Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Bermalam.


__ADS_3

Mereka berdua masuk kedalam apartemen dengan suasana langit yang semakin redup. 


Jovian berjalan lebih dulu, menyalakan beberapa lampu ruangan, kemudian masuk ke dalam kamar, dan melakukan hal yang sama. Menyalakan lampu dan menutup tirai dan gorden tebal di ruangan itu.


"Baby?" Pria itu menoleh, melihat Kiana yang berada tepat di belakang tubuhnya.


"Hemmm?"


"Kamu tunggu sebentar bisa? Aku mau mandi dulu. Setelah mandi baru kita pulang lagi, oke?" Tangannya terulur, yang kemudian menyentuh pipi Kiana, mengusapnya dengan lembut.


Kiana tersenyum, dia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Mana kopernya? Biar aku bantuin masuk-masukin baju kamu." Ucap Kiana.


Gadis yang masih berbalut kemeja putih itu segera mendekati sofa, sedikit menyingkap gorden, lalu duduk disana menyaksikan gedung-gedung pencakar langit, dengan lampu-lampu yang sudah menyapa. Bahkan Kiana dapat melihat kepadatan lalu lintas di bawahnya dari tempat duduknya saat ini.


"Nanti saja. Pakaiannya harus di pilih dulu, sekarang tunggu ya, aku tidak akan lama." Kata Jovian.


Setelah mendapat anggukan dari Kiana, Jovian segera berjalan memasuki pintu kamar mandi, menutupnya rapat-rapat, dan tak lupa memutar kunci.


Jovian mendekati keranjang pakaian kotor. Mulai membuka kancing kemejanya satu-persatu, dan melepaskannya saat semua kancing sudah terbuka. Tak lupa juga dia membuka pengait celana, lalu melepaskan dengan segera, sampai keadaan Jovian saat ini benar-benar polos.


Kakinya melangkah, mendekati shower lalu membuka kran air, dan mengalirlah air dengan temperatur hangat dari atas sana. Air-air kecil itu saling berjatuhan, bak seperti hujan yang turun begitu deras, mengalir di setiap lekuk tubuh Jovian.


Shampo mulai Jovian bubuhkan, beserta sabun cair yang pria itu aplikasikan ke seluruh badan, membuat ruangan itu seketika berbau mint yang sangat segar.


Setelah selesai. Jovian segera menyambar handuk yang memang selalu tersedia disana, berjalan mendekati wastafel, untuk membersihkan gigi, lalu membasuh wajah dengan sabun khusus.


Dan setelah hampir menghabiskan waktu 20 menit lamanya. Jovian segera memutar kunci, dan membuka pintu kamar mandinya dengan segera. Pandangan Jovian langsung tertuju ke arah tempat tidur, dimana Kiana berada disana, berbaring miring memunggungi.


Pria itu keluar dengan keadaan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya, sampai memperlihatkan tubuh atletisnya yang terlihat begitu mempesona. Tidak ada niat apapun dari dalam pikirannya, dia hanya berjalan mendekati lemari pakaian, dengan keadaan rambut dan kulit tubuh yang masih sedikit basah.


Namun Jovian merasa sedikit heran. Saat suasana terasa begitu hening, karena biasanya Kiana akan segera mengganggunya. Jangankan sekarang saat mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri, saat masih dalam ikatan tunangan saja gadis itu sudah sangat berani.


"Apa sekarang dia menjadi malu-malu?" Batin Jovian berbicara, tapi kedua sudutnya jelas memperlihatkan sebuah senyuman samar.


Dia membawa satu boxer dan celana joger, lalu menutup pintu lemari pakaian tanpa membawa kaos rumahan yang biasanya dia kenakan. Kemudian Jovian berbalik badan.


Dan berapa terkejutnya ketika dia mendapati Kiana terlelap di atas tempat sana. Berbaring meringkut, dengan riasan tipis yang masih menempel di wajahnya, dengan pakaian yang juga belum sempat dia ganti.


"Pantas saja sunyi dan sepi. Ternyata si pembuat onar sudah tidur." Jovian terkekeh.


"Memangnya apa yang kau harapkan Jovian? Dia kembali menerjangmu terlebih dulu? Tidak mungkin. Dia tahu betapa sakitnya waktu itu, … jadi mungkin dia tertidur hanya untuk menghindari itu!" Lanjut Jovian.

__ADS_1


Lalu kemudian dia segera memakai pakaiannya. Dan setelah selesai, Jovian langsung mendekati Kiana, bersimpuh di samping tempat tidur, untuk menatap wajah cantik istrinya dengan perasaan bahagia.


"Apa kamu lelah? Sampai bisa ketiduran seperti ini? Bahkan kamu belum mandi, atau membersihkan makeup mu, … bagaimana kamu bisa tidur dalam keadaan seperti ini, Baby!" Jovian menyentuh pipi Kiana, membuatnya segera menggeliat, mengubah posisi berbaring, dan kembali terlelap setelahnya.


"Baiklah. Aku akan menunggumu sampai bangun." 


Dia bangkit dengan tubuh sedikit membungkuk, mendekatkan diri pada wajah Kiana, memberi kecupan hangat di kening istrinya, yang berakhir di bibir merah menggoda milik gadis itu.


Jam sudah menunjukan pukul 20.30 malam hari.


Namun Kiana belum menunjukan tanda-tanda akan segera menarik kesadaran dari tidurnya. 


Jovian sabar menunggu, dia duduk di sofa ruang tengah, memegang sebuah stik game dengan wajah yang terlihat sangat serius tertuju kepada televisi berukuran besar di hadapannya.


Tiba-tiba saja seseorang terdengar menghubungi, sampai menimbulkan suara nyaring dari notifikasi handphone miliknya.


"Halo, Pak?" Sapa Jovian setelah menggeser tombol berwarna hijau.


"Kalian tidak pulang? Atau sedang berada di luar?"


Danu bertanya dengan segera, saat dirinya menunggu kedua pasangan yang baru terikat tali pernikahan itu tak kunjung kembali.


"Emmm, … sebenarnya kita akan kembali dengan segera. Namun saya meminta Kiana menunggu beberapa menit untuk membersihkan diri, tapi setelah kembali ternyata dia tertidur, bahkan belum sempat menghapus riasan wajah dan mengganti pakaiannya." Jelas Jovian kepada ayah mertuanya.


"Tidak. Mungkin Kiana bangun kami langsung pulang, Pak." Sahut Jovian.


"Kalau begitu kami malam malam duluan. Tidak mungkin juga kan menunggu kalian?"


"Iya. Bapak tidak perlu khawatir, ada banyak persediaan makanan disini, … jadi Kiana tidak akan kelaparan."


Danu terkekeh.


"Baiklah, kamu boleh menutup teleponnya." 


"Saya akan segera membawa Kiana pulang jika Kiana sudah bangun, Pak."


"Jika dia bangun hampir tengah malam, maka tidak usah pulang. Bermalam saja disana, nanti saya minta Ipah untuk mengantarkan pakaian ganti untuk Kiana. Kembalilah besok pagi untuk sarapan bersama." Pinta Danu.


"Baiklah kalau begitu."


Dan sambungan telepon benar-benar terputus setelah itu, lalu Jovian kembali kepada gamenya yang sempat dia jeda.


Samar-samar suara riuh dari tayangan bola terdengar. Membuat Kiana mulai mengerjap dan memicingkan mata, saat berusaha menyesuaikan diri dari lampu ruangan yang terlihat begitu terang benderang.

__ADS_1


Gadis itu terdiam untuk beberapa detik. Mencoba mengingat sesuatu, saat dirinya tiba-tiba saja terbangun dan berada di tempat yang berbeda. Sebuah ruangan luas dengan nuansa abu-abu, yang sudah dipastikan bukan kamar miliknya.


"Ah tentu saja, ini kamar suamimu. Bukan kamar dirimu sendiri, … jadi wajar saja tidak ada warna magenta disini. Toh kamu berada di tempat yang berbeda." Katanya saat menyadari bahwa dirinya kini berada di apartemen milik suaminya.


Kiana bangkit, menurunkan kedua kakinya, dan berjalan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka.


Ruangan tengah itu sudah terlihat gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari arah dapur dan televisi yang menyala. Sementara Jovian terlihat masih fokus dengan stik gamenya.


"Sayang?" Panggil Kiana.


Jovian menoleh ke arah suara terdengar. Dan disanalah Kiana, berjalan gontai dengan wajah sembab khas bangun tidur.


"Kamu bangun?" Jovian tersenyum.


Tangan kanannya terangkat, meminta Kiana untuk segera mendekati. Dan gadis itu menurut, dia segera duduk di samping Jovian, lalu memeluk lengan, dan bergelayut manja disana.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Kiana dengan suara parau.


"Jam sebelas. Kenapa? Kamu lapar? Mau aku orderkan apa? Mungkin masih ada warung makan yang buka, selain restoran cepat saji." Pria itu mencercanya dengan beberapa pertanyaan.


Jovian meraih ponselnya yang terletak begitu saja di atas meja kaca.


"Nanti dulu lah. Aku mau mandi, tapi karena aku nggak bawa pakaian ganti, … pinjam baju oversize kamu boleh?"


"Oversize? Kaos biasa saja sudah pasti kebesaran, kenapa meminta dengan ukuran yang lebih besar lagi?" Tanya Jovian.


"Biar kaya dress tidur. Soalnya aku nggak punya daleman juga buat di pakaian."


"Tapi …"


"Sayang ayolah! Badan aku sudah gatal-gatal, berikan saja." Sergah Kiana, kemudian gadis itu kembali bangkit, dan berjalan masuk kedalam kamar lebih dulu.


Jovian menekan tombol untuk menjeda game nya kembali, berdiri dan mengikuti kemana Kiana pergi.


"Padahal aku mau memberitahu, kalah pakaianmu juga ada. Tidak usah repot-repot membiarkan semuanya terbuka malam ini." Pria itu berbicara dengan nada pelan, dan tertawa setelahnya.


......................


...Jangan lupa like, komen, rate dan masukin rak!!...


...Hayooo siapa yang mau othor crazy up? timpukin dulu pake kopi sama bunga dong, yang ada vote juga boleh🤭...


Cuyung kalian♥️

__ADS_1


__ADS_2