
"Semuanya sudah selesai, Pak. Jika tidak ada sesuatu lagi saya pamit undur diri dulu!" Pamit seorang petugas kebersihan, yang Jovian panggil untuk merapikan isi apartemennya.
Tata letak setiap furniture memang berada di tempat seharusnya dan tidak pernah berubah. Hanya saja ketidak terampilan nya membersihkan sesuatu, membuat debu-debu, menjadi terlihat memenuhi setiap sudut unit tersebut.
"Baik. Mau cash atau via aplikasi?"
"Terserah Bapak. Bapak adanya cash boleh, tapi kalau mau bayar via aplikasi seperti biasa juga boleh.
"Via aplikasi saja kalau begitu."
Jovian melangkah ke arah lain ruangan di dalam unitnya, membawa ponsel, lalu kembali sambil mengotak-atik layar ponselnya. Sampai setelah beberapa saat, notifikasi terdengar dengan begitu nyaring.
"Nah, sudah masuk!" Kata Jovian.
Pria muda itu mengangguk, segera merogoh saku jaketnya, membawa keluar benda pipih itu untuk dia segera periksakan.
"Sudah, Pak." Pria itu menatap Jovian sambil tersenyum. "Terimakasih, kalau begitu saya pamit sekarang!" Dia meraih tas berukuran sangat besar yang selalu dia bawa ketika menerima sebuah panggilan pekerjaan untuk membersihkan rumah atau tempat-tempat lainnya.
Jovian mengangguk, dia mengantar petugas kebersihan yang dipanggil melalui sebuah aplikasi hingga ambang pintu. Dan setelah itu Jovian kembali menutup pintu unitnya.
Pria itu berjalan ke arah ruang tengah, menatap jam yang menggantung di sana, yang saat ini sudah menunjukan pukul 07.00 pagi. Jovian beranjak mendekati dapur, membuka lemari pendingin, dan melihat stok bahan-bahan yang ada di dalamnya.
Daging sapi dan ayam giling. Beberapa macam sayuran, dan banyak lagi bumbu seperti bawang-bawangan dan cabe rawit. Namun Jovian justru meraih beberapa butir telur, menutup pintu lemari pendingin, membawa panci, mengisi dengan air dan meletakan di atas kompor yang juga segera dia nyalakan.
Tak lupa sebelumnya Jovian membasuh lima butir telur ayam, kemudian memasukan kedalam panci tadi. Jika biasanya dia memilih sarapan di cafe bawah, namun kali ini Jovian memilih memasak sarapannya sendiri.
Selain menghemat pengeluaran, dia juga menghindari interaksi antara dirinya dengan Mayden, dan itu dia lakukan setelah hubungannya dengan Kiana terasa semakin jelas.
"Aneh memang. Padahal nggak ada rasa apa-apa, tapi kenapa aku merasa harus menjaga perasaan dia!" Gumam Jovian.
Tiba-tiba saja suara dering notifikasi handphone terdengar. Jovian segera meraih benda pipih itu yang dia letakan di atas meja dapur, tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Pak Danu!" Jovian bergumam.
Keningnya menjengit kencang, menatap layar ponsel dengan ekspresi wajah bingung. Namun dengan segera Jovian menggeser tombol berwarna hijau, lalu mendekatkan ke arah daun telinga.
"Ya, Pak Danu?" Sapa Jovian terlebih dulu.
"Jo, kau di apartemen? Belum berangkat?"
Jovian diam sebentar. Dia masih bingung dengan Danu yang tiba-tiba menghubunginya, padahal waktu masih sangat pagi.
"Saya masih di apartemen, Pak. Ada sesuatu yang darurat? Kiana pergi tanpa sepengetahuan Bapak?"
"Tidak. Dia sedang kesana, … istri saya meminta dia pergi mengantarkan makanan untuk sarapan. Awalnya dia menolak, tapi Ibunya memaksa, jadi dia pergi dengan mobilmu." Jelas Danu.
"Kiana? Kesini? Memangnya dia tahu?"
"Herlin meminta alamat apartemenmu kepada Denis. Dia ini memang kadang-kadang seperti itu, … bahkan pagi-pagi sekali dia sudah meminta Kiana datang kesana. Saya harap kamu tidak keberatan, Jo!"
__ADS_1
"Baik. Kalau begitu saya harus memastikan dulu Kiana ke lobby.
"Ya sudah."
Jovian menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Menekan tombol berwarna merah, dan meletakan handphone nya begitu saja seraya bergegas mendekati pintu utama unit.
Klek!!
Dengan tergesa Jovian menarik pintu tersebut. Keluar dengan pandangan yang meneliti sekitar. Pria itu hampir saja berlari, ketika pintu lift terbuka dan terdapat seorang gadis berdiri di dalamnya, bersiap untuk segera keluar, membawa sesuatu dalam genggaman tangannya.
Gadis itu melangkah keluar dengan pandangan yang terus tertuju pada layar ponsel.
"Kia?"
Dan suara itu membuyarkan Kiana. Dia mengangkat pandangan, melangkahkan ke arah suara terdengar.
"Om!" Kiana tersenyum, lalu dia berjalan cepat mendekati pria yang kini sudah menjadi kekasihnya.
"Astaga dia sangat tampan!" Batinnya menjerit.
Pria itu segera mengulurkan tangan, meraih sebuah Tote bag berukuran besar, mengambil alih dan membawa Kiana masuk ke dalam apartemen.
"Kenapa repot-repot?"
Jovian meletakan Tote bag itu di atas meja ruang tengah. Sementara Kiana berjalan mendekat setelah membuka sepatunya terlebih dahulu.
"Mama yang maksa aku buat datang dan anterin sarapan buat, Om!" Katanya.
Namun setelahnya Jovian justru berlari ke arah dapur, melihat rebusan telur di dalam panci air mendidih yang sudah meletup-letup, mematikan kompor dan kembali ke arah tengah ruangan apartemen miliknya.
Kiana terlihat diam menyandarkan punggung, menatap Tote bag berisikan bekal dari sang Ibu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh kata-kata.
"Apa yang kamu bawa?" Tanya Jovian seraya mendudukan dirinya tepat di samping Kiana.
Gadis itu menoleh, menegakan duduk, kemudian mengeluarkan beberapa tempat dan meletakan di atas meja. Dengan telaten Kiana membuka penutupnya satu persatu, sampai isi dan bau makanan di dalam sana tercium oleh Jovian.
Tumis wortel,buncis lengkap dengan tofu, juga sup dada ayam yang begitu menggugah selera, lalu jangan lupakan nasi merah dengan porsi yang cukup banyak.
"Mmmmm, … makan Om! Tapi kayaknya sup ayam ini jangan di makan!" Kiana menggeser tempat yang berisikan potongan daging ayam bagian dada, dilengkapi brokoli di dalamnya, dengan kuat yang menyuguhkan aroma merica yang begitu kuat.
"Kenapa? Sepertinya itu enak. Aku suka sup dengan lada yang cukup banyak, … ini bagus kalau kita sedang terkena flu!" Jovian meraih wadah yang sempat Kiana juahkan.
"Memangnya Om lagi flu?"
"Tidak hanya ingin memakannya saja. Memangnya kenapa sampai kamu jauhkan? Kalau Bu Hermin tahu, dia pasti mengomel."
"Ya jangan di kasih tahu!" Cicit Kiana.
Jovian meraih wadah berisikan nasi merah itu, lalu menuangkan air sup ke dalamnya.
__ADS_1
"Ada sesuatu? kenapa sampai tidak boleh saya coba?" Tanya Jovian tanpa mengalihkan pandangan, dia fokus membuka sendok yang terbungkus oleh tisu.
Kiana tidak menjawab, dia membiarkan Jovian memakan sarapannya dengan tenang. Dia terlihat menambahkan sup dan tumis buncis wortel beberapa kali, sampai dia menoleh dan menatap Kiana yang terus diam semenjak dia memulai aktivitas sarapannya.
"Kamu sudah mandi?"
Kiana menjawab dengan anggukan.
"Langsung berangkat ke kampus?"
Kiana masih mengangguk.
"Sudah sarapan?"
Namun kali ini gadis itu menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Baiklah, buka mulutmu!" Jovian segera menyodorkan satu sendok nasi yang sudah di campurkan air sup, potongan ayam dan tumis buncis ke arah mulut Kiana.
Gadis itu sedikit menghindar, dia menggelengkan kepalanya.
"Cepat! Tangan saya pegal kalau harus menunggu seperti ini!"
Dengan ragu Kiana membuka mulutnya, sampai dengan mudah Jovian dapat menjejalkan satu sendok sarapan kedalam mulut Kiana.
"Om, … suka sup nya?"
Pria itu mengangguk.
"Ini enak, sesuai dengan selera saya."
Kiana tampak tersenyum, namun sedikit dipaksakan.
"Kenapa?" Jovian akhirnya menatap Kiana, setelah beberapa waktu fokus pada sarapannya.
"Itu, … aku yang masak! Mama maksa aku bangun pagi, terus masak. Aku kira buat sarapan di rumah, ternyata Mama minta aku pindahin ke tempat, terus anterin buat Om." Gadis itu mengadu dengan raut wajah malu.
Bahkan kedua pipinya terlihat bersemu merah.
"Aku pikir Mama mulai berlebihan. Padahal hubungan kita aja masih coba-coba, … eh bukan aku sih! Tapi Om yang masih berusaha menyesuaikan, kalau cocok ya lanjut, kalo nggak yaudah aja."
Mendengar itu Jovian seketika menghentikan acara makannya, lalu menatap Kiana lekat-lekat.
"Kamu tahu? Saya seperti sedang mempermainkan anak gadis orang kalau kamu berbicara begitu."
"Ya memang begitu. Aku masih maksain suka sama Om, padahal Om masih jelas-jelas sayang sama mantan istri Om! Lagian aneh kok tiba-tiba Om ngelamar, makanya aku yakin ini pasti ada sangkut pautnya sama Papa!"
"Sudah saya jelaskan juga, awalnya memang begitu, tapi nyatanya saya ingin mencoba membuka diri. Awalnya saya mencoba ini dengan Mayden, … tapi saya merasa cocok dengan kamu, … walaupun belum 100%."
Kiana menghela nafas.
__ADS_1
"Habiskan dulu sarapannya Om! Banyak ngobrol nanti aku kesiangan."