
Gerbang besar rumah Danuarta terbuka perlahan-lahan ketika seorang penjaga mendorongnya dengan susah payah. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Jovian memutar setir mobilnya, menginjak pedal gas, sehingga mobil Lexus hitam yang ia kendalikan melesat ke arah dalam, lalu berhenti tepat di samping mobil-mobil yang terparkir.
Pandangan Kiana seketika tertuju pada sosok wanita yang tengah berdiri di dekat sebuah pot-pot kecil, menyemprotkan air dengan mata yang tertuju ke arah mobil yang dirinya tumpangi.
"Ish, Mama masih saja sibuk dengan bonsai-bonsai kecilnya." Gumam Kiana sembari menekan salah satu tombol untuk melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkar erat di tubuhnya.
Jovian menoleh, tentu saja dia mendengar apa yang istrinya ucapkan.
"Memangnya kenapa? Itu hobi yang bagus." Jovian melakukan hal yang sama.
Lalu dia membuka pintu mobil, dan keluar lebih dulu. Berjalan memutar, kemudian membukakan pintu untuk perempuan yang sangat dia cintai.
Kedua tangan Kiana terangkat, meraih pundak Jovian.
"Awas hati-hati!" Jovian meletakan telapak tangan di atas kepala istrinya.
Berusaha melindungi benturan yang mungkin saja akan terjadi.
"Oh ya ampun, … rasanya berat sekali berjalan dengan membawa dua bayi sekaligus di dalam perut ini!" Katanya dengan bibir meringis.
"Hemm, … kalau bisa aku gantikan."
Jovian mengelus perut bulat Kiana, yang kali ini terasa sangat kencang.
"Sayangnya tidak bisa yah? Kalo bisa aku nitip dulu ke kamu." Kiana melayani sikap konyol suaminya.
Pria itu hanya tersenyum. Apalagi saat melihat wajah Kiana, yang terlihat lebih berseri-seri. Bahkan kenaikan berat badannya, membuat perempuan itu tampak lebih menggemaskan.
"Ah ya ampun. Mama kira kalian tidak akan datang!" Herlin menyambut kedatangan anak dan menantunya.
"Kenapa memangnya?" Kiana bertanya.
"Soalnya punya rumah baru, siapa tahu lupa dengan rumah ini!" Celetuk Herlin.
"Mana mungkin aku lupa, … brojol sampe gede disini." Timpal Kiana.
Herlin hanya tersenyum, dan menggiring Jovian juga Kiana masuk ke dalam. Bahkan tidak sungkan wanita itu ikut membopong Kiana yang sudah sangat kesusahan ketika ia berjalan.
"Papa kerja, Ma?"
"Hanya ada pertemuan nanti siang. Kenapa? Papa ada di belakang, mau kesana?"
Tanya Herlin ketika mereka sampai di sofa ruang tengah.
Kiana menjawab pertanyaan ibunya dengan anggukan pelan. Yang seketika kembali dibopong oleh dua orang di samping kiri dan kanannya, sementara Kiana terlihat terus meringis, dengan satu tangan yang terus memegangi bagian bawah perutnya, berusaha meringankan bobot dari kedua janin di dalam sana.
"Kamu membuat aku takut, … aku sudah bilang di rumah saja. Dokternya kan bisa dipanggil ke rumah kalau mau." Kata Jovian.
Dia terus memegangi istrinya, sampai mereka benar-benar ada di area taman belakang, menginjakan kaki di atas rumput Jepang yang terasa lembut.
Sementara Danu yang tengah asik membaca koran segera bangkit, mendekat ke arah putri semata wayangnya.
"Kenapa ini?" Danu panik ketika melihat Jovian juga Herlin yang sedang membantu Kiana untuk berjalan.
__ADS_1
"Tidak kenapa-kenapa, Mama sana Jovian saja yang lebay." Kiana terkekeh.
Membuat Herlin dan Jovian saling menatap.
"Tidak kenapa-kenapa bagaimana? Jalan kamu sudah seperti zombi tahu. Kaku begitu!" Cicit Herlin.
Kiana hanya terus tertawa.
"Seperti usulan memakai kursi roda memang harus diterima. Sudah jelas Kiana tidak baik-baik saja, … tapi dia ngeyel." Dia mengingat beberapa obrolannya bersama Dokter, ketika mengadukan keluhan-keluhan yang sudah Kiana rasakan.
Jovian menatap Danu, seperti sedang meminta dukungan, saat sikap Kiana yang kali ini lebih keras daripada biasanya..
Danu menatap Kiana yang saat ini sudah duduk bersandar, mengusap perutnya yang besar, dengan hembusan nafas tersengal-sengal.
"Mama ambil minum dulu."
Pamit Herlin, kemudian wanita itu pergi ke arah dalam dengan cepat.
"Kapan jadwal pemeriksaan rutinnya?" Danu mendudukan diri tepat di hadapan Jovian dan putrinya.
"Hari ini." Sahut Jovian.
"Hemmm, … tapi aku sedikit kurang semangat. Baby nya kalau dilihat ngumpet mulu, bikin aku penasaran sama kesal." Gumam Kiana.
"Mungkin belum, sayang!" Jovian ikut mengusap perut Kiana.
Danu bungkam, dia hanya menikmati pemandangan yang cukup manis di hadapannya. Dan itu cukup membahagiakan, setidaknya Danu sudah memberikan Kiana pada laki-laki yang tepat, yang mampu memperlakukan dia dengan sangat baik. Bahkan lebih baik daripada perkiraan awalnya.
"Mau Papa panggilkan Dokternya kesini?" Tawar Danu kemudian.
Setelah dirinya terdiam untuk beberapa saat.
"Mana bisa Papa!" Balas Kiana sedikit kesal.
Pasalnya sudah beberapa kali Jovian mengusulkan hal demikian, dan sekarang sang ayah pun ikut memberi usulan yang sama.
"Bisa, sayang!"
Kata Danu dan Jovian bersamaan. Membuat Kiana memindai wajah dua pria berbeda usia itu bergantian.
"Aih kalian ini. Aku bilang tidak bisa, … bukan Dokternya yang tidak bisa kesini. Tapi kalau Dokter dipanggil ke rumah, otomatis nggak bisa melakukan USG. Sementara tujuan aku periksa rutin itu, selain memantau perkembangan mereka, aku juga masih penasaran dengan jenis kelamin anak-anak aku."
Jovian dan juga Danu hendak kembali berbicara. Namun, kedatangan Herlin membuat keduanya menoleh, apalagi ketika wanita itu mulai berbicara.
"Kalian ini, sudah tahu Kiana begitu. Masih bersikukuh saja! Kalau dia mau ke rumah sakit, ya antar saja, percuma dijelaskan juga, tidak akan mengerti." Ujar Herlin, yang di ikuti Yati di belakangnya.
Membawa sebuah nampan, teko berukuran sedang, dan beberapa cangkir teh kecil. Tak lupa dengan beberapa toples kue kering kesukaan putrinya.
"Mama buat teh?"
Kiana membenahi posisi duduknya.
"Bukan Mama, tapi Bi Yati."
__ADS_1
Dia menoleh ke arah belakang, mempersilahkan sang asisten rumah tangga untuk meletakkan nampannya di atas meja berbahan kaca yang ada di sana.
"Silahkan. Non, Den, Bu, Bapak!" Ujar Yati seraya meletakan teko, cangkir dan toples-toples berisikan kue.
"Hemm, … terimakasih, Bi." Kata Herlin, yang langsung mendapatkan anggukan dari sang asisten rumah.
"Ah aku tidak mau teh!" Tolak Kiana tanpa basa-basi.
"Lah, terus?" Herlin menatap Kiana bingung.
"Aku mau markisa. Di kasih garam sama irisan cabe rawit. Duh, kayaknya seger!" Katanya.
"Markisa?" Cicit semua orang.
"Heeem." Kiana mengangguk, lalu tersenyum penuh arti. "Itu! Aku mau Papa yang ambil!" Dia mengarahkan jari telunjuknya pada tanaman merambat berbuah lebat yang tumbuh di area paling sudut taman belakang.
"Papa?"
"Iya, si kembar mau Kakeknya yang ambil."
"Ayahnya tidak mau?" Danu melirik Jovian.
"Tidak, aku mau Papa yang ambilkan. Khusus untuk cucu-cucu Papah." Senyumannya semakin terlihat lebar.
Danu kembali menatap Jovian. Sementara pria itu hanya mengendikan kedua bahunya.
"Papah? Aku mau markisa, pilihkan yang sudah matang yah!"
"Ambilnya harus pakai tangga, Kia. Takutnya Papa tidak bisa." Herlin terlihat sedikit khawatir.
"Bisa. Masa jadi penambang bisa, ambilin markisa buat anak dan cucunya tidak bisa. Payah!"
Danu menghela nafasnya kasar, kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Baiklah, Baiklah. Semua kuasa ada di tanganmu sekarang." Danu menggerutu.
Namun, tak urung dia membawa sebuah tangga yang terletak di samping gazebo. Kiana tersenyum penuh arti, menatap sang ibu, seraya menggetarkan alisnya naik-turun.
"Kapan lagi nyuruh-nyuruh Bapak Danuarta." Bisiknya, lalu tertawa.
"Cuma kamu yang berani memperlakukan Direktur utama seperti itu, Baby." Jovian berbisik.
"Aduh!" Herlin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dan mereka bertiga tertawa bersama-sama. Membuat Danu yang mulai melangkah naik menoleh sekilas, menatap anak, menantu dan istrinya dengan raut wajah masam.
......................
...Jangan lupa dukungannya!!...
...Sama mampir ke judul terbaru oke? ...
...cuyung kalian banyak-banyak ♥️...
__ADS_1