
Denis kembali memacu kendaraan roda empatnya, membelah jalanan kota Tangerang pada hampir sore hari ini setelah menjelaskan banyakhal kepada Herlin dan kedua orang tua Jovian, untuk kemudian mendapatkan beberapa dokumen pribadi milik Kiana, yang langsung Herlin berikan secara langsung. Wanita itu terlihat merasa sangat lega, kala mendengar kabar jika perjalanan yang akan putrinya tempuh adalah hal terbaik dari yang paling baik.
Suara volume musik mengalun perlahan. Menemani perjalanan pulang salah satu pria yang kedudukannya hampir menyamai Danu. Siapa lagi jika bukan Denis, seorang pria yang mengabdi hampir puluhan tahun lamanya.
Denis menoleh ke arah sampin, menatap Jovian yang sedari tadi terus diam, mengarahkan pandangan lurus kedepan dimana kendaraan bermotor mengantri saat mobil yang mereka tumpangi mendekati area perempatan lampu merah.
"Setelah menuduhku, memaksa dan mengatakan banyak hal. Lalu sekarang kamu hanya bisa diam?" Denis memulai obrolan, ketika mobil yang ada di bawah kendalinya berhenti saat lampu yang tadinya berwarna kuning, berubah menjadi warna merah.
Jovian diam, sehingga membuat suasana menjadi sangat hening, dan menyisakan alunan musik yang sangat pelan. Entah kenapa dua sahabat itu menjadi terlihat canggung, padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu.
"Sudah aku peringatkan berkali-kali. Jatuh cintalah sebagaimana mestinya, tidak boleh terlalu diperbudak, apalagi kelihatan bodoh." Lanjut Denis.
Pria yang duduk di kursi mobil sebelah kiri bagian depan terus diam. Dengan tatapan tanpa ekspresi sana sekali.
Bayang-bayang wajah Kiana mendominasi pikirannya, membuat Jovian tak dapat memfokuskan perhatian pada Denis yang jelas-jelas saat ini ada bersamanya.
"Aku jadi bingung sendiri. Sebenarnya kamu ini mencintai Eva, atau Kiana? Karena jujur saja sikap kamu membingungkan." Denis mulai mencecar.
Jovian bergerak mengubah posisi duduknya, lalu menghela nafas cukup kencang. Setelah sekian lama berdiam diri.
"Setelah banyak orang yang menyudutkanku, lalu kamu masih mau melakukan hal yang sama?" Jovian menoleh sampai pandangan keduanya beradu.
"Bukan menyudutkan, aku hanya ingin tahu saja apa yang kamu pikirkan sampai berbuat seperti itu! Kau tahu, Jo? Dua hari yang lalu Kiana menghubungiku, dia menangis, dan meminta aku untuk meminjamkannya sejumlah uang, hanya untuk melakukan segala hal dan salah satunya hidup sendiri tanpa siapapun lagi. Lalu ada satu yang membuat aku semakin terkejut! Dia berniat menggadaikan cincin kawinnya, dan uang itu dia akan pakai beberapa bulan kedepan, sebelum akhirnya akan memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan kalia!" Ujar Denis.
Dia berhenti berbicara saat menatap lampu lalu lintas kembali berubah, dan antrian kendaraan di hadapan mobil Denis mulai bergerak, membuat pria itu segera menginjak pedal gas, yang seketika membuat kendaraan roda empatnya melaju dengan perlahan-lahan.
"Keadaannya sangat buruk saat aku melihat dia. Wajah sembab dan pucat, hidung sangat merah, dengan mata super bengkak. Dan dia seperti itu hanya menangisimu, pria yang …. Entah bagaimana aku harus menyebutnya! Pria yang belum bisa pergi dari masa lalunya kah?" Lanjut Denis.
"Oh ayolah!" Cicit Jovian.
__ADS_1
Dia mengalihkan pandangan ke arah samping, menatap jalanan kota dengan perasaan serba salah. Menyesal sudah pasti, sedih juga dia rasakan, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa terlebih dulu. Menyelesaikan perkara yang Eva buat serumit saat ini? Sementara dirinya sangat merindukan Kiana. Sosok wanita yang satu bulan belakangan ini selalu memenuhi hati dan pikirannya.
"Sebenarnya saat ini aku tidak mau membawamu. Tapi aku tidak tega melihat bagaimana terpuruknya kau, bahkan belum genap satu Minggu Kiana menjauh darimu."
"Jangan lakukan itu. Karena jika kau melakukannya aku akan menghalalkan segala cara!" Sergah Jovian.
Denis tersenyum miring.
"Kau seperti bukan sahabatku sekarang. Dimana ketegasanmu? Dimana sikap antisipasimu? Dan dimana pula jiwa detektifmu? Bahkan kau tidak menyadari scenario apa yang sedang Eva perankan." Denis menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pria itu benar-benar tidak percaya dengan sikap Jovian kali ini.
"Jika kamu masih merasa iba kepada Eva. Maka lanjutkan hubunganmu dengan wanita itu! Wanita yang sudah hampir membuatmu gila. Dan tinggalkan saja Kiana, meskipun hati kecilmu tahu dia adalah segala obat dari rasa sakit yang pernah kau alami. Aku tidak rela jika Kiana kau perlakukan seperti itu! Dia memang selalu membuatku pusing, kesal dan ingin marah karena kekonyolannya, … tapi jangan salah, dia sudah lebih dari seorang anak dari atasanku, dia sudah seperti adikku sendiri." Denis berkelakar. "Dan aku tidak akan merasa tidak enak hati karena kau sahabatku, aku akan tetap menghajarmu, jika benar-benar kau melampaui batas!" Nampaknya Denis sangat serius dengan ucapannya.
"Aku hanya ingin melihat keadaannya saja, Denis. Berhentilah bersikap seperti ayah dan ibuku!"
"Mereka bersikap sepertiku? Dan membela Kiana dengan sepenuh hati?"
"Bagus, mereka membela pihak yang benar."
"Astaga Tuhan! Dari pada kau terus menyudutkanku, sebaiknya nanti bantulah aku untuk mendalami kasus Eva ini. Aku curiga dia sudah ada firasat, makanya menutupi kesalahan sebelumnya dengan kesalahan yang baru."
Denis menoleh sekilas, menatap Jovian, lalu mengalihkan pandangannya kembali lurus ke depan.
"Maksudmu?"
"Ini soal seseorang yang menempelkan foto di papan pengumuman kampus. Pelakunya sudah aku dapatkan, tapi nyatanya dia hanya disuruh orang saja."
"Dan kau tidak bisa melacak orang itu?"
__ADS_1
Denis tertawa mengejek.
"Menurut pengakuan. Orang yang meminta dia untuk melakukan itu membuat satu penyamaran. Jaket tebal, topi, masker dan kacamata hitam. Tapi aku curiga itu adalah Eva." Jovian terus membela diri.
Tentu saja, dia tidak terima saat Denis terus mengatakan jika kemampuannya terus menurun, meskipun pria itu mengatakannya secara tidak langsung. Tapi membuat harga dirinya sebagai mantan seorang ajudan pribadi, jatuh sejatuh jatuhnya.
"Dan kamu hanya diam, sambil mengira-ngira? Lalu apa aksimu setelah ini? Membiarkan semuanya semakin berlarut-larut? Dan timbul masalah-masalah baru?"
"Aku hanya tidak mau melakukan sesuatu tanpa satu barang bukti yang kuat, Denis. Kenapa kalian ini terus berpikir bahwa aku sedang melindungi Eva? Aku tidak melindunginya sama sekali, hanya saja jika bukti yang aku miliki cukup kuat, setidaknya dia tidak akan mengelak ataupun melakukan pembelaan. Belut itu licin kau tahu?"
"Ya aku tahu. Tapi menangkap belut juga tidak selamanya harus menggunakan tangan! Ada cara lain!"
Jovian menghela nafasnya.
"Baiklah, kalau begitu bantu aku menangkap belut itu. Jika aku hanya bisa menggunakan tangan, maka aku meminta bantuanmu untuk memasang perangkap."
Denis tertawa.
"Ah setelah menikah lagi kau malah semakin payah!"
Pria itu mengurangi kecepatan laju kendaraan yang sedang mereka tumpangi, lalu kemudian berbelok dan berhenti tepat di hadapan salah satu gerbang rumah yang tertutup rapat.
"Ayo buka!" Pinta Denis kepada sahabatnya.
Jovian mendengus kencang, memutar kedua bola matanya, membuka tali sabuk pengaman, lalu keluar untuk melakukan apa yang Denis perintahkan. Dia terlihat tidak suka, tapi raut wajah masam yang Jovian perlihatkan saat ini jelas membuat Denis tertawa terbahak-bahak.
"Kapan lagi aku bisa mengerjainya! Sedangkan hari-hari biasa dia selalu bersikap lebih galak." Gumam Denis dengan perasaan yang teramat bahagia.
......................
__ADS_1
Guys seperti biasa. Like, komen, dan dukungannya 🥳🥳