi temuilah orang tuamu, kasihan mereka. Bahkan Mama terus menangis, begitu juga dengan Mami dan Papi."


Perempuan itu masih tidak bereaksi. Hati, otak dan pikirannya mulai tidak sejalan, membuat bibirnya terus berkedut seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi Kiana menahannya.


Jovian berdiri. 

__ADS_1


"Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu mau. Tapi ikutlah kebawah, bawalah handphone dan dompet, setidaknya janga membuat dirimu susah." Pinta Jovian.


Kiana menjawab dengan gelengan kepala.


"Tidak usah! Aku bisa menghidupi Kiana." Kevin berbicara.


Membuat Jovian segera mengalihkan pandangan kepada Kevin yang saat ini berdiri di dekat sofa ruang tengah.


"Diam kau!" Kata Jovian dengan suara dingin penuh penekanan, lalu mengarahkan jari telunjuk ke arah dimana Kevin berdiri.


"Baby?" Dia kembali menatap Kiana.


Bahkan tatapan dingin dan menusuk itu kembali berubah. Menjadi tatapan sendu dan menyejukkan.


"Tidak perlu. Itu bukan milikku!"


"Tentu saja milikmu."


"Bukan. Handphone Papa yang belikan, dan kartu itu milik kalian, jadi pergilah! Aku akan hidup dengan caraku sendiri, meskipun itu sedikit sulit. Aku tahu Dunia tidak sebaik kelihatannya, jadi aku harus berjuang habis-habisan agar tetap bisa bertahan hidup."


Jovain merasaka segumpal daging di dalam dadanya di remas sangat kencang. Hingga menimbulkan rasa sesak dan ngilu yang sangat luar biasa.


"Tapi kamu masih istriku. Aku hanya sedang memberi waktu jika kamu ingin menepi, bukan benar-benar melepaskanmu, Baby!"


"Ya aku tahu. Setidaknya aku tidak harus mengembalikan itu jika perahuku tidak mau berlayar lagi kepada dirimu."


Ucapan Kiana benar-benar membuat perasaannya hancur berkeping-keping. 


"Pergilah. Katakan kepada Mama, Mami juga Papi jika aku baik-baik saja, aku hanya merasa kecewa, dan mencoba untuk tidak berdiri sendiri lagi."


Jovian diam, menatap wajah Kiana yang juga sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf."


"Hmmm, … aku sudah memaafkan kalian."


"Kamu tidak mau pulang?"


Dan Kiana mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, besok aku jemput oke?"


"Tidak. Aku yang akan pulang jika sudah mau. Sekarang selesaikan setiap urusan yang kamu punya, dan berhentilah memikirkan aku untuk beberapa bulan kedepan."


Jovian mengigit bibirnya.


Kiana mendekat, lalu mendorong tubuh Jovian sedikit susah payah sampai pria itu bergerak mundur, dan melangkahkan kakinya ke arah luar apartemen.


"Sayang!" Jovian berusaha bertahan.


Namun Kiana terus mendorongnya, sampai Jovian benar-benar menjauh sebelum akhirnya dia menutup pintu itu rapat-rapat.


Kiana berdiri di belakang pintu, merapatkan punggungnya disana, seraya memejamkan mata untuk menikmati rasa sesak yang mulai memenuhi diri.


"Kiana?"


Jovian berteriak, bahkan pria itu menggedor pintu apartemen kencang.


"Sayang? Setidaknya biarkan aku memelukmu lebih dulu." Suara itu kembali terdengar.


Membuat Batin Kiana semakin berkecamuk.


"Baby? Tolong sekali ini saja!" Suara Jovian kembali terdengar.


Dan Kiana hanya mampu menangis saat mendengar teriakan Jovian, yang terus terdengar  memanggil-manggil namanya semakin kencang dan terdengar pilu.


......................

__ADS_1


Ahhhh cuyung kalian pokoknya 😘😘


__ADS_2