
Tepat pukul 06.00 pagi hari.
Kiana tampak menata beberapa piring kecil di atas meja makan yang tidak terlalu besar. Kemudian meletakan beberapa botol berisikan cream cheese juga madu di tempat yang sama, tak lupa sendok dan garpu. Setelah itu Kiana beralih pada meja kompor, dimana sepiring besar pancake yang baru selesai Kiana buat tersimpan, untuk kemudian dia bawa dan menyimpannya di tengah-tengah meja makan.
Merasa semuanya sudah siap, Kiana segera berjalan mendekati pintu kamar yang masih tertutup rapat. Dia masuk, mengarahkan pandangan ke arah ranjang tidur, dimana suaminya masih terlelap dengan posisi menelungkup, memeluk bantal yang menjadi tumpuan kepalanya.
Kiana duduk di tepi ranjang, menatap wajah tampan Jovian dengan keadaan sangat tenang. Kelopak mata tertutup rapat, dengan nafas yang berhembus dengan teratur, dan terdengar sedikit dengkuran halus. Tangannya bergerak, menyetup pipi lalu mengusap rahang tegas Jovian yang mulai ditumbuhi rambut.
Pria itu menggeliat, dengan mata yang mengerjap perlahan. Jovian menarik kedua sudut bibirnya sampai membentuk senyuman tipis, kala wajah Kiana mendominasi penglihatan.
"Hey? Kamu sudah bangun, Baby?" Tanya Jovian dengan suara yang terdengar sangat berat.
Lalu mengubah posisi menelungkup ya menjadi duduk setelah berbaring, bersandar pada beberapa tumpukan bantal di belakangnya.
"Aku ada buat pancake. Ayo cepat cuci muka dan gosok gigi dulu, … tidak usah mandi nanti pancake nya keburu dingin." Ujar Kiana dengan senyuman manis yang terus terukur di kedua sudut bibirnya.
Jovian mengulum senyum, sedikit mencondongkan tubuh untuk meraih pergelangan tangan Kiana, dan menariknya sampai perempuan itu perlahan mendekat.
"Kenapa kamu repot-repot? Jarang sekali kamu bangun sepagi ini, lalu bersusah payah membuatkan suamimu ini sarapan." Suara Jovian terdengar sangat lembut.
Kiana tersenyum.
"Memang jarang, bahkan hampir tidak pernah. Karena biasanya kamu yang bangun lebih dulu." Dia tertawa pelan.
"Ya, lalu kenapa kamu mulai mengubah pola hidupmu? Aku tidak meminta dan tidak akan pernah menuntut banyak hal. Cukup selalu ada bersamaku itu sudah sangat cukup!"
Kiana mendongakkan kepalanya ke arah belakang, sampai dia mampu melihat wajah suami tampannya, yang juga tengah menundukan pandangan, sampai mereka saling beradu pandang dengan senyuman yang tak hentinya terlihat.
"Kamu tidak menuntut apapun. Tapi aku melakukannya karena aku yang mau sendiri, aku mau tahu bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga, dan istri yang baik untuk suaminya."
"Berarti kamu berbohong. Kamu bilang waktu itu kamu tidak bisa melakukan apapun." Sergah Jovian.
"Tidak bohong. Tapi memang aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membuat Papa dan Mama khawatir juga kesal, … eh kamu juga deh!" Lalu Kiana tertawa sangat kencang.
Membuat Jovian diam memperhatikan dengan perasaan bahagia dan berbunga-bunga.
Kiana melepaskan lilitan tangan suaminya, sedikit menjauh untuk kemudian turun dari atas tempat tidur sana.
"Sayang, ayolah aku sudah lapar."
"Baiklah, baiklah!"
Dia menyibak selimut tebal yang masih menutupi tubuhnya, lalu turun dan atas tempat tidur, dan berjalan mendekati pintu kamar yang saat ini tertutup rapat.
"Aku tunggu di meja Makan yah!?" Kiana meminta izin sebelum Jovian benar-benar masuk ke dalam sana.
"Ya."
Dan setelah mendapatkan jawaban, Kiana segera beranjak pergi ke arah luar kamar, melangkahkan kakinya untuk mendekati meja makan minimalis yang terletak di area dapur.
Satu kursi berbahan kayu Kiana tarik, kemudian dia duduk di sana, dan meraih handphone yang sempat dia simpan. Perempuan itu membuka salah satu akun media sosialnya, hanya untuk sekedar mengalihkan pikiran dari rasa bosan saat menunggu sang suami yang saat ini berada di dalam kamar mandi sana.
Kiana melihat postingan terakhirnya, menatap banyak sekali like dan komentar. Beberapa diantaranya adalah teman-teman yang sudah beberapa bulan tidak pernah lagi bertegur sapa.
"Hemmm, … apa mereka merindukan aku yah? Seburuk-buruknya kalian. Tapi setidaknya kita pernah bersama, dan melakukan kekonyolan hingga dapat tertawa lepas." Seulas senyuman terbit.
Ya, Kiana merindukan keempat sahabatnya.
Namun, dia sedikit terkejut ketika memeriksakan notifikasi postingannya. Dimana terdapat nama Eva di sana.
"Kita nggak saling follow. Tapi Tante Eva bisa like postingan aku!?" Ucap Kiana dengan suara rendah, bahkan hampir berbsisik.
Kiana mulai menerka-nerka.
"Ini aneh! Apa dia menjadi penguntit sekarang? Sengaja sekali dia datang untuk melihat dan menekan tombol like foto kita." Bisik Kiana lagi.
Lalu dia menekan akun tersebut, dan tampaklah akun yang memang dia ketahui sebagai milik mantan istri dari suaminya. Dia menggeser layar ponselnya ke atas, melihat-lihat apa saya yang ada di dalam sana. Awalnya tidak ada yang aneh, namun ketika dirinya melihat semakin kebawa. Terdapat satu postingan, dimana salah satu foto Eva dan Jovian terlihat, saling merangkul satu sama lain, dengan senyuman bahagia yang terlihat jelas menghiasi wajah masing-masing.
Kita pernah bersama-sama, aku harap perpisahan kita tidak membuat hubungan ini semakin buruk. Berbahagialah dengan apa yang kamu miliki sekarang.
__ADS_1
Caption yang tertera, tak lupa dengan emot senyum.
"Tiga Minggu yang lalu? Maksudnya apa ini?"
Suara langkah kaki terdengar sangat jelas. Membuat Kiana segera keluar dari akun media sosialnya, dan mematikan benda tersebut, untuk kembali Kiana letakan di atas meja sana.
Dia menoleh, lalu tersenyum ketika pandangan mereka beradu.
Wajah sembab khas bangun tidur, dengan rambut yang terlihat sedikit basah, dan itu membuat Jovian terlihat semakin tampan.
"Ah betapa tampannya suamimu!" Batin Kiana menjerit.
"Mereka sudah datang ternyata."
Kata Jovian seraya menarik kursi yang terletak tepat samping Kiana.
"Mereka?"
"Ya, Axel. Mereka sudah di rumah orang tua Adline sekarang. Tidak memberi kabar, tiba-tiba sudah sampai." Kata Jovian lagi.
Kiana mengangguk. Kemudian dia berdiri, menyimpan satu piring di hadapan Jovian, lalu meletakan beberapa pancake yang sudah mulai dingin.
"Ah kau manis sekali hari ini, … terimakasih." Ucap Jovian sambil tersenyum.
"Hemmm. Mau pakai madu atau cream cheese, kamu boleh tambahkan sendiri yah!" Balas Kiana, lalu dia kembali duduk dan menambahkan pancake pada piringnya sendiri.
Pria di sampingnya mengangguk kembali. Namun, bukannya segera menyantap pancake di hadapannya, Jovian justru mengarahkan pandangan penuh kagum kepada Kiana. Wanita yang semakin hari memperlihatkan perubahan yang sangat besar.
"Kenapa?" Kiana menoleh. "Di makan, aku tidak akan menambahkan racun pada makananmu. Ini enak kok, aku sudah sering membuatnya!" Lalu dia tertawa. "Memangnya manusia mana yang tidak bisa membuat pancake, hal yang paling gampang di dunia ini. Kita tidak perlu menambahkan bahan yang sulit atau rempah-rempah lainnya yang akan membuat otak kita merasa pusing." Sambung Kiana lagi.
Jovian tak bereaksi apapun, selain tersenyum dan terus menatapnya.
"Sekarang apa lagi?"
"Kenapa harus dibuat dua piring seperti ini? Kenapa kita tidak makan di satu piring dan sendok yang sama?"
Jovian menyentuh bagian bawah kursi, kemudian menariknya sampai mereka kini tidak berjarak sedikitpun.
"Hanya membuat posisi kita semakin dekat." Jovian berujar.
"Baiklah. Posisinya sudah dekat seperti sekarang, jadi ayo sarapan!"
Jovian mengangguk, lalu membuka mulutnya lebar-lebar.
Kiana menatap suaminya dalam diam. Dengan raut wajah bingung yang perempuan itu perlihatkan. Tentu saja sikap aneh suaminya pagi hari ini tidak dapat Kiana mengerti, karena memang biasanya Jovian tidak begitu. Mereka akan sarapan di piring masing-masing, lalu duduk berhadapan. Tapi sekarang, Jovian memilih duduk di sampingnya, dan menginginkan sarapan di satu piring dan sendok yang sama.
"Baby? Aku sudah kelaparan, cepat!"
Jovian meraih botol berisikan madu, lalu menambahkannya pada pancake di piring milik sang istri, meraih tangan Kiana yang sudah menggenggam sendok, kemudian memotong pancake tadi menjadi beberapa bagian.
"Ayo! Aku sudah kelaparan." Dia meminta Kiana menyuapinya.
"Makan sendiri sajalah!"
Kiana menggoda suaminya dengan pura-pura menolak. Bahkan dia menjejalkan potongan pancake saus madu itu ke dalam mulutnya.
"Babe!!" Cicit Jovian dengan nada kesal, membuat Kiana terkekeh pelan.
"Ish, kenapa pagi ini kamu manja sekali!" Ucap Kiana, lalu mendekatkan sendok dengan pancake di atasnya kepada mulut Jovian.
Pria itu tidak langsung menjawab, dia membuka mulutnya, lalu melahap makanan tersebut. Jovian mengunyah dengan perlahan-lahan, merasakan perpaduan pancake yang memiliki tekstur lembut, juga sedikit rasa asin, berpadu dengan madu yang manis, dan dia sangat menyukainya.
"Huuuu, … dasar manja. Om-om manja!" Ledek Kiana.
Jovian memutar bola matanya, lalu menggendikan bahu.
"Sesekali. Dan sepertinya menyenangkan dimanja oleh orang yang kita cintai, … ya karena aku belum pernah merasakan itu, jadi rasanya sangat menyenangkan." Jovian jujur.
"Masa!"
__ADS_1
"Serius." Tegas Jovian.
"Kamu bohong. Orang Mami manjain kamu banget, bilang nggak pernah di manja. Bilang saja lagi modus pengen aku manjain." Dia menyodorkan pancake itu kembali pada Jovian.
"Itu beda cerita!" Katanya, lalu melahap makanan yang Kiana berikan. "Maksud aku sama pasangan." Lanjut Jovian dengan mulut yang penuh.
"Ya ya. Gimana Om aja deh, yang penting Om senang."
"Dan satu lagi! Berhentilah memanggil aku dengan sebutan itu. Apalagi di hadapan Javier, mungkin Papi dan Mami masih mengerti tapi Javier akan terus menggodaku sampai aku merasa mual."
Perkataan itu mampu membuat Kiana menyemburkan tawanya.
"Kalian sedikit tidak akur yah? Suka menggoda satu sama lain, dan saling menertawakan jika salah satu dari kalian mengalami kesulitan."
Jovian mengangguk.
"Cara kamu mengungkapkan rasa sayang sangatlah berbeda. Kita selalu saling mengejek, namun jika terjadi hal serius, maka tidak akan ada yang lebih peduli. Termasuk Javier, dan dia orang kedua yang paling sedih selain aku saat perceraian di dalam pernikahanku terjadi." Jovian menjelaskan.
Kiana mengulum senyum, dan kembali menyodorkan sesendok pancake pada Jovian.
"Usia kalian tidak terpaut jauh ya?" Tanya Kiana.
"Hemmm, … hanya satu tahun."
"Aaaaa. Menggemaskan sekali!" Perempuan itu berseru.
"Tidak. Yang menggemaskan itu kamu, apalagi nanti kalau mengandung dan melahirkan di usia yang sangat muda." Katanya lalu menyentuh dan mengusap pipi Kiana.
Namun, perhatiannya segera tertuju pada tengkuk Kiana, dimana terlihat beberapa bercak ungu kemerah-merahan di sana.
"Astaga, aku tidak sadar membuatnya di tempat yang terbuka!" Jovian tertawa.
Kiana ikut mengusap tengkuknya sendiri.
"Memang, aku sampai harus berpikir dari sekarang, bagaimana cara menutupi noda ini. Akan sangat memalukan jika Mama dan Papa melihatnya."
"Mereka pernah muda, Baby!"
"Tetap saja, aku malu. Mereka pasti berpikir kita sudah melakukannya sampai ada tanda polkadot di kulitku."
Keadaan hening untuk beberapa saat. Ketika keduanya fokus menikmati sarapan mereka pada hari ini, sebelum akhirnya Jovian kembali membuka pembicaraan.
"Kita memang sudah melakukannya bukan?"
"Haih. Diamlah, kita sedang sarapan dan berusaha menghabiskan pancake yang rasanya tidak habis-habis."
Jovian tertawa.
"Ada apa denganmu?" Pria itu tertawa kembali, apalagi saat melihat pipi Kiana yang merona.
"Jangan bahas itulah, otak aku nggak bisa diajak kompromi kalau soal yang satu itu. Suka terbayang-bayang, … apalagi kamu suka nakal."
Mereka saling menatap satu sama lain, menelisik wajah masing-masing, sampai akhirnya seringai di bibir Jovian terlihat jelas.
"Sekarang aku hanya begitu kepadamu, Baby! Jangan merasa aneh."
"Ya! Dan kamu habis kalau melakukan itu bersama orang lain, apalagi sama orang dimasa lalu!" Ancam Kiana.
Hatinya mulai tidak tenang, apalagi saat mengingat Eva yang mulai melakukan hal-hal tidak masuk akal. Dan seperti wanita itu melakukan aksinya secara sengaja.
"Ngawur kamu."
"Hanya mengingatkan. Kamu akan melihat Kiana yang lebih gila jika melakukan itu! Aku tidak akan menerima penjelasan apapun, dan tidak akan pernah memberikan maaf atas kesalahan yang satu itu. Aku bisa memaafkan apapun, tapi tidak dengan perselingkuhan."
"Tidak akan." Tegas Jovian.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Kiana, kemudian mencium pipi perempuan itu cukup lama.
"Bunuh aku jika aku melakukan itu." Kata Jovian, yang setelah mengatakannya dia kembali mendaratkan kecupan manis di pipi istrinya tanpa merasa puas.
__ADS_1
......................
Cuyung, seperti biasa yah 🤩🤩