
Jovian menepikan mobilnya, sehingga kendaraan itu terparkir tepat diantara kendaraan-kendaraan milik mertuanya. Dengan cepat dia turun, untuk kemudian melangkahkan kaki ke arah dalam, dimana pintu utama dibiarkan terbuka lebar seperti biasa.
Suasana rumah itu masih sama seperti beberapa Minggu terakhir.
Terasa hening, sunyi dan sepi.
"Akhirnya kamu pulang!" Herlin yang sedang di dekat kursi meja makan segera bertanya saat melihat kedatangan menantunya. "Apa kamu sudah makan?" Dia segera bertanya.
Namun, Jovian tertegun, entah kenapa rasanya begitu canggung dengan keadaan sekarang ini. Bagaimana tidak, apa yang Jovian lakukan sudah pasti tidak hanya membuat Kiana kecewa. Melainkan kedua orang tuanya juga, karena secara tidak langsung Jovian berperan besar dalam masalah yang sedang mereka hadapi.
"Duduklah, sebentar lagi Papa juga turun. Kita makan bersama. Nanti malam kita ke Bandara untuk menjemput Kiana! Sita mengabari tadi, ibadah umrohnya sudah selesai, tapi Kiana tidak bisa ikut mereka ke Turki lebih dulu, … Kiana di pulanglah lebih cepat karena keadaannya yang kurang baik, dan Dokter disana menyarankan agar Kiana segera pulang tanpa harus mengikuti rombongan tour yang akan kembali terbang ke Turki sebelum akhirnya pulang ke Indonesia" Ujar Herlin, dia merasa sangat khawatir jika mengingat pesan singkat yang Sita kirimkan.
"Kiana sakit apa?"
"Sita tidak memberitahu lebih detail, Sita hanya mengabari itu saja, belum ada balasan lagi."
Jovian mengangguk.
"Kemarilah. Kamu tidak pulang beberapa hari, membuat Mama khawatir saja! Ada masalah dalam berumah tangga itu biasa, tapi jangan pergi lalu tidak pulang dalam beberapa hari." Dan kata-kata itu terdengar begitu lembut.
Herlin meletakan sepiring nasi untuk Jovian.
"Jovian tinggal di apartemen, Ma. Hari ini datang hanya ingin menemui Papa, … dan membicarakan sesuatu." Dia menarik ujung kursi meja makan, untuk kemudian duduk disana.
Sementara Herlin mulai kembali membawa piring, dan mengisinya dengan nasi putih, untuk kemudian dia letakan di hadapan kursi yang biasa Danu tempati.
"Lauknya ambil sendiri." Herlin berujar, yang langsung mendapatkan anggukan dari menantunya.
Orang yang di maksud mengulum senyum, mengangguk pelan, lalu menengadahkan pandangan, menatap sang ibu mertua dengan ekspresi tidak biasa.
"Kenapa? Makanlah, tidak usah menunggu Papanya Kiana. Sebentar lagi juga akan turun." Wanita itu tersenyum.
Jovian menggelengkan kepala.
"Maaf karena sudah membuat Kiana marah, … dan pergi menjauh dari kita." Katanya dengan raut wajah penuh penyesalan.
Herlin berjalan memutari meja, kemudian duduk di kursi yang selalu dia tempati, lalu tidak lama setelah itu Danu terlihat berjalan menuruni tangga, dan segera ikut bergabung.
__ADS_1
"Akhirnya kau pulang, Jo." Danu menatap wajah menantunya. "Rumah sepi tanpa Kiana, lalu kamu juga malah terus menerus bermalam di apartemen." Katanya lagi, sambil mengingat-ingat apa saja yang selalu Denis laporkan.
Jovian hanya tersenyum samar, kemudian menundukan kepala, sebelum akhirnya dia menyantap makan siang yang sudah Herlin siapkan. Keadaan hening untuk beberapa saat, sampai hanya denting sendok dan piring yang beradu.
"Emmmm …" Dua pria itu bergumam dalam waktu bersamaan.
Lalu mereka kembali diam, seolah membiarkan masing-masing berbicara lebih dulu.
Apa yang mau kamu bicarakan? Bicaralah!" Ucap Danu kepada menantunya.
"Ini, … tentang masalah waktu itu. Papa sudah tahu bukan kabarnya dari Denis?"
Danu segera mengangguk, sambil terus melanjutkan acara makan siangnya, dan menikmati hidangan yang tersedia dengan perasaan riang.
"Sebenarnya aku ingin sekali memberi pelajaran yang sangat setimpal. Ya setidaknya membuat dia mendekam di balik jeruji penjara meskipun dengan masa hukuman yang tidak terlalu lama. Aku yakin Mami dan Papi tidak akan pernah merasa keberatan dengan apa yang mungkin saja Pak Erik lakukan, … hanya saja, … aku takut dia melaporkan Kiana juga, karena yang Kiana lakukan jelas kekerasan. Meskipun Kiana melakukan itu dengan alasan yang valid, tapi …"
"Hhhheuh!" Helaan nafas Herlin membuat Jovian menghentikan ucapannya. "Masalah ini memang rumit. Jika di biarkan, Eva akan semakin besar kepala, tapi jika di pikir-pikir, mereka juga tidak akan hanya diam bukan? Apalagi apa yang Kiana lakukan itu jelas sebuah kekerasan fisik." Ucap Herlin setelah semalaman berpikir.
Dan apa yang di takutkan Danu, Jovian dan Denis ada benarnya. Indonesia adalah negara hukum, tindakan Kiana memang tidak dibenarkan. Jadi sudah dipastikan saat mereka melaporkan Eva, pihak Erik juga tidak akan tinggal diam, dan berbalik untuk menyerang.
Lalu apakah ini bisa menyelesaikan masalah? Tentu saja tidak. Justru, jika memang semua itu terjadi, masalah akan semakin tumpang tindih, apalagi jika pihak keluarga Eva tidak menerima.
"Kalau kenal tidak terlalu. Tapi pernah dengan bagaimana dia di dunia bisnisnya." Jelas Danu.
Pria itu terus fokus pada makanannya. Sementara Jovian berhenti dan tampak berpikir keras.
"Apa kita laporkan saja?" Kata Jovian.
Danu meletakan sendok makannya terlebih dulu, lalu meraih gelas air minum yang sudah tersedia, dan menegukannya perlahan-lahan.
"Bisa. Tapi akan sangat rumit! Kita melaporkan tindakan Eva, dan jika mereka tidak terima juga akan melaporkan Kiana. Jadi kesannya kita akan adu kekuatan hukum masing-masing! Eva bisa di hukum, begitu juga dengan Kiana." Dia menatap menantu dan istrinya bergantian.
Herlin menghela nafasnya lagi.
"Ya, benar sekali! Ini rumit." Tukas Herlin.
"Memang. Ini alasan kita tidak langsung membuat laporan! Ada banyak hal yang harus di pertimbangkan. Bukan pengecut, atau terserah mau di katakan apa, tapi jika sudah masuk kedalam dunia hukum, apa saja bisa terjadi, termasuk Kiana yang harus mempertanggung jawabkan kesalahannya. Baiklah, jika ingin mengatakan Kiana hanya korban saja, dia tidak akan melakukan sesuatu jika tidak di pancing lebih dulu, … tapi hukum tidak semudah itu, ada undang-undang yang harus di patuhi, dan Kiana akan terjerat hukum juga jika kita melaporkan tindakan Eva. Katakan saja jika Eva itu baik hati, dia menerima apa yang sudah terjadi kepadanya. Lalu bagaimana dengan orang tuannya? Mereka juga sama seperti kita, akan melakukan yang terbaik untuk putrinya." Jelas Danu panjang lebar.
__ADS_1
Dan itu membuat Herlin semakin mengerti, dan membuat Jovian semakin bingung, harus bagaimana mengambil keputusan, karena taruhannya Kiana jika dia membuat Eva juga masuk penjara.
"Mungkin kita harus tunggu Kiana. Kita tanyakan soal ini kepada dia, apa mau memasukan laporan ke kantor polisi, atau tidak." Herlin memebri usulan.
"Papa yakin Kiana sudah tidak mau membahas soal ini!" Sergah Danu.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" Tanya Herlin lagi.
"Apapun bisa Papa lakukan. Tapi itu semua memiliki resiko masing-masing. Jika kita diam saja takutnya Eva melakukan hal yang bahkan lebih buruk lagi dari kemarin. Dan jika kita mengambil jalur hukum, kita juga harus siap dengan apa yang akan terjadi kepada Kiana."
"Tidak!" Tegas Jovian, dia menggelangkan kepalanya. "Jangan lagi, cukup sekarang aku tidak bisa menemuinya dengan leluasa. Tidak nanti, apalagi dengan jangka waktu yang lama." Jovian meletakan sendok makannya begitu saja di atas piring dengan isi yang masih utuh, lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Kini Herlin beralih pada suaminya.
"Mama tahu Papa bisa melakukan yang terbaik. Kita semua tahu apa yang Kiana lakukan adalah sebagai bentuk pembelaan. Meskipun apa yang Kiana lakukan juga tidak bisa di benarkan. Tapi bisakah kalian melakukan sesuatu agar membuat Eva jera, tapi tetap melindungi Kiana? Lakukanlah sesuatu untuk putriku ini!" Wanita itu memohon.
Danu balas menatap istrinya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di jabarkan oleh kata-kata.
"Kamu mempunyai kekuasaan, sayang. Aku mohon bantu Jovian untuk melakukan sesuatu. Dia sudah mau bertindak, tapi dia tidak mau menerima resiko karena itu." Herlin memohon lagi. "Ayolah, setidaknya jangan buat Pak Erik melakukan hal yang akan merugikan kita semua."
"Baiklah, kita bisa bicarakan ini lagi nanti. Sekarang makanlah dulu. Lihat! Bahkan Jovian masih menyisakan banyak makanan di piringnya." Kata Danu.
Herlin mengangguk.
"Jo, ayo habiskan." Pinta Herlin.
Jovian mengangguk, dia kembali meraih sendok makannya, meskipun selera makan yang dia miliki tiba-tiba menghilang.
"Tenanglah, malam hari ini Kiana akan pulang. Mama bantu agar dia mau berbicara tentang masalah kalian. Setidaknya kesalah pahaman ini tidak akan berlarut-larut."
"Tidak perlu, Ma. Nanti Kiana akan semakin kesal karena dia mengira Jovian meminta dukungan Mama."
"Kiana itu keras kepala, … dan dia tipikal orang yang harus terus di ingatkan." Kata Herlin.
Dia berusaha membesarkan hati menantunya. Sebagai seorang yang lebih berpengalaman, tentu saja Herlin mengerti, jika memang salah paham dalam berumah tangga itu adalah hal biasa. Dan jika keduanya sudah tidak dapat menyelesaikan masalahnya, maka sebagai orang tua Herlin harus membantu agar rumah tangga yang baru saja di jalin oleh putrinya berjalan kembali baik seperti semula.
"Kita jemput Kiana di Bandara, nanti."
__ADS_1
"Sepertinya Jovian tidak ikut saja, Ma. Mungkin Kiana masih membutuhkan waktu untuk sendiri dulu, takutnya kalau di paksa dia semakin tidak mau mendengarkan."