Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
sadness


__ADS_3

Kiana duduk termenung di salah satu sofa yang terletak menghadap sebuah kaca besar di kamar hotelnya. Dimana dia bisa melihat sebuah bangunan berbentuk kubus yang menjadi pusat kiblat umat muslim di seluruh dunia, dengan orang-orang yang tidak berhentinya berjalan perlahan memutari Ka'bah.


Beberapa hal di luar batas Kiana alami. Hingga mampu membuatnya terus terdiam mengingat kejadian tersebut. Ketika untuk pertama kalinya Kiana beribadah di masjid Nabawi, dan mengunjungi taman surga yang ada di dunia (Raudhah) Kiana melihat beberapa orang diteriaki oleh keamanan setempat, lalu diminta untuk segera pergi karena antrian sudahlah sangat panjang. Namun, tidak terjadi kepada dirinya. Bahkan dia dapat beribadah dengan tenang.


Tidak sampai disitu. Keajaiban kembali terjadi setelah dia selesai melaksanakan rangkaian umroh. Ketika Sita membawanya untuk menyentuh Ka'bah, semua seperti memang sangatlah dipermudah, dia dapat menyentuh dan mencium hajar Aswad. Meskipun sedikit berdesak-desakan, entah kenapa arus manusia yang bergerak seolah menyeret mereka untuk terus mendekat sampai benar-benar bisa berhasil.


Dan disanalah semua kesedihannya tumpah. Dia menangis sejadi-jadinya, dan berdoa untuk dirinya juga rumah tangga yang dijalani agar mendapatkan jalan yang terbaik. Mengingat semuanya sedang tidak beraturan, bahkan hampir selesai karena hal yang menurut Kiana terasa sangat menyakitkan.


"Hey!" Suara itu terdengar, lalu pundaknya terasa ditepuk beberapa kali dengan sangat lembut. "Jangan melamun terus, tiga hari lagi kita pulang kalau kamu sudah rindu dengan Bu Herlin dan Pak Danu, … eh Jovian kali yah!" Ucap Sita sambil tersenyum tipis.


Membuat Kiana yang sempat menatapnya, mengalihkan pandangan dengan seketika.


"Masih marah? Allah tidak suka kepada hambanya yang pendendam." Suara memilih duduk di sofa yang terletak berdamping dengan sofa yang Kiana duduki.


"Aku nggak dendam, Tan!" Sergah Kiana. "Aku cuma nggak nyangka aja bisa sampai disini. Tanah dimana dulu pernah hidup seorang yang sangat mulia di muka bumi." Ujar Kiana.


Hatinya bergetar, lagi-lagi dia tidak mengerti dengan keadaannya sekarang. Terkadang dia merasa kagum, dan sedih di dalam waktu bersamaan.


Sita diam, menatap Kiana lekat-lekat sambil tersenyum.


"Mau telfon Bu Herlin? Satu Minggu kita disini, apa tidak mau menanyakan kabar mereka?"


Kiana melirik sekilas, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke arah bawah, dimana Ka'bah berada.


"Kia?"


"Aku nggak tau harus ngomong apa, Tante. Aku nggak bisa sekarang, … mungkin nanti setelah pulang aku langsung pulang ke rumah." Jelas Kiana.


"Kenapa? Gengsi? Kenapa harus gengsi? Sayangi mereka saat mereka masih ada. Tidak apa-apa, salah paham itu biasa, saling kecewa dan marah juga manusiawi. Tapi jangan berlarut-larut!" Sita tersenyum.


Kiana diam.


"Tante hubungkan panggilan Video mau?"


"Disana sudah jam sebelas Tante. Mungkin Mama sudah tidur, jadi besok lagi saja."


Perempuan itu selalu menolak, dan mencari-cari alasan.


Sita menatap jam dinding di kamarnya, lalu dia terkekeh.


"Tante lupa, waktu kita beda empat jam yah sama di Indonesia?" Dia terus tertawa.


Sementara Kiana hanya menganggukan kepalanya dengan perlahan.


"Kalau Jovian pasti belum tidur. Apa mau Tante minta Om Denis untuk menghubungkan panggilan telepon?"


Dengan segera Kiana menggelengkan kepalanya. Dia terus menolak, meski jauh di dalam hatinya dia sangat merindukan sosok pria yang sangat dia cintai. Dirinya tentu saja sudah memaafkan, mengikhlaskan semuanya sampai dada Kiana terasa begitu lapang di beberapa waktu tertentu. Hanya saja berbicara dengan Jovian atau orang tuanya menjadi salah satu yang belum bisa Kiana lakukan. Entah mengapa perempuan itu merasa jarak yang sudah tercipta, membuat mereka terasa semakin jauh.


Tidak, mungkin memang butuh waktu saja untuk kembali memulai seperti biasa. Karena memang tidak mudah bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun.


"Yakin? Sudah sepuluh hari kamu menghukum Jovian. Rasanya sudah cukup, janganlah menghukum dia dengan rasa rindu yang berkecamuk di dalam benaknya."


"Nggak tau Tante, aku bingung harus gimana. Udah ajalah, nanti juga ketemu." Dia tetap dengan keinginannya.

__ADS_1


Bukan Kiana jika dia tidak pernah memperlihatkan sikap keras kepalanya. Dan memang apa yang sudah dia kehendaki, maka tidak akan pernah bisa Kiana ubah dalam waktu yang tidak sebentar.


"Ah kamu memang Kiana yang Tante kenal dulu. Tidak bisa digoyahkan!"


Kiana tidak menjawab, kemudian dia bangkit, berjalan mendekati tempat tidur, kemudian naik dan berbaring disana dengan perasaan tidak menentu.


Tentu saja dia sangat merindukan Jovian. Bayang-bayang pria itu bahkan tidak pernah luput sedikitpun dari ingatannya. Hanya saja apa yang sudah menohok egonya tidak dapat hilang begitu saja.


"Kamu mau tidur?"


"Hemmm, tiba-tiba kepala aku pusing lagi." Sahut Kiana.


"Masih mual juga?" Tanya Sita.


Lalu ingatannya tertarik pada beberapa hari terakhir. Dimana Kiana mengalami demam, lalu merasakan pusing juga mual dan muntah.


Perubahan temperatur wilayah memang membuat beberapa jamaah umroh sedikit merasakan tidak enak badan. Mengingat cuaca di Makkah sana cukup dingin dibandingkan suhu di Tangerang yang memang sangat panas.


Dan salah satunya adalah Kiana.


"Mau makan sesuatu? Atau mau Tante buatkan air madu lagi?"


"Nggak usah Tante. Aku mau tidur aja!" Kiana menarik selimutnya sampai menutupi tubuh bagian atas. "Kalo aku nggak bangun, nanti bangunin yah." Pinta Kiana.


Dia mulai memejamkan mata, berusaha membuat dirinya tertidur, sampai bayang-bayang Jovian akan segera menghilang dari dalam pikirannya.


"Ya sudah. Nanti jam dua bangun, kita kebawah yah! Kita cari tempat yang lebih nyaman."


Sita bangkit, dia membuka mukena yang masih melekat pada dirinya, kemudian ikut menyusul naik ke atas tempat tidur, berbaring dan mulai memejamkan mata.


***


Kiana duduk bersimpuh menghadap Ka'bah. Dimana tempat yang dia datangi saat ini dipenuhi oleh seluruh manusia yang datang dari belahan dunia manapun. Seluruh jemaah duduk, setelah selesai melaksanakan sholat tahajud bersama-sama beberapa menit lalu.


Dia menadahkan kedua telapak tangannya, dengan pandangan yang terus tertuju pada satu bangunan kota dengan penutup hitam yang begitu indah di hadapannya.


"Ya Rabb. Aku datang lagi malam ini, mungkin juga malam-malam berikutnya sebelum aku benar-benar pulang dan meninggalkan tempat yang begitu mulia ini. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku sudah benar-benar kehilangan arah hidup. Entah harus kepada siapa lagi aku berkeluh kesah, entah bagaimana lagi cara menghilangkan rasa sesak ini. Aku ikhlas, aku menerima semua ketentuan jika apa yang sudah terjadi memang jalan yang terbaik darimu. Maafkan aku karena sudah hidup dengan cara yang buruk, berperilaku tidak baik kepada orang tuaku. Maka dekaplah aku, peluklah aku seerat mungkin agar aku tidak kembali tersesat di dunia yang fana ini. Dan untuk rumah tangga yang baru saja aku jalani, aku memohon petunjuk darimu, … jika masih berjodoh, maka berikanlah jalan yang terbaik, dan jika tidak, maka lapangkanlah hati ini untuk menerima takdir darimu." Kiana memejamkan matanya, sampai air mata berjatuhan, lalu mendekatkan telapak tangan itu, dan mengusapkannya pada wajah dengan hati yang kembali menangis.


"Jika dia masih mencintainya, dan hidup denganku hanya untuk berpura-pura. Maka aku ikhlaskan cintaku pergi, untuk menemui cintanya." Suaranya terdengar semakin lirih.


"Panggillah lagi aku kesini, beri aku kesempatan untuk datang berkunjung. Selain Raudhah, tempat inilah yang akan sangat aku rindukan. Seseorang yang sangat mulia pernah hidup disini, berjalan di atas bumi ini, dan bahkan menatap langit yang sama. Sehingga siapapun yang datang maka ketenangan lah yang akan mereka rasakan." Hatinya kembali berbicara.


Kiana kembali menangis. Hatinya selalu bergetar, dia tidak melihat atau mendengar apapun selain kerumunan manusia. Tapi sesuatu terasa memeluknya dengan sangat erat, seraya mengusap kepala sampai punggungnya sambil berkata 'aku ada bersamamu'.


"Kia?" Suara Sita kembali terdengar, bersamaan dengan tepukan lembut di pundaknya. "Yang lain sudah mau kembali ke hotel, ayo!" Ajak Sita.


Kiana menurunkan kedua telapak tangan yang sempat menutupi wajahnya, lalu dia menoleh dan menatap Sita dengan pelupuk mata yang basah.


Sedahsyat itukah rasa patah hati? Sehingga membuat seorang anak perempuan terus menangis, karena merasakan kepedihan di dalam segumpal daging yang terkurung di dalam tulang rusuk sana?


Sita menatap Kiana dalam diam, dengan kesedihan yang tiba-tiba saja terasa. Tidak pernah dia mengalami itu, dirinya juga sedih saat kehilangan calon bayinya. Namun, tampaknya kesedihan Kiana sangatlah dalam.


"Tante?" Panggil Kiana dengan suara lirih.

__ADS_1


Sita merengkuh tubuh kecil Kiana, lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Ternyata begini rasanya patah hati. Pantas saja Papa dulu tidak pernah mengizinkan aku pacaran, selain menjagaku, dia juga menjaga perasaanku." Kiana menangis.


Sita mengangguk.


"Beliau memang keras. Tapi apa yang dia lakukan terkadang memang untuk melindungi belahan jiwanya. Kamu tahu Kia? Mungkin kemarin Papamu sedang khilaf, dia tidak menyadari apa yang dia lakukan. Pun dengan Jovian, tipu daya seseorang memang luar biasa sampai dapat menimbulkan fitnah keji seperti ini. Tapi percayalah, semuanya akan baik-baik saja, dengan jalan yang sudah ditentukan."


Mendengar itu Kiana semakin menangis.


"Cinta pertamaku berubah menjadi patah hati yang sangat menyakitkan." Adu Kiana.


"Ini hanya salah paham saja."


"Tapi Jovian melakukan semuanya di hadapanku. Seolah ingin membuktikan apa yang sempat wanita itu katakan."


"Sudah. Lanjut nangisnya di hotel nanti yah!"


Kiana mengangguk.


Sita melepaskan dekapan di tubuh Kiana, bangkit, lalu menarik perempuan di hadapannya sampai membuat Kiana berdiri dengan perlahan. Setelah itu keduanya beranjak pergi untuk kembali ke kamar hotel.


"Tante? Ayo kita beli es krim dulu!" Kiana menghentikan langkah kakinya.


Membuat Sita yang sedang berjalan menggeram tangannya terhenti seketika.


"Es krim?"


"Iya, di emsidi!"


"Pagi-pagi begini? Makan es krim? Apa tidak akan sakit perut?"


Kiana menggelengkan kepalanya.


"Dingin lho ini? Apa nggak masuk angin lagi? Atau bagaimana kalau malah flu?"


"Nggak akan." Kiana terlihat memaksa.


"Ayo, aku mau es krim. Atau mungkin beli makanannya sekalian, baru kita kembali."


"Tapi …"


Belum selesai Sita berbicara, Kiana sudah menariknya ke arah salah satu area dimana perempuan itu mengetahui keberadaan restoran-restoran cepat saji di dekat sana.


Dan tidak ada yang bisa Sita lakukan selain menuruti apa yang Kiana inginkan.


"Ahh, … rasanya seperti sedang mengantar adik yang ngidam makan es krim tengah malam!" Celetuk Sita.


Namun Kiana tidak mengindahkan ucapan itu, dia terus berjalan cepat sambil menarik tangannya cukup kencang. Membuat Sita berjalan tersayuk-sayuk, karena sedikit kesulitan dengan mukena yang dia pakai.


......................


Ayokkkk sogokannya manaaaaaaa 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2