
Salah seorang petugas ke amanan segera berlari, mendorong gerbang besar ke arah sudut sampai benar-benar terbua dengan lebar. Dan tampaklah mobil Pajero berwarna hitam pekat masuk, kemudian berhenti di antara mobil-mobil lain yang terparkir di garasi yang bisa di bilang cukup luas.
Seorang supir keluar, di susul dua pria gagah dengan setelan jas serba hitam. Siapa lagi jika bukan Danu dan calon menantunya, Jovian Alton.
Pria 37 tahun, yang memiliki darah campuran Indonesia-Belanda dari ke dua orang tuanya.
Mereka terlihat bercakap-cakap sambil terus melangkahkan kaki ke arah pintu utama. Bahkan raut wajah Danu terlihat begitu berbinar, sama halnya dengan Jovian yang terus mengangguk-anggukan kepala sambil terseyum lebar.
Sementara seorang gadis tampak mengintip dari arah jendela yang terletak di lantai 2 bangunan itu. Mengarahkan pandangan ke arah Jovian dengan senyuman penuh arti. Kiana kembali menutup tirai tipis jendela kamarnya, lalu beranjak pergi, berlari mendekati pintu kamarnya yang saat ini tertutup dengan rapat.
Kaki jenjang itu terus berlari, menuruni setiap anak tangga dengan sangat cepat, membuat Herlin seketika berteriak ketika merasa takut atas apa yang Kiana lakukan.
“Kamu ini kenapa?” Pekik Herlin dengan raut khawatir.
“Papa di mana, Ma?” Gadis itu bertanya, dengan senyuman lebar yang Kiana perlihatkan.
Herlin menghembuskan nafasnya kasar, menggelengkan kepada sembari menatap Kiana tajam, saat dia mengerti apa yang membuat putrinya berbuat demikian.
Berlari kencang dari lantai dua rumahnya, bahkan entah berapa anak tangga yang Kiana lewati agar gadis itu segera sampai di bagian bawah rumah.
“Kamu mencari Papa? Tumben sekali!” Kata Herlin.
Wanita itu menggerakan kedua alisnya naik-turun, berniat menggoda Kiana dengan pertanyaanya.
“Ya, aku kangen Papa. Ehehehe!” Kiana mengelak, dengan pipi yang terlihat merah merona.
“Kangen Papa atau Jovian?” Mata Herlin memicing.
Namun Kiana tidak menjawab, dia hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang terlihat sangat rapi.
“Di ruang kerjanya yah!?”
Tanpa menunggu jawaban Kiana segera melangkahkan kaki ke arah salah satu pintu ruangan yang gadis itu ketahui sebagai ruang kerja pribadi yahnya.
Namun, teriakan Herlin membuat Kiana berhenti.
“Ma!” Rengek Kiana.
“Jovian tidak ada disana. Mereka di belakang, … mungkin sedang duduk di tepi kolam ikan koi.” Jelas Herlin.
Kiana menoleh sekilas ke arah pintu penghubung ruang keluarga dan taman bagian belakang rumah. Dan sedetik kemudian gadis itu berlari cepat ke arah pintu yang terbuka lebar.
“Hhheuh, … anak itu!” Herlin menatapnya tidak percaya.
Suara riuh dedaunan yang tertiup angin menyapa pendengaran Kiana, bersahutan dengan suara gemericik air kolam, di selingi obrolan kedua pria berbeda usia, duduk di atas sebuah kursi kayu yang terletak berhadapan dengan sebuah kolam ikat berukuran cukup besar.
__ADS_1
“Mungkin saya harus segera mempersiapkan segalanya untuk acara pernikahan juga. Kiana lulus sekitar empat atau lima bulan lagi, dan sudah seharusnya kita bersiap-siap, … khususnya saya. Rangkaian acara, dekorasi, tema, juga tempat. Dan sepertinya Kiana harus ikut andil, karena ini pernikahan diajuga. Kiana pasti memiliki keinginan, entah itu tentang tema pernikahan yang dia mau, atau adat apa yang nanti kita akan pakai, … Betawi atau Sunda.” Kata Jovian panjang lebar.
Sementara Danu terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.
“Jika menurutmu harus begitu, maka saya hanya akan mendukung setiap keputusan yang kalian pilih.” Akhirnya Danu membuka suara.
“Baik.” Jovian mengangguk.
“Jika butuh bantuan katakan saja, jangan menolak karena merasa tidak enak hati kepada saya ataupun Mamanya Kiana. Ini juga pernikahan putri kami satu-satunya, dan tentunya saya ingin yang terbaik.” Danu menatap pria muda yang duduk tepat di sampingnya.
“Untuk itu, saya akan usahakan semampu saya. Anda pasti lebih mengerti untuk soal kewajiban seorang calon suami, kepada calon istrinya. Bukan menolak atau bersikap tidak sopan dan angkuh. Tapi untuk ini, … saya mau semuanya hasil jerih payah saya sendiri, pak!”
Danu membisu, menatap Jovian dengan perasaan kagum yang semakin besar.
“Eheum!!”
Suara itu membuat dua pria itu menoleh ke arah suara terdengar. Dan di sanalah Kiana, berdiri di ambang pintu dengan senyuman manis yang terus gadis itu perlihatkan.
“Kia?” Kata Danu.
Sementara Jovian hanya terdiam dan membalas senyuman Kiana.
“Kemarilah, temani Jovian. Papa mau menemui Mamamu terlebih dulu, ada beberapa hal yang harus Papa sampaikan.” Katanya, kemudian bangkit.
Dia terus berjalan mendekati kursi di mana Jovian berada, dan duduk tepat di samping pria itu.
“Bagaimana hari pertama ikut Papa meeting, bertemu beberapa rekan bisnis Papa yang dari luar negeri.” Kiana membuka obrolan.
Jovian masih diam dengan tatapan mata yang tertuju kepada gadis cantik yang duduk di sampingnya. Dia hanya memakai kaos rumahan yang terlihat begitu besar, di padukan dengan celana jeans di atas sepaha, membuat kaki jenjangnya terpampang dengan nyata.
Bahkan Kiana terlihat seperti tidak memakai celana jika dia sedang berdiri.
“Om?”
“Apa kamu selalu seperti ini?” Jovian berbisik.
Satu tangannya bergerak, kemudian mengusap kulit paha Kiana dengan jari-jari tangannya.
“Ada banyak laki-laki disini! Dan kamu masih berani berpakaian seperti sekarang!” Suara Jovian terdengar sangat rendah.
Sampai menghadirkan sedikit suasana menyeramkan, namun dapat membuat Kiana juga merasa tergoda di waktu yang bersamaan.
“Kan pakaian aku memang begini, jauh sebelum Om kerja sama Papa!” Kiana menjawab dengan senyuman yang dia perlihatkan.
Ekspresi wajah Jovian terlihat datar. Dia menatap wajah Kiana, dan kaki terbukanya bergantian.
__ADS_1
“Dulu nggak ada masalah.” Sambung gadis itu, seolah sedang menguji kesabaran Jovian.
Kiana tahu betul jika Jovian sedang merasa kesal, tapi raut wajah calon suaminya jelas terlihat begitu menggemaskan. Dan dia menyukainya, kala pria itu sedang menunjukan rasa cemburu.
“Dulu karena kamu bukan siapa-siapa selain gadis yang harus saya jaga.”
“Kalau sekarag?”
Kiana mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke arah Jovian.
“Kiana!?” Tegas Jovian.
“Iya, Om?” Sahut Kiana dengan rengekan manja.
Pria itu sudah terlihat sangat gemas, sementara Kiana tampak terus menggodanya dengan senyuman penuh arti.
“Permisi, minumnya.” Seorang asisten rumah datang. Membawa sebuah nampan, dengan dua gelas di atasnya.
Jovian dan Kiana mengarahkan pandang ke arah suara terdengar secara bersamaan.
Ipah mesimpuh di atas lantai, meletakan satu gelas berisikan kopi hitam panas di samping Jovian, sementara satu gelas lainnya Ipah letakan disamping Kiana.
Sebuah coklat panas yang mengepulkan uap panas, dan aroma coklat yang begitu pekat.
“Terimakasih, Mbak!” Ucap Kiana pada salah satu pegawai di rumahnya.
Perempuan itu mengangguk, kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Jovian dan Kiana kembali berdua.
Jovian masih belum bereaksi apapun. Sorot matanya terus ia tujukan kepada gadis yang berada duduk di sampinggnya.
“Aku nggak keluar Om. Lagian belum ada orang yang aku temuin selain orang rumah sama Om!” Kiana tertawa kencang, berusaha menutupi perasaan gugupnya.
“Lihat saja. Jika Pak Yanto datang, lalu melihatmu dalam keadaan sekarang. Saya gigit kamu!” Ancam Jovian, lalu meraih cangkir kopinya.
“Ngapain juga Pak Yanto kesini!” Balas Kiana, lalu meneguk coklat panasnya setelah meniup-niup minuman itu terlebih dahulu.
Jovian memutar bola matanya. Dengan satu tangan yang kembali bergerak, dan dia letakan di atas paha Kiana, lalu kemudian mengusapnya dengan sangat lembut.
Kedua sudut bibir Jovian tertarik, dan memperlihatkan senyuman tipis.
......................
...Tangannya mohon di kondisikan, Om!!...
Hey, jangan lupa like, komen, vote sama hadiah yah. Kadang-kadang kalo nggak di ingetin kalian suka lupa🤭
__ADS_1