Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Dokumen pribadi


__ADS_3

Tiga hari berlalu.


Kediaman Danu terasa semakin sunyi. Jantung kehidupan yang selalu meramaikan setiap tempat yang disinggahinya tak kunjung pulang. Tidak hanya itu, setiap rencana yang sudah tersusun dengan rapi kini sudah memperlihatkan kekacauan. Acara fitting baju tak kunjung dilakukan, padahal puncak acara sudah terhitung beberapa hari lagi. Namun, tampaknya Kiana tidak main-main dengan ucapan yang pernah dia sampaikan kepada Jovian, membuat semua orang merasa gelisah, terlebih setiap undangan sudah disebarkan dan sampai di tangan penerima.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena memaksa Kiana pun akan percuma. Berhari-hari meninggalkan rumah juga keluarganya sudah membuktikan jika rasa kecewa yang Kiana rasakan sudah sangat besar.


Jonathan, Danu, Jovian, Leni juga Herlin berkumpul di gazebo taman belakang rumah. Mereka bertukar pikiran untuk mencari jalan keluar masalah yang sedang mereka hadapi, tanpa harus membatalkan setiap rangkain yang sudah hampir rampung. Gedung, wedding organizer, dan juga catering.


"Mungkin kita minta diundur saja sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Kita juga tidak tahu kapan Kiana akan pulang, dan memaafkan kita semua." Herlin menghembuskan nafasnya.


Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, apalagi mengingat acara yang paling Kiana impikan, harus berantakan seperti ini hanya sebuah kesalahpahaman.


"Tapi ada beberapa gedung, WO, dan catering yang tidak menerima hal seperti itu. Mereka tidak mau menerima resiko, karena tidak sedikit setelah di undur, ternyata waktu yang diminta selanjutnya menjadi bentrok dengan acara orang lain." Jonathan mengutarakan sesuatu yang terus berputar-putar di dalam isi kepalanya.


Danu mengangguk.


"Benar. Kita serba salah sekarang! Jika acaranya terus di selenggarakan, masa iya tanpa pengantin perempuan. Lalu jika ditunda, mereka juga belum tentu mau, … kemudian kita batalkan? Sayang juga uang tidak bisa kembali." Pandangan Danu terlihat kosong.


"Memangnya Kiana masih belum menghubungimu?" Leni menatap putranya.


Jovian menggelengkan kepala.


"Yang menghubungi aku hanya Adline, dan Javier." Jovian berujar, sambil mengingat momen-momen dimana Javier dan Adline mulai memberikan sebuah masukan atas apa yang sedang terjadi.


Karena tidak bisa di pungkiri, Adline pun merasa sangat bersalah kepada Kiana.


Herlin menghembuskan nafasnya kencang.


"Sepertinya sekarang kita harus ikhlas dan berserah diri saja. Semuanya tidak usah di undur apalagi di batalkan. Acaranya terus di jalankan saja, biarkan para undangan datang hanya untuk menikmati jamuan, jika mereka bertanya kita bisa mengatakan banyak alasan. Uang sebanyak itu kalo dibiarkan hangus sayang, lebih baik tetap dilaksanakan, siapa tahu jadi ladang amalan untuk kita semua." Kata Herlin dengan raut wajah sedihnya.


Entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa sering pusing, dan tidak bisa berpikir jernih sama sekali. Herlin terus memikirkan Kiana, apa dia baik-baik saja? Apa dia juga membencinya? Sampai perempuan itu enggan pulang, bahkan hanya untuk tinggal sebentar, atau memberikan kabar jika dirinya baik-baik saja.


"Oh putriku!"


Herlin merapatkan punggung pada sandaran sofa, menatap langit-langit gazebo yang terbuat dari anyaman bambu, lalu kemudian memejamkan mata, dan menghalanginya dengan satu tangan yang Herlin letakan di atas kepala.


"Permisi! Pak? Bu?"


Yati berjalan dari arah dalam, terus mendekat dan berdiri tepat di dekat tangga sebelum naik ke dalam gazebo sana.

__ADS_1


"Ya, Bi?" Sahut Danu.


"Ada Pak Denis di dalam, katanya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin Pak Denis sampaikan."


"Denis? Memangnya dia sudah kembali? Hari ini ada beberapa pertemuan bukan?" Herlin menatap suaminya.


"Entah, mungkin ada sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi.." Kata Danu, kemudian dia bangkit, dan meninggalkan area sana begitu saja.


Dia berjalan perlahan di belakang Yati, sebelum akhirnya Yati berbelok ke arah dapur, dan pria paruh baya itu berjalan terus hingga menapakan kaki di ruang tamu.


Disanalah Denis. Duduk sembari mengarahkan pandangan pada sosok pemilik rumah, yang tidak lain adalah bosnya sendiri.


"Kau sudah selesai? Bagaimana? Apa mereka menanyakan saya?"


Denis tersenyum, kemudian mengangguk.


"Di pertemuan berikutnya mereka ingin langsung bertemu dengan Bapak. Katanya menanda tangani surat kerja sama, tidak afdol jika tidak langsung dengan pemiliknya."


Danu mengulum senyum, lalu kemudian pria itu duduk di salah satu sofa, sampai posisi keduanya saling berhadapan satu sama lain.


"Tapi maaf, Pak. Saya datang kesini tidak untuk membahas pekerjaan! Melainkan soal Kiana yang sudah dua malam ini tinggal bersama saya."


"Benarkah? Dia tinggal bersamamu dan Sita?" Wajah Danu tampak berbinar.


Denis mengangguk.


"Sayangnya dia masih tidak mau pulang. Bahkan dia tidak membawa handphone nya, dan protes yang dia lakukan sekarang ini cukup serius." Danu terkekeh.


"Jovian ada?"


"Di belakang, tadi kami sedang berpikir keras. Tentang resepsi yang ada segera digelar, namun fitting baju saja belum juga selesai, … apalagi sekarang Kiana sedang marah kepada semua orang, khususnya kepadaku." Danu tersenyum getir.


Ya, jika saja dia bisa memutar waktu. Maka ia tidak akan pernah menghakimi Kiana tanpa mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Sudut pandangnya hanya tentang harga diri, sampai dia lupa jika memperlakukan putrinya dengan baikpun adalah sebuah keharusan.


Denis diam saat mendengar itu.


"Kamu bisa membujuk dia? Agar mau pulang?" Kali ini Danu terlihat lebih memohon.


Namun, Denis hanya tersenyum.

__ADS_1


"Dua malam terakhir sudah saya coba. Berbicara perlahan-lahan agar dia mau pulang, tapi sampai sekarang Kiana masih mau tinggal di rumah bersama kami. Bapak dan Bu Herlin tidak usah khawatir, setidaknya dia ada di tempat yang seharusnya, dari pada awal pergi dia tinggal bersama Kevin, itu tidak baik karena akan menimbulkan persepsi buruk dari orang lain."


Danu menghela nafas.


"Sekarang aku mulai kehilangan cara, Denis." Katanya dengan intonasi penuh penyesalan.


"Saya datang kesini untuk meminta beberapa dokumen pribadi milik Kiana." Kata Denis kepada Danu.


Membuat Jovian yang sedang berjalan untuk mendekat segera menghentikan langkahnya, dengan perasaan yang tidak menentu. Bahkan wajah Jovian terlihat memucat, hanya karena mendengar ucapan dari Denis.


"Tidak bisa!" Tegas Jovian.


Dua pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu menoleh, dan mengarahkan pandangan pada Jovian.


"Tidak ada yang boleh mendukung Kiana untuk melayangkan gugatan cerai. Tidak boleh!" Dia meracau.


Bahkan Jovian terus melangkahkan kakinya untuk mendekat, lalu meraih ujung pakaian bagian atas untuk Jovian cengkram.


"Kamu memang lebih dulu mengabdi kepada keluarga ini! Tapi tidak akan ada siapapun yang berhak ikut campur pada keluarga kecil yang baru saja aku bina." Kilat amarah jelas terlihat dari sorot mata Jovian.


Denis memutar kedua bola matanya, lalu menepis kedua tangan Jovian, sampai cengkraman tangan Jovian terlepas.


"Tenanglah. Aku tidak akan ikut campur dalam urusan apapun. Aku datang hanya untuk membawa beberapa dokumen agar Kiana dapat melakukan perjalanan umroh bersama Sita!" Jelas Denis.


Jovian juga Danu diam.


"Dia sedang marah, kecewa, dan sedang mencoba memulihkan diri."


"Kiana? Umroh?" Danu menatap Denis tidak percaya.


Denis mengangguk.


"Biarkan dia menenangkan diri dengan cara yang lebih baik. Ya siapa tahu pulang dari timur tengah hati Kiana menjadi lebih lembut! Lalu mau pulang dan melupakan kemarahannya, khususnya kepadamu, Jo!"


"Aku ikut!" Tegas Jovian.


Namun, Denis segera menolaknya.


"Sudah aku katakan, biarkan Kiana sendiri dulu. Dia akan segera kembali setelah merasa hatinya benar-benar tenang, percayalah. Tugasmu sekarang hanya mencari tau apa saja yang sudah Eva lakukan, dan jangan buat wanita itu semakin menjadi-jadi." Denis kepada Jovian.

__ADS_1


Setelah itu Denis kembali kepada Danu, dan segera meminta dokumen pribadi yang Kiana butuhkan, agar ia dapat memenuhi segala persyaratan dan Kiana dapat pergi dengan segera.


__ADS_2