
"Halo, Pak?"
Seorang wanita yang akrab disapa Yati itu menerima sebuah panggilan, saat telepon rumah terus menyala dengan nyaring berkali-kali.
"Kiana sudah bangun?"
Suara Danu terdengar dari seberang sana. Karena memang telepon rumah hanya di khususkan untuk Danu dan Herlin memantau Kiana dari jarak jauh, tanpa harus menghubungi nomor pribadi dari masing-masing pekerja rumahnya.
"Sudah Pak. Sudah bangun, sudah menerima kartu undangannya juga, … tadi orang percetakan datang jam enam pagi, katanya memang Bapak yang minta kalau semuanya sudah selesai maka langsung diantar saja.
"Syukurlah kalau sudah datang." Kata Danu.
Dan samar-samar suara seorang wanita terdengar di sana.
"Oh iya, dimana Kiana sekarang? Dia tidak keluyuran bukan? Jangan berikan izin jika Kiana pergi sendiri."
"Ada Pak Jovian datang, mungkin sekarang sedang mengobrol di taman belakang. Tadi beliau masuk pas saya siram bonsai punya Ibu." Jelas Yati.
"Hemmm, … titip Kiana yah! Saya pulang sekitar tiga hari lagi kalau tidak ada halangan."
Yati menganggukan kepala.
"Oh iya, Pak. Hari ini Ipah, Bu Iis sama saya izin keluar."
Danu terkekeh.
"Hari gajian yah!?"
"Iya Pak. Mau makan soto mie Bogor di luar." Ujar Yati.
"Baiklah. Selamat menikmati soto mienya yah."
Dan setelah itu sambungan telepon keduanya segera terputus. Dia meletakan telepon rumah pada tempatnya, sementara dirinya langsung pergi ke arah belakang untuk bersiap-siap tanpa memastikan keadaan Kiana terlebih dulu.
Di sisi lain rumah.
Tirai putih tipis membentang menutupi jendela kamar. Sedikit terseok-seok kala angin menerpa masuk melalui sebuah celah pentilasi udara. Membuat suasana semakin syahdu bagi sepasang kekasih yang sedang di amuk badai cinta yang menggelora.
Tubuh Jovian sedikit membungkuk, dengan kedua tangan melilit erat di pinggang ramping Kiana. Hal yang sama gadis itu lakukan, dia melingkarkan kedua tangan di pundak kokoh pria tampan di dekatnya. Dengan kedua bibir yang tak hentinya memangut satu sama lain.
Jovian melepaskannya dengan segera. Dia berusaha mati-matian mempertahankan akal sehatnya, saat Kiana terus berusaha membuat dia tenggelam dalam hal yang sempat mereka rasakan malam sebelumnya.
Kening Jovian dan Kiana saling menempel. Membuat wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat, hingga mampu saling merasakan hembusan nafas menyapu wajah masing-masing.
Sorot mata Kiana terus tertuju ke arah bibir sana, perlahan naik menatap hidung mancung Jovian, kemudian berakhir di mata tajamnya.
"Kita harus menyudahinya, Baby! Atau semuanya akan berjalan semakin dalam." Jovian berbisik, dengan raut wajah yang mulai terlihat frustasi.
Kiana menyentuh bibir Jovian, dan semakin turun kebawah, sampai dia mengusap dan menusuk-nusuk otot dada pria itu dengan perasaan yang entah bagaimana dia harus menjelaskannya.
Tentu saja. Dia adalah gadis dewasa, yang tidak pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Kemudian setelah merasakannya dia justru menemukan perasaan yang lain, rasa penasarannya bahkan sangat tinggi, sampai Kiana ingin mengetahui sesuatu yang hampir saja mereka lakukan malam itu.
"Baby …"
"Sayang, apa menurutmu aku nakal jika berusaha mencari tahu sesuatu?" Kiana memotong ucapan pria yang masih betah mendekat tubuhnya.
"Memangnya apa yang kamu cari tahu?" Retina Jovian terus bergerak-gerak, menelisik wajah dengan mata sayu gadis cantik di hadapannya.
"Sesuatu yang berhubungan dengan apa yang hampir saja kita lakukan." Kiana balas menatap mata Jovian.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Dengan debaran di dalam dada sana yang semakin gila.
"Aku menginginkannya." Katanya sambil berbsisik.
__ADS_1
Seolah takut jika akan ada orang lain yang akan mendengarkan keinginan gilanya. Walaupun sesungguhnya tidak akan ada yang menyadari itu.
"Jangan mulai, Kia! Aku ini pria dewasa, … dan jika kamu terus melakukannya, aku tidak janji akan dapat terus menahan diri." Tegas Jovian dengan sorot mata tajam, dan ekspresi dinginnya.
Kiana menggelengkan kepala.
"Kamu tersiksa? Begitupun dengan aku." Kiana semakin mengeratkan rangkulannya, sampai dadanya menempel sempurna.
"Kita harus keluar sekarang, sayang. Setelah itu kita minta Papamu segera menikahkan kita. Sesudah menikah terserah kamu mau memintanya kapanpun." Suara Jovian semakin rendah.
Kiana tidak menjawab. Akal sehatnya benar-benar sudah hilang. Dia menyingkap kaos yang Jovian kenakan, dan memasukan tanganya untuk mengusap kulit hangat di balik pakaian itu.
Jovian memejamkan matanya.
"Sayang aku mohon."
"Tidak boleh, Baby. Mengertilah!"
Kiana menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau mengerti. Aku hanya menginginkanmu, Jovian."
Jovian bungkam.
"Ada satu film yang aku tonton semalam setelah kamu mengantarku pulang. Mereka bahkan melakukannya sebelum menikah, … tanpa ikatan yang pasti. Berbeda dengan kita, aku dan kamu hanya tinggal menunggu hari itu tiba, jadi melakukannya sekarang juga tidak apa-apa."
"Film apa yang membuat hal gila hinggap di dalam isi kepalamu?"
"After."
Jovian diam. Menatap mata Kiana lebih dalam lagi, berusaha meyakinkan diri jika gadis itu sedang berada di bawah alam sadar. Namun tidak, Kalian jelas terlihat sadar, dia memintanya tidak dalam pengaruh apapun.
"Aku hanya ingin tahu." Kiana merengek penuh permohonan.
"Memaksamu sampai kamu mau." Kiana semakin membuat telapak tanganya turun, sampai dapat menemukan sesuatu yang sudah mengeras di balik pakaian yang Jovian pakai.
Dengan akal sehat yang masih tersisa. Jovian berusaha bertahan agar tidak melakukan hal gila, apalagi kepada Kiana. Beberapa kali dirinya berusaha menjauhkan dari Kiana, namun tampaknya rasa penasaran gadis itu lebih besar, sampai tidak mau melepaskan Jovian begitu saja.
"Apa kamu tidak akan menyesal?"
Kiana mengangguk.
"Setelah ini aku …"
Belum selesai Kiana berbicara. Jovian kembali menyambar bibir merah alami itu, dengan perasaan yang semakin menggila.
Kiana membalas setiap sentuhan Jovian semakin menggebu-gebu. Ini hal baru baginya, dan gadis itu benar-benar ingin tahu, kenapa beberapa orang di luar sana terjerat hubungan seperti itu meskipun belum menikah, bahkan beberapa diantaranya adalah teman-teman satu kampus Kiana, dan mereka sempat memiliki hubungan yang sangat dekat, sampai Kiana mengetahui itu.
Jovian mengangkat tubuh Kiana ke arah ranjang tidur berukuran besar. Dan meletakan Kiana di atas sana, yang sudah terlihat sangat pasrah.
Satu-persatu Jovian melepaskan pakaian mereka, dengan cumbuan yang tidak pernah berhenti sama sekali, sampai keduanya kembali polos, tanpa sehelai benangpun. Memperlihatkan keindahan yang selalu terhalang pakaian yang Kiana dan Jovian kenakan.
Ciuman Jovian semakin liar. Dari bibir, turun ke tengkuk, bermain-main disana cukup lama, sampai akhirnya dia menemukan hal yang sangat dia inginkan.
Si kembar yang sangat menggemaskan. Dia menyentuh dan menghisap cangnya dengan kencang, membuat Kiana merintih, dan mulai menghadirkan suara-suara indah lainnya.
"Emmmmhh!" Kiana mengigit bibirnya. "Sayang aku mohon."
"Benar kamu tidak akan menyesal?"
"Ya."
Tanpa banyak bicara lagi Jovian membuka kaki Kiana lebar-lebar, menyentuhnya terlebih dulu untuk memastikan. Dan gadis itu sudah benar-benar siapa.
__ADS_1
Jovian mulai memposisikan diri. Sementara Kiana mengangkat setengah tubuhnya, bertumpu pada dua sikut untuk melihat ke arah sana.
Inti tubuh keduanya sudah saling menyentuh. Dan saat Jovian mulai mendorongnya, raut wajah Kiana tiba-tiba berubah.
"Kenapa susah?" Dia bertanya dengan perasaan bingung.
"Aku tidak mengizinkanmu banyak bicara saat ini. Biarkan aku mengabulkan apa yang kamu inginkan, sayang." Jovian menatap wajah Kiana, saat Kiana pun menatap ke arahnya dengan wajah yang sangat memerah.
Pandangan mereka terkunci, menatap satu sama lain dengan perasaan masing-masing. Dengan Jovian yang terus berusaha mendorong pinggulnya, agar dapat merobek segel gadis yang terlihat sangat pasrah di bawah tubuhnya.
"Awhhh!" Kiana mulai meringis.
Jovian tidak beraksi apapu, dia hanya terus menatap ekspresi wajah Kiana yang terlihat semakin menggemaskan.
Dia kembali mendorongnya, sampai dapat masuk kedalam sana sedikit, dengan cara perlahan-lahan.
"Sayang!"
Alis Kiana tampak saling terpaut satu sama lain. Ketika merasakan sesuatu yang sedikit menyakitkan di dalam sana.
"Sakit?" Jovian bertanya.
Kiana mengangguk.
"Tapi ini yang kamu inginkan."
Kalian mengangguk lagi.
"Kamu mau aku tetap melanjutkannya, Baby? Atau kamu berubah pikiran?"
Kesadaran Jovian sudah tertutup kabut gairah yang sangat tebal.
Pria itu kembali mendorongnya, bahkan lebih kuat lagi, saat sesuatu terasa semakin sulit. Bahkan mata Kiana sudah terpejam, terlihat menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.
"Sakit."
Jovian berhenti lagi.
"Sakit Om!" Kiana mulia menagis.
"Benarkah? Ini belum masuk."
"I can't." Rintihan itu terdengar semakin memilukan.
Jovian berhenti, dia menunduk dan mencium bibir Kiana dengan segera.
"Apa masih harus aku lanjutkan?"
Kiana diam, menatap wajah Jovian lekat-lekat.
"Sebaiknya jangan." Pria itu segera menjawab.
Jovian melepaskan tautan yang belum sempat terjadi. Bahkan miliknya belum benar-benar bisa menjelajah di dalam sana.
"Baby, … aku harus berendam air dingin dulu." Jovian menarik selimut, dan menutupi Kiana yang kini polos tanpa sehelai benang pun.
Kiana menatap Jovian dengan rasa bersalah.
"Jangan katakan apapun lagi, kamu benar-benar sagat sulit di beri tahu." Jovian berbisik, dengan seulas senyuman yang dia perlihatkan, kemudian beranjak pergi memasuki kamar mandi.
......................
Di bilangin jangan berdua-duaan 😳
__ADS_1