
"Kamu bikin insta stories?"
Kiana mengalihkan pandangannya sekilas dari arah layar handphone, kepada Jovian yang saat ini duduk tepat di sampingnya.
Pria yang tengah asik melahap ayam betutu khas Gilimanuk Bali itupun mengangguk.
"Simpan hp nya. Makan dulu, nanti setelah itu boleh lihat-lihat sosial media." Ujar Jovian.
"Hanya lihat sebentar, sayang. Ada notifikasi soalnya, kirain aku apa! Ternyata kamu bikin stories Instagram." Dia menjawab, lalu meletakan benda pipih itu tepat di samping kirinya.
Melihat itu Jovian tersenyum. Dia tidak pernah menyangka jika Kiana akan selalu mendengarkan setiap ucapannya. Bahkan dengan satu kali berbicara, sang istri langsung menuruti apa yang pria itu perintahkan.
Keadaan hening cukup lama. Keduanya menikmati nasi putih hangat dengan berbagai macam sajian kaya rempah dan bumbu yang sangat menggugah selera. Hingga akhirnya Kiana lebih dulu berdiri, beranjak mendekati wastafel, lalu membasuh tangannya menggunakan sabun dan air mengalir. Setelah selesai menghabiskan makan malamnya.
"Kamu sudah selesai, Baby? Padahal ayam dan satenya masih banyak!"
"Hu'um. Perut aku penuh, … bahkan sekarang aku kekenyangan." Katanya, lalu meraih lap dan mengeringkan tangannya disana.
Setelah itu Kiana mendekati chiller, dan membawa dua botol air mineral berukuran sedang.
"Itu bagus. Berarti tenaganya sudah terisi penuh, dan sudah siap untuk …"
Belum selesai Jovian berbicara, Kiana segera membekap mulut suaminya setelah meletakan air minum kemasan itu di atas meja makan.
"Oh tidak! Aku bisa sakit kalau terus-terusan kamu hajar." Sergah Kiana.
"Baby! Aku sedang makan." Kata Jovian setelah berhasil melepaskan tangan Kiana dari mulutnya.
Pria itu tertawa, saat melihat raut wajah masam istrinya, dengan bibir yang dibuat mengerucut, sehingga membuat Kiana terlihat begitu menggemaskan. Apalagi saat dua bola matanya beberapa kali mendelik.
"Honeymoon itu nggak gini tau!" Cicik Kiana kesal.
Dia membuka tutup botol air minum kemasan dengan segera, kemudian menegukannya perlahan-lahan.
"Hemm, … lalu?"
Jovian segera menyelesaikan makannya, dua berdiri dan berjalan mendekati wastafel, untuk kemudian membasuh tangan dengan sabun di bawah air mengalir.
"Ya, … kita bisa menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, mengunjungi beberapa tempat hiburan, restoran atau apapun itu."
__ADS_1
"Memang rencana awalnya seperti itu! Coba ingat-ingat siapa yang menggagalkan rencana aku? Tertidur dari jam enam sampai jam sepuluh malam?" Jovian mengingatkan.
Kiana melirik suaminya, dengan kedua pipi yang terlihat memerah karena menahan malu.
"Tapi aku kelelahan juga gara-gara kamu!" Perempuan itu masih berusaha membela diri.
Jovian kembali duduk di kursi meja makannya seperti semula. Menggeser benda itu sedikit sampai jarak antara dirinya dan sang istri hanya tersisa beberapa senti.
Kedua bola mata Jovian menatap Kiana lekat-lekat, hal yang sama perempuan itu lakukan, sampai pandangan mereka beradu satu sama lain, dengan senyuman tertahan yang Jovian perlihatkan.
"Apa harus aku ingatkan juga? Siapa yang selalu memancing, … dan memulai semuanya?" Sorot matanya terlihat semakin tajam, dengan suara rendah yang dia perdengarkan.
Kiana bungkam. Bola matanya bergerak-gerak, menelisik wajah tampan di hadapannya dengan perasaan berbunga-bunga. Rambut sedikit memanjang yang selalu dibiarkan berantakan menjadi nilai lebih untuk ketampanannya.
Bahkan pria itu terlihat selalu mempesona, tanpa kemeja dan setelan jasnya. Jika dahulu Kiana melihat Jovian dari sisi ketegasan sebagai seorang Bodyguard, kini hal itu bertambah, bahkan aura maskulin Jovian melebihi batas normal.
Itu menurut Kiana. Jelas karena perempuan itu baru saja merasakan bagaimana indahnya cinta, membuat apapun yang Jovian kenakan, selalu membuatnya terlihat tampan berkali-kali lipat.
"Kenapa diam, Hum?" Dia semakin merendahkan suaranya.
"Ish, … jangan begini ah!" Kiana mendorong bahu suaminya yang terus mendekat.
Namun Jovian tidak mendengar. Dia terus mencondongkan tubuhnya,menyingkirkan tangan Kiana yang terus berusaha menahan, lalu mencium bibir perempuan itu dengan singkat.
Sementara Jovian tertawa kencang.
"Ish kamu nyebelin!"
"Nyebelin juga kamu cinta sama aku, sayang, sama suka." Jovian menggerakan kedua alisnya naik dan turun, membuat Kiana mendelik, kemudian bangkit dan berlari ke arah luar.
"Hey!?" Jovian berteriak kencang.
"Udah ah, nanti semakin ngawur! Aku nggak mau mandi untuk kesekian kalinya. Disini memang tidak dingin, bahkan cuacanya cenderung panas, … tapi terlalu sering mandi juga tidak baik." Sahut Kiana dari arah luar.
Terlebih dulu Jovian meraih botol air minum yang sudah Kiana ambilkan, membuka tutupnya, dan meneguk sampai habis setengah.
Jovian menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum gemas. Bangkit dan langsung berjalan ke arah pintu utama yang terbuka sangat lebar, sampai membuat beberapa tirai bergerak-gerak karena diterpa angin. Dan benar saja, ketika dirinya keluar. Hembusan angin terasa begitu kencang, beberapa pohon di sekeliling Villa terus terseok-seok, menimbulkan bunyi yang cukup bising, belum lagi deburan ombak yang terdengar begitu keras menghantam batu-batu karang.
"Oh God!" Gumam Jovian saat terpaan angin terasa semakin kencang. "Babe? Anginnya sangat kencang, suara ombaknya juga sedikit menyeramkan. Apa kamu masih mau duduk disana?" Tanya Jovian.
__ADS_1
Kakinya berjalan mendekati salah satu ayunan yang terletak di tengah-tengah taman dimana Kiana berada. Perempuan itu menoleh, dia menengadahkan pandangan, menatap suami tampannya, lalu tersenyum.
"Sayang, sini!" Perempuan itu merentangkan kedua tangannya.
Jovian menurut, dia segera mendekat, dan berdiri tepat di hadapan istrinya. Membuat Kiana segera meraih pinggang Jovian, memeluknya erat sampai Kiana menempel di perut Jovian.
"Disini dingin." Pandangan Jovian menunduk, lalu menyentuh dan mengusap puncak kepala Kiana.
"Seger. Di dalam kan sedikit panas!"
"Bisa di nyalakan AC nya, angin disini kencang, nanti kamu masuk angin!" Kata Jovian lagi.
Kiana menggelengkan kepalanya.
Dan mereka berdua diam, menikmati suasana malam hari di sekitaran pantai. Bahkan Jovian terus mengedarkan pandangan, menatap beberapa orang yang masih terlihat berkeliaran bermain pasir jauh di seberang sana.
Area pantai pasir putih, dengan beberapa lampu yang menyorot ke arah sana. Sampai membuat tempat itu terang benderang, dengan lampu-lampu kecil berwarna kuning bergantung dari satu pohon ke pohon lain.
"Pemandangan disini indah kan?" Pandangan Kiana menengadah. Berusaha menatap wajah pria yang saat ini sedang berada dalam pelukannya.
Langit terlihat hitam pekat, tapi tentu saja terlihat sangat cerah, sampai cahaya bulan dan percikan bintang di sekitarnya tampak sangat jelas.
"Ya, tempat ini sangat luar biasa."
"Dulu Papa cuma sewa aja. Tapi karena kalau ke Bali aku sukanya disini, … jadinya Papa beli." Kiana bercerita.
Kedua sudut bibirnya tertarik, membuat sebuah lengkungan senyum tipis, dengan mata berbinar. Yang tentu saja Jovian tahu kebahagiaan istrinya sedang benar-benar ada di puncak saat ini.
"Are you happy?"
"Ya, dan bahagianya naik seribu kali lipat. Soalnya ada kamu sama aku sekarang!" Dia tersenyum lagi, dan kali ini terlihat begitu manis.
Jovian melepaskan lilitan tangan Kiana di pinggangnya terlebih dulu. Lalu kemudian dia berjongkok, seraya menggenggam kedua tangan perempuan itu, dengan pandangan yang saling beradu.
"Kenapa?"
Kiana segera bertanya, kala melihat bola mata suaminya berkilau saat sorot cahaya lampu mengarah kepada mereka.
"Ih, … kita lagi senang-senang tahu! Kok malah sedih!"
__ADS_1
Perempuan itu terlihat sedikit panik, ketika melihat air mata Jovian mengalir begitu saja, melewati pipi dengan sangat cepat. Tangan kanan Kiana bergerak menyentuh pipi Jovian, dan dengan segera ibu jarinya mengusap dengan sangat lembut.
"Apa yang membuat kamu sedih?" Lantas Kiana segera bertanya.