Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Gym bersama.


__ADS_3

Tuuuutttt ….


Suara itu terdengar begitu jelas, kala Jovian mendekatkan handphone kepada daun telinganya.


“Iya, Om?” Sapa Kiana, jauh di seberang sana.


Dan suara gadis itu langsung mendominasi pendengarannya. Membuat kedua sudut bibir Jovian saling tertarik pada arah berlawanan, hingga membentuk sebuah senyuman samar dengan raut wajah berbinar.


“Kamu sedang apa?”


Tanya Jovian dengan posisi tubuh berbaring di atas sofa besar ruang tengah. Dimana dia tertidur di sana, saat kamarnya di tempati oleh dua lansia, yang tidak lain adalah orang tuanya sendiri.


“Baru mau treadmill. Om lagi apa? Tumben pagi-pagi telepon aku! Nggak pergi gym emang?” Kiana balik bertanya.


Bukannya menjawab. Jovian justru terus tersenyum saat hatinya bedebar semakin tak terkendali, hanya karena mendengar suara seorang gadis dalam sambungan teleponnya.


“Om?”


“Mau saya jemput?” Pria itu menawarkan diri.


“Jemput?” Kiana mengulangi ucapan calon suaminya. “Aku traedmill di rumah, … jadi nggak usah repot-repot jemput aku.” Gadis itu tertawa pelan.


“Gym bersama, bagaimana?” Jovian dengan idenya yang tibba-tiba terlintas.


Kiana diam kala mendengar ajakan dari Jovian.


“Kia?”


“Om kejauhan nggak?” Tanya Kiana, mengingat rumah dan apartemen milik Jovian sedikit memiliki jarak yang cukup banyak memakan waktu.


Pria itu menggelengkan kepalanya, seolah Kiana dapat melihat apa yang dia lakukan dari jarak yang sangat jauh.


“Saya ke sana sekarang! Bersiap-siaplah.”


Tanpa menunggu jawaban dari Kiana Jovian segera memutuskan antara sambungan telepon keduanya, bangkit dan segera berjalan ke arah kamar untuk membawa jaket dan kunci mobil miliknya.


“Baru jam enam, mau kemana?”


Leni langsung bertanya saat melihat Jovian sedikit terburu-buru. Bahkan pria itu mengenakan jaketnya sambil berjalan.


“Mau jemput Kiana. Aku ajak gym bareng, … sekalian sarapan bersama, kebetulan Mami masak. Sekalian aku mau memperkenalkan Kiana kepada Adline, Javier dan Axel.” Katanya dengan penuh semangat.


Leni yang sedang menata beberapa hidangan di atas meja makan langsung terdiam, menatap Jonathan yang juga sedang menatap ke arahnya.


“Aku pergi dulu, nanti kembali bersama Kiana.”


Setelah mengatakan itu Jovian beranjak pergi, keluar dari apartemen dengan langkah cepatnya, seolah takut tertinggal jika dia terlalu santai.


“Dia itu kenapa? Sikapnya sangat jauh berbeda. Sekarang dia selalu bersemangat dalam apapun, … apalagi menyangkut dengan Kiana?” Leni heran dengan perubahan sikap Jovian, yang mempunyai perubahan yang sangat jauh.


“Ya, … Namanya juga orang yang sedang jatuh cinta. Setidaknya keadaan Jovian sudah lebih baik, di bandingkan dua tahun belakangan.”


Jonathan menyahut, lalu dia kembali pada layar ponsel di dalam genggamannya, memantau para pekerjanya dari jarak jauh melalui sebuah aplikasi bebalas pesan, yang di kirimkan oleh orang kepercayaannya.


“Memang bagus, tapi aneh saja dia seperti itu. Dia itu bukan bujangan yang baru berusia dua puluh tahunan! Dia pria dewasa berumur tiga puluh tujuh tahun!” Leni kembali pada pekerjaannya.


Berkutik dengan bahan-bahan masakan juga perkakas dapur untuk menyiapkan sarapan anak, cucu dan suaminya.


Dan setelah menghabiskan waktu sekita 45 menit lamanya. Mobil Jovian melaju, memasuki sebuah pekarangan besar rumah milik kedua orang tua Kiana.


Seorang pria dengan setelah baju olahraga segera menoleh, menatap ke arah dimana mobil Jovian terparkir. Kening Danu mengkerut, dan segera mendekati Jovian yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


“Bukannya hari ini kamu izin untuk tidak masuk? Tidak apa-apa Kiana bisa berangkat kuliah sendirian.” Kata Danu. Dengan tatapan heran karena mendapati penampilan Jovian yang sangat berbeda pagi hari ini.


Namun, Jovian segera tersenyum.


“Saya mau jemput Kiana, Pak.”


Danu diam, dia kelihatan sedikit bingung. Lalu keduanya mengalihkan pandangan ke arah pintu rumah yang terbuka, saat mendengar suara langkah kakinya yang cukup kencang.


“Papa, aku mau gym bareng Om Jovian. Tidak apa-apa kan?” Gadis itu langsung bertanya.

__ADS_1


Dengan senyuman manisnya yang dia perlihatkan kepada dua pria yang berdiri berdekatan, di samping sebuah mobil berwarna hitam, yang dia ketahui milik calon suaminya.


Danu belum menjawab. Tapi justru pria itu menatap putri dan calon menantunya bergantian.


“Kamu jauh-jauh kesini hanya untuk menjemput Kiana untuk gym bersama?” Tanya Danu, yang langsung mendapat anggukan dari Jovian.


Seulas senyuman samar terbit di kedua sudut bibir Danu.


“Hanya gym, Pah.” Kiana sedikit merengek.


Danu mengulum senyum, lalu mengusap pundak putrinya.


“Baiklah, jangan lupa hari ini kamu ada kelas. Dan jangan lupakan skripsi kamu yang harus segera di siapkan agar lulus dengan nilai terbaik.” Dia berpesan.


“Untuk yang satu itu aku tidak akan lupa, Papa tenang saja!”


“Baiklah, hati-hati di jalan.” Kini Danu menatap Jovian, menepuk Pundak kokohnya, tersenyum dan segera masuk ke dalam rumah, yang mungkin saja Herlin sedang menunggunya setelah melakukan jalan santai bersama-sama.


Kiana menatap Jovian lekat-lekat. Begitupun sebaliknya, saat Danu sudah benar-benar masuk, dan hanya meninggalkan mereka berdua.


“Kita berangkat sekarang?” Jovian bertanya.


Kiana hanya mengngguk dengan senyum malu-malu. Ini aneh, bukannya mereka sudah sering bersama? Lalu kenapa rasa gugup selalu datang, dan hampir menguasai dirinya.


“Baiklah, ayo. Kita harus cepat agar bisa sarapan bersama, … sekalian saya kenalkan kamu kepada Javier, Adline dan keponakan saya, Axel.”


Dia berjalan ke arah sisi kiri mobilnya, lalu membukakan pintu mobil untuk Kiana. Sementara gadis itu berjalan mengikuti dari arah belakang.


“Hhheuh! Mungkin memang sebentar lagi jantung aku akan meledak, … nggak tau kenapa Kalau Om kaya gini aku deg-degan terus.” Katanya, dia mengungkapkan apa yang dia rasakan dengan jujur.


Jovian hanya tersenyum Ketika Kiana menatapke arahnya.


“Terimakasih.”


Jovian mengangguk, dan dengan segera menutup pintu mobil di sebelah Kiana, kemudian berjalan memutari mobil untuk menyusul masuk.


***


Sebuah ruangan besar yang terletak di lantai paling atas Gedung apartemen, di mana unit milik Jovian berada disana salah satunya. Suasana tidak seramai biasanya, dan itu membuar Kiana menatap ke arah Jovian, dengan senyuman Jovian yang tak pernah surut.


“Sepi amat, Om!”


“Kalau kita datang sangat pagi, maka tempat ini akan sangat ramai. Jadi sepertinya datang kesini sedikit lebih siang itu lebih bagus, hanya kita berdua, … dan kita bisa pacarana disini!” Balas Jovian dengan suara rendah dan menggoda miliknya.


“Om nakal!” Kiana menatap pria tinggi di hadapannya, lalu mencubit pinggang Jovian cukup kencang, sampai pria itu meringis.


“Saya hanya berkata jujur. Dan kamu harus tahu, saya bahagia mempunyai waktu bersama yang cukup banyak seperti hari ini contohnya.” Tukas Jovian.


Pipi Kiana merona.


Sementara Jovian berjalan ke arah sudut, membuka jaket dan meletakan beberapa barang bawaan di atas sebuah meja tempat penyimpanan.


Hal yang sama Kiana lakukan. Dia membuka jaket olahraganya, dan hanya menyisakan tan*top, yang gadis itu padukan dengan legging hitam panjang. Membuat Jovian mematung karena melikat penampilannya saat ini.


“Aku kesana dulu ya, Om.” Kiana menunjuk jejeran alat yang terletak di dekat sebuah kaca.


Yang menjadi alat olahraga favoritenya.


Jovian tidak menjawab, dia hanya diam menatap Kiana yang berjalan semakin menjauh dari dirinya. Niat awal yang ingin melatih masa otot di tubuhnya, tiba-tiba saja Jovian berubah pikiran. Dia berjalan mendekati Kiana, dan berdiri tepat di belakang tubuh gadis mungilnya.


Tubuhnya sedikit membungkuk, dengan kedua tangan yang dia tumbukan pada setiap sisi alat tersebut, mengungkung tubuh kecil Kiana, yang seketika tenggelam dan benar-benar tidak terlihat jika seseorang memperhatin dari arah belakang. Membuat pandangan Kiana menengadah, menatap wajah tampan dari jarak yang sangat dekat.


Sesuatu di bawah kaki Kiana terasa bergerak, membuat keduanya mulai melangkahkan kaki perlahan-lahan.


“Ehh, … Om angkat beban aja?” Kiana bertanya.


Jovian tersenyum.


Pria itu semakin menundukan kepala, dan meraih bibir Kiana, dan bermain-main disana dengan perasaan yang semakin berdebar-debar.


“Ini tempat umum!” Cicit Kiana saat ciuman itu terjeda, dengan posisi yang tidak berubah.

__ADS_1


“Hanya ada kita berdua.” Jovian membalas dengan berbisik.


Segumpal daging yang terkurung tulang rusuk terus berpacu, membuat nafas Jovian terdengar semakin menderu-deru.


“Ada cctv, tidak boleh seperti ini. Atau akan ada video skandal kita yang tersebar, …masalah foto saja belum selesai. Masa mau nambah lagi.”


“Saya mencurigai seseoeang, hanya saja saya tidak mempunyai bukti yang kuat, karena kamera cctvnya mati dan rusak.”


“Ya tetap saja, di tempat umum sebaiknya jangan.”


Jovian hanya tersenyum. Kali ini dia tidak bisa menahan dirinya. Entah kenapa pikirannya terasa kosong, dan ada sesuatu sinyal yang selalu memerintahkan Jovian untuk melakukan hal yang lebih jauh kepada Kiana.


“I’am sorry!” Katanya, lalu mendekatkan wajah, dan meraih bibir Kiana kembali.


“Saya mulai tidak bisa mengendalikan diri saya.” Ucap Jovian setelah melepaskan ciumannya.


Tangan Kiana meraih salah satu tombol, menekannya sampai alat yang sedang bergerak benar-benar berhenti. Gadis itu berbalik badan, sampai keduanya mampu menatap wajah satu sama lain.


“Kita samaan dong yah!” Kiana terkekeh, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


Jovian tersenyum, sorot mata yang terus bergerak-gerak, mengikuti pergerakan Kiana.


“Kamu tahu, Kiana? Saya tidak pernah merasakan hal segila ini. Meskipun saya sempat menjadi budak cinta dari Eva, tapi dia tidak pernah membuat saya seperti ini. Bersamamu seperti ada seseuatu yang memintaku agar terus melakukan lebih dan lebih lagi.”


Kiana mengangguk, dia mengangkat tangan, menyentuh rahang tegas Jovian, mengusap pipinya, berjinjit lalu meraup bibir Jovian.


Mereka langsung terhanyut, terbawa suasana perasaan masing-masing yang begitu besar. Kedua tangan Kiana bahkan sudah melingkar di bahu kekar Jovian, begitu juga dengan pria itu, tangannya mulai bergerak-gerak, kemudian melilit erat memeluk pinggang ramping milik Kiana.


Kiana mulai menurunkan telapak kakinya, sampai pautan bibir itu terlepas.


Jovian memejamkan mata, menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, berusaha menekan sebuah rasa yang memang sudah sangat sulit di kendalikan oleh keduanya.


“Kita harus pulang, bahaya kalau terus berduaan seperti sekarang, saya takut melakukan hal-hal yang tidak baik kepadamu.” Jovian mengusap pipi Kiana dengan sangat lemut.


Kiana tersenyum, dia meraih tangan Jovian yang masih menyentuh pipinya.


“Om mulai berbahaya buat aku.” Ucap Kiana.


Keduanya saling menatap.


“Karena memang cara kamu berpakaian, membuat saya semakin merasa tertantang.”


“Memangnya Om mau aku kaya gimana? Olahraga pakai hoodie dan celana jeans?” Kiana tertawa lagi. “Yang benar saja!” sambung gadis itu dengan suara tawa yang semakin kencang.


Jovian meraih tangan Kiana, membawa gadis itu mendekati barang-barang keduanya yang sempat mereka simpan. Namun, Kiana tertegun saat Jovian membawa jaketnya, lalu membantu dia untuk mengenakan jaket olahraga tersebut.


“Om? Sepertinya aku harus pulang dulu.” Kiana menatap Jovia yang sedang menutup resleting jaketnya.


“Heemm? Kenapa?”


“Masa aku ketemu calon Kakak ipar sama keponakan keadaannya begini?”


Jovian tidak langsung menjawab, dia mendekati pakaian yang sempat lepaskan, memakainya, dan kembali kepada Kiana.


“Tidak apa-apa, … kita tidak benar-benar olahraga. Jangan khawatir!”


“Tapi …”


“Tidak apa-apa, percayalah. Kamu tidak terlihat buruk sedikitpun.”


“Baiklah.”


Jawaban itu membuat Jovian segera tersenyum. Dia mengulurkan tangannya, meminta Kiana untuk segera mendekat.


Mereka berjalan keluar, dengan kedua tangan yang saling menggenggam tangan satu sama lain.


......................


Ayo dong ....


komen, sama likenya manaaaaa

__ADS_1


__ADS_2