
Danu mempertajam pendengarannya, ketika suara gerbang rumah bergerak samar-samar terdengar. Pria paruh baya yang sedang menikmati suasana sore hari di taman belakang kediamannya pun meletakan iPad yang sedari tadi ada di dalam genggamannya di atas meja, bangkit kemudian berjalan memasuki rumah, meninggalkan beberapa pekerjaan yang sedang Danu pantau melalui pesan singkat yang Denis kirimkan untuknya.
Suasana rumah sedikit berbeda. Para asisten bahkan terlihat begitu sibuk setelah Herlin meminta mereka menyiapkan banyak hal untuk menyambut kedatangan mertua dari putrinya.
"Yang sudah siap nanti tolong di tata ke meja makan yah!" Suara Herlin terdengar begitu jelas dari arah dapur.
Setelah itu Herlin pergi meninggalkan dapur, bersama orang-orang yang sedang disibukan membuat berbagai macam hidangan untuk menyambut kedatangan besannya, yang datang jauh dari Pangalengan sana.
"Eh, Papa?" Wanita itu berseru ketika berpapasan dengan Danu.
Dia tersenyum.
"Sepertinya Jovian sudah sampai, gerbang rumah terdengar di buka tadi!" Jelas Danu.
"Ya, Mama juga dengar." Herlin mengangguk-anggukan kepalanya.
Mereka berdua berjalan beriringan, mendekati pintu utama rumah yang tertutup sangat rapat, lalu meraih gagang pintu sampai benda itu benar-benar terbuka lebar. Dan disanalah Jovian, berdiri di belakang bagasi menurunkan beberapa barang bawaan Leni juga Jonathan, di bantu Yanto dan beberapa orang pekerja.
"Ya ampun!" Herlin segera bereaksi saat pandanganya dengan Leni saling beradu.
"Mama Kia? Apakabar?" Leni berjalan pelan dan sedikit tertatih, lalu saling meraih tangan yang terulur, memeluk dan merangkul satu sama lain sambil mencium pipi kiri dan kanan.
"Baik. Amih sendiri apa kabar?"
Herlin mendorong bahu besannya dengan pelan, membuat mereka saling memandang, dan tersenyum satu sama lain. Hal yang sama Danu lakukan, dia menyambut ayah dari menantunya, berjabat tangan dan saling memeluk.
"Mari masuk, kita lanjutkan berbincang di dalam." Ajak Danu.
Dia menggiring Jonathan masuk ke dalam lebih dulu, di susul Herlin dan Leni, kemudian Jovian yang langsung merangkul pundak istrinya, dan membawa perempuan itu masuk.
"Pak Yanto, tolong yah barangnya di bawa ke teras saja." Pinta Jovian.
"Siap, Pak." Yanto menjawab.
"Kamu lelah, Baby?" Jovian mendekatkan wajah pada daun telinga istrinya, lalu kemudian mendaratkan kecupan hangat.
"Hemmm, … aku boleh nggak sih langsung masuk kamar? Nggak usah nemenin Mami sama Papi ngobrol dulu?" Perempuan itu segera bertanya, ketika merasakan dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Pandangan Kiana menengadah, menatap wajah pria yang saat ini sedang merangkulnya.
Jovian tersenyum, lalu kembali memberikan kecupan pada kening sang istri, dengan kaki yang terus melangkah mengikuti kemana para orang tua berjalan sambil berbincang-bincang.
__ADS_1
Danu mempersilahkan Jonathan duduk, begitu juga Herlin kepada Leni, sampai keempat orang tua itu berkumpul di ruang tengah, dengan beberapa hidangan pembuka yang sudah tersedia di atas meja bundar berbahan kaca yang terlihat mengkilap.
"Aku boleh pamit ke atas nggak?" Tanya Kiana kepada Leni, Herlin, Danu dan Jonathan.
"Kenapa? Tidak mau minum dulu?" Herlin seketika bereaksi.
Apalagi saa melihat raut wajah kelelahan putrinya yang begitu jelas terlihat.
"Kamu baik-baik saja?" Wanita itu segera mendekat, lalu menyentuh kening sang putri dengan punggung tangannya.
"Aku baik-baik saja, cuma lelah sama pusing sedikit." Kiana tersenyum kepada Herlin, berusaha membuat perasaan wanita di hadapannya sedikit lebih baik dari khawatir yang menyerang.
"Baiklah, Jovian antar Kiana ke atas dulu. Nanti kembali, … mungkin setelah membersihkan diri." Pamit Jovian juga.
"Kiana kelelahan!" Leni menyahut.
Dia menatap wajah menantu juga besannya dengan perasaan menyesal.
"Dia anak yang kuat. Istirahat sebentar pasti akan cepat pulih." Danu kepada orang tua Jovian.
Dia mengerti betul jika Leni juga Jonathan tengah merasa tidak enak hati. Karena Kiana harus mengalami kelelahan dan itu di sebabkan oleh perjalan yang cukup memakan waktu dan tenaga karena harus menjemput mereka.
Setelah itu Jovian menggiring Kiana naik ke atas, memegangi bahu sang istri yang mulai sedikit limbung. Sementara Danu dan Helin mulai membuka penutup tempat dimana hidangan tersedia, agar dapat segera dicicipi oleh kedua besannya.
Jovian merapatkan pintu kamarnya.
"Mau cuci tangan, kaki, terus ganti pakaian." Pinta Kiana dengan suara pelan.
"Baiklah. Memang seharusnya kamu jangan mandi dulu! Kamu terlihat tidak baik-baik saja, Baby!"
Pria itu membawa Kiana masuk ke dalam kamar mandi. Membantunya menanggalkan setiap pakaian yang masih melekat, lalu kemudian membiarkannya melakukan apa yang Kiana minta tadi.
Dia membasuh tangan menggunakan sabun, kemudian beralih pada wajah, dan terakhir Kiana berjalan mendekati shower, untuk membersihkan kakinya disana.
Dan Jovian hanya berdiri di ambang pintu, menatap Kiana dengan ekspresi wajah khawatir, karena memang perempuan itu terlihat begitu lemas dengan wajah yang pucat.
Kiana meraih handuk, kemudian membuka paka*an da*am, dan membalut handuk itu untuk menutupi tubuh polosnya.
"Kamu sakit, Baby?"
"Tidak sayang, hanya sedikit pusing." Sahut Kiana.
__ADS_1
Tangan Jovian bergerak terukur, lalu meraih Kiana dan membawanya masuk ke dalam kamar, dan duduk di tepi ranjang.
"Mau pakai baju apa?"
"Nanti saja aku ambil, kamu kebawah aja gih temenein Mami sama Papi!" Ujar Kiana.
Suaranya semakin melemas.
"Aku ambilkan celana legging sama kaos yah! Setelah itu aku kebawa sebentar untuk membawa minum dan Paracetamol."
"Tidak …"
"Menurutlah, jangan banyak protes. Kali ini kamu benar-benar kelihatan sangat buruk!" Sergah Jovian, yang seketika membuat Kiana diam.
Jovian membuka salah satu pintu lemari pakaian, lalu meraih satu pakaian di dalam satu tempat yang sudah di khususkan untuk perempuan itu kenakan di rumah. Namun, iba-tiba saja kedua sudut bibirnya tertarik membuat senyuman samar.
"Ya, sebulan pernikahan saja aku sudah tau semua yang bersangkutan dengan dia." Hatinya berbicara, dengan dada yang terasa berdesir hebat.
Jovian membawa satu kaos rumahan dan celana legging pendek, tak lupa dengan sepasang pa*aian da*am untuk kemudian dia serahkan kepada Kiana.
"Terimakasih sayang!" Kiana tersenyum.
"Bisa pakai sendiri?"
Kiana menjawab dengan anggukan pelan.
"Baiklah, aku harus membawa air putih dan obat dulu. Baik-baik disini, aku akan segera kembali." Jovian menyentuh pipi Kiana, lalu mengusapnya lembut.
Cup!!
"Aku tidak akan lama, oke?" Bisik Jovian setelah mencium bibir Kiana.
"Ah kamu manis sekali!" Cicit Kiana dengan pipi yang tiba-tiba saja tampak merona.
"Aku mencintaimu." Jovian tersenyum.
Dan setelah itu dia beranjak pergi keluar dari kamar, tak lupa menutup pintu ruangan itu, meninggalakn Kiana yang hendak mengenakan pakaiannya.
......................
Guys, kalau ada yang typo boleh di komen yah, nanti Othor revisi ☺️
__ADS_1
Jangan lupa seperti biasa, sama makasih dukungan yang selalu kalian berikan 🥲
Kalian luar biasa, cuyung kalian banyak-banyak 🥺♥️