
Kaos hitam polos lengan pendek yang begitu pas di tubuhnya, begitu kontras dengan kulit putih pria itu, sehingga terlihat begitu cocok. Belum lagi dengan joger panjang berwarna senada, membuat Jovian selalu memancarkan pesonanya bahkan ketika sedang berada di rumah.
Dia keluar dari dalam kamar dengan keadaan rambut setengah basah, wajah segar dan wangi parfum yang menyebar kesegala arah.
Tidak heran jika Kiana selalu menempel, selain tampan Jovian juga selalu wangi.
Pria itu menutup pintu kamarnya kembali seperti semula, yang langsung dikejutkan oleh kedatangan Herlin, dengan kedua tangan yang penuh oleh barang bawaan.
"Mama?"
Herlin hanya tersenyum, wanita itu terus berjalan mendekati meja makan dan meletakan barang bawaannya di atas sana.
"Kiana sedang tidur, ya?" Herlin berbalik badan, kemudian menerima uluran tangan Jovian ketika sang menantu hendak mencium punggung tangannya.
"Seperti biasa, rumah akan terasa sepi kalau anak itu sedang tidak sadarkan diri," ujar Herlin sambil tertawa.
Membuat senyum lebar di bibir Jovian terlihat. Dah di saat yang bersamaan dua asisten rumah datang menghampiri, sambil tersenyum setelah menyapa Herlin dan juga Jovian.
"Lima belas menit yang lalu selesai mandi, setelah itu minta sedikit di pijat. Jovian izin sebentar buat bersih-bersih padahal, eh ternyata Kia sudah tidur saja," jelasnya pada sang ibu mertua.
Herlin mengangguk, lalu dia beralih pada kedua asisten yang berdiri tepat di sampingnya.
"Bibi, sama Ipah? Tolong di tata di piring yah!" Herlin menunjuk kantong-kantong yang di bawanya tadi.
"Baik, Bu." Jawab mereka bersamaan.
"Ibu beli banyak, semuanya di bagi dua aja yah! Satu simpan di dapur untuk kalian. Satu lagi simpan di meja makan, oke?" Herlin tersenyum ramah seperti biasa.
Dua asisten itu menjawab permintaan Herlin dengan anggukan, sebelum akhirnya kembali ke arah dapur dengan beberapa kantong berisikan berbagai jenis makanan yang sempat Herlin beli sebagai buah tangan untuk keluarga kecil putrinya saat hendak berkunjung.
"Papa tidak ikut?" Jovian menatap ibu mertuanya, seraya menarik ujung sandaran kursi meja makan, dan segera mendudukan diri disana.
Dan hal yang sama Herlin lakukan, sehingga mereka kini duduk saling berhadapan.
"Nanti nyusul, barusan ada undangan mendadak."
"Undangan apa?"
"Biasa, makan malam hanya untuk mempererat hubungan bisnis. Tidak tahulah, kenapa bapak-bapak itu banyak sekali pekerjaanya. Ke Kalimantan sudah jadwal rutin yang tidak bisa ditinggal, lalu disini juga masih tetap tidak bisa diam di rumah."
Jovian menatap wajah ibu dari istrinya dalam diam.
Apakah mungkin kesibukan itu akan dia alami? Dan membuat Kiana mengomel karena kesal setiap kali ditinggal? Entahlah.
"Coba kalian tinggal di rumah kami. Mungkin Mama tidak akan kesepian, Jo!"
Mendengar itu Jovian memperlihatkan senyum samar.
"Kalau begitu kasian Kiana, Mam. Nanti dia akan mendapatkan gunjingan," katanya sambil tertawa.
Herlin mengerutkan dahi. Wanita itu sedikit bingung dengan ucapan menantunya.
__ADS_1
"Gunjingan dari siapa? Teman-teman Kiana maksudnya?"
Jovian menundukan kepala, dan kembali tersenyum sampai membuat Herlin semakin terheran-heran.
"Bayangkan saja, Mam. Akan sebanyak apa omongan tidak pantas Kiana terima? Sudah menikah dengan pria yang jauh lebih tua, lalu saya hidup di lingkungan kalian. Orang-orang yang kita kenal pasti tahu bagaimanapun keadaan kita, tapi orang lain? Mereka akan menyangka Jovian benalu di keluarga istrinya," ungkap Jovian dengan ingatan yang kembali berputar pada beberapa tahun silam, dimana dirinya masih menjadi suami sah dari seorang anak pengusaha tanah yang cukup terkenal.
Herlin menghela nafas, lalu merapatkan punggung pada sandaran kursi.
Apa yang Jovian katakan memang ada benarnya. Semua orang akan berspekulasi bahwa Jovian memanfaatkan cinta dari Kiana untuk menumpang hidup. Keluarga Jovian yang tidak terlaku mencolok, membuat semua orang akan menerka-nerka, terlebih Jovian yang awalnya hanya seorang ajudan pribadi. Sengaja Danu datangkan hanya untuk menjaga putri mereka yang selalu berulah.
"Ah kau benar, Jo! Orang lain akan berbicara yang tidak-tidak. Bukan untuk Kiana saja, tapi kepada kamu juga, kan?"
Jovian mengangguk.
"Jovian tidak apa-apa jika harus menerima hal seperti itu kembali. Jangankan oleh orang lain, dulu sama mertua sendiri aja kuat. Selalu di cap benalu hanya karena putri mereka menikah dengan seorang Jovian yang hanya anak dari petani teh dan sayur. Tapi kalau itu terjadi kepada Kia, gunjingan itu sampai membuat dia menangis, … Jovian pasti tidak akan bisa menerimanya."
Sorot mata Herlin tertuju pada menantunya, menatap pria itu lekat-lekat dengan rasa haru.
Ya, mungkin ini yang dimaksud suaminya. Dia ingin menikahkan putri mereka dengan sosok pria yang lebih dewasa. Sikap Kiana yang sedikit keras, tentu tidak akan luluh dengan pria yang belum matang dari segi pemikiran. Beruntung Jovian hadir, sehingga pria itu mampu membuat Kiana perlahan-lahan berubah.
"Setidaknya itu yang Jovian lakukan, untuk mengantisipasi semua hal buruk."
Herlin mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kan bener, ada Mama!" Kiana menyembulkan kepala dari balik pintu kamarnya dengan wajah sembab khas bangun tidur.
Dua orang yang sedang asik berbincang itu menoleh ke arah suara terdengar.
Kiana menarik pintunya sampai terbuka lebar, lalu berjalan keluar dengan langkah pelan dan penuh hati-hati. Bahkan satu tangannya terus memegangi perut, seperti sedang menahan bobot dua bayi di dalamnya yang terus bertambah.
Jovian bangkit saat jarak Kiana semakin dekat, kemudian menggeser salah satu kursi kosong di samping, dan membiarkan ibu hamil itu duduk dengan nyaman.
"Terimakasih, Papa!" Ucap Kiana sambil menengadahkan pandangan.
Lalu dia beralih menatap wanita yang melahirkannya.
"Mama!" Kiana merentangkan kedua tangannya, meminta Herlin untuk datang dan memberikan sebuah pelukan penuh kehangatan.
"Kemarilah, aku sudah tidak sanggup berdiri lama-lama, tahu sendiri anak Mama ini lagi bawa bayi dua di dalam perutnya, … berat tahu!"
Herlin tertawa seraya bangkit dari duduknya, kemudian dia mendekati Kiana, dan memeluk perempuan itu tak lupa menghujani wajah cantiknya dengan penuh kecupan.
"Ah anak Mama, … sudah besar. Sudah mau punya anak!"
"Hu'um, dua sekaligus lagi!" Sambung Kiana.
Herlin mengangguk.
Dia mendorong pundak Kiana sampai pandangan mereka kembali bertemu.
"Sehat-sehat ya, nak. Makan-makan yang bergizi, banyak istirahat juga karena sebentar lagi kamu harus mempersiapkan diri untuk melahirkan mereka," Herlin membingkai wajah Kiana, yang saat ini mulai terlihat adanya perubahan, terutama di bagian pipi.
__ADS_1
Kiana mengangguk.
Lalu dia mengedarkan pandangan, mencari seorang pria yang juga sangat dirinya rindukan keberadaannya.
"Papa belum datang, ada perlu dulu sebentar. Nanti kalau sudah selesai baru kesini," jelas Herlin yang mengerti gelagat putrinya.
Kiana mengangguk lagi.
Herli menarik diri, dan kembali mendekati kursi semula yang wanita itu tempati.
Dan tidak lama setelah itu Ipah datang, membawa nampan berisikan beberapa piring jajanan tradisional yang Herlin beli, di susul rekannya dengan membawa hal yang sama.
"Tadi Mama mampir ke Pasmod. Beli jajanan kesukaan kamu, sama buah-buahan segar juga karena kamu harus makan buah yang banyak."
"Serabi solo?" Wajah Kiana berbinar-binar.
Ketika melihat sebuah makanan yang dibungkus daun pisang.
"Banyak. Serabi solo, kue lumpur, pukis, pastel sama lumpia," jelas Herlin seraya membantu asisten rumah menata piring-piring berisikan makanan itu di atas meja makan.
"Puas-puasin dulu, di Belanda tidak ada makanan seperti ini!"
"Nggak akan lama kok, Mam!" Perempuan itu terkekeh dengan tingkah ibunya.
Tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, sehingga wanita itu membawa jajanan dalam jumlah yang tidak sedikit, hanya untuk membuat dirinya puas sebelum keberangkatan ke Belanda sana.
Jovian menatap istrinya yang saat ini seolah tidak percaya, saat meja makannya disulap seperti halnya pasar yang menjajakan banyak jajanan jaman dulu.
"Non mau buah? Kalau mau saya siapin sekarang?" Ipah bertanya.
Namun, Kiana segera menggelengkan kepala.
"Bi, ambil piring kecil yah. Terus tolong bawakan Gunting buat potong lumpianya juga!" Kiana dengan penuh semangat.
"Ada lagi?"
"Tidak ada, nikmatilah makanan kalian setelah membawakan apa yang Kia minta, selebihnya biar saya saja," tukas Jovian yang segera mendapat anggukan dari keduanya.
"Sayang? Kamu tahu tidak jajanan seperti ini?" Perempuan itu menatap suaminya dengan senyuman yang tidak pernah surut.
Jovian tidak langsung menjawab, dia justru berjalan mendekati showcase dan membawa beberapa botol air kemasan berukuran sedang.
"Aku lahir tujuh belas tahun lebih dulu, Baby!" Katanya, seraya meletakan botol minuman itu di atas meja makan. Masing-masing satu di hadapan istri juga mertuanya.
Sementara Herlin tertawa kencang hanya karena mendengar jawaban singkat dari menantunya.
"Dasar konyol!" Kata Herlin.
Kiana diam, dengan wajah bersemu merah karena menahan malu.
......................
__ADS_1
Ayo jangan lupa like, sama komennya. Vote, kopi sama mawar juga di kencengin lagi biar makin semangaddd ini~