Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Overthink


__ADS_3

Jovian tersenyum, kemudian dia memeluk pinggang Kiana, dan membenamkan wajah di perut istrinya.


"Sayang?" Kiana mulai panik.


Jovian mengangkat pandangannya, dia kembali tersenyum meskipun pelupuk mata terus bercucuran air.


"Dih kamu bikin aku takut, bingung sama ikutan mau nangis tahu! Kenapa? Kamu nyesel ya nikahin aku?" Raut wajah Kiana tiba-tiba berubah.


Namun ucapan itu tentu saja membuat Jovian tertawa pelan, sembari mengusap pipi dengan kedua tangannya.


"Kamu ngawur!" 


"Habisnya aku tanya kamu nggak jawab-jawab. Kan akunya jadi overthink!" Dia merengek, bahkan raut wajahnya pun tampak berubah menjadi sedikit panik.


Jovian menggelengkan kepala.


"Maaf dan terimakasih." Katanya.


Dahi Kiana mengkerut, menatap suaminya penuh tanya.


"Maksud kamu apa? Dih jangan bikin aku mikir yang aneh-aneh, … kita bulan madunya baru sehari." Kiana menepuk bahu Jovian cukup kencang.


Membuat pria itu meringis, dan mengaduh kesakitan.


"Ah kamu merusak suasana, tahu!" Ujar Jovian.


"Kamu yang merusak suasana. Aku awalnya senang, tapi malah takut begini. Mana kamu malah nangis, kan aneh! Kalo kangen Mami bilang, aku bisa bantu kamu buat telepon Mami atau Papi malam ini juga." 


Jovian meraup wajah Kiana dengan kedua tangannya, lalu menempelkan kening mereka, saling merasakan hembusan nafas hangat satu sama lain.


"Maaf karena awalnya aku pernah tergiur dengan sepuluh persen saham yang Papamu tawarkan." Jovian berusaha jujur.


Pria itu terlihat memejamkan mata. Menarik ingatan pada beberapa bulan yang lalu. Dimana dia hampir menerima keinginan Danu karena apa yang pria tua itu janjikan. Walaupun pada akhirnya dia tidak menerima 10% saham yang Danu janjikan, tapi tetap saja Jovian merasa sangat menyesal, mengingat Kiana yang membalas cintanya yang sangat tulus.


Kiana diam.


"Dan terimakasih karena sudah memberikan aku cinta yang begitu besar. Kamu tahu? Aku tidak pernah dicintai sebesar ini oleh seseorang." Dia mendorong kedua pundak Kiana, sampai mereka kembali sedikit berjarak, dan bisa saling menatap satu sama lain. 


Raut wajah Kiana kini tampak sangat berbeda, namun Jovian tidak dapat mengartikan tatapan mata tajam Kiana dengan raut sendunya.


"Benarkah? Jadi kamu tetap mengharapkan Tante Eva?" 


"Bukan. Kamu salah paham soal ini! Arah pembicaraan aku tidak kesana." Jovian mengusap pipi Kiana.


"Lalu kenapa kamu mengatakan ini semua?" Dia mulai merasa gemas.


"Hanya ingin saja. Aku sangat menyesal karena pernah berpikir begitu. Sementara kamu begitu tulus mencintai aku." Jovian tersenyum.


Kiana diam lagi. Dia bingung harus bereaksi apa sekarang. Disatu sisi dia senang, namun di sisi lain jelas Kiana merasakan hatinya begitu sakit. Mengingat awal dari berjalannya hubungan mereka tidak didasari oleh rasa cinta.

__ADS_1


"Ah padahal aku tahu itu, … kan dia sempat bilang sedang berusaha. Seharusnya sudah menjadi jawaban, dan aku tidak pantas terkejut lagi sekarang!" Kiana berbicara di dalam hatinya.


"Aku mencintaimu, Kiana." Tiba-tiba saja Jovian mengucapkan kata-kata keramat itu.


Mata Kiana bergerak-gerak, seperti sedang mencari kebohongan yang mungkin saja Jovian lakukan. Tidak pernah terlintas di pikiran buruk terhadap suaminya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini dirinya selalu merasa takut, dan pikirannya selalu tertuju kepada hal yang tidak baik.


"Tunggu!" Kiana memicingkan mata. "Kamu mengatakan ini karena sedang menyesal?"


"Yang mana?" 


"Kamu mencintai aku?" Perempuan itu membeo.


"Ah kenapa kamu selalu salah sangka? Kamu benar-benar merusak suasana kali ini!" 


Jovian mencubit ujung hidung Kiana, sampai terdapat bekas kemerahan disana.


"Pikiranku bercabang. Butuh beberapa waktu untuk aku mencerna setiap ucapan kamu, … dan setelah itu aku baru benar-benar mengerti." Kiana dengan raut wajah bingung.


"Kalau begitu hanya pikirkan jika aku mencintaimu ya, jangan yang lain, … jika itu semua membuat kamu pusing." Pinta Jovian.


Dan kali ini Kiana mengangguk.


"Baik. Kalau begitu sekarang kita masuk, hari semakin larut, angin juga semakin kencang, … dan aku tidak mau terjadi hal serius kepadamu! Atau Pak Danu akan memarahi menantunya ini, yang tidak becus menjaga putri semata wayangnya."


Kiana tertawa mendengar itu.


Jovian bangkit, dia meraih tangan Kiana, lalu menarik Kiana ke arah pintu utama yang terbuka, lalu masuk dan menutupnya, tak lupa menarik tirai putih tipis agar kembali membentang di pintu yang kaca sana.


Klek!!


Pintu kamar tertutup dengan rapat.


"Sayang, apa aku harus meminta Dea untuk mengganti kain pelapisnya dulu?" Dia menatap tempat tidur dan wajah suaminya bergantian.


Jovian tidak langsung menjawab, dia hanya berjalan mendekati ranjang tidur, dan menatap keadaan tempat itu dengan pasti.


Berantakan dan terlihat basah di beberapa titik.


"Sudah malam. Jam kerja mereka juga sudah selesai." Kata Jovian. "Dimana seprei nya? Biar aku saja yang ganti, karena tidak mungkin juga kita tidur dengan keadaan begini." Jovian langsung menarik kain pelapis kasur, dan menjatuhkannya tepat di atas lantai.


Sementara Kiana terlihat sedang berpikir.


"Dimana yah? Aku nggak tau."


"Ya sudah. Tidak ada jalan lain, … selain meminta Dea atau Bayi untuk menggantikan seprei nya."


Kiana segera berjalan mendekati meja yang terletak tepat di sudut ruangan itu, meraih telepon rumah, menekan beberapa angka, kemudian menempelkan benda itu ke arah daun telinga.


Jovian berjalan mendekati sofa, kemudian duduk disana sambil memperhatikan Kiana yang kini sedang berbicara dengan seseorang yang keluarganya percayai untuk mengurus villa pribadi milik mereka.

__ADS_1


"Cepat yah! Soalnya mau tidur, tadi seprei nya ketumpahan air, … jadi nggak mungkin kalo di besokin soalnya basah." Dan ucapan itu menjadi penutup antar keduanya.


"Hhhheuh, dia berbohong." Ucap Jovian pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kiana meletakan telepon rumah kembali pada tempatnya, kemudian mendekati Jovian, lalu duduk tepat di atas pangkuan suaminya.


"Jangan mulai!"


"Hih! Mulai apanya? Orang aku mau duduk aja disini, memangnya tidak boleh? Aku suka tahu di manjain kamu." Perempuan itu tersenyum.


Jovian menggigit bibirnya kencang, menyandarkan kepala pada sandaran sofa, memejamkan mata, lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan-lahan.


"Kamu tidak tahu yah!?" Cicit Jovian.


"Tahu. Kamu itu sangat sensitif, sampai aku duduk disini saja bisa membuat sesuatu terbangung, berdiri tegak, … iya kan?" Kiana menggerakan alisnya.


"Astaga Tuhan!" Jovian mendesah frustasi.


"Aku cuma mau manja aja sama kamu."


Kiana merangkul pundak suaminya. Sementara Jovian langsung berdiri, dan membawa perempuan itu ke arah luar kamar.


"Sebentar lagi Dea datang, kita harus menunggu di luar." Kata Jovian, lalu dia menuturkan Kiana tepat di dekat sofa ruang tengah villa itu.


Kiana tersenyum sumringah.


"Dasar teu kao'pan!" 


Jovian menatap istrinya tidak percaya. Bagaimana bisa Kiana tahu bahasa itu?


"Tahu dari mana kamu?"


"Dari Mami." Balas Kiana dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Haduh." Jovian menyapu wajahnya.


Dan tidak lama setelah itu, suara ketukan beberapa kali terdengar dari arah balik pintu kayu berukuran besar yang terletak di sisi lain ruangan. 


Tanpa menunggu lama Kiana langsung berlari mendekat, memutar kunci, dan membukanya lebar-lebar. Membiarkan wanita itu masuk ke dalam kamar untuk menggantikan kain pelapis tempat tidur di kamarnya.


"Maaf ya, Dea. Habisnya kepepet!"  Katanya sambil berjalan mengikuti salah satu pekerjanya.


Sementara Jovian memilih diam, duduk santai di sofa ruang tengah, sembari menunggu Dea dan Kiana selesai di dalam sana.


......................


Kalo ada typo boleh di teken terus di komen ya cuyung☺️


jangan lupa like, komen, vote sama tabur-tabur ... 😘

__ADS_1


cuyung kalian ♥️♥️


__ADS_2