Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Jovian dan dunianya


__ADS_3

“Kiana tidak ikut?”


Lantas Leni segera bertanya, ketika Jovian keluar dari dalam mobilnya.


Postur tubuh tinggi besar, mengenakan kaos oversize berwarna putih, yang Jovian padukan dengan celana jeans berwarna hitam, yang terdapat sedikit sobekan di area lututnya, tak lupa menyampirkan Hoodie di atas pundak, membuat siapapun tidak akan pernah menyangka jika usianya kini sudah menginjak 38 tahun.


“Setidaknya tanya dulu bagaimana kabar putramu. Lihat! Dia langsung memasang wajah juteknya bukan?” Kata Jonathan sambil terus menatap Jovian yang berjalan pelan menaiki tangga rumah panggung milik kedua orang tuanya.


Leni tersenyum lebar, sampai menampakan deretan giginya yang masih terlihat rapi.


“Usia kandungannya sudah semakin tua, Mam. Apalagi bayi yang Kia kandung itu dua. Jangankan jarak jauh, jarak dekat saja dia sudah sangat kesulitan dan membuatnya tidak nyaman.” Ujar Jovian.


Kemudian dia mengulurkan tangan, meraih tangan orang tuanya, dan mencium takzim bergantian.


“Yang penting semuanya sehat.” Sambung Jonathan.


Jovian mengangguk.


“Semuanya sehat. Si kembar, ibunya, Mama dan Papa juga.”


“Itu bagus. Tidak ada yang lebih baik dari pada kesehatan orang-orang yang kita cintai bukan?” Leni mengusap pundak kokoh putra bungsunya.


Pria itu tersenyum. Suasana hatinya selalu membaik, apalagi ketika mengingat Kiana juga calon anak mereka, yang sebentar lagi akan segera lahir.


Mereka berjalan memasuki rumah, dan Jovian menjatuhkan tubuh di atas sofa, dengan rasa lelah yang begitu mendominasi di temani Jonathan, sementara Leni mendekati dispenser, dan mengisi gelas kosong dengan air putih hangat.


“Jam berapa kamu berangkat dari, Tangerang?”


Leni meletakkan gelas diatas meja, mendudukan diri di samping Jovian, seraya mengangkat pandangan, menatap jam yang menempel di dinding ruang tengah, dimana sudah menunjukan pukul 16.00 sore hari.


“Jam sepuluh lebih. Tadinya mau lebih pagi, … tapi harus membuat Kiana senang dulu, agar dia tidak sedih pas aku tinggal.”


“Oh ya?”


Jovian mengubah duduknya menjadi tegak, membawa gelas minumnya, lalu meneguk perlahan.


“Hum,” Pria itu mengangguk, lalu meletakan gelas air minumnya kembali di atas meja. “Pagi-pagi dia mau keliling Tangerang, sarapan bubur, lalu mampir ke minimarket untuk membeli kinder Joy dengan jumlah yang tidak sedikit.”


Leni dan Jonathan tersenyum mendengar itu. Mereka berdua tidak bisa membayangkan, bagaimana menggemaskannya sikap Kiana saat meminta sesuatu kepada putranya dengan rengekan yang selalu dia jadikan senjata paling ampuh.


“Uh Mami tidak bisa bayangkan, bagaimana wajah menggemaskan Kia saat merengek kepadamu.” Ucap Leni sambil tersenyum-senyum sendiri.


“Cukup Mami saja yang membayangkan, … Papi jangan!” Ujar Jovian, seraya menoleh kepada ayahnya.


Jonathan tampak bingung, dengan senyuman yang tiba-tiba surut dari kedua sudut bibirnya.


“Maksudnya?” Leni bereaksi.


“Iya, cukup Mami yang membayangkan wajah menggemaskan Kiana. Tapi jangan Papi, … aku aja bisa jatuh cinta setiap hari, jadi tidak baik kalau Papi ikut membayangkan juga. Kan berabe kalau ikut jatuh cinta!”


Ekspresi wajah Jonathan seketika berubah, dahinya mengkerut, sehingga alisnya hampir bertautan satu sama lain.


“Kau ini konyol!” Jonathan menoyor kepala putranya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


Membuat Jovian tertawa kencang.


“Aku serius Papi!”


“Memangnya apa yang kamu harapkan? Papi tidak mencintai Kiana? Dan bersikap buruk terhadap istrimu, begitu? Aneh sekali, dimana-mana seorang suami akan sangat ingin istrinya di cintai banyak orang, terutama keluarganya. Ini? Kamu malah meminta Papi untuk tidak menyukai Kiana?”


“Oh, kalau jatuh cinta dalam hal itu, … aku mengizinkan. Asal jangan yang lain.” Dia tertawa lagi.


Suasana hatinya terlihat sedang sangat bagus, sehingga Jovian masih mampu tertawa, meskipun lelah menerpa, karena menempuh perjalanan yang sangat jauh, dan memakan waktu yang tidak sebentar tanpa siapapun yang menemani.


Lalu kemudian Jovian bangkit.


“Hey mau kemana? Mau makan tidak? Mami sudah masak kalau mau Mami angetin dulu lauknya!” Leni menatap punggung Jovian yang berjalan semakin menjauh.


Langkahnya terhenti sebentar, kemudian menoleh.


“Nanti saja, aku mau tidur dulu sebentar. Nanti malam Mang Adang mau kesini untuk membicarakan beberapa hal.”


Katanya, dan kembali melenggang mendekati pintu kamarnya yang terbuka lebar, masuk ke dalam sana, lalu menutup pintunya rapat-rapat.


“Dia itu pria dewasa berusia 38 tahun!” Gumam Jonathan sambil menatap pintu kamar Jovian.


Raut wajahnya berubah, dan itu menandakan jika Jonathan sedang merasa sangat aneh dan heran dengan tingkah laku dari putra bungsunya.


Leni terkekeh.


“Namanya juga orang jatuh cinta. Jangankan merasa tua, dunia rame aja serasa milik berdua, … yang lain mah nggak keliatan.”


Leni menatap wajah suaminya lekat-lekat, lalu tersenyum dengan tatapan penuh arti.


“Tidak kenapa-kenapa. Hanya sedang wisata masa lalu saja, bagaimana Papi dulu!” Leni tampak menahan senyum.


Jonathan semakin terlihat bingung.


“Sepertinya Papi dan Jovian itu sebelas dua belas. Jadi jangan melihat tingkah anak kita dengan ekspresi aneh begitu! Toh Papi juga dulu tidak jauh sama tingkah Jovian sekarang, apalagi pas awal-awal nikah.”


Leni semakin tertawa kencang, lalu mencubit pinggang suaminya dengan perasaan gemas.


Wanita itu kemudian bangkit, berjalan menjauh dari ruang tengah, dan menghilang di antara pintu ke arah dapur rumah itu berada.


“Apa tidak terbalik?” Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sepertinya yang centil itu dia, bukan aku!”


***


“Hey Baby? Bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah makan?”


Dia menatap layar handphone yang di penuhi wajah cantik Kiana, dengan senyuman yang menghiasi wajah tampan yang malam hari itu terlihat segar. Bahkan Jovian sudah berganti pakaian, dengan rambut sedikit memanjang yang masih menitikkan air.


Kiana tertawa pelan.


“Pertanyaan kamu banyak sekali, aku sampai bingung harus menjawab yang mana dulu.” Katanya.


“Terserah mau yang mana saja.”

__ADS_1


“Kita baik-baik saja, Papa. Tadi baru saja selesai makan Bakmi yang Ipah pesankan. Kamu bagaimana? Sampai jam berapa? Sudah makan apa belum?”


Kini Jovian yang tertawa. Suaranya terdengar cukup kencang, dengan kepala yang mendongak ke arah belakang, lalu setelahnya kembali mengadakan wajah pada kamera, sehingga Kiana dapat melihat wajah tampan suaminya yang memerah.


“Dih ketawa.”


“Kamu juga membuat aku bingung, pertanyaan mana yang harus aku jawab lebih dulu.” Tawa Jovian semakin kencang terdengar.


“Ya kalau bingung nggak usah di jawab, matiin aja sambungannya, selesai.”


Kiana mendelik.


“Duh, jangan marah. Aku sampai tadi jam empat sore, sekarang sedang menunggu Mang Adang, mungkin makan malamnya nanti bersama-sama sambil bahas soal kebun.”


Kiana mengangguk-anggukan kepala. Lalu dia terlihat mengubah posisi duduknya menjadi setengah berbaring.


“Kalau kamu tidak ada, mereka tidak mau bergerak tahu! Padahal malam-malam begini biasanya aktif. Mungkin tahu Papa nya lagi nggak ada, jadi mereka memilih istirahat saja.”


Mendengar itu, Jovian tiba-tiba merasa sangat merindukan Kiana. Apalagi saat dia memperlihatkan ekspresi wajah yang sedikit murung, dan Jovian tahu perasaan istrinya.


Tentu saja, bagaimana tidak. Setelah hamil, tidak ada sedikit waktu pun yang terbuang sia-sia oleh keduanya. Mereka selalu pergi bersama-sama, dan Kiana akan selalu ada disampingnya dalam situasi apapun. Namun, karena keadaan Kiana yang tidak memungkinkan, dengan sangat terpaksa dan berat hati Jovian meninggalkan Kiana di rumah mereka bersama dua asisten rumah.


“Sayang aku mau ke rumah Papa!” Ujar Kiana.


“Kamu kesepian?”


Kiana mengangguk.


“Kenapa tidak bilang tadi? Kan bisa aku yang antar.”


“Tadi kamu buru-buru, sayang. Jadi aku nggak enak mau ngomongnya, tapi tidak apa-apa. Aku bisa kirim chat sama Pak Yanto biar jemput aku.”


Jovian diam, menatap wajah istrinya yang saat ini sangat dia rindukan.


“Tidak apa-apa aku tutup dulu teleponnya? Nanti kalau kamu selesai boleh video call lagi.”


Jovian mengulum senyum, kemudian mengangguk tanda setuju.


“Baik, jaga dirimu baik-baik ya. Jangan gegabah, kalau ada apa-apa minta tolong siapapun yang ada disana. Tunggu aku pulang, aku janji tidak akan lama. Hanya menghitung hasil, memeriksakan pemasokan teh kita yang masuk pabrik, lalu memberikan gaji pada para buruh. Kamu tahu? Kata Mang Adang sekarang Pabrik membutuhkan suplayer teh tambahan, brand yang mereka keluarkan mulai di jual di seluruh Indonesia, tidak area Pangalengan dan Jawa barat saja.”


“Itu bagus, berarti usaha kamu ada kemajuan.”


“Hemmm, … aku rasa ini rezeki kamu, rezeki si kembar juga.”


Kiana tersenyum.


“Doakan Papa ya? Semoga sehat dan mampu mewujudkan apa yang kalian inginkan.”


“Iya, Papa.”


“Ya sudah, tutup teleponnya. Tunggu, biar aku yang hubungi Pak Yanto.”


“Iya.” Kiana pun menurut.

__ADS_1


Dia mengetuk layar ponselnya, lalu menggeser tombol berwarna merah, sehingga sambungan video keduanya terputus.


__ADS_2