Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Kehangatan keluarga.


__ADS_3

Klek!!


Jovian membuka salah satu pintu kamar, menahannya menggunakan lengan, membiarkan Kiana masuk lebih dulu, kemudian disusul Jovian sampai pintu kamar itu tertutup dengan sendirinya.


"Ini kamar saya, tapi kamu boleh menempatinya selama kita ada disini." Jelas pria itu sembari meletakan tas yang sempat dia bawakan di dekat sebuah sofa berukuran sedang, yang terletak di sudut kamar tidur berukuran luas itu.


Kiana menatap pria itu tanpa bisa berkata-kata. Sementara Jovian tampak tersenyum saat menyadari Kiana yang saat ini sedang menatapnya.


"Masa aku pakai kamar, Om. Terus Om tidur dimana? Disini juga?" Dengan raut malu-malu Kiana bertanya demikian.


Jovian terdiam untuk beberapa detik, menatap gadis di hadapannya dengan perasaan gemas.


"Serius Om tidur disini sama aku?" Kiana bertanya lagi. "Aih tapi aku takut, … takut nggak bisa nahan diri kalo tidur sama …"


Jovian maju beberapa langkah, tangan kanannya meraih tengkuk Kiana, sedikit membungkuk lalu memangut bibir Kiana dengan perasaan yang entah bagaimana Jovian harus menyebutnya.


Kiana terpaku, dirinya sangat terkejut, sementara Jovian terus melakukan apa yang dia mau, seraya memejamkan mata untuk merasakan sesuatu yang mulai bergetar di dalam dadanya.


Kening mereka saling menempel, setelah Jovian melepaskan pautan bibirnya, menatap wajah Kiana dari jarak yang sangat dekat.


Pipi merah merona, dengan ekspresi bingung namun namun mempesona.


"Saya ingin. Hanya saja akan seriuh apa isi rumah, ketika mendapati sepasang manusia yang sudah tidur bersama, sementara menikah saja belum." Dia berbisik tepat di hadapan wajah Kiana.


Gadis itu sedikit memundurkan diri, menatap Jovian dengan debaran yang tentunya terus meningkat.


"Kenapa?" Jovian terkekeh.


"Jantung aku!" Dia meraba dadanya sendiri, dengan pandangan yang tidak teralihkan sama sekali. "Rasanya mau pecah, … aku juga cape kaya habis lari kenceng dengan jarak tempuh yang sangat jauh." Sambungnya lagi.


Kiana menoleh ke arah sofa, berjalan kesana dan mendudukan diri disana. Gadis itu berusaha menenangkan sesuatu yang mungkin benar-benar akan sangat sulit dikendalikan.


Jovian segera mendekat.


"Jangan pernah berusaha meredamnya. Karena semakin kamu berusaha menahannya, maka rasa itu akan terasa semakin gila."


Kiana menatap Jovian lekat-lekat. Wajahnya sudah memerah dengan nafas yang sudah terdengar menderu-deru.


"Terus aku harus apa? Aku tidak mungkin melakukan sesuatu hal yang sangat gila. Aku memang nakal, tapi aku masih punya malu." Jelasnya.


Jovian menggelengkan kepala, lalu merentangkan kedua tangannya.


"Kemarilah, … siapa tahu ini bisa meredam perasaanmu yang terus berkobar-kobar seperti Abi yang baru saja di siram bensin." Pria itu tersenyum.


Iris kecoklatan milik Kiana bergerak-gerak, menatap Jovian namun tidak memperlihatkan jika dirinya akan menuruti saran dari pria di hadapannya.


"Cepat!" Suaranya terdengar rendah.

__ADS_1


Kiana menggigit bibirnya, menahan senyuman, kemudian bangkit dan memeluk Jovian.


Matanya terpejam, menempelkan pipi di dada bidang sana, hingga debaran yang sama Kiana dengar, dan itu membuat dia mengangkat pandangan dan menatap Jovian yang saat ini juga sedang menundukan pandanganya.


"Aku nggak nyangka Om ada keturunan bule."


Jovian tertawa sedikit kencang.


"Saya kira kamu bukan mau mengucapkan itu!" Ujar Jovian sambil terus terkekeh karena merasa lucu dengan ucapan dan wajah begitu polos gadis di hadapannya.


"Memangnya Om mau aku bilang apa?" Kiana tersenyum.


"Yang lain mungkin."


"Ya apa?"


"I Love you, … misalnya."


Wajah Kiana semakin memerah. Dengan suara debaran yang terus meningkat, membuat Jovian dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


"Aku sering mengatakan itu. Tapi Om yang nggak pernah bilang, bukan karena gengsi tapi aku tahu alasannya apa sampai Om belum mengatakan itu."


Jovian diam mendengarkan.


"Om curang tahu."


Kiana langsung diam.


"Bukankah itu yang mau kamu dengan dari saya?"


Kiana masih diam. Dia berusaha meyakinkan jika apa yang Jovian katakan memang benar adanya, bukan hanya ingin membalas apa yang dia lakukan semata.


"Memang. Tapi aku mau kata-kata itu tulus dari hati Om, apa yang Om juga rasain ke aku, … bukan bilang karena merasa harus membalas setiap ungkapan yang aku ucapkan."


Mendengar itu Jovian tersenyum.


"I love you, Jasmine Kiana Danuarta. Ini saya katakan dari lubuk hati saya yang paling dalam. Bukan karena merasa harus melakukan ini, apalagi karena paksaan, saya memang sudah tertarik kepadamu. Rubah kecil yang sangat menyebalkan, … namun cantik."


Ucapan itu mampu membuat Kiana bungkam seribu bahasa. Dia hanya terus menatap wajah tampan pria di hadapannya tanpa merasa puas sama sekali.


"Kamu senang? Saya sudah mulai sadar dan memilih untuk melangkah dari masa lalu saya?"


Gadis itu tak bisa berkata-kata.


"Jadi, … ayo menikah dan kita ciptakan keluarga kecil yang mempunyai kehangatan dan penuh cinta kasih di dalamnya."


Kiana mengangguk.

__ADS_1


"Dan aku akan melengkapi keluarga hangat itu dengan anak-anak yang sangat menggemaskan seperti aku." Entah bagaimana cara Kiana berpikir, tapi dia mampu mengatakan hal itu. Yang membuat Jovian tidak menyangka sama sekali.


Tangan Jovian menyelinap di pinggang Kiana, hendak kembali meraih bibir Kiana, tapi panggilan dan ketukan di pintu membuat Jovian juga gadis itu melihat ke arah suara terdengar.


"Bagaimana, Jo? Kiana bisa tinggal di kamarmu untuk sementara waktu? Apa dia mau?" Suara Leni terdengar di luar ruangan sana.


Jovian menatap Kiana, kemudian dia melepaskannya begitu saja, dengan seulas senyum terlihat di kedua sudut bibir.


"Saya hampir lupa jika kita sedang berada dimana sekarang." Pria itu berbisik.


Kiana mengangguk.


"Iya, Mam."


Jovian berjalan ke arah pintu kamarnya yang tertutup, di susul Kiana di belakangnya.


"Sebenarnya jika aku harus menempati kamar tamu juga tidak apa-apa." Kiana berbicara ketika mereka keluar dari dalam kamar milik Jovian.


Dia berusaha menutupi kegugupannya, setelah terjadi sesuatu di dalam sana dengan waktu yang cukup singkat.


"Tidak apa. Mami yang meminta Jovian meminjamkan kamarnya, karena hanya kamar dia dan kamar milik Mami yang memiliki kamar mandi dan toilet di dalamnya."


Kiana menatap Jovian.


"Hemm, … pakai saja, kalau ada apa-apa nanti boleh panggil saya, atau Mami dan Papi."


"Terimakasih." Katanya sambil tersenyum.


"Ya sudah. Ayo kita makan bersama, sudah hampir sore, … tapi kita baru mau makan siang."


Leni pergi lebih dulu, berjalan mendekati dimana ruang makan di dalam ruang itu berada. Sementara Kiana dan Jovian berjalan santai di belakangnya, terus bersama seolah tengah memperlihatkan mereka memang benar-benar memiliki kedekatan yang sudah terjalin erat.


Dan setelah Kiana sampai di ruangan itu. Dia melihat Eva yang sedang membantu Leni menatap setiap hidangan di atas meja makan.


"Kenapa aku merasa seperti jadi istri muda begini." Hati Kiana berbicara.


Pandangannya sedikit terangkat, menatap Jovian dengan rasa canggung yang kembali menguasai.


"Tidak apa-apa. Anggap saja dia orang lain, dan jangan ingat jika dia mantan istri saya." Kata Jovian pelan.


"Jujur yah! Aku merasa seperti istri muda yang sedang Om perkenalkan kepada mereka." Balas Kiana tak kalah pelannya.


"Jangan pikirkan itu. Mengerti?"


Kiana mengangguk.


Jovian mengulum senyum, menarik salah satu kursi untuk Kiana, lalu dia duduk tepat di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2