Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Soekarno-Hatta


__ADS_3

Pandangan Kiana terus tertuju ke arah sebelah kanan. Dimana lautan awan yang terlihat begitu cantik, dan dia dapat melihatnya dengan jelas melalui sebuah jendela berukuran tidak terlalu besar di sampingnya. Pikiran Kiana terus melayang-layang, memikirkan sesuatu yang sempat petugas medis katakan, saat beberapa hari lalu, karena dia tidak berhenti merasa pusing, mual dan akan berakhir muntah hebat di kamar mandi.


Lalu pandangan Kiana menunduk, seraya menggerakan tangan dan mengusap perutnya yang masih rata dengan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.


Rasa sedih, senang dan haru.


Namun, yang lebih mendominasi adalah rasa tidak menyangka. Jika saat ini di dalam rahimnya sudah bersemayam janin, menurut pemeriksaan awal yang sempat Kiana lakukan satu hari yang lalu. Setelah segala macam obat tidak dapat membuat dirinya merasa lebih baik. Bahkan mual dan muntahnya akan terjadi sangat hebat saat siang menjelang sore. Aneh memang, bukankah seharusnya wanita hamil akan mengalaminya saat pagi? Tapi Kiana justru mengalaminya saat siang menjelang sore, dan akan benar-benar bisa berhenti merasa mual saat memakan buah-buahan dengan rasa masam, atau es krim strawberry yang akhir-akhir ini dia gemari.


Sementara Sita memperhatikan sikap Kiana dalam diam. Raut wajahnya tidak biasa seperti seorang calon ibu pada umumnya yang selalu terlihat bahagia jika mendengar kabar mereka akan menjadi seorang ibu.


Kiana hanya diam tanpa menunjukan reaksi apapun selain raut wajah terkejut, saat satu hari lalu perempuan itu melakukan pemeriksaan awal. Dan apa yang perempuan itu alami memang gelana kehamilan pada umumnya yang selalu merasa pusing, mual, dan muntah di waktu-waktu tertentu.


"Kia?" Setelah sekian lama diam dan memperhatikan, akhirnya Sita memilih untuk membuka obrolan.


Dia menyentuh tangan Kiana, yang seketika membuat perempuan itu menoleh, dan mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Kamu baik-baik saja? Ada sesuatu? Merasa pusing atau mual lagi? Mau Tante mintakan buah kiwi lagi?" Wanita itu mencerca Kiana dengan banyak pertanyaan sekaligus.


Kiana bungkam, matanya terus bergerak-gerak. Memperhatikan wajah teduh Sita dengan tatapan sendu.


"Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati, boleh bicarakan kepada Tante. Tidak boleh dipendam sendiri, … Tante tahu kamu masih muda, mungkin kehamilan ini sama sekali kamu tidak diharapkan, terlebih hubungan kamu dengan Jovian sedang tidak baik-baik saja. Tapi Tante mohon, jangan bertindak gegabah ya? Apalagi sampai nekad. Ingat! Yang kamu benci ayahnya, tidak ada hubungan dengan janin yang sedang kamu kandung!" Sita mengutarakan kegelisahan di dalam hatinya.


Mendengar perkataan Sita, Kiana hanya diam tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Dia hanya terus menatap wanita di sampingnya dengan sorot mata sayu.


"Ini kabar bahagia. Seharusnya kamu senang, tapi kenapa kamu justru muram? Tante rasa apa yang terjadi sekarang mungkin jawaban dari setiap doa yang kamu panjatkan."


Kiana memalingkan wajahnya, lalu menunduk, dan kembali mengusap perut dengan perlahan-lahan.


"Benarkah? Apa doaku dijawab secepat ini?" Dia kembali menatap Sita.


Wanita yang Kiana maksud segera mengangguk, dengan senyuman tipis yang kembali terpancar.


"Coba ingat lagi apa yang kamu minta. Dan apakah ada hubungannya dengan kehamilan yang sedang kamu alami sekarang?" Dengan raut bahagia Sita menjelaskan.


Kiana diam, dengan pikiran yang berusaha mengingat apa saja yang dia katakan di tempat-tempat mustajab. Dan salah satu doa yang dirinya panjatkan adalah sebuah jalan keluar untuk rumah tangganya saat ini. Keraguan yang sempat bersemayam di dalam hati dan pikirannya, tentu saja membuat Kiana sedikit ragu akan perasaan Jovian terhadapnya. Entah memang benar sudah mencintai, atau hanya bualan semata.


"Dia jawaban." Gumam Kiana.


Sita mengangguk.


"Bukankah kamu sekarang sedang menepi? Dan berangkat umroh untuk mendapatkan sebuah petunjuk? Inilah jawaban dari kerisauan hatimu!" Senyum di bibir Sita semakin merekah.

__ADS_1


Namun, Kiana tetap tidak dapat mengekspresikan apapun. Begitu banyak perasaan, sampai dia tidak dapat mengerti dari salah satunya.


"Tidak usah dipikirkan! Mungkin kamu masih terkejut, jadi istirahatlah lagi, … kita masih mempunyai waktu lima jam untuk sampai di Soekarno-Hatta."


Sita mengusap-usap bahu Kiana. Rasanya begitu bahagia, seperti sedang mendapatkan kabar jika adik perempuannya akan segera memiliki momongan. Ya, walaupun sebenarnya Sita adalah anak tunggal, dan dia tahu betul bagaimana menjadi satu-satunya harapan orang tua. Segala beban, dan keinginan dia pikul sendiri, hanya untuk membuat kedua orang tuanya merasa bahagia, meskipun terkadang Sita merasa begitu muak dan lelah karena selalu dituntut untuk sempurna.


Tapi setelah menikah dengan Denis. Dia merasakan hal lain, bagaimana dia dicintai oleh adik-adik dari suaminya, lalu kedekatan Denis dengan Kiana pun menghadirkan rasa tersendiri.


Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam lamanya. Kini pesawat yang Kiana tumpangi mendarat dengan baik, walaupun sempat ditunda dan terus berputar-putar di udara karena ada hujan badai, tapi mereka dapat keluar dari dalam pesawat dengan keadaan selamat.


"Hari ini sudah mengabari jika kamu pulang?" Sita berbasa-basi, sembari terus mendorong troli, dimana dua koper besar milik Kiana dan dirinya berada disana.


Kiana menoleh, menatap Sita lekat-lekat, kemudian menggelengkan kepala. Rasanya begitu malu jika tiba-tiba dia menghubungi keluarganya hanya untuk meminta tumpangan pulang.


"Bukankah aku mau membuktikan jika aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri?" Sisi lain dari hatinya berbicara.


"Tapi bagaimanapun mereka tetaplah keluargamu. Sosok yang pernah bersusah payah mengurus dan membesarkanmu penuh cinta dan kasih sayang, Kiana. Agar kamu tumbuh menjadi anak-anak pada umumnya." Hati yang lain berbicara.


Suasana Bandara hari ini terlihat begitu ramai. Beberapa kedatangan disambut sukacita oleh keluarga masing-masing. Sehingga menimbulkan banyak suara di area sana. Teriakan memanggil nama, tangisan haru, dan tawa bahagia.


Lalu bagaimana dengan dirinya? Kemana Kiana harus pulang? Apa kembali menumpang di rumah Asisten ayahnya?


Kiana menggelengkan kepalanya, berusaha membuyarkan bayang-bayang yang sedikit mengganggu pikiran.


Tiba-tiba saja Sita menghentikan langkahnya, menatap lurus kedepan dengan senyuman bahagia penuh rindu. Dan disanalah Denis juga putra pertama mereka, berdiri seraya melambaikan tangan.


"Mama?" Panggil Dendi.


Seketika Sita berlari menghampiri anak juga suaminya, tak lupa ada satu orang wanita paruh baya, yang Kiana ketahui sebagai ibu dari Denis. Sementara dirinya mematung, kala melihat keberadaannya disina, berdiri tegap dengan raut wajah bingung.


Rasa rindu yang menggunung, kini terasa semakin menggila, kala melihat sosok pria yang sangat dia cintai berada disana.


"Tapi dimana Papa dan Mama? Apa mereka marah karena aku pergi tanpa meminta izin?" Batinya berbicara.


Mereka sama-sama terdiam, menatap satu salam lain. Hingga di detik kemudian Kiana juga segera berlari, meraih tubuh Jovian, membenamkan wajah di dada bidang milik pria itu, lalu menangis sejadi-jadinya.


Tidak ada lagi yang bisa Jovian lakukan selain membalas pelukan Kiana, bahkan dia menundukan pandangan sampai bibirnya dapat menyentuh puncak kepala sang istri, yang saat ini di balut kalian berwarna hitam.


"Maafkan aku!" Jovian berbisik lirih.


Kiana tidak menjawab, dia hanya terus menangis kencang, sampai menyita perhatian orang-orang yang ada disana. Termasuk Dendi, Sita, Denis dan orang tuanya.

__ADS_1


"Mereka sama-sama sakit karena menahan rindu bukan?" Denis berbisik, yang langsung dijawab anggukan oleh Sita.


"Marahlah, pukul aku. Caci aku, dan lakukan apapun yang kamu mau, … tapi satu! Jangan pernah pergi jauh seperti ini tanpa diriku, kamu membuat aku hampir gila karena tidak bisa menikmati hidup yang biasanya aku rasakan. Selera makanku hilang, dan lebih parahnya aku tidak lagi merasa ngantuk, aku tidak bisa melakukan hal lain, selain memikirkan kamu, … memikirkan keadaanmu!" Kata Jovian panjang lebar.


Kiana terus menangis. Rasanya seperti sudah menemukan sesuatu yang sempat hilang, dan kali ini dia tidak mau lagi kehilangan sosok itu. Pria 17 tahun lebih tua darinya, yang merupakan kekasih pertama dan memberikan banyak rasa nyaman.


"Aku marah kepadamu. Aku mengutuk apa yang kamu lakukan. Aku ingin pergi, aku ingin tinggal dimana tidak ada satu orang pun yang mengenaliku, … tapi aku tidak bisa!"


Akhirnya Kiana membuka suara setelah terus terdiam dan menangis.


"Jangan! Aku tidak mengizinkanmu pergi kemanapun setelah ini." Suara Jovian terdengar rendah, dan sedikit bergetar.


"Lalu harus bagaimana aku menghukummu? Bagaimana juga agar kalian percaya jika aku tidak akan melakukannya? Hanya semata-mata kegilaanku semata!"


Pandangan Kiana menengadah, menatap wajah sendu dengan mata berkaca-kaca pria yang sedang mendekap tubuh mungilnya.


"Aku tidak segila itu." Ucap Kiana lirih.


Jovian mengangguk.


"Aku tahu, aku yang salah, aku yang bodoh, aku yang keliru. Maka dari itu maafkan aku!" Dia meraih satu tangan Kiana, yang langsung dia letakan telapak tangan kecil itu di pipinya.


"Baby? Maafkan aku!" Wajah Jovian terlihat semakin memerah.


Dan jatuhlah air matanya, yang sempat dia tahan karena merasa malu. Seorang yang sempat berdiri di antara jajaran Paspampres, menyandang predikat ajudan pribadi yang cukup disegani. Namun, dirinya tetaplah manusia, rindu yang dia rasakan benar-benar menyiksanya.


Padahal dia tidak pernah seperti itu sebelumnya, tapi karena Kiana dia benar-benar dapat menangis seperti seorang anak kecil yang ditinggalkan orang tuanya.


Cup!!


Dia mencium kening Kiana. Lalu memeluk tubuh ringkih itu lebih erat daripada sebelumnya, seolah tidak ada lagi yang bisa Jovian lakukan selain mendekap sosok perempuan yang sangat dia cintai.


"Aku mencintaimu, … maafkan aku!"


......................


Duh maaf yah, giliran semangatnya ada. Ada aja kerjaan rumah, atau dua krucil yang tiba-tiba rewel🤭🤭


Seperti biasa, othor minta dukungannya yah😘


cuyung kalian banyak-banyak ♥️

__ADS_1


__ADS_2