
Dua hari berlalu.
Dan kini waktunya Jovian untuk segera membawa Kiana kembali pulang ke Tangerang sana. Koper besar tempat pakaian keduanya sudah di masukan kedalam bagasi mobil, beserta perlengkapan-perlengkapan yang lain.
Brughhh!!
Jovian menutup pintu bagasi mobil hitam milik orang tua Kiana yang sengaja dia pinjam. Tidak tahu kenapa, setelah menikah perempuan itu seperti menjadi sangat alergi terhadap mobil yang hampir 5 tahun ini menemani di setiap aktivitasnya.
"Apa tidak besok saja? Tiga hari terlalu sebentar." Ucap Leni.
"Kapan-kapan kita kesini lagi. Aku sudah selesai wisuda, … sama kalau nggak ada kerjaan kita pasti liburan kesini." Kiana menjawab.
"Iya, mungkin saat Jovian datang untuk memantau kebun teh juga Kiana ikut." Jonathan menimpali.
Yang langsung Kiana jawab dengan anggukan pelan, dan senyum samar yang terus dia perlihatakan kepada kedua orang tua suaminya.
Pandangan mereka beralih kepada sosok Jovian, yang kini tampak berjalan menaiki tangga kayu satu-persatu.
"Semuanya sudah selesai?" Kiana bertanya.
Dia sudah terlihat siap, dengan Hoodie yang membalut tubuh mungilnya, juga tas selempang berukuran tidak terlalu besar, yang selalu perempuan itu bawa kemanapun jika hendak pergi.
"Sudah." Jovian mengangguk-anggukan kepala.
"Ah rasanya berat sekali kalian akan pulang. Rumah pasti tidak akan seramai saat kalian ada disini!" Keluh Leni.
"Bukankah biasanya juga begitu?" Jovian terkekeh.
"Ya, dan bagusnya setelah menikah dengan Kiana kamu menjadi sering pulang. Dia tidak pernah keberatan dengan jarak tempuh dari tempat tinggalnya kesini." Leni sedikit menyindir.
Jovian tidak menjawab, dia hanya tersenyum seraya menundukan kepala.
"Ya sudah, nanti terlalu sore. Lebih cepat lebih baik bukan? Atau akan sangat baik jika kalian pulang besok pagi saja." Jonathan berujar sambil tertawa.
"Hari ini saja, besok kita sudah harus siap-siap. Lusa sudah berangkat ke Bali soalnya." Kiana menyahut.
"Kalau begitu Jovian sama Kiana pulang yah. Baik-baik disini, jika ada apa-apa cepat kabari, karena hanya aku yang paling dekat dengan kalian."
Jovian mendekati ayahnya, kemudian merangkul pria tua itu dan memeluknya dengan sangat erat.
"Ingat! Papi harus mendengarkan Mami. Tidak boleh minum kopi lagi, … tidak apa kalau sesekali, tapi jika setiap hari jangan yah! Soalnya Papi harus panjang umur, ada anak kami yang harus melihat Kakeknya dulu." Dia mengusap-usap punggung ayahnya.
Sementara Jonathan hanya mengangguk dan tersenyum penuh haru.
"Tidak usah khawatirkan kami. Kita sudah baik-baik saja, satu kewajiban sudah Papi berikan kepadamu."
Mereka mengurai pelukannya, lalu setelah itu Jovian beralih kepada Leni. Pun dengan Kiana yang segera menghambur ke dalam pelukan ayah mertuanya untuk segera berpamitan.
"Ingat! Kamu tidak boleh terlalu keras kepada Kiana. Dia masih sangat muda, bukan dia yang harus mengerti kamu, tapi kamulah yang harus mengerti Kiana. Gadis seusia istrimu tingkat keegoisannya masih sangat tinggi, … jadi jagalah pernikahanmu yang sekarang, Mami sudah tidak mau mendengar kata-kata menyakitkan itu lagi, cukup sekali dan jangan pernah mengulangi kejadian itu." Leni berpesan.
Jovian mengangguk.
"Mami kami pulang yah!"
Kiana beralih memeluk sang ibu mertua.
"Hati-hati yah, kalau kamu kelelahan minta Jovian untuk singgah dulu. Bermalam juga tidak apa-apa daripada harus memaksakan agar cepat sampai." Kata Leni, yang langsung dijawab anggukan oleh Kiana.
__ADS_1
Dan setelah berpamitan, mereka berdua menuruni setiap anak tangga, berjalan mendekati mobil, kemudian masuk. Sementara Leni dan Jonathan hanya melihat keduanya dari atas rumah, sembari melambai-lambaikan tangan ke arah mobil.
Suara klakson berbunyi beberapa kali, menjadi sebuah pertanda jika Jovian memang sudah siap meninggalkan kediaman orang tuanya.
"Hati-hati!"
Jonathan berteriak. Ketika mobil yang ada di bawah kendali Jovian mulai melaju perlahan-lahan, menjauh dan benar-benar tidak terlihat saat kendaraan roda empat itu berbelok memasuki jalanan utama.
***
Lima jam berlalu.
Hari terlihat sudah semakin larut, cahaya matahari sudah benar-benar redup, bergantian dengan cahaya bulan sabit yang terlihat begitu mempesona, apalagi dengan hamparan bintang-bintang berkelip di atas langit sana.
Kaca mobil terlihat sedikit di turunkan, membuat angin berhembus masuk, menerpa wajah dan rambut Kiana yang saat ini sedang menikmati risoles hangat, yang sempat perempuan itu beli beberapa waktu lalu.
"Sayang, kamu benar tidak mau?" Kiana menoleh ke arah suaminya.
"Nanti sajalah, tanggung sebentar lagi kita sampai." Kata Jovian dengan pandangan yang terus tertuju ke depan.
Namun kali ini Kiana tidak mau mendengar, dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah kanan, seraya menyodorkan makanan itu ke arah mulut Jovian.
"Tidak Baby!"
"Mumpung masih hangat, sayang."
"Aku tidak terlalu suka sosis, apalagi di satukan dengan mayonaise, … rasanya akan sangat aneh!" Jovian menghindar.
"Aku nggak beli yang isi mayo. Aku beli isi ayam pedas, kamu pasti suka, … cobalah!"
Dan akhirnya, setelah beberapa kali menolak Jovian membuka mulut, dan menggigit makanan yang istrinya sodorkan.
Jovian mengangguk.
"Jadi kita mau pulang kemana? Rumah Papamu atau ke apartemen?" Tanya Jovian.
"Terserah." Katanya, lalu kembali menikmati makanannya.
Jovian terdiam sebentar.
"Dari sini lebih dekat ke apartemen. Bagaimana?"
"Ya ke apartemen saja, kenapa masih bertanya?"
Kiana kembali menatap suaminya, hal yang juga Jovian lakukan, sampai mereka saling menatap satu sama lain.
"Kita sudah menikah, Papa tidak akan marah meskipun kamu membawa aku bermalam di apartemen kamu." Kiana tersenyum.
"Kamu tidak masalah? Mobil saja kamu sudah tidak mau pakai, sampai aku harus meminjam mobil Papamu karena mobil kita belum bisa dipakai jauh."
"Tidak apa-apa kalau untuk apartemen." Ucap Kiana.
"Baiklah."
Jovian semakin mempercepat laju mobilnya, hingga setelah beberapa saat mobil yang dia kendarai memasuki sebuah kawasan apartemen, lalu berhenti di parkiran yang cukup luas. Mereka keluar bersamaan, Kiana berdiri menunggu, sementara Jovian membuka bagasi mobil, dan menurunkan barang bawaan mereka, sebelum akhirnya Jovian dan Kiana berjalan memasuki pintu lobby.
***
__ADS_1
Tepat pukul 22.00 malam hari.
Kiana keluar dari dalam kamar mandi, dengan sehelai handuk yang melingkar menutupi bagian dada hingga atas lutut. Perempuan itu berjalan mendekati lemari pakaian, membawa beberapa dan segera mengenakannya.
"Tadi harganya berapa?" Jovian yang sedang duduk di sofa kamar bertanya, sambil menikmati sisa risoles yang sempat mereka beli di perjalanan pulang tadi.
"Satunya dua ribu lima ratus." Kiana menjawab.
"Murah. Padahal ukurannya cukup besar, dan isiannya juga tidak pelit." Kata Jovian menatap makanan itu lekat-lekat.
"Aku sempat beli itu pas pulang kuliah bersama Kevin dulu. Dan langganan sampai sekarang, rasanya konsisten tidak pernah ada yang berubah." Jelas Kiana, kemudian dia melenggang ke arah kamar mandi, membawa handuk bekas pakai untuk menggantungkannya kembali ke tempat semula.
Jovian diam mendengar itu, lalu meletakan risoles yang sedang dia menikmati kembali ke dalam sebuah kotak berbahan kertas.
"Ah rasanya jadi tidak enak. Aku tidak suka!" Katanya.
Dia segera bangkit, keluar dari kamar, dan mendekati dispenser yang terletak di dapur.
"Kenapa tidak dihabiskan?" Tanya Kiana setelah Jovian kembali ke dalam kamar.
Perempuan itu naik ke atas tempat tidur, menyibak selimut dan menenggelamkan diri di sana.
"Sudah kenyang." Sahut Jovian.
Dia mematikan lampu kamarnya, berjalan mendekati sofa dan membuka gorden seperti biasa. Hingga tampaklah pemandangan yang luar biasa seperti malam-malam yang selalu dia lewati.
"Kamu lelah?" Jovian segera menyusul.
Pria itu naik, untuk merebahkan diri di samping Kiana, dan menarik istrinya sampai wajah perempuan itu menempel di dadanya seperti biasa.
Kiana mengangguk.
"Kalu begitu kita tidur saja, tidak usah melakukan ritual lain." Ucap Jovian seraya terkekeh kencang.
Entah kenapa, pikirannya selalu tentang hal itu. Bahkan seperti sudah menjadi kebiasaan yang memang tidak bisa di lewatkan. Namun malam ini Kiana tampak kelelahan. Jarak tempuh yang cukup jauh membuat Jovian juga tidak tega jika masih harus memaksa Kiana untuk melakukannya.
"Malam ini libur yah! Aku capek, … soalnya kalau sudah sekali, kamu pasti minta nambah." Suara Kiana terdengar semakin samar.
Jovian mengulum senyum.
"Baik, tidurlah kalau begitu." Pria itu menundukan pandangan, lalu mencium kening sang istri.
"Good night, Baby girl. Have a nice dream!"
Kiana yang sudah membenamkan wajah di dada bidang sana tiba-tiba mendongak, beringsut lebih mendekati wajah suaminya, dan;
Cup!!
"Mimpi indah juga sayang. I love you!"
Sikap Kiana yang manis kembali membuat Jovian tersenyum, lalu kemudian semakin mengeratkan pelukannya.
"Love you more, Baby."
Dan setelah itu keduanya memejamkan mata, mencoba untuk tertidur, kala rasa lelah sudah benar-benar menguasai diri.
......................
__ADS_1
Ayooooo mana sawerannya ....