
Satu bulan kemudian, …
"Papa?" Kiana berbisik tepat di samping telinga Jovian.
Membuat pria itu merenggangkan seluruh otot tubuhnya, sambil berusaha menarik kesadaran yang sempat menghilang.
"Sayang?" Kiana kembali memanggil.
Dan itu berhasil membuat Jovian membuka matanya, meskipun dengan tatapan yang masih tampak sayu. Apalagi ketika ruangan itu sudah terlihat terang benderang karena gorden dan jendela kamar itu sudah terbuka, sampai cahaya sedikit mengganggu penglihatannya.
Hilir angin sejuk berhembus, menyapu permukaan kulit tubuh Jovian, sehingga membuat rasa kantuknya terus menguasai.
Kiana tersenyum, dia berbaring miring, sambil menopang kepala menggunakan satu tangannya. Wajah tampan itu terlihat sembab, dengan mata yang mengerjap beberapa kali, lalu Jovian membalas senyuman dari istri belianya.
"Kamu bersemangat sekali hari ini!" Suara Jovian terdengar parau.
Dia berdehem beberapa kali, untuk menghilangkan rasa nyaman di dalam tenggorokan, yang selalu dia rasakan saat bangun dari tidur.
Kiana tersenyum lagi, lalu perempuan itu beringsut mendekat, dan menenggelamkan diri di dalam pelukan suaminya. Bahkan pipi Kiana sampai menyentuh dada bidang Jovian yang saat ini tidak memakai apa-apa.
"Bagun, sayang. Papa sudah menunggu tadi, bukannya kamu mau ke Kalimantan hari ini?" Katanya dengan suara manja.
Mata Jovian yang sempat terbuka, kini terlihat kembali terpejam. Namun, tampaknya kesadaran sudah benar-benar menguasai, sampai tangannya terus bergerak menepuk-nepuk punggung sang istri.
"Baby, kamu meminta aku bangun! Tapi kamu justru membuat ingin tidur lagi!"
Kiana mendongakan kepala, menatap wajah tampan suaminya dari jarak yang sangat dekat. Sementara Jovian menunduk, dan mendaratkan kecupan manis di bibir Kiana, sampai membuat perempuan itu sedikit terkejut.
"Ayo bangun. Jangan membuat yang lain ikut bangun! Ini sudah pagi, aku harus bersiap-siap bukan?" Jovian berbisik.
Wajah Kiana tampak sedikit memerah.
"Papa?" Panggil Kiana.
Dia membuat suaranya seperti anak perempuan yang begitu manja kepada ayahnya.
"Yes, Baby?"
"Hari ini hari pertama kali kamu terjun ke dunia tambang?"
"Ya, tentu saja." Jovian mengangguk-anggukan kepala. "Awalnya duniaku tentang istri dan anak klien, lalu kebun teh, dan sekarang tambang batubara. Doakan agar aku bisa yah? Ini semua untuk kalian, … khususnya kamu agar tidak usah repot-repot pergi jauh, apalagi dengan keadaan hamil seperti ini." Dia memindai wajah Kiana, lalu beralih mengusap perut perempuan itu yang sudah terlihat membesar.
Tentu saja, bayi satu di usia lima bulan saja sudah kelihatan besar, apalagi Kiana mengandung dua bayi sekaligus.
"Tapi aku mau ikut!" Dan setelah mengumpulkan banyak keberanian, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Kiana.
Jovian bungkam.
"Sayang aku mau ikut!"
"Tidak boleh, ini perjalanan jauh. Kamu tunggu disini bersama Mama saja, oke?"
Kiana menggelengkan kepalanya, kemudian memeluk tubuh suaminya erat, membuat posisinya semakin menempel.
"Kalau begitu kamu tidak usah ikut!" Cicit Kiana dengan nada kesal.
__ADS_1
Membuat Jovian terkekeh karenanya.
"Papa yang meminta, masa aku mau tolak?"
"Tolak saja tidak apa-apa, ada Om Denis dan Ebra bukan? Lalu kenapa masih khawatir kekurangan orang?"
Perempuan itu menggerutu.
"Semua sudah mempunyai porsinya masing-masing. Ebra, Denis, dan aku harus mulai membantu Papa mu, karena apa yang dia pegang sekarang, nantinya harus kamu yang mengendalikan. Tapi karena sekarang kamu tidak bisa, makanya aku dulu!" Jovian menjelaskan.
Kiana diam tanpa mengubah posisinya sedikitpun. Bahkan Jovian merasakan hembusan nafas hangat menyapu permukaan dadanya.
"Jadi, … ayo bangun! Aku harus mandi dan bersiap-siap." Katanya, lalu Jovian kembali menunduk, dan mencium kening Kiana.
Perempuan itu tak bereaksi.
"Baby?"
Dia masih diam, dan sepertinya Kiana mulai melakukan protes karena tidak Jovian izinkan untuk ikut.
"Mam? Ayo sayang!" Bujuk Jovian.
Helaan nafas Kiana terdengar, kemudian dia mengurai pelukannya, bangkit dan turun dari atas tempat tidur sana.
"Baby?"
Panggil Jovian ketika melihat Kiana yang pergi begitu saja. Dia bahkan melenggang ke arah luar tanpa sepatah katapun, dengan raut wajah yang terlihat masam.
"Astaga." Dia bangkit, seraya menyapu wajahnya dengan kasar. "Sampai kapan aku harus membujuknya? Dia selalu merajuk hanya karena aku harus pergi." Pria itu berbisik pelan.
***
Dia berjalan mendekat, dengan wajah ditekuk, bahkan bibirnya mengerucut, menandakan jika moodnya tidak sesak baik hari ini.
"Mau sarapan? Semuanya sudah siap di meja makan?"
Kiana tidak menjawab, dia hanya terus berjalan melewatinya, keluar melalui pintu bagian belakang.
"Kia?"
"Aku nggak mau sarapan!" Sentak Kiana.
Lalu dia mendudukan diri di pinggiran kolam, dan menggelengkan kedua kakinya ke dalam ikan koi sana.
"Mau buah? Nanti kita minta Ipah kupaskan?"
"Nggak usah, Mama!"
Herlin membeku di ambang pintu keluar, menatap Kiana yang sedang menggerak-gerakkan kedua kakinya dengan perlahan-lahan.
"Ya sudah, Mama siapkan semuanya dulu. Nanti Mama kembali."
Kiana tidak menjawab lagi, sampai Herlin bergegas masuk ke dalam rumah dengan perasaan heran.
***
__ADS_1
"Mama lihat Kiana?" Jovian berjalan menuruni anak tangga.
Herlin yang saat ini berdiri di samping meja makan menoleh, kemudian mengangguk, seraya meletakan beberapa piring kecil yang sudah dia isi dengan beberapa slice roti tawar.
"Sedang di taman belakang. Sepertinya mood Kiana hari ini sedang tidak baik yah? Mama tanya saja jawabnya singkat, Mama tawarin sarapan juga dia menolak."
Ujar Herlin, lalu dia tersenyum kepada menantunya yang tampak sudah siap. Kaos polos berkerah lengan pendek berwarna hitam, dipadukan dengan celana Chinos berwarna abu-abu muda, membuat Jovian terlihat sangat tampan, apalagi dengan gaya rambut barunya (crew cut). Sehingga tampilan rambutnya terlihat sedikit lebih pendek, dan juga tapi.
"Kiana merajuk, Ma."
Jovian meletakan tas kerja di atas kursi meja makannya, kemudian dia beranjak pergi ke arah pintu belakang yang terbuka lebar.
"Pantas." Ujar Herlin.
"Ah anak itu mulai membuat ulah!" Gumam Herlin seraya menghembuskan nafasnya.
Langkah kaki Jovian berhenti tepat di belakang tubuh Kiana yang saat ini sedang duduk di tepi kolam ikan. Kaki mungil itu terus bergerak-gerak, membuat ikan-ikan terus berenang kesana dan kemari dengan lincahnya.
"Baby?" Panggil Jovian dengan suara rendah dan terdengar lembut.
Lalu dia berjongkok, mengusap rambut memanjan Kiana yang dibiarkan terurai.
"Ayo ganti pakaianmu, … dan minta Ipah untuk menyiapkan pakaian kita berdua. Sekitar dua malam kita akan ada disana. Kecuali Papa mu, dia akan langsung pulang nanti malam."
Kiana menoleh.
"Cepat, aku akan membawamu kali ini. Tapi berjanjilah untuk lebih menurut disana yah?"
Wajah yang tadinya muram, dengan ekspresi masam. Kini berubah berbinar, apalagi dengan senyuman manis yang terlihat di antara kedua sudut bibir.
"Beneran aku boleh ikut?"
Kiana menarik kedua kakinya keluar dari dalam kolam sana. Memegangi lengan kekar Jovian, kemudian berdiri dengan perlahan, ketika pergerakan pun mulai terbatas.
"Hati-hati!" Ucap Jovian saat dia memegang Kiana.
"Baiklah, tidak usah meminta Ipah. Aku yang akan menyiapkan kebutuhan kita." Senyumannya terlihat semakin lebar.
"Bagaimana saja, tapi kalau butuh bantuan cepat katakan, oke?"
Kiana mengangguk, lalu dia berjalan mendahului Jovian, masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa. Sementara Jovian mengikuti dari arah belakang sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa lagi dia?" Herlin menatap menantunya yang kini sedang tersenyum tipis.
"Entahlah, biarkan saja dia, Mam. Kalau kita kadang nanti marahnya bisa sampai seharian." Jovian terkekeh.
Lalu dia mendudukan diri di kursi meja makan, dengan sarapan yang sudah siap.
......................
Jangan lupa buat ramein novel terbaru yah!!
~After 250 day's
~My Annoying Chef
__ADS_1
follow Ig; @_anggika15
cuyung kalian ♥️