
Denis keluar dari dalam mobil miliknya yang sudah terparkir di garasi rumah besar milik Danu.
Setelan jas berwarna hitam, dengan kemeja putih yang menjadi pelengkap, tak lupa dengan dasi berwarna senada. Jelas, penampilannya harus sempurna bukan? Apalagi jika mengingat pria itu adalah orang kedua yang berkuasa atas perusahaan yang Danu jalankan.
"Pagi, Den." Yati yang tengah menyiram bonsai-bonsai milik majikannya segera menyapa saat melihat Denis datang.
"Pagi, Bi. Bapak ada?"
Yati mengangguk.
"Ada. Tadi setelah selesai sarapan memang berpesan, jika Aden datang suruh langsung ke belakang saja."
"Baik, terimakasih." Ucap Denis, yang langsung dijawab anggukan oleh Yati.
Suasana rumah besar itu terasa sedikit sunyi. Hanya terdengar para asisten yang tengah mengerjakan tugasnya masing-masing. Tidak seheboh pagi hari saat Kiana belum menikah. Gadis itu bahkan selalu membuat kejahilan tak terduga, sampai tidak jarang membuat ketiga asisten rumah berteriak karena merasa kesal, termasuk dirinya sendiri yang selalu menjadi sasaran empuk bagi Kiana.
"Kelakuannya memang sangat menyebalkan. Tapi kalau sudah seperti ini rasanya rindu juga! Sekarang tidak pernah ada yang membuat pusing lagi, tidak ada yang cerewet dan banyak protes karena larangan yang selalu aku lakukan. Dia benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik sekarang. Tidak salah aku menunjuk Jovian dulu, dia sangat profesional, saking profesional nya dia bahkan mau menjadi Bodyguard seumur hidup untuk Kiana." Batin Denis berbicara, dengan pandangan yang menelisik sekeliling rumah.
Denis terus berjalan mendekati salah satu pintu kaca yang menjadi penghubung ruang tengah dan area taman belakang. Lalu berdiri disana, melihat ke arah gazebo, dimana Danu tampak menyendiri dan duduk di sofa, dengan laptop diatas meja yang menyala.
"Selamat pagi, Pak?" Di menyapa.
Membuat Danu yang sedang fokus pada apa yang ada di hadapannya, beralih pada sosok tampan tinggi besar yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Kau sudah tiba yah?" Tanya Danu. "Kemarilah, ada yang harus saya bicarakan kepadamu, … dan mungkin sedikit membuat kamu terkejut atau kesal karena lagi-lagi membebankan banyak pekerjaan." Pria paruh baya itu terkekeh pelan.
Denis mengangguk.
Danu berdehem, merapatkan punggung pada sandaran sofa, dengan tatapan yang terus tertuju pada sosok laki-laki yang sudah dia anggap lebih dari hanya seorang asisten.
"Kopi hitam? Cappucino? Atau yang lain?" Tawar Danu.
Pandangannya terus mengikuti kemana Denis bergerak, dan baru benar-benar berhenti ketika pria itu duduk di sofa kosong yang ada di sampingnya.
"Tidak usah, Pak. Sudah Sita siapkan tadi, … jadi sekarang tinggal bekerja saja!" Kata Denis.
Lagi-lagi dia tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu obrolannya sudah bisa saya mulai yah?"
__ADS_1
"Silahkan."
"Begini. Sebelumnya saya mau minta maaf, Denis. Karena nanti siang kami akan berkunjung ke Pangalengan, … acaranya dadakan sekali. Kiana meminta datang, dan dia ingin mengadakan semacam syukuran disana." Jelas Danu.
Denis diam mendengarkan.
"Kamu bisa membantu saya menemui beberapa rekan bisnis? Salah satunya lusa, ada seorang yang akan datang dari Polandia, kamu bisa menemui beliau?"
"Lusa?"
Danu mengangguk.
Denis terlihat berpikir. Dia mengingat-ingat sesuatu yang mungkin saja sudah Sita rencanakan. Entah itu acara mereka saja, atau bahkan bersama keluarga besar.
"Bagaimana?"
"Sebenarnya lusa itu Dendi meminta saya untuk menemani dia liburan ke salah satu tempat bermain. Sita sudah menyiapkan semuanya, bahkan saudara-saudara dari Bandung sudah datang kemarin malam." Ucap Denis setelah mengingat-ingat.
Danu ikut berpikir. Tidak ada hal yang lebih membingungkan, selain mengurus sesuatu, sementara Denis tidak bisa melakukannya.
"Kenapa anda tidak menunjuk Ebra saja? Dia keponakan anda sendiri, sepupu Kiana. Dan sudah seharusnya anda lebih mempercayai Ebra dibandingkan saya yang bukan siapa-siapa. Saya orang lain, tidak memiliki hubungan darah apapun dengan anda, Pak. Apa anda tidak takut? Bagaimana jika saya berbuat curang? Mencuri semua data dan mengkhianati anda? Apa Bapak tidak takut?"
"Ebra yah!?" Danu meracau. "Setidaknya jika mau berkhianat, kenapa harus menunggu sampai lima belas tahun lamanya? Kenapa tidak sejak dulu?" Danu menatap asistennya dengan tatapan tak kalah tajam.
Dia terlihat sedikit kebingungan. Di satu sisi dirinya tidak dapat menolak keinginan Kiana, apalagi saat mengingat perempuan itu tengah mengandung cucu pertamanya, membuat Danu berpikir jika keinginan itu tidak murni dari keinginan Kiana, melainkan jabang bayi yang saat ini putrinya kandung.
"Kinerja dia di kantor bagus, bahkan Ebra selalu memberikan laporan tepat waktu."
Danu masih diam.
"Dia anak yang baik. Mungkin ayahnya memang ingin menguasai apa yang anda miliki. Tapi setiap orang tidak bisa kita sama ratakan! Meskipun mereka memiliki darah yang sama, tapi jelas cara berpikirnya benar-benar berbeda." Denis berusaha meyakinkan, dan menghilangkan kekhawatiran yang selalu dia rasakan.
Danu menyapu wajahnya cukup kencang, dan setelah itu helaan nafas terdengar, menggambar suasana hatinya yang mungkin saja merasa bimbang dan ragu atas apa yang Denis sarankan.
"Ebra tetaplah Ebra. Dia baik di tempat kerja, dan dia menuruti apa yang kamu perintahkan. Tapi kepada saya? Dia tetap berpikir saya pamannya, dan dia akan kembali berperilaku buruk, … apalagi saya khawatir Kiana tahu, hal ini selalu kita sembunyikan dari dia bukan? Bagaimana kalau Kiana tahu jika Ebra sudah bekerja di kantor, pasti dia merajuk karena berpikir saya tidak pernah mendengarkan apa yang dia inginkan."
"Kebencian Kiana hanya tentang saat mereka masih ada di bangku SMA saja. Mungkin sekarang sudah lupa, toh Ebra banyak berubah." Sergah Denis.
Danu menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Saya belum siap jika Kiana marah, … apalagi dia baru saja bersikap seperti biasa setelah beberapa Minggu memilih pergi dengan amarahnya."
"Kalau begitu kenapa anda memilih membawa Ebra masuk ke kantor? Sudah jelas Kiana akan tahu, entah sekarang, besok, atau beberapa tahun setelah dia berniat masuk menggantikan anda."
"Seandainya Umar tidak selalu mengatakan hal-hal tidak baik. Maka saya tidak akan memasukan Ebra untuk bekerja di bawah perusahaan yang saya jalankan. Namun, hati kecil saya hanya ingin menepis semua tudingannya, jika saat ini saya tidak sedang membuang mereka yang sedang dalam kesulitan."
Denis akhirnya diam. Nyatanya konflik keluarga itu tidak mudah untuk diselesaikan. Entah berapa kali dirinya menyaksikan Danu mengalah dan memberikan sebagian dari hartanya.
Meskipun sudah jelas, dulunya mereka mendapatkan jatah yang sama. Tapi keberhasilan Danu membuat mereka terus merasa iri hati, apalagi melihat usahanya yang semakin melesat dari tahun ke tahun.
"Ya sudah. Bapak kalau mau berangkat, … berangkat saja! Soal Ebra biar saya yang memantau, saya usahakan dia tidak akan berbuat onar, apalagi sampai membuat Kiana kembali naik pitam."
"Tapi kamu sudah berjanji kepada Dendi untuk membawa mereka jalan-jalan. Tidak mungkin liburan sambil memantau orang kerja."
"Bisa saya atur. Lima belas tahun bukan waktu sebentar, dan sudah seharusnya Bapak percaya pada kemampuan saya sebagai tangan kanan anda sendiri."
Denis tampak bersungguh-sungguh.
"Benarkah?"
Denis menganggukan kepala, memberi sebuah isyarat jika semuanya akan berjalan dengan baik. Dan apa yang dia khawatir hanya ada di dalam pikirannya saja.
"Saya memang tidak bisa mengatasi Kiana. Tapi soal perusahaan, … anda sudah tidak perlu ragu lagi."
Danu tersenyum lega.
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih sebelumnya!"
"Sama-sama, Pak." Balas Denis.
Dua pria itu saling berbalas senyum.
......................
180 eps sudah.
Kayanya mendekati akhir cerita, kalo kepanjangan takut kalian bosen :)
Jangan lupa seperti biasa. Like, komen, sama tabur-tabur 🥳 cuyung kaliannnnnnnn banyak-banyak ♥️
__ADS_1