Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Permintaan kedua


__ADS_3

"Satu hal yang tidak boleh kamu lupakan. Aku sangat mencintaimu, Baby! Meskipun aku memilih mempunyai hubungan baik dengan Eva, percayalah itu tidak mengubah sedikitpun perasaanku kepadamu. Karena aku pikir tidak semua hubungan harus berakhir dengan buruk, walaupun awalnya memang seperti itu."


"Baiklah, apa sekarang aku boleh memberitahukan permintaan yang kedua?"


Kiana mengurai pelukan keduanya, yang langsung pria itu jawab dengan senyum dan anggukan pelan, saat pandangan mereka kembali beradu.


"Katakan." Tukas Jovian.


"Tunggu disini sebentar, oke?"


Kiana segera bangkit, kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Jangan ngintip, tungguin!" Dia berteriak dari arah dalam.


"Memangnya kenapa? Aku sudah melihatmu dalam keadaan seperti apapun!" Balas Jovian.


"Pokonya jangan, atau nanti aku ngambek sama kamu." Ancam Kiana.


"Tidak. Aku menunggu disini, sayang!"


Jovian meraih handphone yang dia letakan di atas meja bersama korek dan satu bungkus rokoknya, menyalakan benda itu, dan membuka sosial medianya. Dia mengarahkan kamera ke arah lautan yang luas membentang, mengambil gambar, dan segera mengunggahnya di akun sosial media, setelah sebelumnya dia menuliskan sebuah kalimat.


Destinasi bulan madu yang sangat bagus, happy honeymoon, Baby @jsmn_KianaD


Dan setelah itu Jovian meletakan handphone miliknya kembali ke atas meja.


"Sayang?"


Panggilan itu membuat Jovian segera menoleh.


Dia menatap Kiana dalam diam, mengunci pandangan ke arah perempuan yang saat ini tengah berjalan mendekat, dengan mulut yang sedikit terbuka. Jakun Jovian terlihat naik turun beberapa kali, kala mendapati Kiana memakai pakaian super mini berwarna hitam, yang hanya menutupi area sensitif di tubuhnya.


Bagian atas menutupi si kembar yang menggemaskan, dengan tali-tali kecil melingkar di pundaknya. Sementara untuk bagian bawah, dia mengenakan segitiga super mini, yang talinya Kiana lilitkan di kedua sisi pinggang, membentuk sebuah pita.


"Baby!" Jovian celingukan.


Menatap sekeliling dan memastikan jika tidak akan ada yang dapat melihat ke adaan istrinya.


"Tidak akan ada yang bisa melihat ke arah sini, sayang. Villa kita terletak cukup jauh dari pantai, jadi ini aman. Lagi pula siapa yang mau mengintip?" Ucap Kiana yang seolah mengerti kekhawatiran suaminya.


"Oh apa yang kamu lakukan? Ini masih sore?" Dia berusaha menetralkan perasaannya.


"Bukanya kamu bilang aku boleh meminta beberapa permintaan? Ini permintaan kedua aku." Jelas Kiana.


Dia mulai melangkahkan kaki ke arah dimana tangga kolam berada, turun dengan perlahan, berjalan lenggak-lenggok seperti sengaja sedang menggoda suaminya.


"Bukannya kamu mau memberikan hal yang lebih gampang dulu? Kemarilah, ini keinginan kedua aku! Soal rumah kamu boleh mewujudkannya kapanpun." Dia tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Jovian berusaha menekan hasratnya yang tiba-tiba muncul. Namun, tentu saja dia tidak dapat menolak penawaran sekaligus permintaan dari istrinya. Hingga dia segera bangkit, menarik lepas kaos yang dia kenakan, membuka celana joger, hingga menyisakan boxer super pendek berwarna biru tua yang membungkus area pribadinya.


"Awas yah! Kamu terus memancingku. Padahal aku sedang berusaha tidak melakukannya karena takut kamu kenapa-kenapa, … tapi nyatanya kamu terus saja berbuat apapun semaumu." Dia segera turun, dan berusaha meraih Kiana.


Perempuan itu berusaha menjauh, dengan suara tawa yang terus terdengar. Bahkan beberapa kali Kiana menjerit, sebelum akhirnya Jovian dapat meraihnya, dan membungkam mulut Kiana dengan ciuman.


Tangan Kiana memeluk pundak Jovian, begitu juga dengan kedua kakinya yang melilit erat di pinggang pria itu. Membuat keduanya saling menempel satu sama lain, dengan bibir yang terus saling memangut.


Jovian melepaskan pautan bibir keduanya, lalu kemudian tersenyum. Dia mengeratkan pelukan di pinggang Kiana, lalu tanpa aba-aba membawa perempuan itu ke dalam air.


"Oh astaga!" Kiana tertawa, seraya menyapu wajahnya yang basah saat Jovian kembali membawanya naik ke permukaan.


Jovian menatap wajah Kiana lekat-lekat. Perempuan itu terlihat lebih cantik dalam keadaan seperti itu.


Wajah tanpa make-up, yang tentu saja sangat terlihat sehat dan terawat. Juga dengan kulit putih yang tampaknya terlihat semakin bercahaya.


"Aku menyukainya kau tahu?" Jovian berbisik tepat di hadapan wajah istrinya.


Kiana tersenyum.


Mereka bergerak semakin ke ujung, lalu kemudian Jovian mengangkat Kiana, dan mendudukkannya di tepi kolam.


"Apa aku cantik? Bagaimana perasaanmu saat aku memakai bikini?" Tanya Kiana.


"Too much. Kamu terlalu cantik, Baby! Wajah polos tanpa makeup, juga dengan sepasang bikini ini membuat kamu terlihat bukan Kiana yang dulu aku kenal. Kamu berubah menjadi sangat nakal setelah kita menikah!" Jovian terkekeh.


Berdiri tegak tanpa merasa ragu.


Keduanya saling menatap. Menelisik wajah masing-masing, mengagumi paras satu sama lain.


Jovian kembali mendekatkan diri, membuat Kiana segera menunduk, menyatukan kening satu sama lain, sambil tersenyum malu-malu.


"Apa kamu selalu memakainya?"


Kiana mengangguk.


"Ke pantai sana juga?" Jovian menunjuk hamparan pasir putih di seberang villa milik mertuanya.


Kiana mengangguk lagi.


Dia berbohong, entah kenapa rasanya menyenangkan saat melihat Jovian kesal. Meski pada sesungguhnya ini kali kedua Kiana memakai itu, dan dia hanya memakai bikininya di dalam villa, tidak pernah ke tempat lain karena memang Danu sudah pasti melarangnya.


"Itupun saat liburan dengan Zayna, Sharla dan Starla. Kalo ada Papa mana berani!" Perempuan itu berbicara di dalam hatinya.


"Apa Papamu tidak melarang?" Dia menatap Kiana tidak percaya.


"Tidak. Dia membebaskan aku untuk melakukan apapun, selagi aku bisa menjaga diri." Kiana kembali membual.

__ADS_1


Perempuan itu melanjutkan kebohongan.


Jovian diam. Namun tidak dengan tangannya, dia terus bergerak, mengusap punggung Kiana, bahkan tak jarang menyentuh buah dadanya dan meremat cukup kencang dengan perasaan gemas.


"Oh sayang!" Kiana merintih.


Suasana terasa semakin memanas. Membuat Jovian kembali menarik Kiana masuk ke dalam air, dan melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda.


Suara decapan kembali terdengar, bahkan saat ini semakin kencang, ketika Jovian melakukannya dengan sangat menggebu-gebu. Begitupun dengan Kiana, dia membalas setiap sentuhan suaminya tak kalah panasnya.


Sampai setelah beberapa saat Jovian membawa Kiana menepi, naik dan menggendongnya masuk ke dalam kamar dengan keadaan basah kuyup.


Jovian membaringkan Kiana di atas tempat tidur, yang masih terdapat sisa-sisa bunga mawar di atasnya. Lalu kemudian melucuti apa yang Kiana pakai saat ini satu-persatu.


Kiana diam dan pasrah, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menatap tubuh suaminya yang terlihat sangat indah.


"Are you ready for this, Baby?"


Tanya Jovian setelah menanggalkan celana boxernya. Membuat keduanya kini sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.


Dia naik ke atas tempat tidur yang berantakan sisa pergumulannya beberapa jam lalu. Kemudian menyentuh kedua kaki Kiana, dan membukanya lebar-lebar.


"Sayang!" Tangan Kiana terulur, menahan perut Jovian cukup kencang. "Pelan-pelan, rasanya sangat menyakitkan jika kamu melakukannya sekaligus seperti tadi!" Katanya dengan suara yang terdengar manja.


"Baiklah." Jovian tersenyum, dia mempersiapkan diri, menyentuhkan ujung dari miliknya pada inti tubuh milik Kiana.


Dan mata perempuan itu mulai terpejam.


"Nghhhhhh!"


Suara Kiana terdengar, saat milik Jovian masuk sepenuhnya dengan perlahan.


Seringai di bibir Jovian terlihat. Dan setelah itu dia mulai bergerak maju-mundur, menghentak perlahan, sebelum akhirnya dia kehilangan kendali. Membuat Kiana kembali menggeram, mendesah dan merintih dalam waktu yang bersamaan.


Suasana kamar villa itu kembali dipenuhi suara-suara indah. Mengalun memenuhi langit-langit kamar, pada petang hari ini.


Dan setelah sangat lama. Akhirnya tanda-tanda pelepasan dari Jovian sudah terlihat. Beberapa kali dia mendengus, dengan hentakan yang semakin tidak terkendali. Hingga akhirnya sesuatu terasa mengalir deras, berkumpul di satu titik, dan;


"Argghhh …."


Suara leguhan Jovian terdengar, bersamaan dengan sesuatu memancar, memenuhi Kiana. Dan setelah itu dia ambruk tepat di atas tubuh istrinya yang juga terlihat sangat kelelahan.


Wajah memerah, dengan peluh yang bercucuran membasahi kening.


......................


Like, komen sama tabur-tabur seperti biasa yah 😍😍

__ADS_1


__ADS_2