
Tok tok tok!!
Kiana segera menoleh ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"Ya?" Gadis itu kembali menatap dirinya dari pantulan cermin.
Crop top lengan panjang berwarna hitam, Kiana padukan dengan celana kulot berwarna senada. Membuat kaki gadis itu terlihat lebih jenjang.
"Masih belum selesai? Jovian sudah menunggu cukup lama, tapi kamu masih belum turun!"
Suara Herlin terdengar di balik pintu sana.
"Lah! Aku nggak tau Om Jovian sudah datang." Teriak Kiana.
Dia berjalan meraih tas dan denim jaket miliknya, kemudian menyemprotkan minyak wangi, lalu keluar.
Klek!!
Pintu kamarnya terbuka, hingga Kiana dapat langsung menatap Herlin yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Apa?" Gadis itu menjengit saat melihat ibunya tersenyum-senyum sendiri.
Mata Herlin memicing, dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit menyebalkan bagi Kiana, sampai gadis itu menatap ibunya dengan ekspresi yang sama.
"Cie yang mau jalan sama Ayank!" Wanita itu menggoda putrinya.
Membuat wajah Kiana merona, dan itu terlihat begitu jelas walaupun Kiana mengaplikasikan makeup di wajah cantiknya.
"Mama aneh." Cicit Kiana.
Dia segera beranjak pergi lebih dulu, berjalan ke arah tangga meninggalkan Herlin yang masih terus menggodanya.
"Mama!" Kiana menoleh sebentar.
Dan setelah itu Herlin baru benar-benar berhenti, membiarkan Kiana berjalan ke arah ruang tamu dimana Danu dan Jovian terlihat berbincang-bincang di sana.
"Kamu membuat Jovian menunggu sangat lama, Kia!" Danu berujar.
Dia menatap kedatangan putrinya dengan senyum sumringah. Sementara Jovian terdiam mematung untuk beberapa detik.
"Aku berangkat yah!" Pamit Kiana.
"Ya, pergilah. Hati-hati di jalan, dan jangan pulang lewat tengah malam, … oke?" Danu berpesan.
Jovian menganggukan kepala, lalu dia berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Emangnya aku Cinderella. Jangan pulang lewat tengah malam." Celetuk Kiana.
"Ya, kamu Cinderella nya Papa."
"Sudah biarkan saja, tidak lihat wajahnya sudah sangat merah seperti itu? Mirip udang rebus." Herlin menimpali.
Dan dua orang tua itu langsung tertawa, sementara Kiana memutar kedua bola matanya.
Kiana berjalan beriringan dengan Jovian, di ikuti Herlin juga Danu di belakangnya. Mereka mengantar sampai teras depan, menatap Kiana yang saat ini memasuki mobil milik Jovian, lalu pergi.
"Pah, anak kamu sudah gadis ternyata." Herlin Menyandarkan kepala di lengan suaminya.
"Memang, cantik bukan. Dia memang putriku, selain keras kepala, paras cantiknya pun dia dapatkan dariku." Danu berujar dengan penuh percaya diri.
Dug!
Herlin memukul dada suaminya dengan kepalan tangan.
"Terlalu percaya diri juga tidak baik, Bapak Danuarta!" Wanita itu memekik kesal.
Setelah mengatakan itu Herlin segera beranjak kembali memasuki rumahnya.
***
Jovian memutar setir mobilnya, sampai kendaraan roda empat itu berbelok memasuki salah satu parkiran luas, dimana terdapat bangunan besar berdiri dengan kokoh di are sana.
Bagunan yang di dominasi warna hitam, dengan lampu-lampu kuning yang menyala redup.
"Ini apa, Om? Restoran? Kok aku baru tahu!" Katanya seraya menoleh, menatap pria tampan di sampingnya.
Jovian tidak menjawab, dia hanya fokus menatap spion mobil di sebelah kiri dan kanan saat hendak memarkirkan mobilnya.
"Kita nggak janjian. Kok bisa samaan sih, … eh celananya beda deh, Om pake warna abu-abu!" Ucap Kiana saat pandanganya terus tertuju kepada Jovian.
Pria itu melirik, membuka seatbelt, lalu menatapnya lekat-lekat.
"Hhheuh!" Jovian menghela nafasnya. "Saya bilang apa! Berpakaianlah dengan baik." Protes Jovian dengan suara rendah.
"Memangnya ini kurang baik? Padahal aku sudah pakai-pakaian serba panjang." Kiana menatap dirinya sendiri.
Namun dia terkejut, ketika tiba-tiba saja Jovian mencondongkan diri, dan mencubit kulit pinggangnya yang memang sedikit terbuka.
"Ini apa!?" Suaranya terdengar semakin rendah, dengan tatapan tajam yang terus dia perlihatkan.
Ekspresi wajah Jovian terlihat begitu datar, namun bukannya terlihat menakutkan, justru pria itu terlihat semakin menggoda dan tampan.
"Apa yang kamu lakukan? Ingin memberitahu kepada orang-orang jika kulit tubuhmu, bagus? Putih, terawat dan sangat sehat?" Dia terus mengusap-usap area itu dengan punggung tangannya.
Membuat Kiana bungkam, menatap calon suaminya dengan perasaan yang tidak dia mengerti. Bahkan Kiana merasakan terdapat sengatan listrik di setiap sentuhan tangan Jovian.
Hingga menimbulkan getaran-getaran hebat di dalam dirinya yang sangat luar biasa.
"Jadi gimana? Nggak jadi? Aku bawa jaket kalau Om keberatan pinggang akunya kelihatan. Model crop top memang begini, beda sama model kaos atau kemeja yang bisa menutupi sampai pinggang."
Jovian menatap Kiana, lalu tersenyum.
"Tidak usah dipakai. Kamu cantik memakai ini, … memang tertutup, atasan dan celana mu sama-sama panjang, namun masih memperlihatkan kesan seksi saat kamu pakai."
Tangannya bergerak ke atas, lalu mengusap pipi Kiana, dan menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menghalangi wajah cantiknya ke arah belakang telinga.
"You're so beautiful." Jovian berbisik.
Kiana merasakan lidahnya kelu, dia tidak bisa berbicara bahkan hanya untuk menjawab pujian dari Jovian.
__ADS_1
"Kita turun sekarang? Terlalu lama berduaan seperti ini sepertinya sangat berbahaya untukmu."
Kiana mengangguk.
"Belum apa-apa, tapi Om sudah mabuk. Tatapan Om udah sayu, bicara Om juga ngawur!" Dia tertawa gugup.
"Entah. Perasaan ini memang sangat gila, … bahkan semalaman saya tidak bisa tertidur, hanya karena terus ingat kepadamu." Katanya dengan jujur.
"Jadi kapan kita turunnya? Aku udah nggak sabar kejutan apa yang Om bikin."
Jovian tersenyum.
"Give me one Kiss, … please!"
Tanpa banyak pertanyaan, Kiana langsung mendekatkan diri, lalu memberikan Jovian satu kecupan di bibirnya.
"Cukup?"
Jovian kembali tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"One more!"
"Katanya satu aja!"
"Ya sekali lagi." Pinta Jovian kemudian.
Kiana kembali mendekat, dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi kepada pria itu.
"Sudah. Nanti aku berantakan!" Kiana merengek.
Pria itu tertawa.
"Baiklah, terimakasih banyak."
Setelah itu keduanya keluar dari kedua sisi secara bersamaan, dan berjalan ke arah pintu masuk dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
"Selamat malam."
Seseorang menyapa keduanya di ambang pintu masuk.
"Malam." Balas Kiana sambil tersenyum.
"Dengan Bapak Jovian?"
Pria yang di maksud hanya mengangguk.
"Baik sebelah sini, Pak. Mari!" Pria itu berjalan terlebih dulu, membawa keduanya menuju meja yang sudah Jovian pesan lebih dulu.
Sebuah ruangan besar dengan lampu-lampu temaram. Berjejer meja dan kursi-kursi yang ditata sedemikian rupa, dan jangan lupakan arsitektur yang terlihat begitu mewah, dengan desain juga sentuhan lampu-lampu kuning yang menghiasi langit-langit ruangan itu.
Pandangan Kiana terus mengedar, menatap sekeliling dengan raut penuh kagum. Sementara Jovian terus menariknya, hingga mereka berada di sebuah ruangan yang hanya terdapat satu meja dan dua kursi.
Lilin-lilin kecil menyala membentuk sebuah hati dengan ukuran besar, dan terdapat taburan mawar merah di tengahnya.
"Silahkan." Pelayan itu kemudian pergi, meninggalkan Jovian dan Kiana hanya berdua.
Kiana mengalihkan pandangannya kepada Jovian, yang juga tengah menatapnya saat ini.
"Semoga kamu suka, saya tidak tahu harus bagaimana. Tapi ketika saya mencari, restoran ini mempunyai rate terbaik untuk dinner romantis."
Kiana bungkam, gadis itu benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.
Jovian maju satu langkah, mengikis jarak di antara keduanya, meraih pinggang Kiana yang terbuka hingga dapat langsung menyentuh kulit punggungnya, lalu menarik gadis itu sampai mereka benar-benar rapat tanpa jarak sedikitpun. Jovian menunduk, dan bertemulah kening keduanya.
"You make everything better (Kamu membuat segalanya lebih baik)"
Mata Kiana bergerak-gerak, menatap wajah tampan pria yang sedang mendekatinya di bawah cahaya temaram.
"Hey? Katakanlah sesuatu." Jovian sedikit menjauhkan wajahnya, hingga mereka dapat memindai wajah masing-masing dengan lebih jelas.
"A-aku, … pikiran aku ngebleng." Ucap Kiana jujur.
Jovian tersenyum.
"Kamu masih terkejut? Atau mungkin merasa aneh dengan perasaan yang kamu rasakan saat ini?"
Kiana mengangguk.
"Sikap Om berubah jauh. Aku nggak nyangka aja Om bisa semanis ini, … jantung aku deg-degan terus! Dari saat kita turun, sampai sekarang masih belum normal. Aku ngerasa cape jadinya, kaya udah lari jauh banget!" Kiana berujar.
Jovian mengecup bibir Kiana lebih dulu, lalu melepaskan Kiana, untuk kemudian dia giring sampai benar-benar duduk di salah satu kursi, dimana satu botol wine dan dua gelas suda terdapat di atas meja.
"Sebelum kita memulai makan malamnya, saya ingin mengatakan sesuatu, dan memberikan satu hadiah kecil. Jadi, … bolehkan pejamkan matamu terlebih dulu?" Kata Jovian setelah duduk di kursinya.
Mereka saling berhadapan.
Kiana tersenyum, dan segera memejamkan matanya.
"Buka matanya setelah hitungan ketiga, oke?" Pinta Jovian, dan langsung mendapat anggukan dari Kiana.
Pintu ruangan yang tertutup tiba-tiba terbuka, dan munculah seorang pria memberikan sesuatu kepada Jovian, kemudian kembali setelahnya.
"Terimakasih." Jovian tanpa suara.
Sebuah kota berbahan dasar kaca, yang terdapat cincin di dalamnya.
"Satu, dua, tiga." Jovian menghitung. "Kamu boleh membuka matamu!" Kata Jovian.
Perlahan-lahan Kiana membuka matanya. Menatap wajah Jovian, lalu beralih kepada satu kotak cantik yang pria itu sodorkan.
"Will you marry me, Jasmine Kiana Danuarta?"
Mata Kiana membulat sempurna.
"Bagaimana? Kamu menerima lamaran saya atau tidak?" Jovian tersenyum samar.
"Om bercanda yah!" Kiana mengulurkan tangan sebelah kirinya. "Siapa yang mau menolak pria tampan seperti Om." Dia terkekeh, namun matanya terlihat berkaca-kaca.
Jovian mengambil cincin dengan lapisan emas putih, dan satu permata berukuran besar di tengahnya, lalu pria itu sematkan di jari manis Kiana.
__ADS_1
"Pas." Kata Jovian, kemudian dia mencium punggung tangan calon istrinya.
"Dari mana Om tahu?"
"Sedikit kerja sama dengan Mama mertua. Ide yang bagus bukan? Semuanya menjadi sangat mudah."
Kiana mengangguk, dia menggigit bibirnya kencang, seraya mengusap kedua matanya yang mulai mengalirkan air.
"Oh astaga aku tidak menyangka akan merasakan hal ini." Kiana tertawa lirih.
***
Dan setelah suasana yang membuat Kiana terharu. Akhirnya mereka memulai makan malam romantisnya dengan sebuah hidangan pembuka.
Keduanya berbincang-bincang, dan untuk pertama kalinya Kiana melihat sisi lain dari pria dingin yang beberapa bulan terakhir terasa menyebalkan bagi dirinya.
Malam ini Jovian terlihat banyak berbicara, tidak seperti biasanya yang hanya akan bersuara jika memang benar-benar perlu.
"Oh iya. Tadi anak-anak minta maaf, terus nawarin diri buat bantu aku nyari pelaku yang nempelin Foto ciuman kita di papan pengumuman." Dia menggeser piringnya yang sudah kosong, lalu mengusap kedua sudut bibirnya menggunakan tisu.
"Saya juga sedang menyelidiki itu. Tapi anehnya kenapa cctv yang ada di sana mati! Sepertinya memang orang yang tidak suka kamu, entah itu sengaja membuntuti, atau tidak sengaja melihat kita waktu itu, dan dia jadikan sebagai senjata." Jelas Jovian.
Piring keduanya sudah sama-sama kosong. Lalu datangkan beberapa pelayan, untuk membawa piring kotor dan segera menyajikan makan utama.
"Terimakasih, Mas." Ucap Kiana kepada para pelayan itu.
"Selamat menikmati." Kemudian mereka kembali meninggalkan Jovian dan Kiana hanya berdua.
Gadis itu membawa pisau dan garpu, hendak mem*tong steak daging di hadapannya. Namun tanpa aba-aba Jovian membawa hidangan milik Kiana, dan me*otong-m*tong daging itu hingga menjadi beberapa bagian.
"Selamat makan." Jovian mengembalikan piring kepada Kiana.
"Terimakasih."
Lagi-lagi gadis itu di kejutkan oleh perlakuan manis Jovian.
"Apa kamu mau saya melakukan sesuatu? Saya bisa saja langsung bertindak. Tapi jika itu dilakukan, maka Pak Danu akan mengetahui juga apa yang kita lakukan, saya tidak apa-apa, tapi kamu?"
"Hemmm, … masa Papa tau aku ciuman sama Om. Emang kita nggak bisa bohong yah?"
"Tidak bisa. Papamu pasti bertanya apa, bagaimana, dan penyebabnya apa. Yang otomatis dia akan mengetahui semuanya."
Kiana mengangguk paham, sembari menjejalkan potongan steak kedalam mulutnya.
"Kalo kita nggak cari tahu siapa orang yang melakukan itu, bagaimana?" Tanya Kiana.
"Saya akan menyelidiki ini secara diam-diam. Pelakunya tidak akan jauh dari anak-anak kampusmu. Tapi spesifikasinya siapa, saya belum dapat apapun, karena ketika saya meminta rekaman cctv, ternyata benda itu sengaja dimatikan."
Kiana menghela nafasnya.
"Sebaiknya kita jangan bahas itu dulu. Kita bahas soal tunangan, dan pernikahan yang akan di undur. Bagaimana? Apa kamu keberatan jika akad dan pestanya disatukan saja? Setelah kamu wisuda nanti." Dia menatap gadis di hadapannya.
"Kalau menurut Om bagusnya seperti itu, aku ikut saja. Toh wisuda juga tinggal beberapa bulan lagi." Kiana tersenyum.
"Tidak apa-apa? Pernikahan kita di undur?"
Kiana menggelengkan kepala.
"Nggak apa-apa. Kan kalau kangen tinggal datang ke apartemen Om, … kalau Om kangen aku tinggal datang ke rumah. Beres kan?"
"Satu hal lagi yang harus kamu tahu. Jika kita sudah menikah nanti. Mungkin saya akan mengambil alih apa yang sudah Papi berikan kepada saya, dan sedikit membantu Papamu dalam mengurus usahanya, jadi akan sedikit sibuk dan mempunyai sedikit waktu di hari-hari tertentu."
Kiana diam untuk beberapa detik.
"Om mau ngurus kebun teh, sama bantuin Papa ngurus tambang batubara?"
Jovian mengangguk.
"Tidak mungkin saya diam di rumah, dan membiarkan kamu mengerjakan apa yang sudah menjadi bagian kamu."
Kiana mulai mengerti maksud ucapan pria di hadapannya.
"Jadi, … Papa minta Om pegang bagian aku yang saat ini masih ada di bawah kendali Papa?"
"Kira-kira begitu."
"Om nggak keberatan?" Tanya Kiana.
"Kita akan bersama-sama mengurus itu jika kamu sudah benar-benar siap."
Obrolan itu berlangsung cukup lama. Diselingi canda dan tawa, sebuah hal baru untuk keduanya. Bahkan untuk kali pertama Kiana bisa melihat Jovian benar-benar tertawa dengan sangat lepas.
***
Pada hampir lewat tengah malam.
Mobile Jovian melaju melewati sebuah gerbang rumah yang terbuka sangat lebar, lalu berhenti tepat di depan teras.
"Terimakasih." Jovian menatap Kiana, ketika mobilnya sudah benar-benar berhenti, dan gadis itu bersiap untuk turun.
"Tidak. Terimakasih!" Ucap Kiana.
Gadis itu segera membuka seatbeltnya, kemudian pintu, dan segera keluar dengan jaket yang sudah Kiana kenakan karena udara yang terasa semakin dingin.
"Aku masuk, hati-hati yah!" Kiana berpamitan.
Jovian mengangguk.
Kiana menutup pintu di sebelahnya, mundur beberapa langkah, dan menatap kepergian mobil hitam milik Jovian.
Tangannya terus melambai-lambaikan, hingga mobil itu benar-benar melewati pintu gerbang, dan menghilang saat seorang petugas keamanan kembali menutupnya.
"Hhhheum, … malam Minggu yang sangat luar biasa." Bisik Kiana.
Lalu dia berbalik badan, mendekati pintu rumahnya, dan masuk dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Tentu saja, malam ini pria yang dia cintai melamarnya secara resmi, dengan sebuah cincin berlian yang terlihat begitu indah ketika melingkar di jari manisnya.
......................
__ADS_1
...Ayo dong, sawerannya ........
...Jangan lupa like, komen juga ya bestot!!...